Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebejatan Bryan
Maya dan Fernand masih terdengar menangis pilu meratapi kematian Vellona yang begitu tragis.
Tanpa mereka tahu, kalau seseorang sudah masuk kedalam rumah mereka dan memperhatikannya dengan pandangan penuh cemoohan.
"Aaaah ternyata ada yang sedang berkabung!" ujar seseorang di belakang Vello dan Fernand.
Maya mengangkat wajahnya, dan betapa marahnya dia saat mengetahui jika yang datang adalah Bryan.
"Mau apa kau kesini, bangsat?? Kau sudah membuat putriku mati!" Fernand yang emosi, tanpa berpikir panjang mengambil gunting bekas Maya memotong tali, dan mengacungkannya pada Bryan.
"Oooww aku takut! Hahaha!" Bryan tergelak, lalu detik berikutnya dia memberikan kode pada Rishi dan Lucas untuk membawa Fernand keluar.
"Lepaskan aku!" Fernand meronta saat Rishi mulai menyeretnya keluar. Lalu tak lama terdengar sesuatu di banting keatas meja diiringi suara teriakan Fernand.
"Ayaaaaah!" Maya meletakkan Vello lalu bangkit berusaha keluar dari kamar, tapi di halangi Bryan.
"Mau kemana sayang?? Tetaplah disini, biarkan ayahmu menyenangkan teman-temanku!" Bryan tergelak, dan berusaha menyeret maya ke atas ranjang.
"Tidak! Lepaskan aku, lepaskan!!" Maya berusaha berontak, melepaskan diri dari Bryan.
"Ayaaaah!" Maya berteriak memanggil ayahnya, saat dia kembali mendengar suara pecahan di iringi suara tercekat.
Maya menggigit tangan Bryan, dan menendang aset berharganya. Setelah terbebas, Maya berlari keluar melihat keadaan ayahnya.
"Tidak! Ayaaaaaaaah!" Maya menjerit saat ayahnya sudah tak sadarkan diri, dengan darah yang menggenang di bagian kepalanya.
"Ayaaah, bangun! Ayaaah!" Maya coba mengguncang tubuh Fernand yang sudah lemas dan tak lagi bernafas.
"Upsss maaf cantik. Ayahmu sejak tadi merepotkan kami, jadi terpaksa dia kami kirim ke neraka bertemu adikmu!" ucapan Lucas di sambut gelak tawa dua lainnya.
Tak lama Bryan keluar dari dalam kamar Maya, dengan ekspresi kesakitan.
"Seret dia, dan buka pakaiannya. Dia sudah berani melukai tangan dan juga aset berharga milikku!" perintah Bryan pada teman - temannya.
"Tidak, lepaskan aku!" Maya berontak, saat Rishi mulai menarik tangannya.
"Toloooong!! Tolooooooong!! Lepaskan!" Maya berteriak meminta pertolongan, dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman Rishi dan Lucas.
Sreeeeek!
Terdengar suara robekan, saat Joe menarik lengan baju Maya dengan kasar.
Maya terus berontak, berusaha melepaskan cekalan tangan Rishi dan juga Lucas.
"Lepaskan aku! Lepas!" Sebisa mungkin Maya menendang dan juga memberontak.
"Kau tidak akan pernah bisa lepas Maya!" ucap Rishi.
"Tidak! Lepaskan aku!" Maya terus memberontak, tapi tenaganya kalah kuat, dari pria-pria bajingan yang berusaha mengoyak harga dirinya.
Bryan menghampiri Maya yang tengah meronta mencoba melepaskan diri.
Plak!!!
Plak!!!
Dua tamparan Bryan layangkan pada wajah Maya, dia merasa marah karena Maya sempat menendang aset berharga miliknya.
Sudut bibir Maya robek akibat tamparan keras yang diberika Bryan padanya.
Lalu Bryan mencengkram wajah Maya menggunakan sebelah tangannya dengan begitu kuat, hingga darah yang sempat keluar akibat tamparannya mengalir dari sudut bibir Maya.
"Berani sekali kau menyakiti milikku yang berharga ini Maya. Asal kau tahu, milikku yang kau sakiti Ini sebentar lagi akan kau rasakan kenikmatannya!
Dan asal kau tahu Maya, malam ini adalah malam terakhir dari hidup kalian bertiga ku!" Bryan melepas cengkraman tangannya pada wajah Maya dengan kasar.
Bryan mengalihkan pandangannya pada Rishi dan Lucas.
"Bawa dia ke dalam kamar, buka semua pakaiannya, dan ikat tangan juga kakinya agar dia tidak kabur!" perintah Bryan pada kedua temannya itu.
Dengan kasar, Maya di seret kedalam kamar Vello dan dibaringkan disana bersisian dengan jasad yang sudah mulai kaku.
Mulut Maya di jejali robekan bajunya sendiri, agar tidak terus menerus berteriak. Sedangkan kaki dan juga tangannya di ikat menggunakan robekan sprei yang sebelumnya di pakai Vello menggantung diri.
"Hahahaha. Lihat sayang, tubuhmu begitu indah. Jika sampai aku melewatkannya untuk di nikmati, maka itu suatu kebodohan yang aku sesali seumur hidup!" gelak Bryan, saat melihat tubuh Maya yang nyari polos..
"Ya tuhaaan. Kenapa aku tidak tahu kalau kau memiliki t*buh seindah ini Maya.
Aku pastikan kau akan ikut menikmati malam kita ini. Kita akan mencapai puncak surga dunia, di samping jasad adikmu. Dan setelah itu, aku akan membuat kau menyusul mereka. Hahahaha!" Kembali terdengar tawa Bryan, setelah mengakhiri kalimatnya.
Bryan membuka pakaian atasnya lalu berpindah pada gesper yang melingkar di pinggangnya.
"Kalian ingin melihat pertunjukan secara langsung atau menunggu giliran kalian diluar?" tanya Bryan pada tiga temanya.
"Seperti biasa, kami akan menunggu giliran kami dengan sabar haha!
Sekarang kau nikmatilah malam indahmu itu, kami menunggu diluar. Kau bersenang - senanglah bersama maya hingga kau puas.
Tapi, sisakan untuk kami saat dia masih hidup? Haha!" ucap Joe dengan tergelak, setelahnya keluar dan menutup pintu kamar tersebut.
Maya menggeleng kuat saat Bryan mulai mendekatinya keatas ranjang, dengan tubuh yang sudah tak berbusana.
Bryan mulai menjelajahi setiap inchi tubuh Maya, dari mulai wajah leher d4da hingga ke sekitar bagian intim.
Bahkan, Bryan meninggalkan jejak kissmark pada tubuh Maya.
Setelah puas menikmati tubuh atas Maya, Bryan melebarkan kaki Maya, dan merobek pakaian dalam yang melekat menutupi inti tubuhnya.
"Tidaaak! Ya tuhaaan tolong aku!! Tuhaan apakah ini akhir dari hidupku? Kenapa aku harus berakhir dengan cara yang hina seperti ini! Hentikaaaaaan!" Batin Maya menjerit.
***