Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Part 2) Chapter 29
Malam itu rumah terasa tenang.
Lampu ruang tamu menyala redup. Suara televisi mati, hanya terdengar suara jam dinding berdetak pelan.
Brian keluar dari kamarnya sambil menggaruk belakang kepalanya.
“Amayah, kau lihat dompetku—”
Kalimatnya terhenti.
Di dekat meja televisi, Amayah sedang jongkok.
Dia memegang sesuatu.
Sebuah buku tebal.
Brian mengerutkan kening.
“…Apa yang dia lakukan?”
Amayah terlihat begitu fokus menatap sampul halaman sambil membersihkannya, sampai bahkan tidak menoleh sedikit pun.
Brian berjalan mendekat perlahan.
Matanya menyipit.
Buku itu terlihat familiar.
Sangat familiar.
Otaknya mencoba mengingat.
Lalu—
Mata Brian membesar.
“Oh tidak.”
Dengan refleks cepat—
SRET!
Brian langsung merebut buku itu dari tangan Amayah.
Amayah terkejut.
“Eh?!”
Brian memegang buku itu erat di dadanya.
Amayah berkedip.
“Buku apa itu?”
Brian menoleh ke arah lain.
“Tidak ada.”
Amayah menyipitkan mata.
“Kau terlihat sangat mencurigakan.”
Brian tetap tidak menatapnya.
“Ini tidak penting.”
Nada suaranya sedikit gugup.
Amayah langsung menyadarinya.
“Kalau tidak penting, kenapa kau panik?”
Brian terdiam.
Amayah berdiri dan mendekat.
“Brian.”
Dia menatap buku itu.
“Berikan.”
Brian langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Amayah tidak bisa menjangkaunya.
“Tidak.”
Amayah mendengus.
“Kau pikir aku tidak bisa mengambilnya?”
Brian menatapnya datar.
“Kau terlalu pendek.”
Amayah langsung kesal.
“Apa kau bilang?!”
Dia naik ke sofa.
“Sekarang kita lihat!”
Dia melompat.
Namun bahkan sebelum dia mencapai—
Brian sudah bergerak menjauh.
Amayah hampir jatuh dari sofa.
“HEI!”
Dia langsung mendekat lagi.
Brian mundur pelan sambil mengangkat buku itu lebih tinggi.
“Tidak.”
“Ini privasi.”
Amayah menyipitkan mata.
“Aku semakin penasaran.”
Brian terus mundur.
Namun—
Duk!
Kakinya menyentuh meja ruang tamu.
Brian kehilangan keseimbangan.
“Ah—”
Tubuhnya jatuh ke sofa.
Dan karena Amayah masih memegang tangannya—
Dia ikut terseret.
BUK.
Brian terbaring di sofa.
Amayah jatuh tepat di atasnya.
Keduanya langsung membeku.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
Mata bertemu.
Sunyi.
Detak jantung terasa jelas.
Amayah yang pertama tersadar.
Wajahnya memerah.
“Ma—maaf!”
Namun anehnya—
Dia tidak langsung bangun.
Sebaliknya—
SRET.
Dia merebut buku itu dari tangan Brian.
Lalu cepat-cepat duduk di sofa.
Brian masih terbaring beberapa detik.
“…Ah.”
Dia akhirnya duduk juga.
Namun buku itu sudah berada di tangan Amayah.
Dia menatapnya dengan penuh kemenangan.
“Sekarang.”
“Apa ini?”
Brian menghela napas pasrah.
“…Album foto.”
Amayah berkedip.
“…Apa?”
“Album foto masa kecilku.”
Mata Amayah langsung berbinar.
“SERIUS?!”
Brian langsung merendahkan diri.
“Tidak ada yang menarik.”
Amayah sudah membuka halaman pertama.
“Aku tidak percaya.”
Foto pertama.
Brian kecil.
Rambut acak-acakan.
Memakai kaos kebesaran.
Amayah langsung menutup mulutnya.
“…Lucu sekali.”
Brian menatap kosong.
“Itu bukan pujian.”
Amayah menunjuk foto lain.
“Ini apa?”
Brian melihat sekilas.
“Oh.”
“Aku jatuh dari sepeda lima detik setelah foto itu diambil.”
Amayah tertawa.
“Kau terlihat sangat bangga sebelum jatuh.”
Halaman berikutnya.
Foto Brian kecil memegang ikan besar.
Amayah tertawa lagi.
“Kenapa ekspresimu seperti menang perang?”
Brian menjawab datar.
“Aku memang merasa seperti itu.”
Mereka membuka halaman demi halaman.
Foto Brian bermain hujan.
Foto Brian memanjat pohon.
Foto Brian tidur dengan wajah penuh cokelat.
Amayah tertawa terus.
“Aku tidak menyangka kau dulu sekacau ini.”
Brian menyandarkan dagu di tangannya.
“Semua anak kecil kacau.”
Amayah menunjuk satu foto.
“Ini di mana?”
“Indonesia.”
Amayah menatapnya lama.
“Aku belum pernah ke sana.”
Brian berkata santai,
“Tempatnya bagus.”
Amayah memandang foto pantai itu.
“Kelihatannya indah.”
Brian tersenyum kecil.
“Kalau suatu hari nanti kita punya waktu…”
Dia berkata pelan.
“Aku akan mengajakmu ke sana.”
Amayah menoleh.
Brian melanjutkan,
“Kita akan berjalan di pantai yang sama.”
“Kau bisa mencoba makanan yang dulu aku makan.”
“Kita bisa mengunjungi tempat-tempat yang ada di foto ini.”
Amayah terdiam beberapa detik.
Wajahnya sedikit merah.
“Hmph.”
“Jangan bicara seolah itu janji.”
Brian tersenyum tipis.
“Bukankah itu terdengar seperti janji?”
“Lanjut.”
Namun ketika mereka membuka halaman berikutnya—
Amayah berhenti.
Ada foto Brian.
Namun dia tidak sendirian.
Seorang anak perempuan berambut hitam berdiri di sampingnya.
Mereka bermain bersama.
Ada foto mereka berlari.
Ada foto mereka duduk berdampingan.
Bahkan ada foto mereka saling tertawa.
Amayah menyipitkan mata.
“…Siapa dia?”
Brian terdiam.
Amayah melipat tangan.
“Kalian terlihat dekat.”
Nada suaranya tidak keras.
Namun jelas ada cemburu.
Brian berkata pelan,
“Dia teman masa kecilku.”
Amayah menunjuk foto lain.
“Kalian terlihat sangat bahagia.”
Brian menatap foto itu lama.
“…Dia adalah cahaya pertamaku.”
Amayah mengerutkan kening.
Brian melanjutkan pelan,
“Dia yang pertama kali mengajakku bermain.”
“Dia menyelamatkanku dari kesendirian.”
Namun senyumnya memudar.
“Tapi pertemanan itu… akhirnya menjadi malapetaka bagi kami.”
Amayah terdiam.
Brian menutup halaman itu perlahan.
“…Setelah itu, aku kehilangan secercah cahaya.”
Amayah menatapnya.
“…Jadi dia cinta pertamamu?”
Brian berkedip.
Amayah mendengus pelan.
“Hebat sekali.”
“Aku bahkan bukan yang pertama.”
Brian langsung berkata,
“Tidak seperti itu.”
Amayah melipat tangan.
“Lalu bagaimana?”
Brian menatapnya.
Lalu berkata panjang.
“Perasaan pertama tidak selalu berarti yang paling penting.”
“Dia adalah seseorang yang pernah muncul di masa lalu.”
“Namun yang ada di sini sekarang…”
Dia menyentuh dadanya.
“…adalah kamu.”
Amayah terdiam.
Brian melanjutkan pelan,
“Jika masa lalu adalah cahaya pertama yang menyinari kegelapan…”
“...maka kau adalah matahari yang benar-benar menghangatkan dunia.”
Amayah memalingkan wajah.
“…Dasar pembicara.”
Namun pipinya merah.
Tiba-tiba dia berkata,
“Aku ingin pergi ke Indonesia.”
Brian langsung curiga.
“Kau tidak akan menghajarnya, kan?”
Amayah mendengus.
“Tentu tidak.”
Dia berkata pelan,
“Aku ingin berterima kasih.”
Brian terkejut.
Amayah melanjutkan,
“Kalau bukan karena dia…”
“Kau mungkin tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki teman.”
“Dan kalau kau tidak pernah merasakan itu…”
“Mungkin kau tidak akan menjadi orang seperti sekarang.”
Dia tersenyum kecil.
“Orang yang bisa aku sukai.”
Brian terdiam.
Amayah terus berbicara.
Cukup lama.
Tentang bagaimana masa lalu Brian membuatnya menjadi dirinya sekarang.
Tentang bagaimana dia bersyukur Brian ada.
Tanpa sadar—
Tangannya menggenggam tangan Brian.
Jari mereka saling bertaut lembut.
Namun Amayah bahkan tidak menyadarinya.
Setelah dia selesai bicara—
Brian tersenyum.
Senyum yang begitu hangat.
Amayah menatapnya.
“…Kenapa?”
Brian berkata pelan,
“Tidak ada.”
Amayah menyipitkan mata.
“Kau terlihat seperti ingin menangis.”
Brian langsung membela diri.
“Aku tidak menangis.”
Lalu dia menunjuk tangan mereka.
“Dan kau menggenggam tanganku.”
Amayah langsung melihat.
Wajahnya merah.
“…Aku tidak sadar.”
Brian berkata pelan,
“Lakukan lagi.”
Amayah berkedip.
“Apa?”
Brian tersenyum kecil.
“Malam ini dingin.”
“Dan itu terasa hangat.”
Amayah menatapnya lama.
Lalu perlahan…
Dia menggenggam tangan Brian lagi.
Jari mereka saling bertaut.
Lembut.
Hangat.
Brian berkata pelan,
“Aku senang kau ada di sini.”
“Kalau tidak…”
“Mungkin aku masih merasa sendirian.”
Amayah menunduk sedikit.
“Aku juga.”
Dia berkata pelan.
“Tanpamu… tempat ini mungkin terasa sepi.”
Brian tersenyum kecil.
“Jadi kita saling menyelamatkan.”
Amayah mendengus.
“Jangan membuatnya terdengar terlalu romantis.”
Namun tangan mereka tetap bertaut.
Beberapa saat kemudian—
“Ehem.”
Suara seseorang.
Brian dan Amayah langsung tersentak.
Mereka melepas tangan dengan cepat.
Di belakang mereka—
Emilia berdiri sambil tersenyum heran.
“…Apakah aku mengganggu sesuatu?”
Brian dan Amayah langsung tersipu malu.
Emilia hanya tertawa kecil.
“Aku akan pura-pura tidak melihat apa pun.”
Namun senyum nakalnya mengatakan sebaliknya.
---
Pagi itu sekolah terasa aneh.
Bukan karena pelajaran.
Bukan karena guru.
Melainkan karena suasananya.
Lorong sekolah penuh dengan murid yang berisik.
Beberapa orang bahkan berlari ke arah tangga.
“Ayo ke bawah!”
“Cepat!”
“Kalian harus lihat ini!”
Brian yang duduk di kursinya mengangkat alis.
“…Apa yang terjadi?”
John menoleh ke jendela kelas.
Beberapa murid terlihat berlari menuju lantai bawah.
Ada yang hampir menabrak satu sama lain.
John mengerutkan kening.
“Ada keributan?”
Tiba-tiba dua murid melewati pintu kelas sambil berbicara keras.
“Ayo ke bawah!”
“Ada malaikat!”
Brian berkedip.
“…Malaikat?”
John menyeringai.
“Kalau benar malaikat, aku ingin foto dulu.”
Amayah yang duduk di depan mereka menoleh sedikit.
“Sekolah ini tidak pernah setenang yang aku harapkan.”
Brian berkata datar,
“Mungkin ada selebriti datang.”
John mengangkat bahu.
“Atau mungkin ada pemberitahuan penyerangan terharap Iran.”
Brian menatapnya.
“Itu bukan sesuatu yang membuat orang bersemangat, mungkin.”
John berpikir sebentar.
“…Benar juga.”
Beberapa detik kemudian—
Pintu kelas terbuka.
Semua orang di dalam kelas otomatis menoleh.
Lena berdiri di pintu.
Namun—
Ada sesuatu yang berbeda.
Rambut coklat panjangnya yang biasanya terurai lembut kini dipotong pendek.
Panjang rambutnya hanya sampai bahu.
Di dekat telinganya terdapat ikatan kecil yang rapi dan indah.
Penampilannya terlihat segar.
Dan… sangat cantik.
Kelas langsung sunyi beberapa detik.
John yang biasanya paling banyak bicara langsung bersiul kecil.
“Wow.”
Lena berjalan masuk seperti biasa.
John menatapnya dari atas sampai bawah.
“Sejak kapan kamu berubah jadi karakter utama drama romantis?”
Beberapa murid lain juga berbisik-bisik.
“Cantik sekali…”
“Dia terlihat berbeda.”
Amayah menatap Lena beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
“Cocok.”
Lena berkedip.
“Benarkah?”
Amayah mengangguk.
“Kamu terlihat lebih ringan.”
John menambahkan,
“Dan lebih mencolok.”
Lena tertawa kecil.
“Terima kasih.”
Brian hanya menatap Lena beberapa detik.
Lalu berkata dengan jujur,
“…Ini pertama kalinya aku melihatmu mengubah penampilan.”
Lena duduk di kursinya.
“Iya.”
Brian menyilangkan tangan.
“Kenapa?”
Lena tersenyum.
“Hanya ingin mencoba sesuatu yang baru.”
John menyeringai.
“Perubahan besar biasanya berarti perubahan hidup.”
Lena mengangkat bahu.
“Mungkin.”
Namun di balik senyumnya—
Ada sesuatu yang tidak dia katakan.
Sore hari kemarin
Pintu kamar mandi perlahan terbuka.
Kaisa dan Liisa yang berdiri di depan pintu langsung menoleh.
“Lena?!”
Lena keluar.
Dan mereka langsung membeku.
Rambut Lena yang sebelumnya panjang kini terpotong pendek.
Beberapa bagian bahkan terlihat tidak terlalu rapi.
Kaisa menutup mulutnya.
“Lena… rambutmu…”
Liisa mengangkat alis.
“Kamu… memotongnya sendiri?”
Lena menghindari tatapan mereka.
“Iya.”
Kaisa terlihat khawatir.
“Kenapa?”
Lena mengangkat bahu.
“Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru.”
Liisa menyipitkan mata.
“Dengan gunting dapur?”
Lena tertawa kecil.
“Mungkin aku ingin tantangan.”
Kaisa masih terlihat cemas.
“Apakah ada sesuatu yang terjadi di sekolah?”
Lena langsung menggeleng.
“Tidak.”
Dia mulai menjelaskan panjang.
Tentang bagaimana rambut panjang kadang merepotkan.
Tentang bagaimana dia ingin mencoba gaya baru.
Tentang bagaimana banyak orang memotong rambut untuk perubahan.
Penjelasannya panjang.
Terlalu panjang.
Liisa memperhatikan wajah Lena dengan tenang.
Matanya lembut.
Namun tajam.
Setelah Lena selesai bicara—
Liisa tiba-tiba berjalan mendekat.
Lalu—
Dia memeluk Lena.
Lena terkejut.
“Eh—”
Liisa mengelus kepala adiknya pelan.
“Tidak perlu berbohong.”
Lena membeku.
Liisa berkata lembut,
“Aku bisa melihatnya dari matamu.”
Sunyi beberapa detik.
Kaisa juga menatap Lena dengan lembut.
Liisa melanjutkan,
“Kalau ada sesuatu yang membuatmu sakit… katakan saja.”
“Tidak apa-apa.”
“Tidak semua hal harus kamu tanggung sendiri.”
Lena menggigit bibirnya.
Dia mencoba menahan.
Namun akhirnya—
Air matanya jatuh.
“…Aku…”
Suaranya bergetar.
“Dia memilih orang lain…”
Tangis Lena pecah.
Tangisnya keras.
Seolah semua yang dia tahan sejak tadi akhirnya keluar.
Liisa memeluknya lebih erat.
“Tidak apa-apa.”
Kaisa juga mendekat dan memeluk mereka berdua.
Lena menangis cukup lama.
Dia menceritakan semuanya.
Tentang Brian.
Tentang Amayah.
Tentang bagaimana dia mencoba tersenyum meskipun hatinya sakit.
Tentang bagaimana dia mencoba berpura-pura tidak peduli.
Liisa hanya mendengarkan.
Sesekali mengelus rambutnya.
Setelah Lena mulai tenang—
Liisa berbicara panjang.
“Seseorang yang kamu sukai memilih orang lain… memang menyakitkan.”
“Tapi itu bukan berarti kamu kalah.”
“Perasaanmu tidak salah.”
“Perasaan itu hanya datang pada waktu yang tidak tepat.”
Liisa tersenyum lembut.
“Dan seseorang sebaik kamu… tidak akan sendirian selamanya.”
Dia mengusap air mata Lena.
“Suatu hari nanti akan ada seseorang yang melihatmu.”
“Bukan sebagai pilihan kedua.”
“Tapi sebagai satu-satunya.”
Kaisa juga berbicara pelan.
“Kamu anak yang kuat.”
“Dan ibu bangga padamu.”
Lena akhirnya tersenyum kecil.
Matanya masih merah.
Namun hatinya terasa sedikit lebih ringan.
Beberapa menit kemudian—
Liisa mengambil gunting kecil.
“Baiklah.”
“Potongannya kurang rapih loh."
Lena duduk di kursi.
Liisa mulai merapikan rambutnya dengan hati-hati.
Lena menatap cermin.
“Kakak tiba-tiba baik sekali.”
Liisa mendengus.
“Aku memang baik.”
Lena tertawa kecil.
“Tidak juga.”
Liisa langsung mencubit pipinya.
“Kurang ajar.”
Kaisa hanya tertawa melihat mereka.
Namun ketika Lena kembali ke kamarnya malam itu—
Dia duduk di tempat tidur.
Menatap rambut barunya di cermin kecil.
Dalam hatinya—
Dia merasa sedikit lebih ringan.
Kata-kata kakaknya.
Kata-kata ibunya.
Semua itu benar.
Dia tidak perlu terus bersedih.
Dia tidak perlu merasa kalah.
Namun—
Di dalam hatinya yang paling dalam…
Masih ada satu hal yang belum dia lakukan.
Dia belum jujur tentang perasaannya.
Dan perasaan yang tidak pernah diungkapkan…
Kadang tidak benar-benar hilang.
Kadang…
Ia hanya tumbuh diam-diam.
Bersambung.
Namun, masih ada beberapa sifat karakter yang terasa tidak konsisten. Namun, secara keseluruhan, cukup baik.
semangat terus bang!!!