NovelToon NovelToon
Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Matabatin / Misteri / Tumbal / Hantu / Kumpulan Cerita Horror
Popularitas:48.9k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.

Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.

.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.


[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 027 : Frekuensi Keputusasaan

Ruang siaran utama Suara Khatulistiwa seharusnya menjadi tempat di mana suara-suara ceria menyapa pendengar di sela-sela putaran lagu nostalgia.

Namun malam itu, ruangan kedap suara tersebut berubah menjadi panggung teatrikal yang paling mengerikan dalam sejarah penyiaran kota itu.

Di bawah temaram lampu studio yang sesekali berkedip karena tegangan listrik yang tidak stabil, Gani—seorang penyiar muda yang dikenal santun namun tertutup—tengah berjuang dengan badai di dalam kepalanya.

Himpitan ekonomi, hutang yang menumpuk, dan kegagalan hidup yang datang bertubi-tubi membuat jiwanya retak.

Di titik terendah itulah, sebuah frekuensi statis yang tak kasatmata mulai berdenyut di pojok ruangan.

Sesosok entitas hitam pekat tanpa wajah, yang dikenal sebagai Sang Operator, merayap mendekat.

Makhluk ini tidak menyerang dengan belati atau kekuatan fisik; ia menyerang melalui celah keputusasaan yang menganga lebar di dada Gani.

"Lihatlah betapa sia-sia hidupmu, Gani... Tidak ada yang mendengarkanmu. Dunia ini terlalu bising, dan kau hanya sampah di dalamnya. Kabel itu... dia bisa memberimu keheningan abadi," bisik suara itu, manis namun mengandung racun yang melumpuhkan akal sehat.

Di bawah pengaruh bisikan yang melumpuhkan logika, mata Gani berubah menjadi kosong. Dengan gerakan mekanis yang kaku, ia mengambil kabel mikrofon yang tebal di atas meja.

Tangannya sendiri yang melilitkan kabel itu ke lehernya, berulang kali, seolah sedang melakukan tugas rutin yang menenangkan. Ketika napasnya mulai tersengal, bisikan itu semakin gila mendorongnya untuk menarik lebih kuat.

Kuku-kukunya mulai menggaruk wajahnya sendiri, mengelupas kulitnya karena ia merasa muak dengan identitas dirinya yang malang.

Gani mengakhiri hidupnya sendiri, menjadi tumbal atas keputusasaannya yang dimanipulasi oleh sang entitas ghaib.

Keesokan paginya, Aldo tiba di depan gedung stasiun radio dengan perasaan yang sangat tidak enak.

Langkahnya terhenti di lobi ketika melihat kerumunan polisi, beberapa wartawan, dan sebuah ambulans yang terparkir tepat di depan lobi.

Suasana mencekam langsung menyergap indranya. Tanpa banyak bicara, ia bergegas masuk dan naik ke lantai atas.

Di depan ruang siaran lantai dua, Aldo melihat genangan darah yang sudah mulai mengering, merembes dari bawah pintu kayu yang berat. Beberapa rekan kerjanya berdiri di lorong dengan wajah pucat pasi.

"Katanya Gani bunuh diri," bisik seorang operator teknis dengan suara gemetar.

"Polisi bilang dia depresi berat. Tapi... wajahnya, Do... mereka bilang wajahnya hilang. Kayak ditarik paksa."

Aldo terpaku. Baginya, narasi bunuh diri itu sangat tidak masuk akal. Ia mengenal Gani; meski hidup pemuda itu sulit, Gani adalah sosok yang taat dan memiliki semangat hidup.

Ada sesuatu yang jauh lebih gelap yang bermain di sini. Sebelum meninggalkan kantor yang sudah ditutup sementara itu, Aldo menyelinap masuk ke ruangan kerja Gani.

Di atas meja kayu yang kusam, ia menemukan sebuah pensil kayu pendek yang biasa Gani gunakan.

Aldo mengambilnya perlahan, merasakan hawa dingin yang menjalar ke telapak tangannya. Ia yakin, hanya ada satu orang yang bisa membongkar tabir ini. Rachel.

Sore harinya, Aldo tiba di rumah tua Ibunda Rachel di desa. Tanpa banyak kata, ia menyerahkan pensil kayu itu kepada Rachel yang duduk di kursi roda.

Rachel memejamkan matanya, menggenggam kayu pendek itu dengan kuat. Seketika, frekuensi statis yang menyakitkan telinga mendengung hebat di dalam kepalanya. Rachel melihat potongan memori tragis: bisikan setan, kabel yang melilit, dan tangan hitam yang menguliti wajah Gani.

Rachel membuka matanya dengan napas memburu, ia justru menyeringai tipis.

"Sejak kapan makhluk sejahat ini ada di sana?" tanya Rachel pada Aldo dengan nada menantang.

Aldo menaikkan salah satu alisnya, sementara seluruh keluarga Gautama pun menatapnya dengan serius.

"Setan kelas teri ini, mah! Cuma berani main di mental orang yang lagi lemah. Berangkat aja sekarang, ayo! Kita habisi di kandangnya!" ucap Rachel bersemangat, tangannya segera bergerak kasar mendorong roda kursi rodanya sendiri menuju gerbang.

Tap! Dua tangan besar menahan kursi rodanya dari belakang secara bersamaan. Itu tangan Adio dan Marsya.

"Cah ndablek!" (Anak keras kepala!) ucap keduanya serempak.

Rachel tersentak, bahunya merosot lemas. Ia menatap kakinya yang terbungkus kain panjang, lalu membuang napas dengan sangat kasar hingga poninya terangkat.

"Iyo wes iyo! Sepurane aku lali kalau kakiku lagi mogok!"

(Iya deh, iya! Maaf aku lupa kalau kakiku lagi mogok!) jawab Rachel ketus namun malu.

"Makanya, jangan sok jagoan dulu. Pimpinan kok pikun," ledek Marsya sambil menjulurkan lidah.

"Hush! Sembarangan kamu, Marsya. Pimpinan kita ini cuma terlalu bersemangat," bela Cak Dika, meski ia sendiri menahan senyum geli.

Rachel kemudian mengatur napasnya, mencoba kembali berwibawa.

"Wes, sekarang kalian semua berangkat ke kantor Aldo. Cak Dika, Aldo, Marsya, Melissa, Bella, Peterson, Mas Suhu semuanya. Habisi frekuensi itu sebelum dia nemu korban baru. Biar aku, Laras, sama Adio yang jaga di sini."

Sebelum berangkat, Ibunda Rachel keluar dari kamar dengan membawa baki berisi air putih dan beberapa butir garam kasar.

Wajahnya yang tenang menyimpan kewibawaan seorang tetua. Beliau mendekati satu per satu anggota keluarga yang hendak pergi.

"Nduk," panggil Ibunda lembut namun tegas.

"Elingo, musuhmu iki dudu barang sing ketok moto. Dheweke mangan ati. Nek atimu goyah, dheweke menang. Ojo lali dongo."

(Ingatlah, musuh kalian ini bukan barang yang terlihat oleh mata. Dia memakan hati. Jika hati kalian tidak kuat, setan itu menang. Jangan Lupa, doa!)

"Nggih, Buk," jawab mereka serempak.

(Iya, Bu!)

Ibunda kemudian memberikan segelas air itu kepada Cak Dika sebagai yang tertua di rombongan.

"Siramno nang ngarep lawang kantor engko!" tutur Ibunda Rachel dan Marsya.

(Siramkan di depan pintu kantor nanti)

"Ben dalane padhang!"

(Biar jalannya terang)

Di halaman rumah yang dingin, suasana sempat menghangat karena ulah Cak Dika. Ia melihat Rara tampak sedikit menggigil karena angin malam yang menusuk dari arah hutan jati.

Tanpa diperintah, Cak Dika mengambil selimut tebal dan menyampirkannya ke pundak Rara dengan gerakan yang berusaha ia buat selembut mungkin.

"Nyoh dek! Bengi ki adem, pean pakai!"

(Nih Dek! Malam ini dingin, kamu pakai!) tutur Cak Dika lembut, mencoba terlihat maskulin.

Marsya yang berada tepat di belakang dua sejoli itu hanya menatap dengan ekspresi muak yang tidak ditutup-tutupi.

"Haish, kamu Cak! Kembali ingatan Mbak Rara, kembali menjijikkan kamu!" gerutu Marsya pedas. Ia langsung memotong jalan, menyalip Cak Dika dan mendahuluinya masuk ke dalam mobil.

Rara menaikkan salah satu alisnya menatap ke arah Cak Dika yang tampak salah tingkah.

"Adekmu loh, ndang digolekne jodoh kunu! Mesakne sing liane wes due jodoh de e durung. Frustasi suwi-suwi!"

(Adekmu tuh, buruan dicariin jodoh sana! Kasihan yang lain sudah punya jodoh, dia belum. Frustasi lama-lama!) tutur Rara sambil terkekeh geli.

Rara menerima selimut itu dan masuk ke mobil. Di belakang, Bella dan Mas Suhu hanya bisa tertawa melihat interaksi ajaib itu, sementara Peterson dan Melissa juga ikut menanggapinya dengan tawa kecil sebelum akhirnya semua masuk ke dalam mobil.

Mobil pun melaju membelah kegelapan. Di dalam mobil, suasana yang tadinya jenaka perlahan berubah menjadi hening. Aldo yang menyetir tampak berkonsentrasi penuh, sementara Cak Dika terus memilin tasbih di tangannya.

"Kalian merasa nggak?" tanya Melissa tiba-tiba dari kursi tengah. "Baunya... kayak bau besi berkarat dicampur melati busuk."

"Fokus, Mel. Jangan biarkan indramu terbuka terlalu lebar," sahut Mas Suhu dengan suara berat.

"Dia mulai 'mengetuk' pintu pikiran kita."

Setelah mobil itu menjauh dari halaman, Rachel kembali ke ruang tengah. Ibunda sedang menemani Arka tidur, meninggalkan Rachel, Laras, dan Adio dalam keheningan yang mulai terasa berat.

Rachel duduk di tengah ruangan, sementara Laras bersila di dekatnya. Tiba-tiba, udara di sekitar mereka bergetar.

Enam sosok muncul dari kegelapan di belakang kursi roda Rachel: Barend, Albert, Marsya (ghaib), Anako, Gelanda, dan Melissa.

"Ayo bantu aku!" ujar Rachel sembari tersenyum tanpa menoleh sedikit pun.

Ia menggenggam jimat kalungnya sebentar, lalu merapalkan mantra Kejawen dengan suara rendah yang berwibawa.

Bersamaan dengan selesainya doa, para sahabat ghaib itu menghilang seketika, melesat mengekor mobil tim yang sedang bertugas.

Namun, tepat saat roh-roh itu pergi, radio transistor di atas lemari jati tiba-tiba berderit kencang.

Srekk... srekkk...

"Rachel... kenapa kau biarkan mereka pergi... bukankah kau yang paling kesepian karena kaki itu? Bukankah kau merasa tidak berguna sekarang?"

Suara itu keluar dari pensil Gani yang masih tergeletak di meja depan Rachel. Pensil itu berputar sendiri dengan cepat, memancarkan aura hitam yang mencoba menekan mental siapa pun di ruangan itu.

Rachel hanya tersenyum meremehkan sembari masih terpejam. Ia tidak sedikit pun terpengaruh oleh upaya manipulasi tersebut.

"Sopo koen sing wani merintah aku? Koe ki mek demit kelas teri! Entenono, tamat awakmu bar ki!"

(Siapa kamu yang berani memerintah aku? Kamu itu cuma setan kelas teri! Tunggu saja, tamat kamu setelah ini!) ucap Rachel dengan nada tenang namun mematikan.

Adio yang sedari tadi memperhatikan pensil yang bergerak sendiri itu hanya terpaku, tangannya terkepal siaga meski ia tahu lawannya tidak kasat mata.

Sementara Laras, dia hanya diam membisu, wajahnya tenang meski telinganya menangkap frekuensi ghaib yang menyakitkan. Hal ini sudah biasa.

Setelah Rachel membalas gertakan itu, suasana di ruang tengah mendadak menjadi sangat panas. Seolah-olah setan itu murka karena diremehkan.

Dengan satu sentakan ghaib yang kuat, pensil milik Gani itu terlempar keras dari atas meja hingga menghantam dinding dan patah menjadi dua.

Rachel membuka matanya perlahan, kilatan tajam terpancar dari netranya.

"Dia marah, Yo. Itu artinya dia takut," bisik Rachel dingin, lalu berseringai.

Sementara itu, di dalam mobil yang sudah mendekati gedung stasiun, Aldo tiba-tiba menginjak rem dengan mendadak.

Di tengah jalan yang sepi, ia melihat sosok Gani berdiri mematung di bawah lampu jalan, wajahnya masih utuh dan tersenyum melambai ke arah mereka.

"Gani?" gumam Aldo tak percaya.

"Jangan turun, Do! Itu bukan Gani!" teriak Cak Dika keras.

Tiba-tiba, radio mobil menyala sendiri, menyiarkan suara jeritan yang sangat memekakkan telinga.

"Wes Ojo mandek! Lurus ae sampe kantor e Aldo!" tutur Mas Suhu.

(Sudah jangan berhenti! Lurus saja sampai kantornya Aldo!)

Mendengar penuturan itu. Mobil pun kembali dikemudikan. Menyusuri jalanan malam yang tak terlalu ramai. Menuju lokasi di mana setan itu bersemayam.

1
Peri Cecilia
sial, makin kesini makin kerasa😭
Peri Cecilia
kebaca dalam hati gapapa kan🗿
Jing_Jing22
sweet banget sihh🤧
Jing_Jing22
pasangan ter-favorite ku di cerita ini🫶🫶🫶
Jing_Jing22
ada aja celetuk nya pram😂😂😂
Chimpanzini Gagal Hiatus
serem banget. saking banyaknya mayat bisa jadi tanah pijakan.
Chimpanzini Gagal Hiatus
samudra mematuhi kehendakku
Chimpanzini Gagal Hiatus
wihh ilusinya sama kuatnya kek karakter Huli Jing di novelku/Proud//Proud/
Chimpanzini Gagal Hiatus
langsung refleks megang perut 😭😭
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
wah gagal teguh mau hibernasi ehh ada tugas mendadak 🤭🤭
duh gemesin si arka tau2an Rachel ada didepan
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
ngeri woii kalo jadi aelke jelas aja dia ketakutan.
untung yg hampir nabrak Aldo jadi seenggaknya kamu sedikit aman sekarang
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
wkwkwk Adio ihh nyuri kesempatan lagi yaa 🤣🤣
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
pas baca judulnya udh penasaran siapa lagi arwah nya , oh Bagus lah kalo ternyata orang tuamu tami
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
yeee akhirnya cak Dika melakukan niatnya buat ngelamar rara🤭🤭
wah kemana pak dokter sama pasiennya 😄
etdah Tami kamu yaa blak2an banget
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
aihh habis adegan tegang menegangkan plus serem dikasih yang manis2 gini meleleh lahh
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
sumpah menegangkan banget, untung mas suhu sama bela bisa cepat bawa Tami .
semoga nanti Tami bisa ketemu orang tua nya berkat bantuan Rachel ya
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
ini yakin kan Tami bakal selamat enggak bakal denger suara aneh2 lagi
merinding bayangin kematian toby 🥺
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
isss tamii ini gegara kecerobohan mu juga , untung Rachel bangun dan segera datang menolong mu
CACASTAR
yakin banget deh di lokasi angkernya setengah ampun
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
keren lahh Tami punya kekuatan juga ternyata, wah Bella siap2 kamu beranak banyak sama mas suhu🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!