Sinopsis:
Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.
Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GERBANG YANG TIDAK PERNAH TERBUKA DUA KALI
Fajar datang tanpa warna.
Kabut tipis menggantung di antara batang-batang pohon ketika Liang Chen membuka mata. Api di tengah gua sudah padam, menyisakan bara merah yang hampir mati. Bau asap bercampur dengan aroma ramuan obat yang semalam dioleskan Lan Yi ke lukanya.
Tubuhnya masih nyeri, tetapi lebih stabil.
Ia menggerakkan bahu kirinya perlahan.
Sakit.
Namun masih bisa diangkat.
Cukup.
Lan Yi sudah berdiri di mulut gua, menghadap ke luar. Siluetnya terlihat tegas dalam cahaya abu-abu pagi.
“Kita berangkat sekarang,” katanya tanpa menoleh.
“Kau tidak pernah tidur?” tanya Liang Chen.
“Tidur adalah kemewahan,” jawabnya singkat.
Liang Chen bangkit, mengambil pedangnya. Ia tidak memasangnya di punggung, melainkan tetap di pinggang, mudah dijangkau.
Lan Yi melirik sekilas.
“Jangan coba hal bodoh,” katanya.
“Kalau aku ingin kabur, semalam sudah kulakukan.”
“Kalau kau ingin kabur, kau tidak akan berhasil.”
Nada suaranya bukan ancaman kosong.
Mereka berjalan menuruni jalur hutan yang menanjak ke arah perbukitan. Matahari perlahan muncul, menembus sela dedaunan dan memperlihatkan medan yang sebelumnya tersembunyi.
Setelah hampir satu jam, hutan mulai menipis.
Di hadapan mereka, berdiri bangunan batu yang tidak terlalu besar, tetapi tampak kokoh.
Benteng Selatan.
Tidak setinggi benteng kerajaan, tidak semegah markas sekte besar, tetapi dindingnya tebal dan gerbangnya diperkuat besi. Di kedua sisi gerbang berdiri dua penjaga dengan tombak panjang.
Lan Yi berjalan tanpa ragu.
Penjaga mengenalinya. Mereka tidak banyak bicara. Hanya satu yang melirik Liang Chen dengan tatapan tajam.
“Itu dia?” tanya penjaga itu.
Lan Yi mengangguk.
Gerbang dibuka sedikit.
Cukup untuk satu orang masuk.
Liang Chen melangkah tanpa menoleh ke belakang.
Begitu melewati ambang gerbang, ia langsung merasakan suasana berbeda.
Halaman dalam benteng tidak luas, tetapi tertata rapi. Beberapa pria berlatih di sudut, mengayunkan pedang atau bertarung tangan kosong. Tidak ada tawa. Tidak ada suara santai.
Semua bergerak dengan disiplin.
Semua memperhatikan.
Tatapan mereka tidak menyambut. Mereka menilai.
Lan Yi membawa Liang Chen melewati halaman menuju bangunan utama dua lantai di sisi utara.
Di depan pintu, dua pria berdiri dengan tangan bersedekap.
Salah satunya membuka pintu tanpa diminta.
“Masuk,” kata Lan Yi.
Liang Chen melangkah ke dalam.
Ruangan itu tidak mewah. Meja kayu besar di tengah, beberapa kursi, dan rak-rak berisi gulungan kertas. Di belakang meja, duduk seorang pria paruh baya dengan pakaian rapi berwarna gelap.
Rambutnya disisir ke belakang, wajahnya bersih tanpa bekas luka. Matanya tenang, terlalu tenang.
Tuan Gu.
Ia tidak berdiri.
Tidak tersenyum.
Hanya memandang Liang Chen seperti seseorang memeriksa barang dagangan.
“Jadi ini orangnya,” katanya pelan.
Liang Chen tidak membungkuk.
Ia berdiri tegak meski luka di tubuhnya masih terasa.
“Aku tidak suka orang yang membunuh anak buahku,” lanjut Tuan Gu.
“Mereka mencoba membunuhku lebih dulu,” jawab Liang Chen.
“Itu tugas mereka.”
“Bertahan hidup juga tugasku.”
Hening sejenak.
Lan Yi tetap berdiri di sisi pintu, tidak ikut bicara.
Tuan Gu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kau tahu apa yang membuatku tidak langsung membunuhmu?” tanyanya.
Liang Chen diam.
“Karena kau masih berdiri di sini meski sudah melewati Lembah Angin Selatan dan tiga penunggang di jalan.”
Mata Liang Chen menyempit sedikit.
Berarti semua itu memang perintahnya.
“Kau mengujiku,” katanya.
“Benar.”
“Untuk apa?”
Tuan Gu menatapnya lebih dalam.
“Untuk memastikan kitab itu jatuh ke tangan yang tidak rapuh.”
Ruangan terasa lebih sempit.
Liang Chen tidak menyentuh dada tempat kitab disembunyikan, tetapi jelas Tuan Gu tahu.
“Kau sudah tahu sejak awal?” tanya Liang Chen.
“Tentu saja. Dunia persilatan kecil. Barang langka tidak pernah benar-benar hilang tanpa jejak.”
“Kalau begitu kenapa tidak merebutnya saja?”
Tuan Gu tersenyum tipis.
“Karena orang yang berhasil membawanya sejauh ini lebih berharga daripada kitab itu sendiri.”
Kalimat itu membuat Liang Chen waspada.
“Apa maksudmu?”
“Aku butuh orang sepertimu.”
“Aku bukan anak buahmu.”
“Belum.”
Tuan Gu berdiri perlahan.
Ia tidak tampak seperti petarung, tetapi aura yang ia bawa membuat ruangan terasa berat.
“Kau punya dua pilihan,” katanya tenang. “Menyerahkan kitab itu dan pergi tanpa kaki, atau bekerja untukku dan tetap utuh.”
Ancaman itu disampaikan tanpa emosi.
Lan Yi tidak bergerak.
Liang Chen merasakan kemarahan naik pelan.
“Aku tidak bekerja untuk orang yang memburuku,” katanya.
“Semua orang bekerja untuk seseorang,” jawab Tuan Gu. “Pertanyaannya hanya siapa yang membayar lebih mahal.”
Liang Chen menghela napas pendek.
“Apa yang kau inginkan dariku?”
Tuan Gu menatapnya lama sebelum menjawab.
“Ada kelompok di utara yang mulai mengganggu jalur kami. Mereka terlalu percaya diri.”
“Dan kau ingin aku membunuh mereka?”
“Aku ingin kau memimpin orang-orangku dan memastikan masalah itu selesai.”
“Kenapa bukan orangmu sendiri?”
“Aku sudah mencoba. Mereka gagal.”
Jawaban jujur.
Ruangan kembali hening.
Liang Chen sadar, ini bukan tawaran biasa.
Ini ujian berikutnya.
Jika ia menolak, kemungkinan besar ia tidak akan keluar dari benteng ini hidup-hidup.
Jika ia menerima, ia akan semakin dalam terjerumus.
“Kau tidak perlu menjawab sekarang,” kata Tuan Gu. “Tapi jangan terlalu lama. Aku tidak suka menunggu.”
Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari luar.
Langkah kaki berlari.
Seorang pria menerobos masuk tanpa mengetuk.
“Tuan!” serunya terengah. “Ada serangan di gerbang timur!”
Tuan Gu tidak terlihat terkejut.
“Siapa?”
“Kelompok Serigala Hitam!”
Lan Yi langsung bergerak menuju pintu.
Tuan Gu menatap Liang Chen.
“Sepertinya keputusanmu harus dipercepat.”
Suara benturan besi dan teriakan mulai terdengar jelas dari luar.
Liang Chen tidak ragu lagi.
Ia berbalik dan melangkah keluar ruangan.
Di halaman, beberapa pria sudah terlibat perkelahian. Gerbang timur setengah terbuka, dan belasan orang berpakaian gelap menyerbu masuk.
Darah sudah mengalir di batu halaman.
Lan Yi sudah terjun ke pertempuran, bergerak cepat dengan belati pendek di kedua tangan.
Liang Chen mencabut pedangnya.
Luka di bahunya kembali terasa.
Namun pikirannya jernih.
Seorang penyerang menerjang ke arahnya dengan pedang melengkung.
Liang Chen menangkis, lalu membalas dengan tebasan diagonal yang membuka dada lawan.
Darah menyembur panas.
Teriakan pecah.
Ia bergerak ke sisi lain, menendang lutut penyerang kedua dan menusuk perutnya tanpa ragu.
Benteng yang tadi terasa tertib kini berubah menjadi medan perang sempit.
Serigala Hitam menyerang cepat dan brutal.
Namun mereka tidak menyangka akan menghadapi seseorang yang baru saja selamat dari pembantaian sehari sebelumnya.
Liang Chen bergerak lebih agresif dari biasanya.
Ia tidak lagi menunggu.
Setiap celah dimanfaatkan.
Setiap kesalahan dibayar dengan darah.
Dalam waktu singkat, tiga tubuh jatuh di sekitarnya.
Lan Yi meliriknya sekilas, ada sesuatu yang berubah di matanya.
Pengakuan.
Atau mungkin kewaspadaan baru.
Di atas tangga bangunan utama, Tuan Gu berdiri menyaksikan.
Wajahnya tetap tenang.
Seolah inilah jawaban yang ia tunggu.
Liang Chen menghindari satu tusukan lagi, lalu menebas leher lawan hingga darah memercik tinggi di udara pagi.
Pertarungan belum selesai.
Namun satu hal sudah jelas—
Gerbang Benteng Selatan tidak pernah terbuka dua kali bagi orang yang lemah.
Dan hari ini, Liang Chen sedang membuktikan bahwa ia tidak datang untuk menjadi korban.