NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adegan Tembak

Mobil bergerak dengan kecepatan sedang.

Tidak ada sirene. Tidak ada lampu menyala. Hanya mesin yang bekerja dengan suara rendah, seperti binatang yang tahu kapan harus diam.

Jovan duduk di kursi belakang.

Tangannya tidak diborgol, tapi itu tidak membuatnya bebas. Dua pria duduk di kiri dan kanan. Tidak menatapnya. Tidak mengancam. Orang-orang yang sudah terbiasa menjaga sesuatu yang pasti tidak akan kabur.

Levis duduk di depan. Diam.

Jalan desa tertinggal perlahan. Rumah-rumah kayu berubah jadi bayangan. Kebun berganti ladang kosong. Udara dingin pagi masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka.

Jovan memperhatikan semuanya. Ia tidak bertanya ke mana mereka pergi.

Levis akan menganggap itu sebagai basa-basi.

Beberapa menit berlalu tanpa suara. Lalu Levis berkata, ringan, seolah mereka sedang menuju acara keluarga. “Kau ingat jalan ini?”

Jovan menjawab tanpa emosi. “Menuju kota.”

“Masih tajam,” kata Levis. “Aku kira desa sudah melunakkanmu.”

Jovan menatap kaca jendela. Pantulan wajahnya samar. Bahu kirinya terasa berat setiap kali mobil melewati jalan bergelombang.

“Desa tidak mengubah apa pun,” katanya. “Ia hanya memperlambat.”

Levis tersenyum tipis. “Itu yang paling berbahaya.”

Mobil memasuki jalan aspal utama. Lampu-lampu kota terlihat jauh di depan, seperti deretan mata yang belum sepenuhnya bangun.

Levis menoleh sedikit. “Kau tahu kenapa aku tidak mengikatmu?”

Jovan tidak menjawab.

“Karena kau tidak akan lari,” lanjut Levis. “Bukan sekarang.”

Jovan mengangguk pelan. “Aku tahu.”

Levis tertawa kecil. “Lihat? Kita masih saling memahami.”

Hening kembali turun.

Di kepalanya, Jovan tidak memikirkan rencana kabur. Tidak memikirkan senjata. Tidak memikirkan balas dendam.

Yang ia pikirkan hanya satu hal sederhana, berapa lama desa akan aman tanpa dirinya.

Mobil berhenti sebentar di lampu merah.

Seorang pedagang koran berdiri di trotoar. Dunia luar tetap berjalan seperti biasa.

Levis menatap lampu itu. “Kau selalu memilih waktu yang salah untuk kembali,” katanya.

“Kau selalu memilih cara yang salah untuk menjemput,” jawab Jovan.

Lampu berubah hijau. Mobil melaju.

Gedung-gedung mulai muncul. Dinding beton. Jalan layang. Suara klakson jauh. Kota menyambut mereka tanpa emosi.

.

Levis tidak menunggu pagi. Ia tidak percaya pada pagi.

Malam adalah waktu terbaik untuk memastikan orang tidak punya ruang berpikir.

Levis membawa Jovan ke gudang parkir bawah tanah yang kosong kecuali empat mobil hitam dan satu van abu-abu. Lampu neon berkedip, memantulkan bayangan patah di lantai semen yang lembab. Bau oli dan karat bercampur dengan dingin.

Jovan didorong turun dari van.

Pria itu berdiri sendiri, jaketnya sudah diganti pakaian sederhana, tapi nyeri di bahunya belum pergi.

Levis berdiri di seberangnya, jarak enam meter.

Cukup dekat untuk bicara. Cukup jauh untuk membunuh.

“Selamat datang di kota,” kata Levis ringan.

Jovan menatapnya tanpa ekspresi. “Kalau kau mau membunuhku, kau sudah terlambat.”

Levis tersenyum tipis. “Kalau aku mau membunuhmu, kau tidak akan berdiri.”

Ia mengangkat tangan. Lampu parkir menyala penuh.

Dan dari bayangan, empat penembak muncul.

Posisi mereka rapi. Terlatih. Sudut tembak saling menutup.

Jovan langsung bergerak setengah langkah ke kiri.

Refleks lama.

Levis mengamati itu dengan puas. “Masih sama,” gumamnya. “Selalu bergerak sebelum berpikir.”

Satu tembakan dilepaskan.

Dor!

Peluru menghantam lantai, tepat di depan kaki Jovan.

Debu semen meledak ke udara.

Jovan tidak lompat. Tidak berlari. Ia berhenti.

Levis mengangkat alis. “Kau belajar.”

“Belajar apa yang kau inginkan,” jawab Jovan dingin.

Levis memberi isyarat kecil dengan dua jari.

Dor! Dor!

Dua peluru melesat, bukan ke tubuh, tapi ke dinding kanan dan kiri Jovan.

Pesan yang jelas. Ini bukan eksekusi. Ini demonstrasi.

“Kau pikir aku membawa kau ke sini untuk membalas dendam?” Levis melangkah maju satu langkah. “Tidak. Dendam itu murahan.”

Ia berhenti tepat di batas jarak tembak. “Aku membawa kau ke kota karena di sini…” Levis mengetuk pelan dadanya sendiri, “…aku yang menentukan ritme.”

Jovan menegang. “Dengan menembak sekelilingku?”

“Dengan mengingatkanmu,” balas Levis, suaranya tiba-tiba dingin, “bahwa semua orang yang dulu setia padamu sekarang menunggu perintah dariku.”

Satu penembak bergeser.

Jovan melihatnya. Terlambat.

Dor!

Peluru itu menggores bahu kanan Jovan, dangkal tapi panas. Tubuhnya terhuyung setengah langkah. Nafas tertahan. Rahangnya mengeras.

Levis tidak berkedip. “Itu peringatan,” katanya. “Yang berikutnya bukan.”

Jovan mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya berubah.

Bukan marah.

Fokus.

Levis mengenal tatapan itu tanpa tersenyum. “Aku tidak membawamu pulang, Jovan,” katanya pelan. “Aku membawamu ke tempat di mana kau tidak punya desa untuk bersembunyi.”

Ia memberi isyarat terakhir. Penembak mundur serentak.

Lampu mati setengah. Levis berbalik. “Bawa dia. Kita baru mulai.”

Jovan berdiri tegak meski masih nyeri. Saat ia digiring pergi, satu hal jelas: Ini bukan upaya membunuh. Ini pernyataan perang.

Dan Levis baru saja menembakkan peluru pertama,

bukan untuk mengakhiri Jovan,

tapi untuk memaksanya bermain di papan yang salah.

Belum sempat ia melanjutkan, ringtone ponsel berbunyi keras di belakang mereka.

Seorang anak buah cepat mengambil ponsel itu, melihat layarnya sekejap, kemudian menatap bosnya dengan wajah kaku.

“Laporan masuk, Tuan.”

Levis berhenti beberapa langkah. Suasana berubah.

“Katakan padaku itu tidak serius.”

Anak buah itu menelan ludah.

“Ada… indikasi bahwa sandera lain tidak lagi berada di lokasi semula, Tuan. Dan terjadi ketika ada insiden kebakaran."

Hening.

Levis menatap jauh ke ruang parkir yang remang.

“Jadi dia lolos?” suaranya tidak naik, itu jauh lebih dingin.

“Sepertinya, ada orang lain yang membantu,” jawab anak buah itu cepat.

Levis berjalan ke satu sudut ruangan, berdiri di bawah lampu yang berkedip.

Ia menutup mata sekejap, lalu membuka kembali, seolah melihat sesuatu yang tidak semua orang mampu lihat.

“Pak Raka… bukan target utama,” gumam Levis pelan.

“Dia… indikator. Sandera kecil yang menunjukkan langkah besar…”

Jaringan di layar monitor di kantor bawah tanah mulai berkedip.

Lokasi hilang. Sinyal terputus. Tidak ada posisi pasti. “Dia bukan hilang karena kecelakaan,” Levis menutup kalimatnya dengan suara yang makin rendah, “dia hilang karena rencana ini sudah lebih besar dari yang kukira.”

Peringatan itu bukan sekadar tembakan ke lantai. Itu pertanda. Bahwa permainan sudah berubah.

Dan Levis berdiri bukan sebagai pemburu….Tapi sebagai pengatur urutan kematian dan hidup.

Karena kalau sandera kecil bisa hilang…itu berarti…,siapa pun di luar kendali Levis…itu ancaman besar.

Levis menoleh ke arah anak buahnya.

“Siapkan tempat baru,” katanya pelan.

“Ini bukan hanya soal Jovan lagi.”

Dia tidak perlu menjelaskan.

Anak buahnya tahu bahwa ketika mafia besar berbicara tentang “indeks ancaman”, itu bukan prediksi.

Itu adalah keputusan perang yang akan ditulis dengan darah.

Dan pendengaran Jovan tajam, ia menangkap obrolan Levis dengan anak buahnya jika Pak Raka lolos.

Siapa yang membantunya?

1
Kam1la
“Aku sangat terbuka dengan masukan dari kalian. Kritik dan saran akan sangat membantu agar novel ini semakin baik. Jika suka, boleh juga beri like ya.”
Avocado Juice 🥑🥑: Semangat kak /Smile//Ok/
total 1 replies
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!