"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi satu suro yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan ke tujuh dari penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran."
Harapan untuk menimang buah hati pupus sudah. Sagara pulang dengan kecewa.
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara.
"Tahu Mas, kebetulan kekasihku di kampung memiliki tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari." jelas Alang lagi.
"Lang, kamu mau nggak?" sagara meraih bahu Alang.
"Mau apa Mas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai bekerja
Wajah sumringah Dewi jelas terpancar bahagia di pagi ini, Niken melirik sekilas anak gadis kepala desa itu, kemudian memperhatikan Alang yang sudah siap di depan stir. Dimana Alang sempat melirik Dewi, tapi lebih lama memandangi Niken.
Hari ini, Niken terlihat cantik sekali memakai kemeja andalannya yang belum pernah di pakai, beli di kampung tapi cukup modern. Meskipun bawahannya memakai celana jeans panjang pemberian Dewi, dan sepatu juga pemberian Dewi ketika Dewi baru selesai kuliah.
"Sudah siap semua?" Tuan Saga masuk, duduk di sebelah Niken, sedangkan Dewi telah lebih dulu duduk di samping Alang.
Belum juga sempat menjawab, pintu di sebelah tuan Saga di buka, masuklah Gendis dengan tas mahal di tangannya.
"Kamu?" Saga terkejut, melirik penampilan istrinya yang selalu menor dan cantik.
"Kenapa?" tanya Gendis, melirik semua orang dengan tatapan mengancam. Siapapun di larang protes.
"Tidak muat!" kesal Saga.
"Ya sudah, kamu duduk di belakang!" titah Gendis kepada Niken.
Jadilah Niken turun, membuka pintu belakang dan duduk di sana.
"Aku sudah memberimu dua mobil! Masih saja merepotkan." gerutu Saga.
"Aku merepotkan suamiku, wajar kan?" jawab Gendis, melirik Dewi dan Alang, kemudian menggandeng lengan Saga.
"Terserah." kesal Saga, memijat kepalanya yang mendadak pening, mendengar suara Gendis telinganya jadi berdengung. Belum lagi jalanan yang mulai macet, setiap hari seperti ini, bisa-bisa serangan jantung dan mati! Saga menutup matanya.
"Alang, kau antar Gendis!" titah Saga setelah sampai di kantornya.
"Saga! Harusnya kau yang mengantarku!" teriak Gendis.
"Tidak punya waktu." jawab Saga, turun tanpa pedulikan Gendis.
Baik Dewi ataupun Niken, mereka bekerja di posisi yang sama, mereka di pekerjakan sebagai resepsionis.
Saga bilang, siapa yang berpotensi, akan di naikan ke posisi yang lebih tinggi. Tentu itu adalah penyemangat yang luar biasa, Niken sudah bertekad untuk menghidupi diri sendiri mulai sekarang.
"Mbak, terimakasih ya." ucap Niken kepada Dewi.
"Terimakasih buat apa?" tanya Dewi, melempar senyumnya yang lebar.
"Kalau bukan karena dekat sama Mbak Dewi, mungkin Niken tidak akan bekerja di sini." kata Niken.
"Mana ada! Paman Saga telepon Ibu, katanya kirim aku sekalian biar kerja bareng kamu." kata Dewi.
Niken terkekeh, tentu dia tak percaya. Dewi itu, gadis yang baik, dewasa, murah senyum dan tidak pernah memandang rendah orang lain. Sesekali ia pulang ketika libur kuliah, membuat Niken nyaman dengannya. Kalau beli sesuatu Niken pasti kebagian, mungkin karena kasihan.
Tamu hotel mulai datang, Dewi yang lebih dulu menyapa dan melayani, soalnya Niken itu pendiam, pemalu, tak banyak bicara. Tapi, lama-lama ia juga terbiasa.
Tidak terasa kini sudah pukul empat sore, Saga keluar dari ruangan menuju meja resepsionis, melihat dua gadis yang baru bekerja itu lumayan puas. Hanya di bimbing sebentar sudah mengerti.
"Waktunya pulang." Tuan Saga berdiri, mengetuk-ngetuk meja tamu itu dengan jarinya.
"Tunggu sebentar, aku mau ke toilet!" kata Dewi, ia menenteng tasnya pergi.
Niken keluar dari meja tamu itu, berdiri di luar meja bersama tuan Saga.
"Gimana? Betah?" tanya Saga.
"Betah Tuan! Terimakasih banyak atas kebaikan tuan sama Niken." ucap Niken menunduk.
"Panggil Paman saja." jawab Saga.
Hari pertama, sudah membuat Niken memikirkan banyak hal. Dimulai dari tempat tinggal yang terlalu jauh. Dia ingin memiliki tempat tinggal yang dekat dengan hotel, suatu hari nanti. Bolak-balik numpang begini membuatnya merasa tak enak hati jika terus-terusan.
Matahari masih bersinar di luar sana, membuat Niken semakin larut dalam pikirannya.
Terselip rasa rindu kepada kedua orangtua yang telah pergi. Andaikan mereka masih hidup, meskipun kata Alang dirinya hanya anak angkat, tapi kasih sayang mereka tak main-main. Jadi terngiang suara sang ibu di telinga.
"Niken!" sentak Dewi.
"Ha?" Niken terkejut, menoleh Dewi yang menatap dirinya heran.
"Kamu melamun?" tanya Dewi.
Baru sadar semua orang sedang menatap ke arahnya. Termasuk Alang.
"Kamu, melamun apa Dek?" tanya Alang, sejak kemarin Alang memanggilnya demikian, sama seperti dulu ketika haji Ibrahim masih hidup.
"Nggak apa-apa Mas. Cuma keinget, ibuk." jawab niken pelan.
Dewi meraih tangan Niken yang bertaut, lalu menggenggamnya erat. "Kata Mas Alang, dulu kamu itu disayang banget sama orang tua kalian?" tanya Dewi.
Niken menoleh, tak percaya Dewi sampai tahu. Padahal, Alang tak pernah membahasnya jika sama Niken, seolah mereka harus melupakan pernah ada orang tua. Atau mungkin karena tak mau mengingat rasanya kehilangan?
Niken hanya membalasnya dengan senyum.
*
*
Matahari kini telah hilang berganti tempat peraduan, sebagian bumi ini kembali samar menuju gelap yang pasti datang. Niken sedang berada di kamarnya sendiri, habis mandi dan makan sebungkus roti bersama Ani.
"Mbak An, kok yang di kamar sebelah ini gak pernah kelihatan?" tanya Niken, dia masih menempati kamar bawah.
"Oh, Nina?" tanya Ani, mereka duduk berdua di ranjang Niken.
Niken mengangguk.
"Nina itu, pembantu khususnya nyonya Gendis. Kalau hari-hari tertentu dia nginap di sini, kalau enggak ya di rumah sana. Soalnya tugas si Nina beda sama tugas kita-kita." kata Ani.
"Emang, tugasnya apa Mbak?"
Seketika Ani tercengang, menelan roti yang belum di kunyah sempurna di dalam mulutnya. Lalu menegak air putih.
"Pokoknya, tugas si Nina itu agak sedikit aneh. Kamu jangan dekat-dekat sama dia, apalagi sama Nyonya Gendis." bisik Ani.
Niken jadi tegang, tapi juga penasaran.
Tentang hantu yang malam Jum'at itu, tentang nyonya gendis yang menyiksa anaknya? Tapi, kenapa Tuan Saga terlihat santai sekali, tak ada membahas tentang Arya, anaknya yang sangat menderita.
Beberapa detik berikutnya, ponsel Ani berdering, sehingga wanita itu segera mengangkatnya.
"Halo, Nya!" gendis menjawabnya sambil meringis, belum kering ludah Mereka membahas Nyonya rumah, eh langsung di telepon seketika.
"Iya, Nya. Iya!" jawab Ani.
"Ada apa Mbak?" tanya Niken.
"Di suruh ngambilin kembang kantil." jawab Ani, ia beranjak dari ranjang Niken.
Ia membuka pintu kamar Niken itu, menyorot ke luar dimana halaman itu ada beberapa bunga langka.
"Waduh, enggak ada yang mekar lagi!" kata Ani, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Beli di luar aja Mbak." kata Niken, membuat Ani berbalik.
"Malam begini mana ada." Dia jadi berpikir keras karenanya. "Adanya di kebun belakang, tapi...."
"Tapi Apa Mbak?" tanya Niken.
"Gelap Ken!" Tunjuk Ani, ke arah belakang rumah yang mereka tempati ini.
Niken pun jadi takut, tapi kalau tidak dapat, apa Nyonya Gendis tidak akan marah?
"Ya sudah Mbak, Niken temani." Niken masuk mengambil ponselnya, nanti akan berguna untuk menyenter pohon bunga di belakang.
"Tapi Ken?" Ani menatap Niken.
"Udah Mbak, kalau kebanyakan tapi nanti malah tidak jadi!" Niken menutup pintu kamarnya, kemudian berjalan ke halaman belakang yang gelap, rimbun, dan seram.
aq mlah deg2an wis semua terbongkar kan alang mau dewi tau kebusukan mu juga lang
waktu ku tolol aq ga tau yang nongol2
ku sengol2 ku kira pistol ehh ternyata nya pistol 🤭🤭🤭
gendis g bisa lagi bikin saga tunduk akhirnya cari tumbal lain dan memghabisi dgn dgn sadis krn ketahuan 👻👻👻👻👻 the mit nya laper cuuuyy
kasih mie ayam apa yaaa 🤭
jd sebenarnya siapa itu hayoo
dan gendis ohh klakuan mu sunguh iblis