Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
“Hah…hah…” Karina terbangun dengan nafas tersengal, keringat bercucuran di pelipisnya, matanya setengah melotot ke arah jam dinding yang berdetak teratur. 18.15, masih senja dan itu hanya mimpi.
Tuan Fuller yang ingin memakannya ternyata hanya mimpi, mungkin karena Karina terlalu khawatir sehingga dia memimpikan sesuatu yang mengerikan.
Tok…tok…tok…
“Tidak mungkin,” desis Karina menatap takut ke pintu, ada ketukan tiga kali persis seperti yang ada dalam mimpinya. Apakah mimpi itu akan jadi kenyataan?
“Nona Joram? Anda sudah bangun?”
Huft! Karina menghembuskan nafas lega, itu suara Ranra.
“Ya, ada apa?” Tanya Karina seraya bangun dari tempat tidur, dan berjalan ke pintu. Ranra berdiri di luar, tersenyum formal seperti tadi.
“Makan malam diadakan pada pukul tujuh malam, anda bisa bersiap dan pergi ke ruang makan.”
“Baik. Ruang makannya ada dimana?”
Ranra menyerahkan sebuah peta. “Anda bisa menggunakan ini sebagai petunjuk. Semoga beruntung.”
“Terima kasih,” gumam Karina mengambilnya. Ia mengangkat pandangannya dari peta pada Ranra yang sudah berbalik pergi. “Apa maksudmu semoga beruntung?”
Tanpa berbalik dan tanpa berhenti, Ranra menjawab. “Semoga beruntung bisa makan malam bersama Tuan. Jika anda tersesat kesempatan makan malam sekali seumur hidup anda akan hangus.”
Aneh sekali. Kenapa Ranra tidak mengantarkannya saja ke ruang makan. Di rumah sebesar ini jika hanya berjalan sendirian, tentu saja ia bisa tersesat.
Namun Karina tidak mau berpikir terlalu jauh, jadi dia kembali masuk dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka serta memperbaiki make up-nya.
Ia selesai saat jam menunjukkan pukul 18.30, itu artinya tiga puluh menit lagi tersisa sebelum makan malam. Karina mengambil peta, mulai mempelajarinya.
Lantai satu yang luas ada ruang baca, perpustakaan, ruang tanpa nama berjumlah tiga yang terletak selang-seling antara ruang baca dan perpustakaan.
Kemudian ada tangga menuju lantai dua, ada lagi tiga pintu tanpa keterangan apapun disana. Ada lorong dan di ujung lorong ada dapur. Namun…
Dimana ruang makan? Kenapa tidak ada di peta? Atau ruang makan berada di balik pintu tanpa keterangan?
“Benar kata orang-orang, Tuan Fuller ini memang aneh.” gumam Karina sedikit menggerutu, mengambil tas kemudian segera keluar. Hanya untuk makan malam, ia harus repot-repot menjelajahi rumah ini.
“Hei, tunggu!”
Karina hendak menuruni tangga ketika seseorang wanita cantik baru saja keluar dan memanggilnya.
“Ya, ada apa?” Tanya Karina seraya mengamati wanita itu. Dia cantik dan tinggi. Wajahnya ramah dan rambut hitam panjangnya berkilau diterpa cahaya lampu.
“Nggak ada apa-apa. Kamu mau ke ruang makan, ya?” Tanyanya sambil mengulurkan tangan. “Aku Tasya, kalau kamu nggak keberatan kita bisa pergi bersama.”
“Tentu, aku juga tidak ingin sendirian.” Karina langsung setuju. “Ngomong-ngomong aku Karina.”
“Oh! Kamu Karina Joram? Karyamu bagus sekali, aku sudah membacanya.” Tasya bersorak kegirangan membuat Karina agak malu. Ia hanya penulis pemula dan belum sehebat itu.
“Aku masih banyak belajar. Ayo kita turun sekarang.” Kata Karina menuruni tangga lebih dulu, Tasya menyusul kemudian.
“Tapi karyamu benar-benar bagus, apalagi novel pertamamu. Tapi sayang banget nggak selesai, kapan novel pertamamu dilanjutkan?” Tanya Tasya antusias.
Novel pertama? Seingat Karina novel pertamanya gagal. Benar-benar gagal sehingga Karina bahkan tidak menyelesaikannya. Lagipula Karina sudah tidak ingat apa saja isi novel pertamanya. Sudah terlalu lama.
“Sejujurnya aku kehilangan alurnya, jadi belum bisa dilanjutkan.” Ucap Karina akhirnya. Mereka sudah sampai di lantai satu.
Tasnya mengangguk mengerti. “Aku tunggu. Sekarang kita harus ke ruang makan,”
“Kamu tahu dimana letaknya?” Tanya Karina.
“Biasanya ruang makan ada dekat dapur, gimana kalau kita lihat kesana?”
Ya, benar. Mungkin saja ruang makan berada dekat dapur. Karina mengangguk.
Mereka pergi ke salah satu pintu tanpa nama yang letaknya paling dekat dengan dapur. Karina menarik gagang pintu perlahan, namun…
“Tidak bisa,” Karina menoleh ke Tasya. “sepertinya dikunci.”
“Kita periksa pintu lain,” ajak Tasya.
Lalu, Karina kembali menarik gagang pintu tanpa nama yang berada dekat perpustakaan. Namun lagi-lagi terkunci.
“Astaga! Dikunci juga, bahkan pelayan pun tidak terlihat satupun. Apa kita sedang dikerjai?” Karina mulai merasa marah, ia datang bukan karena sangat butuh melainkan karena memenuhi undangan. Namun lihat sekarang, Tuan rumah seolah mempermainkan dengan mengajak mereka bermain petak umpet alih-alih menjamu dengan baik.
“Kalau nggak aneh, bukan Tuan Fuller namanya.” Kelakar Tasya tertawa kecil seolah dia sudah paham orang seperti apa Tuan Fuller ini.
“Ayo kita cari lagi, masih ada waktu lima belas menit lagi.” Karina melihat jamnya sekilas, dalam keadaan seperti ini waktu pasti cepat berlalu.
Karina dan Tasya terus memeriksa pintu satu persatu, kebanyakan pintu terkunci. Dan tidak satupun ruangan yang ada di balik pintu itu ruang makan.
“Sisa tujuh menit lagi,” kata Tasya menyeka keringat di dahinya.
Entah mengapa mereka merasa perlu untuk menemukan ruang makan atau jika tidak sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Apa yang kalian lakukan disini? Kalian nggak mau bergabung makan malam?”
Keduanya menoleh ke belakang mendengar pertanyaan itu.
...***...
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor