"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"SAVA! AWAS!" teriak Winata.
“AVE!”
Suara bariton itu menggelegar, namun bukan sebagai perintah, melainkan teriakan penuh ketakutan. Sebelum Sava sempat mencerna apa yang terjadi, sebuah tubuh kokoh menerjangnya. Garvi Darwin, dengan kecepatan yang melampaui logika orang yang baru terbangun dari koma, memeluk pinggang Sava dan memutar tubuh mereka di udara.
BRAKK!
Bukan hantaman mobil yang terdengar, melainkan benturan keras tubuh Garvi ke aspal dan sisi trotoar beton saat ia memastikan tubuh Sava mendarat di atas tubuhnya sebagai bantalan. Mobil itu melesat pergi setelah menyerempet tiang lampu, menyisakan bau ban terbakar yang menyengat.
Hening sejenak. Dunia seolah berhenti berputar bagi Sava.
"Mas... Mas Garvi?" bisik Sava dengan suara bergetar. Ia mencoba bangkit dari dekapan pria itu, namun tangannya menyentuh sesuatu yang basah di balik rambut Garvi. Darah.
Garvi terbaring diam. Matanya terpejam rapat, namun di balik kelopak mata itu, sebuah badai sedang mengamuk. Benturan di kepalanya kali ini seolah menjadi kunci yang memutar paksa gembok memori yang selama ini terkunci.
Di dalam kegelapan kesadarannya, Garvi tidak melihat cahaya putih. Ia melihat dirinya sendiri. Ia melihat bagaimana selama empat tahun ini ia memperlakukan Sava.
Ia melihat bayangan dirinya yang berdiri di ruang monitor, memata-matai setiap gerak-gerik Sava di kantor. Ia melihat senyum sinisnya saat ia dengan sengaja membatalkan janji makan malam mereka hanya untuk pergi ke kelab malam bersama wanita-wanita yang namanya bahkan tidak ia ingat.
"Kamu hanya COO-ku di sini, Sava. Jangan harap lebih," suara dirinya yang dingin bergema di kepalanya.
Ia melihat tangisan tertahan Sava di sudut kamar saat ia membawa aroma parfum wanita lain masuk ke rumah mereka. Ia melihat egonya yang setinggi langit, sifat manipulatifnya yang mengendalikan hidup Sava seperti boneka, dan kedinginan luar biasa yang ia ciptakan di antara mereka.
Seluruh ingatan kelam itu menghantamnya. Bukan hanya memori, tapi juga rasa sakit yang ia torehkan pada wanita yang kini mendekapnya di aspal.
"TANGKAP MEREKA! JANGAN BIARKAN SATU PUN LOLOS!" Teriak Roy, suaranya menggelegar memecah keheningan.
Para bodyguard Skyline Group yang terlatih segera bergerak seperti bayangan hitam. Mereka tidak lagi bersikap defensif. Dengan gerakan taktis, mereka memukul mundur para pendemo bayaran. Di ujung jalan, mobil penyerang itu terhenti setelah menabrak barikade keamanan.
Victor Lindholm, yang berdiri tidak jauh dari sana dengan sisa-sisa senyum kemenangannya, mendadak pucat. Ia mencoba berbalik menuju mobilnya, namun Roy lebih cepat.
"Anda mau ke mana, Tuan Victor?" Roy mencengkeram kerah kemeja mahal Victor. "Mencoba melakukan pembunuhan berencana di depan ratusan kamera? Anda benar-benar jenius dalam menghancurkan diri sendiri."
"Lepaskan aku! Ini semua kecelakaan!" teriak Victor pengecut.
"Kecelakaan yang sudah kami rekam dari lima sudut kamera berbeda," desis Roy tajam. "Bawa dia. Amankan untuk kepolisian."
Roy kemudian berbalik ke arah kerumunan wartawan yang masih mematung. Dengan wibawa seorang tangan kanan CEO, ia berbicara dengan nada dingin.
"Malam ini, Skyline Group akan mengeluarkan klarifikasi resmi beserta seluruh bukti keterlibatan pihak asing dalam sabotase ini. Dan bagi siapa pun yang mengganggu privasi pimpinan kami saat ini... saya pastikan karier jurnalistik Anda berakhir hari ini."
Di tengah aspal yang panas, Sava tidak peduli lagi pada citra Miss Sava yang tegas. Ia memangku kepala Garvi, air matanya jatuh mengenai pipi pria itu.
"Mas Garvi, bangun... Mas," isak Sava.
Satu per satu karyawan Skyline Group yang menyaksikan dari balik jendela kaca dan lobi mulai berbisik. Mereka melihat bagaimana seorang COO yang selalu dingin dan profesional, menangis histeris memanggil CEO mereka dengan sebutan 'Mas'. Mereka melihat bagaimana tangan Garvi yang gemetar mencoba meraih wajah Sava dengan gerakan yang begitu intim dan penuh kepemilikan.
"Mereka... mereka suami istri?" bisik Desi yang berdiri di ambang pintu lobi, wajahnya pucat pasi menyadari bahwa selama ini ia mencoba menggoda pria yang sudah memiliki pemilik sah.
Rahasia itu meledak. Tidak ada lagi Miss Sava dan Mr. Garvi. Yang ada hanyalah sepasang suami istri yang sedang hancur di depan publik.
Perlahan, mata Garvi terbuka. Namun, sorot matanya tidak lagi kosong atau manja seperti saat ia amnesia pagi tadi. Sorot mata itu tajam, namun kali ini dipenuhi dengan rasa bersalah yang teramat dalam.
"Ave..." suaranya serak, penuh beban.
"Mas? Kamu ingat aku? Kamu merasa sakit di mana?" Sava bertanya dengan nada panik.
Garvi tidak menjawab tentang rasa sakit di kepalanya. Ia justru menatap Sava seolah wanita itu adalah sesuatu yang sangat berharga namun telah ia hancurkan dengan tangannya sendiri. Ia mengingat semuanya. Termasuk surat cerai itu. Termasuk betapa inginnya Sava pergi darinya karena kebusukan sifatnya.
"Maaf..." gumam Garvi lirih sebelum ia kembali memejamkan mata, menahan nyeri yang luar biasa di kepalanya yang berdenyut.
"Ambulan! Cepat!" Teriak Roy yang sudah berada di samping mereka.
**
Rumah Sakit Columbia Asia, Medan.
Bau antiseptik kembali menyambut mereka. Garvi langsung dilarikan ke ruang observasi saraf untuk menjalani CT Scan ulang. Sementara itu, di ruang tunggu VVIP, suasana terasa sangat berat.
Sava duduk di kursi panjang, wajahnya tertunduk. Pakaian mahalnya kini ternoda debu dan bercak darah suaminya. Winata duduk di sampingnya, memberikan segelas air putih yang bahkan tidak disentuh oleh Sava.
"Va, kamu harus tenang. Dokter sedang menanganinya," bisik Winata.
Sava hanya diam. Pikirannya kalut. Ia tahu, saat Garvi bangun nanti, ia tidak akan lagi menghadapi Garvi yang "manja". Ingatan Garvi telah kembali—ia bisa merasakannya dari cara Garvi menatapnya di aspal tadi. Garvi yang asli, yang manipulatif dan posesif, telah kembali.
Roy masuk ke ruangan dengan tablet di tangannya. "Miss Sava—maksud saya, Nyonya... identitas pernikahan Anda sudah tersebar luas. Tidak ada gunanya menutupi lagi. Tim PR sedang menyusun narasi 'Power Couple' untuk menyelamatkan saham besok pagi."
Sava mendongak, matanya merah. "Lakukan apa yang harus kamu lakukan, Roy. Aku hanya ingin dia baik-baik saja."
Satu jam kemudian, dr. Aris keluar dengan ekspresi serius. "Benturan itu memang memicu kembalinya ingatan Tuan Garvi secara mendadak. Ini adalah fenomena langka, tapi traumanya cukup besar. Dia sudah sadar, dan dia meminta untuk bertemu dengan istrinya."
Sava berdiri dengan kaki lemas. Ia melangkah masuk ke dalam kamar rawat. Di sana, Garvi sedang bersandar di ranjang dengan perban melingkar di kepalanya. Ruangan itu terasa sunyi, namun penuh dengan tegangan yang mencekam.
Garvi menoleh. Tatapannya kini kembali dingin, namun ada gurat penderitaan di sana.
"Ave," panggil Garvi. Suaranya tidak lagi lembut seperti pagi tadi. Ini adalah suara Mr. Garvi yang asli. "Kemari."
Sava mendekat dengan ragu. "Mas, kamu sudah ingat semuanya?"
Garvi terdiam lama, matanya menatap tajam ke arah Sava seolah ingin menembus jiwa wanita itu.
"Semuanya, Ave. Termasuk betapa aku telah menjadi bajingan selama empat tahun ini."
Jantung Sava berdegup kencang. Ia mengira Garvi akan marah atau meledak, namun pria itu justru menarik napas berat.
"Aku ingat betapa kamu sangat ingin bercerai dariku sebelum kecelakaan itu," lanjut Garvi, suaranya merendah, mengirimkan getaran dingin ke punggung Sava. "Dan aku ingat bahwa alasan aku mengebut malam itu... adalah karena aku marah melihat dokumen cerai yang kamu tinggalkan di meja kerjaku."
Sava terpaku. Jadi, kecelakaan itu terjadi karena amarahnya terhadap keinginan cerai Sava?
Garvi meraih tangan Sava, cengkeramannya kuat—posesif seperti biasa, namun kali ini terasa berbeda.
"Sekarang semua orang tahu kamu adalah istriku, Ave. Victor sudah tamat, dan rahasia kita sudah berakhir. Jika kamu pikir ingatan yang kembali ini akan membuatku melepaskanmu... kamu salah besar."
Garvi menarik tangan Sava hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.
"Dulu aku egois karena aku tidak sadar. Sekarang aku akan menjadi jauh lebih egois karena aku sadar betapa berharganya kamu," bisik Garvi manipulatif, matanya berkilat penuh obsesi baru. "Pernikahan ini tidak akan pernah berakhir, meski aku harus menghancurkan seluruh dunia untuk menahanmu di sisiku."
Sava merasakan bulu kuduknya meremang. Garvi yang "asli" telah kembali, dan kali ini, dia jauh lebih berbahaya karena dia kini memiliki satu hal yang tidak ia miliki dulu: Obsesi yang didasari rasa bersalah.
***
mereka ini saling cinta mati tp saling menyakiti.... 😁😂🤭
pada gengsian mau bilang ilopeyu