*merried for revenge
bukan ajang perlombaan ini hanya sekedar balas dendam , balas dendam antar saudara yang tak kunjung padam.
liyan menatap nanar HP yang baru saja di banting hingga berserakan di lantai. emosi nya memuncak dan tak terkendali karena sang kekasih meninggalkan liyan demi memilih bertunangan dengan musuh bebuyutannya.
"5 tahun kita pacaran kau malah memilih laki laki sialan itu karena dia di pewaris. " umpat nya tertahan di antara rahang yang sudah mengeras
"brengsek!! "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
...----------------...
" Kamu..!" Tunjuk Zheya dengan jari gemetar, berhasil mengagetkan semua orang yang ada di ruang tamu itu.
" Nak Zheya kenal dengan Nak Liyan ini? " tanya mami nya Cherry dengan suara lembut, matanya bergantian menatap Zheya dan Liyan dengan penuh rasa ingin tahu.
" Calon istri saya Tante.." Liyan yang menjawab dengan nada santai namun penuh penekanan, seolah sedang memancangkan bendera kemenangan.
" Ahh kirain.. bikin Tante kecewa aja.." Begitulah pemikiran mami nya Cherry dalam hati, tadinya beliau berharap Liyan datang untuk anaknya sendiri.
" Ehh.. iya Tante.." jawab Zheya canggung, wajahnya mendadak panas karena tatapan menyelidik dari orang tua sahabatnya itu.
Teman-teman Zheya hanya bisa melongo tak percaya di belakangnya, ternyata benar apa yang dikatakan Cherry semalam bahwa pesona Liyan Huang memang nggak main-main
...----------------...
" Ma.. Minggu depan aku mau nikah " ucap Liyan melalui sambungan telepon internasional malam itu.
Perempuan paruh baya di seberang sana kaget bukan main mendengar kabar yang sangat mendadak dari anak laki-laki kesayangannya.
" Loh kok mendadak gitu kasih tahu mama..? Kamu ini bener-bener ya Liyan! " seru mamanya dengan nada protes.
" Mendadak gimana Ma.? Bukannya kemarin Mama sendiri yang maksa aku buat cepet nyari istri? " balas Liyan membela diri.
" Iya tapi kenapa ga dikenalin dulu ke mama papa? Bukannya pacar kamu yang itu nikahnya sama Leon? Makanya mama kaget setengah mati kamu bilang mau nikah minggu depan. "
" Bukan dia Ma.! " tegas Liyan singkat.
" Bukannya Mama gak percaya tapi kamu ga pernah cerita ke mama soal cewek lain.. mama cuma mau kamu bahagia makanya mama pengen tau siapa calon menantu mama sebenarnya. "
Ibunya memang tidak pernah memaksakan pilihan Liyan karena dia tahu persis anaknya itu sangat keras kepala, persis seperti ayahnya.
" Yang jelas dia bukan dari kalangan atas Ma.. tapi dia perempuan yang baik dan mandiri. " ucap Liyan mencoba meyakinkan sang mama agar tidak khawatir.
" Ya sudah.. nanti mama bilang ke papa kamu. Mama akan usahakan balik ke Indonesia secepatnya.. andai dari awal kamu bilang kan mama bisa bantu kamu urus pernikahan yang ga kalah mewah dari Leon.. " sungut ibunya masih merasa sedikit kesal.
Meski berasal dari keluarga berada dan kalangan atas, Ibunya Liyan tidak pernah membatasi pergaulan anaknya atau membeda-bedakan status sosial seseorang.
Perempuan itu sangat rendah hati, berbeda sekali dengan ibunya Leon yang menganggap segala hal harus yang terbaik dan berkelas untuk anaknya.
Keluarga suami mama Liyan memang mementingkan kesetaraan, apalagi sang kakek besar yang sangat tegas mendidik anak cucunya agar selalu berada di bawah kendali laki-laki tua itu.
Hanya saja Liyan adalah pengecualian, dia sangat keras kepala dan selalu punya cara untuk membantah perintah kakeknya jika dirasa tidak masuk akal.
Berbeda dengan Zheya yang hari-harinya terlihat sangat sibuk di restoran kecil miliknya dan Renata, memeriksa satu per satu berkas hasil penjualan bulanan mereka.
Dia bukan berasal dari kalangan yang berada, hidupnya sebatang kara tanpa orang tua maupun saudara yang harus dikabari tentang berita pernikahannya.
Ibunya telah meninggal dunia disaat Zheya masih remaja, sedangkan ayahnya sendiri tidak pernah ia lihat bahkan di dalam foto sekalipun.
Dari cerita ibunya dulu, ayahnya meninggal saat Zheya masih dalam kandungan dan ibunya tidak pernah mau memberitahu tentang silsilah keluarga lainnya.
...----------------...
Dekorasi pesta yang sangat mewah kini telah dipenuhi oleh kerabat, teman dekat, dan relasi bisnis Liyan di sebuah hotel bintang lima yang megah.
Pesta pernikahan itu dibuat begitu mewah hingga membuat siapa pun yang datang merasa iri dan memimpikan pesta yang serupa.
Karpet merah terbentang panjang menyambut tamu-tamu terhormat, tak sedikit pula para artis terkenal yang hadir memberikan ucapan selamat.
Pengantin pria yang tampak sangat tampan sudah berdiri tegak di pelaminan, menunggu sang tuan putri datang menghampirinya.
Keluarga besar Liyan juga hadir lengkap, meskipun Liyan sempat berdebat hebat dengan sang kakek sebelum acara ini terlaksana.
Liyan yang keras kepala tidak peduli dengan amarah si tuan besar, bahkan ketika seluruh keluarga besar menentang karena latar belakang Zheya yang misterius.
Liyan tetaplah Liyan, dia tidak pernah takut meski diancam akan dikeluarkan dari daftar ahli waris keluarga Huang.
Hanya ibu dan ayahnya yang tulus merestui pernikahannya meski sang ibu belum sempat berkenalan langsung dengan calon menantunya itu.
Di sisi lain, Zheya yang kini telah sah menjadi istri Liyan tidak tahu-menahu soal kerumitan masalah internal keluarga suaminya itu.
Kalaupun dia tahu, mungkin perempuan itu tidak akan peduli karena baginya pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan balas dendam.
Di tengah pesta, akhirnya pemeran utama acara itu hadir dengan anggunnya ditemani para sahabat menuju singgasana pelaminan yang megah.
Tak sedikit mata yang memandang kagum ke arah pengantin wanita, dia tampak sangat cantik dengan gaun putih yang menjuntai indah.
Tubuh yang proporsional, mata bulat yang indah, hidung mancung, dan bibir mungil yang merekah membuat Zheya terlihat seperti bidadari malam itu.
Sentuhan make up dari MUA terkenal yang sangat mahal berhasil mengubah wajah datarnya menjadi wajah yang sangat mempesona.
" Wah cantik sekali istrinya Liyan.. " bisik para tamu undangan.
" Pantas saja Liyan memilihnya, auranya sangat berbeda.. " puji tamu yang lain.
Pujian demi pujian terus dilontarkan kepada pengantin wanita yang kini telah duduk manis di samping Liyan di pelaminan.
Namun, reaksi berbeda ditunjukkan oleh seseorang yang berdiri di sudut ruangan, ia tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat saat ini.
Hatinya berdegup kencang, keringat dingin mulai bercucuran, dan tangannya mengepal kuat menahan gejolak di dadanya.
Dadanya terasa sangat sesak, namun ia mencoba menormalkan ekspresinya meski rasanya seperti terjatuh ke dasar jurang yang paling dalam.
Leon merasa sangat sakit, rasa sakitnya bahkan berkali-kali lipat lebih parah daripada saat ia memutuskan hubungannya dengan Zheya dulu.
Kenapa Leon harus datang ke pesta ini? Jika dia tahu dari awal bahwa Zheya adalah pengantinnya, dia pasti akan memilih untuk tetap di rumah.
Hatinya dirundung penyesalan yang mendalam, ia bergumam pelan, " Sulit dipercayai kalau ini kenyataan.. "
Bagaimana mungkin mantan kekasihnya bisa menjadi pengantin saudaranya sendiri, padahal di undangan hanya tertera nama singkat LIYAN & ZHEE.
Melihat reaksi Leon yang terpaku, Liyan merasa sangat puas, ia tahu sepupunya itu sedang hancur di balik wajah datarnya.
" Kena lu Leon.. makanya jangan coba-coba menyalakan api kalau lu takut terbakar sendiri " batin Liyan dengan senyum kemenangan.
Teman-teman Zheya kemudian menghampiri pelaminan mereka dengan menebar senyuman bahagia layaknya orang tua yang melepas anaknya.
" Selamat ya kalian! Akhirnya sah juga hubungannya! " celetuk Dea dengan wajah sumringah.
" Iya semoga bahagia terus ya Zhee.. meski hati gue sebenernya gak rela bagi lu sama dia.. huaaaa " canda Cherry yang langsung memecah tawa.
" Semoga samawa ya Zhee.. jagain sahabat gue baik-baik ya Om Liyan " Clara mengusap tangan Zheya memberikan dukungan moral.
Renata menatap Zheya dengan mata yang berkaca-kaca, dia adalah saksi hidup perjuangan Zheya sejak masa SMA yang sangat berat.
" Selamat ya Zhee.. gue seneng akhirnya lu punya keluarga baru sekarang. Bahagia selalu ya.. " ucap Renata dengan senyuman yang sangat tulus.
" Iya makasih ya semuanya.. semoga kalian cepet nyusul gue, amin! " jawab Zheya sambil memeluk erat teman-temannya.
Rupanya yang merasa sakit hati bukan hanya Leon saja, Adeline Margaret pun merasa sangat terusik dengan pemandangan di depannya.
Awalnya Adeline mencoba bersikap tegar dan mendoakan kebahagiaan Liyan karena dia merasa bersalah telah mengkhianati pria itu.
Tapi saat ini hatinya terasa panas melihat Liyan memperlakukan Zheya dengan begitu lembut dan hangat di atas pelaminan.
Liyan tampak mengusap bibir istrinya dengan ibu jarinya untuk membersihkan sisa air minum, perlakuan yang tidak pernah Adeline dapatkan dulu.
Adeline tidak sepintar Leon dalam menyembunyikan luka, baginya Zheya tetaplah wanita miskin yang angkuh dan tidak pantas bersanding dengan Liyan.
" Kenapa..? Kamu menyesal sekarang melihat dia bahagia? " suara Leon tiba-tiba mengagetkan Adeline yang sedang melamun.
" Apa yang harus aku sesali? Jangan sok tahu kamu! " jawab Adeline ketus menutupi kecemburuannya.
" Ngaca.. bukankah kamu sendiri yang terlihat ingin menangis melihat mantanmu menikah lagi? " ledek Leon tak mau kalah.
" Kenapa aku harus menyesal? Aku sudah mendapatkan apa yang aku mau " Leon berbohong demi menjaga harga dirinya yang sudah hancur.
" Bibir kamu mungkin bisa berbohong Leon, tapi mata kamu bener-bener gak bisa nipu perasaan kamu sendiri " ledek Adeline kembali.
" Ck.. terserah kamu saja " Leon mendesis malas menanggapi istrinya karena ia tahu pembicaraan ini hanya akan berakhir dengan drama yang panjang.