Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2-Aluna pingsan
"Kelas bisa nunggu, tapi kedisiplinan nggak bisa ditunda," sahut Arlan tanpa menoleh. Ia berjalan dengan langkah tegap menuju tengah lapangan yang mulai ditinggalkan oleh siswa lainnya.
Aluna menghentakkan kakinya kesal, namun tetap mengekor di belakang Arlan. "Kak, matahari udah makin panas! Jangan bilang lo mau nyuruh gue hormat bendera sampai jam istirahat?!"
Arlan berhenti tepat di titik paling panas di lapangan basket sekolah. Ia berbalik, menatap Aluna datar. "Karena lo udah telat, kancing nggak rapi, dan sempat teriak-teriak nggak sopan di depan gerbang, poin lo sudah cukup buat bikin lo berdiri di sini sampai jam pelajaran kedua selesai."
"Gila lo ya kak! Ini suhunya bisa 35 derajat, Arlan! Gue belum sarapan!" Aluna memprotes dengan suara serak.
"Itu konsekuensi. Berdiri. Tegak. Hormat ke arah bendera," perintah Arlan mutlak. Ia sendiri berdiri sedikit lebih teduh di bawah bayangan ring basket, memegang buku catatan OSIS-nya seolah-olah sedang mengawasi tahanan kelas kakap.
Satu jam berlalu. Keringat mulai membasahi seragam putih Aluna hingga terasa lengket. Rambutnya yang tadi basah kini lepek terkena keringat. Pandangannya mulai berbayang. Aluna merasa perutnya melilit karena kosong, ditambah sengatan matahari yang seolah membakar ubun-ubunnya.
"Kak... udah dong... gue beneran pusing," rintih Aluna pelan. Tangannya yang sedang hormat mulai gemetar hebat.
Arlan melirik jam tangannya, lalu menatap Aluna. "Sisa lima belas menit lagi. Tahan."
Tiba-tiba, telinga Aluna berdenging kencang. Warna hijau lapangan mendadak berubah menjadi putih silau. Tubuhnya limbung ke depan.
"Aluna?" Arlan menyadari ada yang salah saat gadis itu tidak lagi membalas ucapannya.
Sebelum Arlan sempat melangkah maju, tubuh Aluna sudah lebih dulu tumbang. Lututnya menghantam aspal lebih dulu sebelum akhirnya seluruh tubuhnya terkulai lemas di tengah lapangan yang panas.
"Aluna!" pekik Arlan panik. Wajah datarnya seketika hancur, digantikan raut kecemasan yang luar biasa. Ia berlari secepat kilat, merengkuh tubuh gadis itu ke pangkuannya. Wajah Aluna pucat pasi, bibirnya membiru, dan kulitnya terasa sangat panas.
Arlan menepuk pipi Aluna pelan, namun tidak ada reaksi. "Aluna, bangun! Sialan, jangan bercanda!"
Tanpa memedulikan tatapan beberapa siswa yang melihat dari jendela kelas, Arlan mengangkat tubuh mungil Aluna dengan gaya bridal style. Ia berlari kencang menuju UKS, jantungnya berdegup jauh lebih kencang daripada saat ia memberikan perintah hukuman tadi.
Brukk!
Pintu UKS itu terbuka lebar dengan dentuman keras. Arlan tidak peduli lagi jika tindakannya dianggap tidak sopan oleh petugas kesehatan yang berjaga. Fokusnya hanya satu gadis yang kepalanya terkulai lemas di pundaknya.
Arlan merebahkan tubuh Aluna di atas brankar putih dengan sangat hati-hati, seolah-olah jika ia bergerak terlalu kasar, gadis itu akan semakin hancur. Ia segera menyambar botol minyak kayu putih di atas meja medis dan menumpahkannya sedikit ke telapak tangan.
"Aluna, bangun..." bisiknya sambil mengusapkan jemarinya ke pelipis Aluna.
Beberapa detik kemudian, jemari Aluna mulai bergerak pelan. Kelopak matanya yang lentik bergetar sebelum akhirnya terbuka sedikit demi sedikit. Cahaya lampu UKS yang putih terang sempat membuatnya silau.
"Eungh..." Aluna melenguh, memegangi kepalanya yang terasa seolah sedang diputar-putar.
"Gak usah deket-deket. Bau karbol," cetus Aluna ketus sambil berusaha duduk.
Arlan menarik tangannya kembali, berdiri tegak dengan posisi sempurna tangan di samping jahitan celana, kembali ke mode robot. "Lo pingsan. Efisiensi waktu gue sepuluh menit cuma buat bawa lo ke sini."
Aluna melotot, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Oh, jadi lo nyesel nolongin gue? Ya udah, tadi biarin aja gue terkapar di aspal biar dimakan kucing lapangan! Lagian siapa juga yang suruh lo sok jagoan gendong gue?"
"Gue nggak sok jagoan. Kalau lo mati di lapangan SMA Garuda, reputasi gue sebagai Ketua OSIS bakal cacat di laporan bulanan," jawab Arlan tanpa ekspresi sedikit pun, seolah-olah Aluna hanyalah sebuah inventaris sekolah yang rusak.
"Sinting lo ya, Kak, " umpat Aluna pendek. Ia meraih gelas air putih di nakas dan meminumnya dengan rakus. "Udah, sana pergi. Gue nggak butuh penjaga pintu."
"ALUNA" terdengar suara teriakan Belva dan Sesya yang menggema di ruang UKS.
Belva dan Sesya adalah sahabat terbaik Aluna. Mereka sudah bersahabat sejak SMP.
Belva dan Sesya menerjang masuk ke dalam UKS dengan wajah yang hampir sama pucatnya dengan Aluna. Tanpa memedulikan Arlan yang masih berdiri mematung seperti pilar di samping brankar, keduanya langsung mengerubungi sahabat mereka.
"Aluna! Lo nggak apa-apa? Ya ampun, muka lo kayak mayat!" seru Belva sambil meraba dahi Aluna dengan panik.
Sesya menimpali sambil melirik tajam ke arah Arlan, "Kak Arlan, ini keterlaluan tahu nggak? Aluna itu tadi pagi buru-buru dan pasti belum sempat sarapan, malah disuruh jemur kayak ikan asin!"
Arlan tidak bergeming. Ia hanya memperbaiki posisi kacamata yang sedikit merosot, kembali ke mode es batu yang tidak tersentuh. "Dia melanggar aturan. Gue cuma menjalankan tugas," jawabnya pendek, suaranya sedingin es di kutub utara.
"Tugas, tugas, matamu tugas! Ini temen gue pingsan!" semprot Belva, tidak takut meski yang ia hadapi adalah Ketua OSIS paling disegani.
"Sudah, Bel. Berisik tahu nggak," sela Aluna lemas. Ia memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. "Mending lo berdua bantuin gue duduk daripada ribut sama robot. Percuma, dia nggak bakal minta maaf."
Arlan hanya melirik Aluna sekilas lewat sudut matanya. Tidak ada bantahan, tidak ada pembelaan. Ia justru melangkah mundur, memberi ruang bagi Belva dan Sesya untuk lebih leluasa mengurusi Aluna.
"Karena temen kalian sudah sadar, tanggung jawab gue di sini selesai," ucap Arlan dengan nada yang tetap datar, seolah-olah dia baru saja menyelesaikan tugas piket kelas, bukan menyelamatkan orang pingsan.
"Sana lo pergi! Hus!" usir Belva sambil mengibas-ngibaskan tangannya seolah mengusir ayam.
Arlan tidak menunjukkan reaksi tersinggung sedikit pun atas usiran Belva. Ia hanya merapikan buku saku di tangannya, lalu berbalik tanpa kata. Langkah kakinya yang mantap terdengar menjauh, meninggalkan aroma parfum maskulin yang samar-samar masih tertinggal di area brankar Aluna.
"Lo beneran gapapa kan, Al? Lemes banget keliatannya," gerutu Belva sambil membantu Aluna memperbaiki posisi bantalnya.
Aluna hanya menggeleng pelan, matanya menatap pintu UKS yang baru saja tertutup. "Cuma pusing dikit. Lagian lo berdua kenapa bisa tahu gue di sini? Kan jam pelajaran Bu Lastri lagi jalan."
"Ya ampun, Al! Kabar lo pingsan terus digendong Kak Arlan itu udah kayak api kesamber bensin, cepet banget nyebarnya!" Sesya heboh sendiri sambil menyodorkan segelas teh hangat. "Satu sekolah heboh. Ada yang bilang lo romantis kayak di drakor, ada yang bilang lo mau mati beneran."
Aluna mendengus, meminum tehnya sedikit demi sedikit. "Romantis apanya. Tadi pas gue siuman, dia malah bilang efisiensi waktunya terbuang cuma buat bawa gue ke sini. Dia cuma takut laporannya cacat."