"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tetes darah terakhir
Andersen menerjang keluar layaknya bayangan yang terlepas dari kegelapan. Tanpa ragu, ia memuntahkan peluru dari pistol di tangannya dengan presisi yang mematikan.
Dua tembakan beruntun bersarang telak di leher lawan terdekat. Tubuh-tubuh itu ambruk, menghantam aspal dengan suara gedebuk yang tumpul... bahkan sebelum jari mereka sempat menyentuh pelatuk.
Andersen tidak berhenti dan ia tetap berusaha berlari kesana kemari, memanfaatkan momentum untuk terus menekan lawan sambil melepaskan tembakan-tembakan balasan dan memaksa musuhnya mengambil langkah mundur.
"Buat ini lebih menarik"
Sebutir peluru kaliber 9mm melesat, merobek udara dan menembus punggungnya. Rasa panas yang membakar menjalar seketika, perasaan itu tidak dirasakan olehnya...
Adrenalin yang memuncak telah menyelamatkan dirinya yang sedang dalam keadaan yang cukup parah dan membuat Andersen tidak menyadari, betapa bringasnya sebuah peluru yang melubangi tubuhnya.
Andersen hanya merasakan sentakan keras di salah satu bagian tubuhnya, seolah olah tubuhnya dapat menahan rasa sakit tersebut.
Dengan satu terjangan nekat, Andersen meluncur ke balik deretan mobil yang terparkir di bahu jalan. Ia meringkuk rendah, nyaris mencium aspal, tepat saat badai peluru mulai mencabik bodi logam tepat di atas kepalanya.
Suara hantaman timah panas yang beradu dengan ledakan kaca menciptakan simfoni kematian yang memekakkan telinga—sebuah jeritan logam yang mengoyak sunyinya jalanan.
Di seberang sana, lawan mulai merapatkan formasi. Mereka berlindung di balik sedan-sedan hitam yang dirancang khusus untuk menahan peluru, menjadikannya benteng berjalan yang terus menghujani posisi Andersen tanpa jeda.
Andersen terjepit. Mobil pelindungnya perlahan hancur, terkelupas lapis demi lapis oleh ganasnya proyektil yang tak henti menyalak. Di tengah kepulan asap dan tajamnya aroma mesiu yang mencekik indra, napasnya mulai memburu pendek dan tidak stabil. Paru-parunya terasa menyempit, berpacu dengan detak jantung yang menggedor dada.
Namun, di tengah kemelut itu, Andersen masih belum menyadari satu hal. Di bawah sana, aspal mulai kehilangan warna gelapnya, berganti dengan genangan cairan pekat yang merayap hangat. Darah mengalir deras dari lubang di punggungnya, merembas lewat serat kemeja yang kini mulai terkoyak, membentuk kolam merah yang perlahan namun pasti terus melebar di bawah kakinya
Namun, takdir tidak memberikan Andersen kemewahan untuk sekadar merintih. Di depan sana, Sedan Margarette—mahakarya teknik otomotif dengan panel baja balistik yang dirancang untuk meredam energi kinetik proyektil—berdiri angkuh bak benteng tak tertembus.
Musuh bersembunyi di baliknya, memuntahkan timah panas yang merobek udara jalanan yang kian mencekam.
Bahu kanannya mulai berteriak, sebuah protes fisiologis yang dikirimkan oleh jutaan saraf sensorik akibat trauma jaringan yang dipaksa bekerja melampaui batas batas kewajaran manusia.
Lelaki itu tidak tahu di mana titik nadirnya. Ia tidak peduli. Cairan merah hangat terus merembes, mengalir menuruti hukum gravitasi, membasahi aspal jalanan yang bisu saksi bisu
"Cih... mengapa mereka tidak ada habisnya?" Andersen mendesis. Suaranya pecah, parau oleh debu mesiu yang memenuhi rongga pernapasannya.
Ia mencoba mengeratkan jemarinya pada gagang polimer pistolnya. Senjata itu kini terasa asing—licin dan berbahaya karena campuran keringat serta hemoglobin atau darah yang mulai mengental.
Saat gelombang Adrenalin di dalam darahnya perlahan surut, tirai ilusi tanpa rasa sakit itu pun tersingkap. Rasa sakit yang murni, tajam, dan nyata menghantam kesadarannya seperti hantaman gada besi, mengingatkannya bahwa ia hanyalah manusia biasa yang sedang menantang maut.
Luka tembak di punggungnya kini bukan lagi sekadar luka; itu adalah api yang membakar hidup-hidup, merambat cepat hingga menusuk sumsum tulang belakang.
Di tengah rasa panas itu, memori lama di bahu kirinya tiba-tiba bangkit—sebuah trauma masa lalu yang seolah datang kembali untuk menagih janji. Saraf-sarafnya tersentak hebat, lalu mendadak senyap, mati rasa seolah sistem pertahanan di dalam dirinya baru saja meledak...
Pundaknya terasa berat, seakan ada beban ribuan ton yang tak kasat mata sedang menghimpitnya.
Ini adalah sebuah pengkhianatan; saat jiwanya ingin terus berlari, namun raga justru memilih untuk menyerah pada rasa sakit. Lelaki itu tahu, dalam pertempuran seperti ini, musuh terbesar bukanlah mereka yang memegang senjata di depan sana, melainkan tubuhnya sendiri yang mulai kehilangan daya.
"Masih kurang"
"Heiii... jangan bercanda!" umpat Andersen pada tubuhnya sendiri, sebuah perintah yang ditujukan pada jaringan daging dan tulang yang mulai melemah.
Ia mencoba mengangkat tangan kirinya dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Ia memaksa unit-unit motorik dalam ototnya yang bergetar hebat untuk kembali tunduk pada perintah otaknya.
Melihat pertahanan Andersen yang mulai goyah—sebuah window of opportunity yang tak mungkin dilewatkan—beberapa sosok di seberang sana mulai mengubah taktik.
Mereka keluar dari zona aman di balik perlindungan baja, merangsek maju dengan langkah-langkah taktis yang terukur, siap untuk mengakhiri simfoni kematian ini di jalanan yang sunyi.
"Huh, Apa hanya sebatas ini... Andersen?..."
Pandangan Andersen mulai memudar, dunia di sekitarnya berubah menjadi bayangan yang berpusing dan tak tentu arah. Namun, dengan sisa kesadaran yang kian tercerai-berai, ia memaksakan jarinya menarik pelatuk untuk terakhir kali.
DAR! DAR!
Sayangnya, raga yang telah hancur itu tak lagi mampu diajak bekerja sama. Logam panas itu melesat buta, hanya mencabik udara kosong dan menghantam aspal, menciptakan percikan api singkat yang langsung tertelan kepekatan malam.
Seolah menertawakan kegagalannya, rentetan tembakan balasan menyalak serentak dari arah depan, menghujani barikade tempatnya berlindung.
Jreb.
Satu proyektil kembali menemukan sasaran. Kali ini, lengan kirinya yang menjadi tumbal. Sentakannya begitu brutal, menghunjam daging dan memaksa tubuh Andersen tersungkur lebih rendah, mencium dinginnya jalanan Yang kini tak lagi ramah.
Darah segar merembes keluar dengan liar, bertemu dengan noda merah yang telah lebih dulu menjenuhkan kemeja sutranya—pakaian mahal yang kini tak lebih dari kain kusam penjemput maut.
Kini, lelaki itu hanya bisa terbaring diam. Ia menatap ke atas, menyaksikan langit malam yang luas dan sunyi, seolah bintang-bintang di sana sedang bersiap untuk jatuh menimpa wajahnya yang kian pucat.
Punggungnya masih terasa terbakar oleh api yang tak kunjung padam, sementara kedua lengannya kini lumpuh bersimbah darah di atas aspal yang keras.
Matanya melirik layu ke arah pistol yang tergeletak di sampingnya. Di dalam sana, sisa nyawanya hanya tinggal beberapa butir peluru yang bisa dihitung dengan jari satu tangan. Sangat sedikit.
Sementara itu, suara langkah kaki musuh terdengar kian nyata. Teratur, mengancam, dan penuh kemenangan, membelah aroma karat darah dan bau mesiu yang memenuhi udara di jalanan yang sunyi.
Di tengah rasa sakit yang melumpuhkan itu, sebuah godaan purba datang menghampiri Andersen. Keinginan untuk sekadar menutup mata, menyerah pada maut, dan Memutar kembali roda waktu melalui....
Sebuah mekanisme yang mungkin, bisa disebut sebagai "Keberuntungan" ini terasa begitu manis.
"sepertinya, diriku agak keterlaluan... Maaf, tetapi kamu harus.. lebih bisa memahami arti dari kehilangan yang lebih kejam lagi"
Ia telah melakukannya berkali-kali—melarikan diri dari kegagalan dengan mengulang waktu seolah hidup hanyalah sebuah naskah yang bisa disunting kembali.
Namun, tepat saat kesadarannya nyaris padam, sebuah suara asing membelah kesunyian batinnya. Suara itu tidak datang dari luar, melainkan bergema di dalam palung jiwanya seperti sambaran petir yang membelah langit hitam.
"Selamatkanlah Sheila... atau kau akan kehilangan dirinya selamanya. Kau takkan pernah bisa merasakan kehangatan itu lagi jika kau terus memilih untuk bersembunyi di balik pengulangan."
Bayangan tentang kehangatan Sheila seolah menjadi oase di tengah padang pasir kematian yang kini menjeratnya. Andersen menyadari satu hal yang mengerikan...
Kali ini, "Keberuntungan" itu mungkin tidak akan memberinya kesempatan lagi. Jika ia menyerah sekarang, ia akan kehilangan satu-satunya alasan yang membuatnya tetap menganggap dirinya sebagai "seseorang yang bisa melindungi apa yang ia sayangi".
"Apakah dirinya akan bisa melindungi mereka?..."
"Arghhhh!" Ayolaahh...
Andersen mengerang, sebuah suara parau yang lahir dari sisa-sisa tekad di dasar tenggorokannya. Ia menolak untuk menyerah. Ia menolak untuk kembali ke belakang. Dengan satu raungan yang mengoyak sunyi, ia memaksa seluruh serat ototnya yang telah mati rasa untuk bangkit kembali.
Ia tidak akan membiarkan takdir mendiktenya untuk kali ini, ia akan menuliskan akhirnya sendiri, meski harus bersimbah darah di atas aspal yang dingin.