Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Amukan Sang Penjaga
Lembah Senja yang dulu damai kini menjadi arena neraka. Debu dan asap mengepul di mana-mana.
Jian Wuyou terkapar, nyaris tak bernyawa, tubuhnya hancur dan berlumuran darah. Li Hua dan Mei Lian segera merangkak mendekat, berusaha menyelamatkan suaminya yang telah mengorbankan segalanya.
Namun, perhatian semua mata kini tertuju pada sosok yang baru saja muncul dari kepompong cahaya.
Pemuda berzirah energi hitam-ungu itu berdiri tegak, memancarkan aura Ranah Puncak Abadi Tahap Awal yang mematikan.
"Sialan! Apa itu?! Anak-anak yang bergabung?! Ranah Puncak Abadi?! Ini tidak mungkin!" teriak seorang Tetua Sekte Dewa Abadi dengan ketakutan yang jelas.
Sosok penyatuan (kita sebut saja An-Han) tidak berbicara. Ia hanya menatap dingin ke arah armada Sekte Dewa Abadi.
Kemarahan di matanya memancar dengan intensitas yang lebih besar dari amarah Jian Wuyou sebelumnya. Ayah mereka telah hampir mati di depan mata mereka.
An-Han mengangkat tangan kanannya. Udara di sekitarnya berputar, membentuk pusaran hitam yang melahap semua cahaya.
"Teknik Terlarang: Pusaran Penghancur Jiwa — Seribu Bencana!"
Tanpa memberi waktu reaksi, ribuan pusaran hitam kecil melesat ke arah armada Sekte Dewa Abadi. Setiap pusaran itu tidak menyerang fisik, melainkan langsung mengincar inti jiwa para pendekar.
AAARGH!
Jeritan kesakitan pecah di seluruh lembah. Ratusan murid Sekte Dewa Abadi jatuh ke tanah, tubuh mereka masih utuh, namun mata mereka kosong—jiwa mereka telah hancur menjadi debu. Mayat-mayat mereka berjatuhan dari kapal perang seperti tetesan hujan, menghantam tanah dengan suara yang mengerikan.
Ketua Sekte Dewa Abadi, yang tadinya duduk dengan angkuh di atas kapal, kini berdiri tegak, wajahnya pucat pasi.
Ia telah menyaksikan kekuatan Puncak Abadi dengan matanya sendiri, dan ia tahu bahwa kekuatan semacam itu tidak bisa ditandingi oleh Ranah Domain kehendak sekalipun.
"Mundur! Mundur sekarang! Ini adalah iblis yang menyamar sebagai manusia! Jangan lawan dia!" teriak Ketua Sekte.
Namun, sudah terlambat. An-Han melesat maju. Kecepatannya tidak bisa diikuti oleh mata telanjang.
Ia muncul di antara barisan pendekar Sekte Dewa Abadi, mengayunkan tinjunya yang diselimuti energi hitam.
Setiap pukulannya mampu meremukkan armor baja dan memusnahkan tubuh kultivator Ranah Transformasi esensi dalam sekejap.
"Kalian berani menyentuh Ayah kami?" suara An-Han terdengar dingin dan mematikan. "Kalian berani mengancam Ibu kami?"
Seorang Tetua Agung Sekte Dewa Abadi mencoba menahan. Ia menggunakan teknik pertahanan terkuatnya, menciptakan perisai cahaya setebal gunung. Namun, An-Han hanya meletakkan telapak tangannya di perisai itu.
KRAAAK!
Perisai itu hancur seperti kerupuk, dan Tetua Agung itu langsung hancur menjadi partikel-partikel yang tak terlihat.
Di atas kapal perangnya, Ketua Sekte Dewa Abadi, seorang pendekar Ranah Domain kehendak Tahap Puncak, tahu ia tidak memiliki kesempatan.
Kekuatan Ranah Puncak Abadi terlalu jauh di atasnya. Ia tidak lagi peduli dengan misi atau perintah dari Langit Tertinggi. Ia hanya ingin melarikan diri.
Ia mengumpulkan seluruh energinya, bersiap untuk menghancurkan kapal perangnya sendiri demi mendapatkan celah untuk melarikan diri ke Alam Langit.
Namun, An-Han muncul di hadapannya sebelum ia sempat bergerak.
"Mau lari?" suara An-Han penuh ejekan.
Ketua Sekte berlutut, memohon ampun. "Kumohon, ampuni aku! Aku hanya menjalankan perintah! Aku tidak tahu bahwa kau memiliki kekuatan seperti ini!"
An-Han menatapnya tanpa ekspresi. "Ayah kami, Jian Wuyou, melindungi kami dengan nyawanya. Tapi kau... kau ingin menghancurkan kami."
Tanpa kata-kata lebih lanjut, An-Han mengayunkan tangannya, dan seluruh tubuh Ketua Sekte Dewa Abadi meledak menjadi kabut darah, bahkan tidak menyisakan abu.
Dalam hitungan menit, seluruh armada Sekte Dewa Abadi musnah. Lembah Senja yang indah kini dipenuhi mayat dan reruntuhan. An-Han berdiri di tengah-tengah kehancuran, aura Puncak Abadi di sekelilingnya mulai meredup.
Tubuh pemuda berusia 18 tahun itu mulai berkedip, lalu kembali terbagi menjadi dua sosok: Jian An dan Jian Han, yang kini terkapar kelelahan di tanah, tubuh mereka kejang-kejang akibat penggunaan kekuatan yang terlarang.
Di sisi lain, Li Hua dan Mei Lian sedang berjuang keras menjaga Jian Wuyou tetap hidup.
Li Hua menatap Jian An dan Jian Han yang sudah kembali ke wujud aslinya. Air mata mengalir deras dari matanya. Anak-anaknya telah menyelamatkan mereka, namun dengan harga yang mungkin tak terbayangkan.