"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 — Bayangan yang Belum Selesai
Lorong itu masih sama.
Lampu putih.
Jendela tinggi.
Malam yang menggantung di luar kaca.
Tapi sesuatu di antara Aira dan Arlan berubah lagi.
Beberapa detik lalu mereka berdiri di titik yang hampir damai—rapuh, tapi nyata. Sekarang, kalimat di ujung telepon itu seperti retakan baru di permukaan yang belum sempat mengering.
Kenapa hanya sebagian rekaman yang diputar.
Pertanyaan itu berputar di kepala Aira seperti gema.
Ia menatap Arlan. Pria itu juga menatapnya, tapi kali ini ada ketegangan yang kembali muncul di rahangnya.
“Siapa yang menelepon?” tanya Arlan.
Aira tidak langsung menjawab. Ia mencoba membaca wajahnya lebih dulu. Refleks lama yang belum hilang: mencari tanda-tanda kebohongan.
“Orang yang bilang kamu cuma memutar sebagian rekaman,” katanya akhirnya.
Sunyi.
Bukan sunyi yang canggung.
Sunyi yang berat.
Arlan tidak langsung menyangkal.
Dan itu saja sudah cukup membuat dada Aira menegang.
“Benar?” tanya Aira pelan.
Arlan menarik napas dalam. “Ya.”
Jawaban itu jatuh seperti benda berat.
“Kenapa?”
“Karena tidak semuanya relevan untuk publik.”
“Aku bukan publik.”
Kalimat itu lebih tajam dari teriakan.
Arlan menutup mata sesaat. Seolah ia sudah tahu momen ini akan datang cepat atau lambat.
“Aira—”
“Jangan,” potongnya. “Jangan pakai nada yang sama seperti lima tahun lalu. Yang setengah jujur.”
Itu menyakitkan. Terlihat jelas dari sorot mata Arlan. Tapi ia tidak membela diri.
“Ada bagian yang menyangkut hal lain,” katanya hati-hati. “Hal yang… bisa melukai lebih banyak orang kalau keluar.”
“Siapa?”
Arlan terdiam.
Dan diamnya itu kembali menyalakan alarm lama di hati Aira.
“Kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku,” bisiknya.
“Aku melindungi.”
“Jangan pernah pakai kata itu lagi.” Suara Aira pecah. “Setiap kali kamu bilang melindungi, yang hancur justru aku.”
Keheningan menekan.
Arlan menatapnya lama. Dalam. Seperti menimbang dua pilihan yang sama-sama buruk.
“Ada bagian rekaman,” katanya akhirnya, “yang menunjukkan ayahmu tidak sendirian dalam keputusan itu.”
Jantung Aira berdetak keras.
“Maksudmu?”
“Ada pihak lain yang mendorongnya.”
“Siapa?”
“Orang yang masih hidup. Masih punya kekuasaan. Dan kalau itu keluar… bukan cuma reputasi yang hancur.”
Aira menelan ludah. “Jadi kamu pilih diam lagi?”
“Aku pilih menunda.”
“Itu sama saja.”
“Aira.”
Ia menggeleng. Air matanya kembali naik, tapi kali ini bukan karena luka lama—melainkan rasa deja vu yang menakutkan.
“Baru beberapa menit aku mulai percaya kamu,” katanya lirih. “Dan sekarang aku harus tanya lagi… aku ini tahu semua, atau cuma versi yang kamu anggap aman buatku?”
Arlan tidak menjawab cepat.
Dan jeda itu… adalah jawaban tersendiri.
Aira mundur setengah langkah.
Bukan pergi.
Belum.
“Tunjukkan semuanya,” katanya.
“Aku tidak bisa.”
“Tidak mau.”
“Aku tidak bisa,” ulang Arlan, lebih tegas.
“Kenapa?”
“Karena ada nama yang akan menyeretmu lagi ke pusat badai.”
Aira tertawa kecil tanpa humor.
“Aku sudah di tengah badai, Arlan. Lima tahun.”
Angin malam menyusup di lorong. Kertas surat di tangan Aira bergetar pelan.
“Ayahku percaya kamu,” katanya pelan. “Aku baru baca itu.”
“Aku tahu.”
“Tapi ayahku juga nggak pernah bohong ke aku.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari tuduhan apa pun.
Arlan menutup mata. Bahunya naik turun perlahan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia terlihat benar-benar terpojok.
“Kalau aku kasih rekaman itu sekarang,” katanya pelan, “kamu mungkin tidak akan pernah melihat ayahmu dengan cara yang sama lagi.”
Dunia Aira seperti berhenti.
“Apa maksudmu?”
Arlan menatapnya. Tatapan yang penuh konflik.
“Dia membuat pilihan yang… tidak sepenuhnya mulia.”
Udara di paru-paru Aira terasa hilang.
“Tidak,” bisiknya.
“Aira—”
“Tidak.” Ia menggeleng cepat. “Ayahku tidak seperti itu.”
“Aku tidak bilang dia jahat.”
“Kamu bilang dia tidak mulia.”
“Aku bilang dia manusia.”
Kalimat itu jatuh seperti retakan di patung yang selama ini ia sembah.
Aira memeluk dirinya sendiri. Dunia yang baru saja ia susun ulang kembali goyah.
“Jadi ini?” suaranya gemetar. “Ini alasan kamu diam? Karena kamu takut aku tahu ayahku tidak sempurna. Atau karena kamu takut aku tahu kamu juga terlibat lebih jauh?”
“Aku sudah bilang—”
“Kamu selalu bilang.” Air matanya jatuh lagi. “Tapi kamu selalu pilih sendiri apa yang boleh aku tahu.”
Itu inti masalah mereka.
Bukan kebohongan.
Bukan pengkhianatan.
Kontrol.
Arlan menatapnya dengan sesuatu yang nyaris putus.
“Aku takut kehilangan kamu lagi,” katanya.
“Aku sudah hilang lima tahun.”
“Dan aku tidak selamat dari itu.”
Sunyi.
Kalimat itu jujur. Terlalu jujur.
Tapi rasa curiga yang baru lahir tidak bisa langsung mati.
Aira mengangkat wajahnya. Matanya merah, tapi tajam.
“Aku nggak mau hidup dalam versi cerita yang dipilihkan lagi,” katanya. “Kalau kita mau mulai sesuatu yang baru… aku harus tahu semuanya. Termasuk yang jelek.”
Arlan diam lama.
Sangat lama.
Lalu ia berkata pelan:
“Kalau kamu tahu semuanya… kamu mungkin akan pergi.”
Aira menelan ludah. “Itu hakku.”
“Iya.”
“Dan kamu tetap mau sembunyikan?”
Arlan menatapnya dalam sekali. Seolah menghafal wajahnya.
“…iya.”
Kata itu hampir tak terdengar.
Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dada Aira runtuh lagi—bukan seperti dulu, tapi lebih tenang dan lebih menyakitkan.
Ia mengangguk kecil. Tidak marah. Tidak teriak.
Hanya lelah.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita memang belum benar-benar di sisi yang sama.”
Ia melangkah mundur satu langkah lagi.
Jarak itu kembali ada.
Tidak selebar dulu.
Tapi nyata.
Arlan tidak menahannya.
Karena ia tahu—untuk pertama kalinya—ini bukan kebencian yang menjauhkan mereka.
Melainkan kebenaran yang belum siap mereka hadapi.
Aira menggenggam surat ayahnya erat.
“Aku akan cari tahu sendiri,” katanya.
Arlan menutup mata sesaat.
“Aku tahu kamu akan begitu.”
Aira berbalik.
Langkahnya pelan menyusuri lorong. Tidak terburu-buru. Tidak dramatis.
Tapi setiap langkah menjauh terasa seperti keputusan baru.
Dan di belakangnya, Arlan berdiri diam.
Mengetahui satu hal yang paling ia takuti kini semakin dekat—
Saat Aira akhirnya mengetahui seluruh rekaman itu…
Ia mungkin tidak hanya kehilangan kebencian.
Ia bisa kehilangan cinta yang baru saja kembali tumbuh.
sangat seru