Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?
Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pesawat jet pribadi Andrew mendarat di Changi dengan suasana hati yang jauh berbeda dari saat ia berangkat. Beban berat yang sebelumnya menghimpit dadanya kini telah berganti menjadi sebuah ketenangan yang dingin namun pasti. Badai di Jakarta telah usai; Nadya telah ditempatkan di sebuah fasilitas medis terbaik di pinggiran kota yang tenang, di bawah pengawasan dokter ahli, jauh dari jangkauan publik dan jauh dari kemampuan untuk menyakiti keluarganya lagi.
Selama perjalanan dari bandara menuju apartemen, Andrew menatap jalanan Singapura yang lenggang, Ia telah memutuskan dengan tenang. Ia tidak akan pernah menceritakan detail tentang kegilaan Nadya atau insiden kebakaran itu kepada Ares. Baginya, Ares sudah cukup menderita. Biarlah Ares tidak perlu mengenal jauh tentang Nadya, apalagi Nadya sekarang adalah wanita yang kehilangan akal sehatnya di balik jeruji rumah sakit jiwa.
Andrew menghapus semua pesan dan laporan foto dari ponselnya. Ia ingin kembali ke hadapan adiknya sebagai Andrew yang utuh, sebagai pelindung yang telah berhasil menumpas ancaman terakhir.
Saat Andrew membuka pintu penthouse medis mereka, suasana terasa sangat sunyi. Ia mengira Ares sedang tidur atau sedang berada di balkon bersama perawat. Namun, saat ia melangkah masuk ke ruang tengah, ia melihat sebuah pemandangan yang membuat dunianya seolah berhenti berputar sejenak.
Di ujung lorong, Ares sedang berdiri. Bukan di atas kursi roda, bukan bersandar pada mesin robotik. Ia berdiri tegak, memegang sepasang tongkat crutches, dengan Chloe yang berdiri beberapa langkah di depannya, memberikan instruksi dengan wajah yang berseri-seri.
"Satu langkah lagi, Ares! Ayo, sedikit lagi!" seru Chloe menyemangati.
Ares menggerakkan kakinya, pelan, bergetar, namun pasti. Tap. Tap. "Kak Andrew?" Ares mendongak dan melihat kakaknya mematung di ambang pintu. Sebuah senyum lebar, senyum yang paling tulus yang pernah Andrew lihat dalam bertahun-tahun, mengembang di wajah adiknya. "Lo balik di waktu yang tepat, Kak!"
Andrew tidak sanggup berkata-kata. Ia meletakkan tasnya begitu saja dan berjalan cepat menghampiri adiknya. Ia melihat Ares melakukan dua langkah tambahan tanpa ragu untuk mendekatinya. Begitu mereka berdekatan, Andrew langsung merangkul adiknya, menahan tubuh Ares agar tidak terjatuh.
"Lo jalan, Res... Lo beneran bisa jalan," bisik Andrew, suaranya tercekat oleh rasa haru yang meluap.
"Lima belas langkah hari ini, Kak. Tanpa jatuh," bangga Ares. Ia menatap Andrew dengan mata yang berbinar. "Gimana urusan di Jakarta? Semuanya beres? Tante Nadya... gimana?"
Andrew terdiam sejenak. Ia menatap mata adiknya yang kini penuh harapan. Ia teringat janjinya pada diri sendiri untuk menjaga ketenangan ini.
"Semuanya udah beres, Res," jawab Andrew mantap. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang membawa kedamaian. "Dia memutuskan untuk pergi jauh ke tempat yang tenang untuk pengobatan dan menenangkan diri. Dia titip salam buat kamu. Dia minta maaf sama kamu, dia ingin kamu fokus pada kesembuhanmu dan tidak perlu mencarinya lagi. Dia ingin kita memulai lembaran baru."
Ares menghela napas panjang, tampak lega. "Mungkin itu yang terbaik buat dia, Kak. Dan buat kita."
----
Sore itu, mereka bertiga duduk di balkon, menikmati teh hangat sambil menatap matahari terbenam. Chloe duduk di antara mereka, bercerita tentang rencana mereka untuk mengunjungi Universal Studios bulan depan, di mana Ares berjanji akan mencoba berjalan dari satu wahana ke wahana lain.
"Kita akan pulang ke Jakarta tiga bulan lagi," ucap Andrew sambil menatap Ares dan Chloe. "Papi dan Mommy sudah menyiapkan acara syukuran kecil-kecilan. Tapi sebelum itu, gue mau kita benar-benar menikmati waktu di sini. Tanpa bayang-bayang siapa pun. Hanya kita."
Ares meraih tangan Chloe dan menggenggamnya, lalu ia meletakkan tangan lainnya di atas lengan Andrew. "Terima kasih, Kak. Makasih karena sudah nggak menyerah sama gue. Makasih karena sudah menjaga keluarga kita tetap utuh."
Andrew tersenyum, merasakan kehangatan yang sesungguhnya. Untuk pertama kalinya, tidak ada rahasia yang menyakitkan di antara mereka, tidak ada pengkhianatan yang membayangi, dan tidak ada lagi bayangan masalalu yang menghantui langkah mereka.
Di bawah langit Singapura yang mulai bertabur bintang, dua putra kebanggan keluarga Wijaksana akhirnya menemukan arti sebenarnya dari sebuah kepulangan. Bukan tentang kembali ke sebuah rumah mewah, melainkan kembali ke dalam pelukan kasih sayang yang jujur dan tulus. Perjalanan mereka yang panjang dan penuh luka telah mencapai muaranya, sebuah kedamaian yang sunyi namun abadi.
...----------------...
Meskipun Andrew mencoba membungkus kenyataan dengan narasi "pengobatan tenang", Alesya sebagai seorang dokter memiliki akses dan insting yang tidak bisa dibohongi. Di sela-sela jadwal praktiknya di Jakarta, Alesya memutuskan untuk mendatangi fasilitas kesehatan jiwa eksklusif di pinggiran kota, tempat di mana nama Nadya kini terdaftar sebagai pasien dengan pengawasan ketat.
Lantai gedung rumah sakit jiwa itu begitu bersih hingga memantulkan bayangan Alesya yang berjalan dengan langkah berat. Suasana di sini sangat sunyi, hanya terdengar suara gesekan sepatu perawat atau gumaman samar dari balik pintu-pintu yang terkunci. Begitu Alesya sampai di depan ruang isolasi kelas satu, seorang perawat senior menyapanya dengan nada prihatin.
"Beliau baru saja diberikan obat ringan, Dok. Sedang dalam fase tenang, tapi tadi pagi... kondisinya cukup sulit," lapor perawat itu.
Alesya mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum memutar kunci dan masuk ke dalam.
Di dalam ruangan yang serba putih itu, seorang wanita duduk meringkuk di sudut tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela yang berjeruji besi namun dilapisi kaca tebal. Wanita itu tampak jauh lebih tua dari usia aslinya. Rambutnya yang dulu selalu tertata sempurna kini tampak kusam, dan wajahnya yang dulu memancarkan keangkuhan kini hanya menyisakan guratan-guratan kepedihan.
"Mama..." panggil Alesya lembut.
Nadya tidak menoleh. Ia hanya menggumamkan nama Andrew berulang-ulang, diikuti oleh cacian pelan untuk Revana.
Alesya mendekat dan duduk di kursi di samping tempat tidur. Ia meraih tangan ibunya yang terasa dingin dan kasar. Sebagai anak perempuan satu-satunya, Alesya selalu menyimpan ruang kecil di hatinya untuk mencintai Nadya, meski ia lebih sering merasa kecewa. Melihat kondisi Nadya sekarang, Alesya merasakan sesak yang luar biasa di dadanya.
"Dua puluh tahun yang lalu, aku pikir saat Mama masuk dari penjara itu, itu adalah titik terendah kita," bisik Alesya, air matanya mulai menggenang. "Ternyata aku salah. Melihat Mama di sini, terjebak dalam pikiran Mama sendiri... ini jauh lebih menyakitkan."
Alesya teringat bagaimana Nadya selalu berjanji akan kembali untuk menjemput mereka dan memberikan kehidupan yang "lebih layak" daripada yang diberikan Papi Adrian. Namun, janji itu hanyalah alat manipulasi. Nadya tidak pernah benar-benar mencintai anak-anaknya, ia hanya mencintai gagasan bahwa anak-anak itu adalah miliknya untuk melawan Revana.
"Kenapa Mama tidak bisa berhenti?" tanya Alesya, meskipun ia tahu tidak akan ada jawaban yang logis. "Mommy Revana merawat kami dengan tulus, Ma. Dia mencintai Andrew dan Aku seolah kami lahir dari rahimnya sendiri. Tapi Mama... Mama justru mengirim orang untuk mencelakai Ares hanya karena rasa iri."
Tiba-tiba, Nadya menoleh. Matanya yang kosong mendadak berkilat dengan amarah yang tertinggal. "Dia mengambil segalanya... Alesya... dia mengambil Papi, dia mengambil rumah Mama, dan sekarang dia mengambil kalian. Aku hanya ingin apa yang menjadi hakku!"
Alesya menggelengkan kepala, air matanya jatuh. "Mama yang membuang itu saat Mama memilih sibuk dengan dunia Mama daripada Aku, Andrew dan Papi. Mama yang menghancurkan diri Mama sendiri."
Sebagai dokter, Alesya tahu bahwa secara medis, kondisi kejiwaan Nadya adalah kombinasi dari trauma masa lalu dan gangguan kepribadian yang sudah mencapai puncaknya. Secara klinis, Nadya mungkin tidak akan pernah benar-benar "pulih" ke kondisinya yang dulu. Ia akan selamanya hidup dalam labirin halusinasinya, di mana ia adalah ratu yang terzalimi.
Alesya merapikan selimut ibunya, lalu mencium kening wanita itu, sebuah ciuman perpisahan untuk sosok ibu ideal yang pernah ia impikan namun tidak pernah ia miliki.
"Aku akan sering datang menjenguk, Mama," ucap Alesya sambil berdiri. "Andrew... melakukan ini semua, untuk kebaikan Mama, agar Mama berhenti melukai orang lain yang sebenarnya tidak bersalah."
Tanpa menunggu jawaban, Alesya melangkah keluar dari ruangan itu dengan bahu yang bergetar karena tangis yang ditahan. Di luar pintu, ia bersandar pada dinding koridor, menangis dalam diam. Ia menyadari sebuah kebenaran pahit: bahwa terkadang, mencintai seseorang berarti melepaskan mereka ke dalam kegelapan yang mereka ciptakan sendiri, sambil berharap suatu saat nanti ada seberkas cahaya yang bisa menembus dinding kegilaan tersebut.
Keluarganya sekarang mungkin telah menang, namun bagi Alesya, kemenangan ini menyisakan sisa-sisa kesedihan yang akan ia bawa seumur hidupnya di setiap kunjungannya ke rumah sakit jiwa itu.
...🌼...
...🌼...
...🌼...
...Bersambung......