Kenan tahu diri. Dengan badan yang "lebar" dan jerawat yang lagi subur-suburnya, dia sadar bahwa mencintai Kala—sang primadona sekolah—adalah misi bunuh diri. Namun, lewat petikan gitar dan humor recehnya, Kenan berhasil masuk ke ruang paling nyaman di hidup Kala.
Magang menyatukan mereka, melodi lagu mengikat perasaan mereka. Saat Kenan mulai bertransformasi menjadi idola baru yang dipuja-puja, dia justru menemukan fakta pahit: Kala sedang menjaga hati untuk seorang lelaki manipulatif yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
Bertahun-tahun berlalu, jarak Yogyakarta - Padang menjadi saksi bagaimana rasa yang tak pernah terucap itu perlahan mendingin. Sebuah lagu lama yang tiba-tiba viral menjadi jembatan rindu yang terlambat. Saat Kenan akhirnya menemukan "kembaran" Kala pada wanita lain, dan Kala dipaksa menyerah pada perjodohan, apakah melodi mereka masih punya tempat untuk didengarkan?
"Kita dulu sedekat nadi, sebelum akhirnya kau memilih menjadi asing yang paling aku kenali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asry Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senjata Makan Tuan
Pagi itu, Kenan merasa sekolah sudah seperti panggung catwalk. Ke mana pun dia jalan, ada saja adik kelas yang bisik-bisik, "Eh, itu Kak Kenan vokalis band ya? Kok jadi ganteng banget?"
Kenan yang biasanya menunduk, sekarang jalannya tegak macam anggota Paskibraka yang lagi latihan. Tapi tetap saja, kalau ketemu Jovan, semua wibawanya langsung luntur.
"Nan, kau jangan terlalu banyak tebar pesona. Itu ada siswi kelas satu yang pingsan karena kau kedipin, atau mungkin karena dia belum sarapan," celetuk Jovan di depan kelas.
"Iri bilang, Bos! Aku ini cuma memberikan aura positif bagi warga sekolah," balas Kenan sambil merapikan rambut ikalnya pakai sisir saku.
Tiba-tiba, HP Jovan berbunyi. Pesan dari Fitri. Begitu membacanya, Jovan langsung terbahak-bahak sampai guling-guling di atas meja kelas Akuntansi.
"Woi! Kenapa kau? Kesurupan jin akuntansi?" tanya Kenan heran.
"Sini kau tengok!" Jovan memperlihatkan chat dari Fitri. "Si Revan budak STM itu telepon Fitri semalam. Dia minta Fitri buat nyebarin fitnah kalau kau itu sebenarnya cowok kasar dan suka main cewek. Dia pikir Fitri itu fans berat dia, padahal Fitri itu intel kita!"
Kenan melotot. "Gila budak itu! Masih belum menyerah juga dia ya?"
"Terus Fitri bilang apa?" tanya Kenan kepo.
"Fitri bilang, 'Iya Kak, nanti aku bantu'. Padahal sekarang Fitri lagi nyusun rencana sama aku buat ngerjain dia lagi. Kita bikin dia makin kelihatan konyol!" Jovan tertawa licik.
*******
Saat jam istirahat, Kenan duduk di kantin bersama Kala. Hari ini Kenan bawa bekal salad buah (biar makin glowing). Di meja seberang, ada sekelompok siswi kelas satu yang terang-terangan memperhatikan Kenan sambil senyum-senyum manja.
"Nan, itu fans kamu makin banyak ya," ujar Kala, nadanya terdengar sedikit... datar. Dia sibuk mengaduk es teh manisnya dengan semangat yang berlebihan.
Kenan yang peka (akhirnya!), langsung menyadari ada hawa-hawa dingin di sebelah dia. "Masa sih, Kal? Aku tak sadar. Mataku kan cuma fokus ke satu arah saja."
"Arah mana? Arah tukang siomay?" sindir Kala tanpa menoleh.
"Bukan, arah ke gadis yang hari ini pakai bros bunga matahari dan lagi cemberut padahal sudah cantik banget," balas Kenan maut.
Wajah Kala mendadak memerah. Dia mencoba menyembunyikan senyumnya. "Apa sih kamu! Gombal terus. Kamu tuh harus hati-hati, Nan. Sekarang kamu populer, banyak yang caper. Nanti kalau ada yang lebih cantik dari aku, kamu lupa sama aku." ucap Kala dengan Pede-nya.
Kenan meletakkan garpu buahnya. "Kal, denger ya. Tiga bulan magang kita bareng-bareng, dari aku masih raksasa jerawatan sampai sekarang, cuma kamu yang mau nemenin aku makan nasi merah tanpa ketawa (walaupun sesekali ketawa sih). Mana mungkin aku lari ke yang lain?"
"Betul ya?" Kala menatap Kenan, matanya berbinar lagi.
"Betul! Kalau aku bohong, biarlah si Jovan yang jomblo seumur hidup!" seru Kenan mantap.
"Woi! Kenapa bawa-bawa aku?!" teriak Jovan dari meja sebelah yang ternyata dari tadi nguping.
Tiba-tiba, HP Kenan berdering. Nomor tak dikenal. Kenan mengangkatnya dan sengaja di-loudspeaker biar Kala dan Jovan dengar.
"Halo?"
"Kenan? Ini Fitri," suara Fitri terdengar di ujung telepon, dia kedengaran lagi menahan tawa. "Nan, si Revan baru saja kirim pulsa 50 ribu ke aku. Katanya buat 'uang muka' supaya aku nyebarin gosip tentang kamu di grup Facebook sekolah kita."
Kala langsung menutup mulutnya, kaget.
"Terus kau mau gimana, Fit?" tanya Kenan sambil menahan tawa.
"Aku sudah posting di grup sekolah kita, tapi isinya beda! Aku posting foto Revan pas di cafe kemarin yang lagi nungguin dompet ketinggalan, terus aku kasih caption: 'Hati-hati sama cowok ini, ganteng-ganteng tapi hobinya makan gratisan pakai uang cewek'. Sekarang postingannya sudah dibagikan seratus kali!" Fitri tertawa ngakak di telepon.
Jovan langsung tepuk tangan. "MAMPUS! Senjata makan tuan!"
Kala yang tadinya cemburu, sekarang malah ikut tertawa. "Aduh, kasihan banget sih si Revan. Niat mau hancurin Kenan, malah reputasi dia sendiri yang hancur berkeping-keping."
"Itulah bedanya kejujuran sama manipulasi, Kal. Alam semesta itu adil," ujar Kenan bijak (tapi tetep sombong dikit).
"Dah lah, karena misi kita sukses, sore ini kita latihan band! Kala, kau harus datang ya, temani vokalis kebanggaan kita ini biar nadanya tak lari ke mana-mana," ajak Jovan.
*******
Sore hari di ruang musik sekolah. Kenan berdiri di depan mic. Perasaan hatinya sangat bahagia. Dia melihat Kala duduk di depannya, sedang asyik menggambar sesuatu di buku sketsanya—yang Kenan tahu pasti itu gambar dia lagi.
"Lagu baru, Nan! Judulnya 'Cinta Sejati Tak Perlu Dompet Pinjaman'!" teriak Jovan sambil mulai memukul drum.
Kenan tertawa, lalu mulai memetik gitarnya. Dia membawakan lagu Sheila On 7 yang "Pemuja Rahasia".
"Pria inilah yang jatuh hati padamu,
Pria inilah yang 'kan selalu memujamu...
A-ha, yeah, a-ha, yeah"
Kenan menatap Kala, dan kali ini Kala tidak menunduk. Dia memberikan jempol dan senyum paling manis yang pernah Kenan lihat. Di sekolah ini, mereka bukan lagi cuma teman magang. Mereka adalah melodi yang sedang menuju puncak harmoni.
Kenan merasa sangat bersyukur. Perubahan fisiknya memang membantunya percaya diri, tapi kehadiran Kala-lah yang membuatnya merasa benar-benar hidup. Dia tidak peduli lagi soal Revan. Selama dia punya gitar di tangan dan Kala di depan mata, dunia terasa cukup.
Tapi, sebuah pesan masuk ke HP Kala saat lagu berakhir.
Revan: "Kalian semua bakal nyesel! Aku tahu cara paling sakit buat hancurin kalian!"
Kala terdiam, tapi dia tidak takut lagi. Dia menunjukkan pesan itu ke Kenan. Kenan hanya tersenyum dan berkata, "Biarkan saja dia menggonggong, Kal. Kita tetap bernyanyi."