Steve Lim tak pernah menyangka dirinya akan dijebak oleh oknum pemerintah yang bekerja sama dengan organisasi mafia yang dipimpinnya, mereka ingin menjebloskan Steve Lim ke penjara dengan dugaan pemerasan serta pencucian uang atas tanah di wilayah Makau yang terkenal dengan pusat industri kasino globalnya. Dimana Makau dijuluki Las Vegas dari Timur.
Pada saat dia mencoba menyelamatkan dirinya dari jebakan para oknum pemerintah, tak sengaja dia bertemu dengan seorang gadis bernama Ruolan Tan yang membantunya bersembunyi dari kejaran musuhnya.
Bagaimana kisah mereka berdua selanjutnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 SIAPA MARCO ?
Steve Lim dan Ruolan Tan masih berada di apartemen Wong, memikirkan strategi berikutnya untuk mengungkap kebenaran.
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan mata yang penuh skeptis. "Aku tidak percaya Menteri Chen bisa lolos begitu saja. Aku yakin ada sesuatu yang kita lewatkan."
Steve Lim mengangguk. "Aku juga merasa begitu, Ruolan. Aku akan memeriksa apartemen Wong lagi, mungkin ada petunjuk yang kita lewatkan."
Ruolan Tan memandang sekeliling apartemen Wong. "Aku akan memeriksa kamar tidurnya, mungkin ada sesuatu di sana."
Steve Lim mulai memeriksa apartemen Wong, mencari petunjuk yang mungkin terlewatkan. Setelah beberapa menit, ia menemukan sebuah kertas kecil di bawah sofa.
Steve Lim memandang kertas itu dengan mata yang penuh kejutan. "Ruolan, aku menemukan sesuatu!"
Ruolan Tan berlari ke arah Steve Lim. "Apa itu?"
Steve Lim menunjukkan kertas itu kepada Ruolan Tan. "Aku tidak tahu, tapi ini mungkin petunjuk yang kita cari."
Ruolan Tan memandang kertas itu dengan mata yang penuh kecurigaan. "Aku tidak percaya... ini adalah kode rahasia Menteri Chen!"
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Kita harus berhati-hati, Ruolan. Jika ini adalah kode rahasia Menteri Chen, maka kita berada dalam bahaya besar."
Ruolan Tan mengangguk, wajahnya juga serius. "Aku tahu, Steve. Aku akan mencoba untuk memecahkan kode ini secepat mungkin."
Steve Lim memandang kertas itu lagi, matanya memindai setiap detail. "Aku tidak tahu apa artinya, tapi aku yakin ini adalah kunci untuk mengungkap kebenaran tentang kematian Wong."
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan mata yang penuh tekad. "Aku akan bekerja keras untuk memecahkan kode ini, Steve. Kita tidak bisa membiarkan Menteri Chen lolos begitu saja."
Tiba-tiba, Ruolan Tan berhenti sejenak, matanya melebar dengan kejutan. "Steve, aku tahu apa artinya kode ini!"
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh harapan. "Apa itu, Ruolan?"
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku pikir kode ini menunjuk ke sebuah lokasi, Steve. Aku pikir kita harus pergi ke sana sekarang juga."
Steve Lim mengangguk, wajahnya juga serius. "Aku siap, Ruolan. Aku akan menghubungi tim untuk siap siaga."
Steve Lim dan Ruolan Tan berlari ke mobil, hati mereka berdebar dengan kecemasan. Mereka tahu bahwa mereka berada dalam bahaya besar.
"Apa kamu yakin ini adalah lokasi yang benar?" Steve Lim bertanya kepada Ruolan Tan, sambil memutar setir dengan cepat.
"Aku yakin, Steve," Ruolan Tan menjawab, matanya terpaku pada GPS. "Kode itu menunjuk ke sebuah gudang tua di pinggiran kota."
Steve Lim mengangguk, wajahnya serius. "Baik, kita akan pergi ke sana dengan hati-hati. Aku tidak ingin ada kejutan."
Mereka berdua keluar dari mobil, dan berlari ke arah gudang tua itu. Udara malam sunyi, hanya ada suara langkah kaki mereka yang terdengar.
Tiba-tiba, Ruolan Tan menarik Steve Lim ke belakang sebuah truk. "Tunggu, Steve. Aku mendengar sesuatu."
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh kecurigaan. "Apa itu?"
Ruolan Tan memandang sekeliling, matanya memindai area itu. "Aku tidak tahu, tapi aku merasa kita tidak sendirian di sini."
Steve Lim mengangguk, wajahnya serius. "Baik, kita akan berhati-hati. Aku akan pergi ke depan, kamu tetap di sini."
Steve Lim berlari ke arah gudang tua itu, pistolnya siap. Ruolan Tan memandanginya dengan mata yang penuh kecemasan.
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari dalam gudang tua itu. Steve Lim berlari ke dalam, Ruolan Tan mengikuti di belakangnya.
Steve Lim berlari ke dalam gudang tua itu, pistolnya siap. Ruolan Tan mengikuti di belakangnya, matanya memindai area itu.
Tiba-tiba, seorang pria besar muncul dari kegelapan, pistolnya diarahkan ke Steve Lim. "Kamu tidak seharusnya datang ke sini, Steve," katanya dengan suara berat.
Steve Lim tersenyum jahat. "Aku tahu, Marco. Aku datang untuk mengambil apa yang menjadi hakku."
Marco tertawa. "Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa, Steve. Menteri Chen telah mempersiapkan segalanya."
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan mata yang penuh kecurigaan. "Steve, apa yang kamu lakukan? Kamu bekerja sama dengan Menteri Chen?"
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh emosi. "Aku tidak bekerja sama dengan siapa pun, Ruolan. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan untuk melindungi kamu."
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar lagi, dan Marco jatuh ke tanah. Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Kita harus pergi dari sini, sekarang juga."
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan mata yang penuh kecurigaan. "Steve, aku tidak percaya kamu. Tembakan itu terjadi tiba-tiba, bukan dari kamu."
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku tahu, Ruolan. Aku juga tidak tahu siapa yang menembak Marco. Tapi kita harus pergi dari sini, sekarang juga."
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan mata yang penuh emosi. "Aku tidak tahu apa yang harus aku percaya lagi, Steve. Aku tidak tahu siapa yang sebenarnya kamu."
Steve Lim memegang bahu Ruolan Tan dengan kuat. "Aku adalah orang yang sama, Ruolan. Aku hanya ingin melindungi kamu. Aku berjanji, aku akan menjelaskan semuanya. Tapi kita harus pergi dari sini dulu."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar gudang tua itu semakin dekat. Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Kita harus pergi, sekarang juga!"
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan mata yang penuh kewaspadaan, tapi dia tidak memiliki waktu untuk berpikir lagi. Steve Lim menariknya keluar dari gudang tua itu, pistolnya masih siap.
Mereka berlari ke mobil yang terparkir di luar, dan Steve Lim langsung menginjak gas. Ruolan Tan memandang ke belakang, memastikan bahwa mereka tidak diikuti.
"Steve, apa yang kamu lakukan?" Ruolan Tan bertanya, suaranya bergetar karena kelelangan.
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku melindungi kamu, Ruolan. Aku tidak akan membiarkan Menteri Chen menyentuh kamu."
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan mata yang penuh emosi. "Aku tidak tahu apa yang harus aku percaya lagi, Steve. Aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya."
Steve Lim memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh kesedihan. "Aku tahu, Ruolan. Aku tahu aku telah membuat kamu tidak percaya. Tapi aku berjanji, aku akan menjelaskan semuanya. Aku akan memberitahu kamu siapa aku sebenarnya."
Tiba-tiba, suara sirene polisi terdengar di kejauhan. Steve Lim memandang ke belakang, dan matanya melebar dengan kecemasan. "Kita harus pergi dari sini, sekarang juga."
Setelah beberapa menit, Steve Lim memperlambat mobil dan memandang Ruolan Tan dengan mata yang penuh keseriusan. "Kita harus bicara, Ruolan. Aku harus menjelaskan apa yang terjadi."
Ruolan Tan memandang Steve Lim dengan mata yang penuh kecurigaan. "Aku siap mendengar, Steve. Tapi jangan coba-coba menipuku."
Steve Lim mengangguk dan mulai menjelaskan semuanya, dari awal sampai akhir. Ruolan Tan mendengarkan dengan saksama, matanya tidak pernah meninggalkan wajah Steve Lim.
Setelah Steve Lim selesai berbicara, Ruolan Tan memandang ke luar jendela, mencoba memproses semua informasi yang baru saja dia dengar.