Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ASISTEN DOSEN
Salsa akhirnya menuruti saran Rindu. Ia mengajak Rindu main ke jurusan Pak Amar berada, bersama Karin yang bersemangat juga bertemu dengan Amar.
Saat ia memasuki jurusan itu, banyak sekali mahasiswa yang berkumpul di lobi, layaknya mahasiswa lain sibuk berdiskusi atau sekedar bercanda.
"Ngapain, Ndu?" tanya seorang mahasiswa menghampiri Rindu. Wah, berteman dengan Rindu, auto punya banyak koneksi.
"Mau cari Pak Amar!" ucap Rindu santai, sedangkan si teman Rindu itu malah pura-pura berdehem dengan senyum smirk. Spontan Rindu menabok lengan pemuda itu.
"Gue udah tobat!" ucap Rindu, tahu sekali otak temannya.
"Oh kirain, mainnya sekarang sama dosen!" ujar pemuda itu. Salsa hanya diam saja mendengar interaksi mereka. "Kalau mau bertemu dengan Pak Amar harus janjian dulu, atau tanya aja sama asisten beliau, kapan beliau ke sini. Maklum beliau banyak job!" ujar teman Rindu, yang sepertinya sudah hafal dengan karakteristik Pak Dosen itu.
Bahkan pemuda itu menyebutkan nama asisten dosen Pak Amar, namanya Syailendra, mahasiswa semester 8, biasanya stand by di lab lantai 3 dekat ruang Pak Amar, karena dia juga sedang melakukan penelitian dengan bimbingan Pak Amar juga.
Rindu mengangguk, dan mengajak Salsa untuk segera naik ke lantai 3. Kebetulan di lantai 3 hanya ada satu lab, kemudian ruang arsip dan beberapa ruang dosen. "Aneh banget, ruang dosen ada nyempil di sini," ujar Salsa heran. Biasanya ruang dosen akan dijadikan satu lantai, kecuali ruangan kajur.
"Udah suka-suka jurusan lah, mau mengatur bagaimana," ucap Rindu, benar juga sih, setiap jurusan pasti punya karakter masing-masing. Kita pun bisa menebak pasti di lab itu Syailendra berada.
Kami mengetuk pintu, dan dibukakan oleh seorang mahasiswi berjilbab. Tertulis nama dada di jas lab, Nadine. "Permisi, Mbak saya Salsa dari jurusan Kimia, mau bertemu dengan Kak Syailendra!" ucap Salsa sopan. Dia tahu diri, ini bukan areanya jadi jangan sampai tak tahu tata krama. Apalagi dia yang butuh.
"Ndra, ada yang mencari," teriak Nadine tanpa mempersilahkan masuk, wajar. Ini laboratorium harus menggunakan APD sesuai standar.
"Siapa?" tanya Syailendra pada Nadine sembari melepas jas labnya. Nadine hanya mengedikkan bahu, padahal tadi Salsa sudah menyebutkan nama dan jurusannya.
"Gak tahu, di luar!" ujar Nadine cuek. Syailendra pun keluar dan Salsa berdiri mematung, saat Syailendra bertanya ada yang mencari saya?
Rasanya Salsa terhipnotis dengan kegantengan cowok tinggi ini, campuran antara Dylan Wang dan Sehun Exo kali, tapi gak sipit-sipit banget.
"Halo, kamu mencari saya?" tanyanya lagi, spontan Salsa langsung mengerjapkan mata dan mengangguk. Sedangkan Rindu masih asyik menerima panggilan telepon di ujung sana.
"Iya kak, saya Salsa dari jurusan Kimia," jawab Salsa senormal mungkin.
"Iya, ada apa?" tanya Syailendra jutek. Mungkin karena Salsa lemot jadi dia jutek, apalagi dia sibuk di lab, ganggu waktunya.
"Begini Kak, saya mau tanya tentang Pak Amar, apakah bisa minta nomor ponselnya atau jadwal beliau longgar?" tanya Salsa hati-hati dan sedikit takut, pasalnya pandangan Syailendra seperti tak suka dengan kehadiran Salsa.
"Buat?"
"Hem begini, duh gimana ya ngomongnya!" Salsa tak enak kalau membicarakan tentang Karin, karena belum tentu mereka menerima kalau ada hantu yang menuntut tanggung jawab Pak Amar.
"Gak jelas!" ucap Syailendra langsung beranjak pergi, masuk ke lab. Salsa melongo. Jutek amat jadi laki. Salsa menatap tak suka pada Karin, gara-gara dia, Salsa dianggap cewek gak jelas oleh Syailendra. Bisa jadi dianggap cewek pengejar dia, karena di awal Salsa terkesima juga.
"Gimana?" tanya Rindu. Salsa berdecak sebal, ini lagi diminta menemani malah sibuk telepon.
"Gagal, jutek banget tuh cowok. Malas gue!" ujar Salsa. Lalu mengajak Rindu pergi. Dih amit-amit bertemu dengan Syailendra lagi, Salsa pastikan membantu Karin tanpa perantara siapa pun. Lagian kalau gak ke Pak Amar langsung Salsa kesulitan menjelaskan misinya. Bisa-bisa dia dianggap gila.
Terus nasibku gimana dong. Kan aku juga pengen kembali ke alamku. Karin mulai mendramatisir, berharap Salsa tak berhenti mencari Pak Amar. Lagian dosen jurusan ini belum tentu Amar yang dimaksud Karin juga.
"Eh, Ndu. Biasanya kan ada foto dan nama dosen kan ya tiap jurusan, kita cek aja gimana apa mungkin Pak Amar yang gue cari sesuai orangnya!" tiba-tiba saja Salsa punya ide, kok gak kepikiran ini dulu, sebelum bertemu Syailendra sialan itu.
"Ya emang lo tahu Pak Amar yang dimaksud teman lo itu?" tanya Rindu, jelas Salsa menggeleng. Pura-pura lah, padahal Karin ada di sini dan pasti bisa mengenali langsung.
"Ya nanti aku foto, terus aku kirim ke temanku itu!" ujar Salsa beralasan, dan masuk akal sehingga Rindu dan Salsa menuju selasar di area dosen, untuk mencari plakat foto dosen.
Namanya dosen negeri, pasti banyak, sehingga mereka harus sabar melihat satu per satu, apalagi tidak disusun berdasarkan abjad, melainkan tahun masuk mana kecil-kecil lagi fotonya.
Salsa mendelik saat melihat Karin merayap di dinding, demi mencari foto Pak Amar. "Gila, emang benar hantu, bisa merayap begitu," gumam Salsa dan didengar oleh Rindu.
"Ngomong apa, Sal?" tanya Rindu, namun Salsa lekas menggeleng.
Hampir 10 menit mereka mencari, baik Rindu maupun Salsa sudah capek, mata mereka terlalu berakomodasi tinggi. Hingga Karin memanggil Salsa dan menunjuk sebuah foto.
"Sal, benar ini Mas Amar cintaku," ujar Karin. Salsa langsung berfokus lagi, dan menarik tangan Rindu, akting dia yang menemukan foto Pak Amar.
"Ini, Ndu!" ucap Salsa dan pura-pura memotret.
"Ya elah, tadi aku juga mencari ke arah situ, tapi kok kelewat baca namanya ya!"
"Mata kamu siwer mungkin," ledek Salsa sembari tertawa, dan memasukkan ponselnya ke dalam tas, dan segera mentraktir bakso dan jus buat Rindu.
Sepanjang jalan menuju kantin, Karin ngoceh terus, tapi tak ditanggapi Salsa. Justru Salsa lebih asyik mengobrol dengan Rindu.
"Pokoknya, Sal, aku tiap hari bakal duduk di lobi gedung tadi. Kamu gak usah ikut, nanti kalau aku tahu longgarnya Mas Amar tercintaku, baru aku minta bantuan kamu," ujar Karin mengutarakan rencananya.
"Terserah kamu," balas Salsa tanpa membuka mulut, agar tak dicurigai Rindu.
"Ngomong-ngomong, asisten dosen Mas Amar tadi ganteng juga, kamu gak naksir Sal?" pancing Karin.
"Enggak!" jawab Salsa jutek, untung saja Rindu sedang pesan bakso, sehingga Salsa bisa menjawab ucapan Karin yang ngelantur itu.
Karin tertawa, "Tapi kok feelingku, kamu dan dia bakal sering bertemu!"
"Dih, amit-amit bertemu atau bahkan dekat sama cowok jutek, sok ganteng dan sok penting itu. Ogah, gue tolak!" ucap Salsa sebal.
"Siapa, Sal?" tanya Rindu datang dengan membawa dua mangkok bakso, aneh melihat Salsa ngomel sendiri.
Mati Gue.