Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenny
Ursha'el berjalan sendirian menyusuri koridor akademi dengan tas kulit yang bergoyang perlahan seirama dengan langkah kakinya. Suara riuh rendah kegiatan pelajaran yang berlangsung di balik pintu-pintu yang dilewatinya di sepanjang koridor terdengar samar. Ia menuju lapangan pelatihan fisik yang berada diujung akademi, dekat gerbang timur yang langsung bertepian dengan hutan.
Langkahnya melambat ketika ia melewati deretan jendela tinggi. Dari sana, cahaya matahari siang menembus masuk, memantul di lantai batu. Pikirannya masih melayang, memproses informasi dari Professor Ojike.
Tentang naga.
Tentang gerbang.
Tentang residu yang tidak pernah benar-benar mati.
Ursha’el menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Udara koridor terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya perasaannya saja. Tangannya mengepal sesaat di sisi tubuh, lalu mengendur kembali. Ia tidak menyukai perasaan ini, perasaan seakan dunia yang ia kenal memiliki lapisan lain, jauh lebih kelam, jauh lebih asing.
Ursha'el melanjutkan langkahnya.
Ia baru saja akan melewati ruang pemulihan ketika pintu ruangan itu terbuka perlahan dan seorang siswa dengan rambut pirang muncul dari baliknya.
Ursha’el berhenti.
"Oh??, Ursha?" Dari pintu ruang pemulihan yang setengah terbuka, Kenny melangkah keluar dengan santai. Seragamnya agak kusut, namun wajahnya segar, terlalu segar untuk seseorang yang barusan 'kejang dan berbusa'. Hanya sebotol ramuan kecil di tangannya yang menjadi sisa sandiwara, oleh-oleh dari ruang pemulihan.
Ursha’el menoleh perlahan.
“…Kau sudah sembuh?” tanyanya datar, hampir sinis.
Kenny terkekeh. “Ajaib, ya? Bahkan aku sendiri terharu melihat pemulihan secepat ini.”
Ia melangkah mendekat, lalu mencondongkan tubuh sedikit, berbisik,
“Ruang pemulihan itu luar biasa. Kasurnya empuk. Banyak camilan enak. Aku hampir ingin keracunan sungguhan.”
Ursha’el menatapnya tanpa ekspresi selama dua detik penuh. Lalu mendengus, "hah... drama murahan."
“Serius?” Kenny mengangkat alis, nada suaranya tetap santai. “Kau menyebut drama dari anak keluarga teater ini murahan? Padahal itu efektif.” Ia tersenyum tipis. “Bahkan aku yakin kau tak menyadarinya di awal,” lanjutnya sambil terkekeh kecil.
Ia berhenti tepat di samping Ursha’el, menyelaraskan langkah dengannya. Keduanya berjalan bersama menyusuri koridor.
“Ngomong-ngomong,” lanjut Kenny, menoleh sekilas. “Aku kira kau sudah ke lapangan.”
“Sebentar lagi,” jawab Ursha’el singkat.
“Kau nggak naik kereta kuda saja?”
“Tidak.”
“Kenapa? Dari laboratorium alkimia ke lapangan itu jalan kaki bisa tiga puluh menit.”
“Sambil pemanasan, biar nggak kaku.”
Kenny tertawa kecil. “Disiplin sekali.”
Ursha'el melirik Kenny, lalu menambahkan, “Kau sendiri?, ngapain ikut jalan?”
Kenny mengangkat bahu. “Kebetulan saja kau lewat. Jadi aku ikut jalan kaki.”
Ursha’el mengalihkan pandanganya. “Alasan yang aneh.”
Kenny terkekeh pelan. “Hei, aneh itu spesialisasiku.”
Beberapa langkah berlalu dalam keheningan, angin siang yang segar membelai lembut mereka berdua, menyibakkan sedikit rambut Ursha’el, Kenny meliriknya dari samping.
“Kau kelihatan tegang,” katanya, tanpa nada bercanda.
Ursha’el tidak langsung menjawab. “Aku baik-baik saja,” lanjutnya beberapa saat kemudian.
Kenny mengangguk, seolah menerima jawaban itu… tapi tidak sepenuhnya percaya.
“Kalau begitu, kau kelihatan baik-baik saja versi orang yang baru saja diberi informasi tidak menyenangkan.”
Ursha’el berhenti melangkah.
Ia menoleh ke arah Kenny, tatapannya tajam. “Sejak kapan kau pandai membaca orang?”
Kenny berhenti juga, lalu tersenyum miring. “Sejak kecil. Keuntungan lahir di keluarga teater, kalau salah baca ekspresi, bisa dilempar properti.”
Hening sejenak.
Ursha’el mengalihkan pandangan kembali ke depan. “Professor Ojike memberi tahu sesuatu.”
“Oh?” Kenny menyipitkan mata sedikit. “Tipe ‘sesuatu’ yang bikin dunia terasa lebih rumit?”
“…Ya, tentang bahan tadi.”
“Tentang kotoran naga terkutuk?” Kenny menoleh, nadanya ringan namun jelas tertarik. “Apa kata Professor Ojike?”
Ursha’el terdiam sejenak.
“Entahlah,” jawabnya akhirnya. “Aku… bingung menjelaskannya.”
Ia menambahkan pelan, “Dan untuk saat ini, aku juga tidak ingin menceritakannya.”
Kenny menghentikan langkahnya. “Kalau nanti kau ingin menceritakannya,” katanya pelan, “aku tidak akan berpura-pura pingsan, kok.” Ujar Kenny dengan senyum tipis.
Ursha’el menoleh. “Aku tahu,” katanya singkat.
Ursha’el terdiam beberapa langkah di koridor batu. Jendela-jendela tinggi membiarkan sinar matahari jatuh miring, memantul di lantai batu dingin. Suara kelas memudar di belakang, tergantikan gema langkah kaki dan hembusan angin hutan dari arah timur.
“Kenny.” Ursha’el akhirnya membuka suara.
“Hm?”
“Kau… cukup dekat dengan Luce.”
Kenny menoleh, agak terkejut dengan arah pembicaraan itu. Ia tidak langsung menjawab. Langkahnya tetap santai, tapi ekspresinya mengeras.
“Kenapa tiba-tiba bertanya itu?” balasnya.
Ursha’el menatap lurus ke depan. “Aku hanya memperhatikan, kau rela berakting untuk menyelamatkannya, selalu datang dan pulang dari akademi bersama-sama...”
Kenny terkekeh kecil. “Tentu saja. Gadis hijau manis satu ini selalu memperhatikan.” Ia menghela napas ringan, lalu mengangkat botol ramuan kecil di tangannya, menggoyangkannya pelan seolah menimbang sesuatu.
“Yah… kalau soal itu,” katanya akhirnya, “ceritanya agak panjang.”
Ursha’el tidak menoleh, tapi langkahnya melambat. Isyarat yang cukup jelas. Kenny menangkapnya.
“Ibu Luce meninggal saat melahirkannya,” mulai Kenny, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Ia bahkan tak sempat mengingat wajah ibunya sendiri.”
Ursha’el tidak berkata apa-apa.
“Sedangkan ayahnya,” lanjut Kenny, “adalah seorang tentara Kerajaan.”
Ursha’el menajamkan pendengarannya, telinga runcingnya berdenyut.
“Bukan tentara biasa. Dia komandan pasukan Aegis.” lanjut Kenny.
Ursha'el menoleh, matanya melebar, "Serius?, Aegis yang itu?"
“Iya.. pasukan khusus kerajaan, assassin terpilih.”
Koridor mulai sedikit lengang. Suara dari kelas-kelas semakin jauh tertinggal.
“Bertahun-tahun lalu, mungkin saat itu aku masih berumur 3 atau 4 tahun. Entah, aku tidak ingat pasti,” kata Kenny, “teater keluargaku disandera bandit. Bukan perampokan biasa, itu penyanderaan terencana. Mereka tahu kapan pertunjukan penuh, tahu siapa orang penting yang menonton.”
Ursha’el mengepalkan jarinya perlahan.
“Ayahku mencoba bernegosiasi,” lanjut Kenny. “Gagal total. Bandit-bandit itu siap membakar seluruh teater beserta isinya.”
Ia tersenyum miring. Bukan senyum jenaka, lebih seperti sisa kebiasaan lama.
“Lalu pasukan itu datang. Ayah Luce memimpinnya.”
Ursha’el menoleh sedikit ke arahnya.
“Malam itu… semua sandera selamat,” ujar Kenny. “Hanya beberapa yang terluka. Bandit-banditnya ditangkap, sebagian dilumpuhkan.”
Ia berhenti sejenak.
“Ayah Luce gugur beberapa tahun setelahnya. Dalam tugas lain.”
Koridor kembali sunyi, hanya diisi langkah kaki mereka berdua.
“Sejak itu,” lanjut Kenny, “Kerajaan memberi tunjangan pada keluarganya. Tapi itu tidak mengembalikan apa-apa.”
Ursha’el mengingat wajah Luce. Senyum lebarnya. Tingkahnya yang berlebihan.
“Luce hidup dengan neneknya,” kata Kenny. “Sampai neneknya meninggal 8 tahun lalu.”
Ursha’el terdiam.
“Sekarang dia sendirian,” lanjut Kenny ringan, terlalu ringan untuk topik seberat itu. “Rumah kecil. Laboratorium kecil. Tunjangan dari raja. Dan… ya, itu saja.”
Ursha’el menatap lantai batu. “Lalu tingkahnya....”
Kenny terkekeh pelan. Kali ini tawa getir.
“Badut itu?” katanya. “Bukan karena dia bodoh. Justru sebaliknya.”
Ia melirik Ursha’el sekilas.
“Kalau dia terlihat konyol, orang-orang tidak terlalu menaruh ekspektasi,” lanjutnya. “Kalau dia membuat orang tertawa, mereka tidak sempat bertanya kenapa dia sendirian.”
Ursha’el menarik napas pelan.
“Dan kalau dia bersikap santai,” Kenny menambahkan, “tidak ada yang menyadari betapa kerasnya dia memaksa dirinya sendiri untuk tetap berdiri.”
Mereka berjalan beberapa langkah dalam diam.
“Aku dekat dengannya,” kata Kenny akhirnya, “karena keluargaku berutang budi besar pada ayahnya. Tapi aku bertahan di sisinya… karena Luce sendiri.”
Ursha’el mengangguk pelan. “…Dia kuat,” katanya singkat.
Yang tertawa paling keras, terkadang memiliki luka terdalam.
Kenny tersenyum kecil. “Iya. Sayangnya, dia tidak pernah benar-benar percaya itu.”
Di kejauhan, cahaya terbuka dari ujung koridor mulai terlihat. Aroma hutan samar-samar terbawa angin.
Ursha’el berhenti melangkah.
Ia menoleh pada Kenny. “…Terima kasih.”
Kenny berkedip. “Eh?”
“Sudah melindunginya,” lanjut Ursha’el. “Dengan caramu.”
Kenny terdiam sesaat. Lalu tersenyum lebar.
“Wah, pujian dari Ursha’el. Hari ini terasa lengkap,” katanya. “Sayang tidak ada penonton.”
Ursha’el mendengus kecil. Senyum tipis terukir diwajahnya.
“Kau tak kalah menyebalkannya dari Luce.”
Kenny hanya membalasnya dengan tawa kecil, mereka kembali melangkah, menyusuri koridor menuju lapangan pelatihan.