Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Mbayu
"Meskipun ayah sudah membebaskan kamu untuk ikut ke dalam anggota ALAXTAR, bukan berarti kamu bisa seenaknya sendiri, Leo. Telepon tidak di angkat, jadwal pembinaan tidak di penuhi, memberi kabar juga tidak. Apa ini yang di sebut anak patuh? Kamu sendiri yang berjanji akan menjadi anak penurut. Ayah sudah mengizinkan gadis itu menjadi pacar kamu. Ayah juga sudah kehilangan kesempatan untuk bekerja sama dengan perusahaan Pak Galvin karena kamu menolak untuk di jodohkan dengan anak beliau. Mau kamu apa? Ayah tanya sekarang."
Belum ada lima menit Leo menginjakkan kaki di halaman belakang rumah atas permintaan Mbayu—ayahnya itu langsung memberondong nya dengan berbagai macam pertanyaan yang menyudutkan dirinya. Saat Leo mengangkat kepalanya, dia bisa melihat pria gagah yang terlihat awet muda di usia yang menginjak kepala empat itu tengah menatapnya tajam seperti hendak memangsanya.
"Maaf, saya mengaku salah, Ayah." Leo berujar dengan kepala yang tertunduk dalam. Layaknya seorang tentara, Leo di didik untuk selalu bersikap patuh dan tegas.
"Kalau masih tidak ada perubahan, Ayah tidak akan segan-segan untuk menendang pacar kamu itu dari kehidupan kamu, Leo." Mbayu berujar penuh penekanan. "Dan satu lagi, Ayah akan meminta kesempatan kedua kepada Pak Galvin untuk menjodohkan kamu dengan anak beliau ketika kalian sudah lulus sekolah nanti. Demi kebaikan kamu, perusahaan, dan kemakmuran masa tua Ayah nanti."
Leo yang mendengar ujaran dari Mbayu—Ayahnya, ia tidak bisa menahan marahnya, tangannya terkepal dengan erat ia mengeraskan rahangnya setelah itu ia kembali menarik nafasnya dengan sangat berat.
“Iya, Ayah!"
Mbayu menganggukkan kepalanya. "Bagus." Dia mengulum senyum simpul. "Masuk ke kamar kamu."
...----------------...
Jam menunjukkan pukul 07:00 hari ini bukan pertama kalinya Aera terlambat masuk sekolah. Di setiap jalan Aera selalu melihat arah jam yang ada di tangan kirinya.
"Arghhh... bener-bener terlambat." keluh nya, ia mengembuskan nafasnya perlahan lalu kembali menatap jalanan,
Setelah beberapa menit akhirnya ia pun sudah sampai di depan gerbang sekolah, Aera turun dari mobil—Angkutan Umum. dan berlari menuju gerbang dan benar saja Pak satpam sudah menutup gerbang sekolah sejak 10 menit yang lalu.
"Pak, tolong bukain pintu gerbangnya... " Teriak Aera, kepada Pak satpam yang ada di pos samping gerbang.
pak Satpam yang sedang meminum kopi pun seketika melirik sumber suara yang memanggil nya, dan mulai berjalan membuka pintu gerbangnya.
"Kamu lagi kamu lagi, haduh-haduh... Selalu melanggar peraturan sekolah ya. " ucap Pak satpam dengan omelannya sembari membuka pintu gerbang.
Aera yang melihat pak satpam membuka pintu gerbangnya ia pun tersenyum senang. "Terimakasih, Pak, baru juga terlambat sekali. " ucap Aera sambil terkekeh.
Pak satpam yang sudah tau gelagat Aera ia hanya bisa memutar bola matanya malas. "Apanya yang sekali? yang ada setiap hari." Sembur Pak satpam.
"Yailah, pak, souzon mulu sama saya." Ucap Aera, tidak mau kalah.
"Buruan masuk, jangan lupa HUKUMAN NYA. " ucap pak satpam dengan tajamnya.
...----------------...
Sekolah SMA Galaksi, memanglah favorit karena itu lah setiap siswa/siswi di wajibkan untuk selalu tertib dan menaati aturan.
Tetapi tidak dengan siswi satu ini, Ya, siapa lagi kalau bukan Aera. Semua orang sudah mengenal siapa sosok Siswi yang bernama Aera ini, selalu melanggar peraturan sekolah. Tapi ia paling pinter di bidang akademik dan non akademik. Dan ini yang menjadi alasan kenapa kepala sekolahnya masih mempertahankan beasiswa itu, karena kepintaran Aera yang membuat nama sekolah menjadi lebih baik.
Guru STP2K yang bertugas untuk mendata para siswa/siswi yang nakal apalagi yang selalu berangkat sekolah terlambat pun sudah ada di lapangan.
“AERA JELITA!!!” Suara Pak Agung menggema di lapangan.
Aera refleks menoleh. Jantungnya berdegup kencang. Dengan langkah ragu, ia berjalan mendekat ke hadapan gurunya itu, menelan ludah berulang kali.
“Tumben kamu sendirian,” kata Pak Agung datar. “Ke mana dua orang lagi?”
Aera mendongak pelan, menatap wajah Pak Agung yang sudah sangat hafal dengan murid langganan hukuman sepertinya. Ia menghembuskan napas kecil.
“Nggak tahu, Pak,” cicit Aera lirih. “Saya berangkat sekolah nggak bareng sama mereka.”
Pak Agung memandangnya tak percaya, lalu menggeleng pelan.
“Stella sama Sheina sudah mulai berubah,” ucapnya. “Kamu kapan berubahnya, Aera? Apa beasiswa kamu benar-benar pengin dicabut, hah?”
Aera langsung menggeleng panik. “Nggak, Pak. Saya minta maaf. Saya janji bakal berubah dan patuh sama peraturan.”
Melihat ekspresi wajah muridnya itu, Pak Agung menghela napas pelan.
“Lari keliling lapangan sepuluh kali. Setelah itu masuk ke ruang BK buat minta surat izin terlambat.”
Aera membulatkan mata. Sepuluh kali? Padahal ia baru saja selesai berlari.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum tipis—memaksa dirinya terlihat kuat meski tenaga hampir habis. Aera berjalan ke lapangan, meletakkan tas ranselnya di bangku yang tersedia.
Saat itulah matanya menangkap sosok cowok tinggi yang juga sedang berlari.
Leo.
“Kamu juga dihukum?” tanyanya sambil mulai berlari dan sejajar di sisi kanan Leo.
Leo menoleh refleks. “Bangun kesiangan,” jawabnya singkat. “Kamu?”
“Sama,” jawab Aera sambil terkekeh kecil.
Leo menggelengkan kepala. “Udah nggak aneh sih kalau kamu sering dihukum.”
“Nah, itu tahu,” balas Aera.
Mereka tertawa pelan.
Beberapa saat kemudian, Leo menghentikan langkahnya.
“Hukuman aku selesai. Aku masuk kelas dulu,” katanya. “Kamu selesain hukuman kamu, ya. Lain kali jangan dibiasain.”
Lalu—tanpa banyak kata—Leo mengelus rambut Aera dan meniupnya pelan.
Deggg…
Aera terpaku.
Gila… ini beneran? Diusap, ditiup pula. Tiaphari dijambak juga nggak apa-apa deh kalau ending-nya kayak gini.
Ia tersenyum sendiri.
“Heh, gilak,” celetuk Sandi tiba-tiba dari belakang. “Lo senyum-senyum sendiri. Udah kali salting-nya.”
“Iya,” timpal Ravindra. “Padahal cuma digituin doang.”
“Lo jomblo, nggak bakal ngerasain,” balas Aera santai.
“Kalian ngobrol di situ mau ditambah hukumannya, hah?” suara Pak Agung menyambar.
“Yeee… sewot amat, guru botak,” gumam Sandi.
“Astagfirullah, bestieee,” bisik Aera.
“SANDI!!!”
“I-iya, Pak! Maaf!” ciut Sandi.
...----------------...
Kringgg...
Kringgg...
Kringgg
Bel istirahat pun berbunyi Suara sorak Sorai kemerdekaan para siswa dan siswi di penjuru kelas pun terdengar riuh. Para siswa dan siswi SMA Galaksi langsung buru-buru keluar kelasnya masing-masing menuju kantin.
Aera berjalan menuju stand untuk memesan makanan.
“Teh, saya mau pesan dong.”
“Eh neng cantik, mau pesan apa?”
“Nasi goreng tapi nggak pake nasi sama mie ayam tapi nggak pake ayam.”
Wanita itu menautkan kedua alisnya, ia buntung dengan apa yang gadis itu pesan.
“Hah? Gimana-gimana?” Tuturnya sambil menggaruk kepalanya.
“Nasi goreng teh, tapi nggak pake nasi!”
“Sayurnya aja gitu?”
“Namanya jadi sayur goreng dong. Bukan nasi goreng,” Aera menahan tawa.
“Ya, terus gimana atuh, neng? Ko, jadi teteh yang bingung gini?”
“Ah teteh mah nggak asyik! Ya udah deh pesan mie ayam aja tapi nggak pake ayam.”
“Mie nya aja gitu? O-oke tunggu ya.”
“Pesan mie ayam tapi nggak pake ayam tetap kan namanya mie ayam?” Tanya Aera yang semakin membuat wanita itu frustrasi.
“Ya. Gusti, Astagfiruallah…” wanita itu mengelus dadanya, “Neng aja yang jualan gimana?” Tawarnya dengan emosi.
Sedangkan Aera tertawa sampai sudut matanya berair.
Tak jauh dari sana inti ALAXTAR melihat dari awal yang Aera lakukan.
“Ngakak banget anjir,” Wain memegangi perutnya karena tingkah lucu dari gadis itu.
“Lihat muka teteh nya deh, tertekan gitu ngadepin Aera,” tunjuk Davin sambil tertawa.
“Cewek sinting!” Lirih Leo, menarik sudut bibirnya keatas.
“Leo senyum?” Tanya Zayyan, yang melihat pemuda itu tersenyum walaupun hanya sedikit.
Sedangkan Wain, Davin, dan Alex saling pandang.
Pasalnya mereka tau bahwa temannya itu paling anti untuk tersenyum.