NovelToon NovelToon
Jejak Cinta Nirmala

Jejak Cinta Nirmala

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / CEO / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama / Berondong
Popularitas:420
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siasat Jahat

"Saya bukan istri gelap siapa pun..." bisik Nirmala, air mata mulai jatuh di pipinya yang bersih.

"Halah, tangisan buaya!" seru Bu Endang sambil meludah ke tanah. "Heh, perempuan kota! Lebih baik kamu pergi dari sini sebelum warga mengarak kamu keluar! Kami nggak butuh sampah di desa ini!"

Nirmala berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Ibu Ale yang terus berdebat dengan Bu Endang. Di dalam kamar kayu yang sempit, ia meringkuk di sudut ruangan. Ia merindukan Ale. Ia merindukan ayahnya. Ia merindukan hidup di mana ia tidak harus dihina oleh orang asing.

****

Di Jakarta, Rini Susilowati menerima laporan tentang kekacauan di desa melalui telepon dari salah satu mata-matanya. Mendengar Nirmala kini dihina dan difitnah oleh warga desa, tawa Rini pecah kembali.

Ia berjalan menuju cermin besar, menatap wajahnya yang tampak semakin kuyu namun penuh binar kegilaan. Ia menutup mulutnya dengan selendang sutra, namun tawa histerisnya tetap merembes keluar, memenuhi ruangan mansion yang luas itu.

"Hahaha! Bagus! Biarkan dia menderita di sana! Biar dia tahu rasanya dihina oleh orang-orang rendahan!" Rini menyeka ingusnya dengan tisu yang sudah menumpuk di meja rias. "Dunia ini memang tempat yang kejam, Nirmala sayang. Dan bibimu adalah ratunya!"

Rini terus tertawa, sebuah tawa yang menandakan bahwa ia telah benar-benar kehilangan pegangan pada realita, namun tetap memegang kendali penuh atas nasib orang-orang di sekelilingnya.

****

Malam di Jakarta terasa begitu mencekam bagi Januar Suteja. Di dalam ruang kerjanya yang kini terasa asing, ia menatap tumpukan dokumen yang baru saja dikirimkan oleh kurir tanpa identitas. Rini Susilowati bukan lagi sekadar gangguan; wanita itu telah menjadi parasit yang memakan jantung Suteja Group dari dalam.

Dengan kelicikan yang sistematis, Rini telah membeli separuh saham Suteja Group melalui perusahaan-perusahaan cangkang di luar negeri. Di bursa saham, kepanikan pecah. Para pemegang saham yang ketakutan berebut menjual aset mereka dengan harga sampah, dan Rini ada di sana, menadahi semuanya dengan tangan dingin.

Pintu kantor Januar terbuka tanpa diketuk. Rini melangkah masuk dengan gaun merah marun yang menyapu lantai. Selendang sutra hitamnya tersampir di leher, berkibar pelan seiring langkah kakinya yang penuh kemenangan. Di belakangnya, Elias membawa sebuah map berlogo Dizan Holding.

"Selamat malam, Januar," suara Rini terdengar seperti gesekan pisau pada piring porselen. "Bagaimana rasanya melihat kerajaan keluargamu runtuh dalam satu akhir pekan?"

Januar berdiri, wajahnya merah padam. "Kau... kau melakukan ini semua demi apa, Rini? Kau sudah memiliki Dizan Holding!"

Rini tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mendekati meja Januar, mengusap permukaannya seolah sedang memeriksa debu. "Aku datang untuk menawarkan bantuan. Sebuah kerja sama. Dizan Holding akan menyuntikkan modal untuk menyelamatkan Suteja Group dari kebangkrutan."

Ia memberi isyarat pada Elias untuk meletakkan dokumen itu. "Imbalannya sederhana. Lima puluh persen saham Suteja Group berpindah tangan kepadaku. Secara permanen."

"Itu perampokan!" teriak Januar.

Rini menarik selendang sutranya, menutup mulutnya saat tubuhnya mulai berguncang. "Mmph... Hahahaha!" Tawa histeris itu meledak di balik kain mahal tersebut. "Perampokan? Bukan, Januar. Ini adalah penyitaan atas kesombonganmu. Tandatangani, atau besok pagi gedung ini akan disegel oleh kurator bangkrut."

Januar jatuh terduduk. Ia terperangkap. Wanita di depannya ini bukan lagi manusia; dia adalah predator yang tidak menyisakan ruang bagi mangsanya untuk bernapas.

****

Sementara itu, di Sukabumi, kabut pagi yang dingin tidak mampu memadamkan bara kebencian yang ditiupkan oleh Bu Endang. Dengan mulutnya yang cempreng, ia berdiri di depan balai desa, mengumpulkan ibu-ibu yang baru pulang dari pasar.

"Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri!" seru Bu Endang sambil menunjuk ke arah rumah orang tua Ale. "Anak itu, Nirmala... dia keluar masuk kamar Ale malam-malam! Mereka sudah berzina! Desa kita ini suci, tapi sekarang sudah ternoda oleh perempuan kota yang tidak tahu malu itu!"

Warga desa yang kolot dan mudah terhasut mulai berbisik-bisik. Pandangan mereka yang dulu ramah kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

"Pantas saja dia selalu pucat dan bersembunyi," sahut salah satu warga. "Pasti sedang menutupi aibnya!"

Bu Endang semakin bersemangat. Ia meludah ke tanah dengan jijik. "Dia bukan wanita baik-baik! Saya dengar dia itu buronan polisi karena kasus asusila di Jakarta! Kita tidak bisa diam saja. Kalau dibiarkan, desa kita akan kena kutukan!"

Di dalam rumah, Ibu Ale menangis sesenggukan sambil menggenggam telepon genggam tua. Di seberang sana, di sebuah koridor kampus yang sepi, Ale mendengarkan suara ibunya dengan tangan mengepal hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya.

"Ale... Ibu takut," isak ibunya. "Bu Endang menghasut warga untuk mengusir Nirmala. Mereka bilang kalian sudah berbuat yang tidak-tidak. Besok mereka mengancam akan mendatangi rumah kita."

"Ibu, dengarkan Ale," suara Ale bergetar karena menahan amarah. "Ale masih ada ujian terakhir besok pagi. Ale tidak bisa meninggalkan ujian ini atau beasiswa Ale akan dicabut, dan kita tidak akan punya apa-apa untuk melawan mereka. Tolong... jaga Nirmala satu malam lagi. Kunci pintu, jangan biarkan siapa pun masuk!"

Ale menutup telepon dengan perasaan hancur. Ia ingin terbang ke desa saat itu juga, namun ia tahu, jika ia gagal lulus, ia tidak akan memiliki senjata legal atau finansial untuk melindungi Nirmala dari serigala seperti Rini dan Januar.

****

Kembali ke mansion utama Dizan, Rini sedang berdiri di depan sebuah papan tulis besar yang berisi foto-foto keluarga Marwan Dizan. Ia mengambil sebuah spidol merah dan menyilang wajah Marwan, lalu Rina, dan terakhir, wajah Nirmala.

"Satu per satu..." bisik Rini. Suaranya terdengar seperti nyanyian kematian.

Liana, asisten pribadinya, masuk membawa laporan. "Nyonya, posisi Nirmala di desa semakin terdesak. Warga mulai bergerak."

Rini berbalik, matanya berkilat penuh kegilaan. "Bagus. Aku ingin dia mati di tangan warga yang bodoh itu. Biarkan mereka yang melakukan pekerjaan kotor untukku. Setelah Nirmala mati, tidak akan ada lagi garis keturunan Marwan yang tersisa di muka bumi ini."

Rini mengambil tisu, menyeka ingus yang mulai mengalir karena saking bersemangatnya ia tertawa sejak tadi. Ia seolah tidak bisa mengendalikan saraf-saraf wajahnya lagi.

"Hahahaha! Seluruh keluarga Dizan akan habis! Kekayaan ini... tahta ini... semuanya akan murni menjadi milikku!"

Ia menarik selendang sutranya kencang-kencang, melilitkannya ke lehernya sendiri seolah sedang merayakan jeratan yang ia buat untuk musuh-musuhnya. Tawa histerisnya menggema di seluruh lorong mansion yang sepi, memantul di dinding-dinding marmer yang dingin.

Di Sukabumi, Nirmala duduk di sudut kamar yang gelap, mendengar suara teriakan warga dari kejauhan yang memanggil namanya dengan penuh penghinaan. Ia memeluk lututnya, gemetar hebat. Ia tidak tahu bahwa di Jakarta, bibinya sedang merayakan kematiannya bahkan sebelum nyawanya dicabut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!