Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.
Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.
Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.
Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.
Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.
Cover Ilustrasi by ig pixysoul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Waktu makin menipis, tapi kandidat yang tepat buat Arcila belum juga ditemukan. Dafsa pusing tujuh keliling. Kemarin malam setelah menelepon teman lamanya untuk memberi peringatan supaya nggak main-main, dia langsung minum obat sakit kepala dua butir. Ditambah pelipisnya ditempel koyo cape super panas.
Apakah ada efek? Jelas nggak. Dafsa emang tidur pules, tapi waktu bangun subuh-subuh, kepalanya pusing lagi. Sensasinya kayak habis naik kora-kora di pasar malam. Dia nggak pernah sesetres ini sebelumnya. Jujur, Dafsa takut dihujat Arcila.
"Udah sore lagi," keluh Dafsa melirik jam tangan. Sekarang pukul setengah enam sore, udah waktunya berangkat ke kios.
[Aku nggak bisa ke kios, Mas, ada persiapan ujian buat minggu depan.]
Dafsa mengusap wajah. Baru saja ia mendapatkan pesan dari Diva setelah sampai di parkiran Blok M.
"Aduh, aku nggak ada temen lagi." Dafsa menggaruk kepala. Memikirkan apakah ia harus tetap membuka kios atau nggak.
"Jangan jadi pengecut, Daf. Nggak selamanya karir kamu sebagai makcomblang berjalan mulus. Kadang kala akan ada keluhan," ucapnya memberikan semangat pada diri sendiri.
"Tapi kalau keluhannya dari Bu Arcila ... itu serem, sih," tambahnya meringis.
Harus Dafsa akui, ia agak segan sama Arcila. Mungkin karena kliennya yang satu itu punya pesona lain. Maksudnya, Arcila beda sama klien Dafsa sebelum-sebelumnya. Perempuan itu tegas, tahu banget apa maunya. Nggak bisa nego-nego kalau sama Arcila. Semuanya harus serba tepat.
Oke. Waktu makin maju. Dafsa nggak bisa diem aja. Akhirnya dia jalan ke kiosnya. Sesuai dugaan, Arcila udah sampai duluan. Dia cuma berdiri di depan kios, sama kayak biasanya.
"Selamat sore, Bu," sapa Dafsa usai membuang napas panjang.
"Sore," balas Arcila datar.
Beneran deh, Arcila selalu ngomong pake nada teratur alias datar banget. Dafsa jadi penasaran, apa Arcila juga ngomong baku kayak gini kalau sama orang tuanya?
"Sebentar ya, Bu, saya buka dulu."
Arcila mengangguk, membiarkan Dafsa menyeret rolling door kios ke atas. Setelah terbuka lebar, barulah ia masuk. Duduk di tempat biasanya.
"Tadi ada beberapa klien yang datang, cuma saya bilang Mas Dafsa nggak buka praktek hari ini."
Dafsa batal duduk. Matanya natap Arcila agak lama. "Kenapa dibilang seperti itu, Bu?"
"Ya karena saya mau bilang gitu," jawab Arcila membalas tatapan Dafsa. "Di sini saya cuma satu orang, tapi bayaran dari saya udah bisa nutup biaya seratus klien. Benar, kan?"
Mulut Dafsa terkunci rapat, seperti dilapisi rem super kuat. Untuk alibi Arcila, emang nggak ada salahnya. Dafsa mau marah, tapi nggak bisa. Arcila 'kan klien paling penting.
"Oke, Bu, nggak apa-apa," kata Dafsa sambil senyum.
Dafsa menyalakan komputer, membuka catatan beberapa kliennya. Sumpah deh, sekarang dia lagi keringetan karena nahan gugup di depan Arcila.
Arcila terus ngeliatin, nggak pernah buang pandangan ke kanan atau ke kiri.
"Sudah ada, Mas?" tanya Arcila usai 15 menit berlalu.
"Apanya, Bu?" Dafsa balik bertanya. Iya, dia akui itu pertanyaan bodoh.
Arcila membuang napas pelan, menunjukkan kekesalannya. "Mas mau main-main dengan saya?"
"Ya Allah, tidak, Bu. Maaf saya salah bicara." Dafsa meralat cepat, sampai nunduk-nunduk di depan Arcila. Dia malu sekaligus salah tingkah.
"Lalu bagaimana? Tolong profesional, Mas," pinta Arcila dengan sangat.
Sudah banyak waktu yang terbuang untuk datang ke sini. Pertama, berulang kali Arcila melewatkan waktu jalan-jalan sore dengan dua kucingnya. Kedua, dia harus mikirin banyak alibi saat ngobrol sama orang tuanya.
"Sudah ada, Pa, Ma, ditunggu saja, ya." Itulah yang selalu Arcila katakan tiap ditanya perkembangan asmaranya sama Rama dan Hani. "Pokoknya pacarku nggak akan mengecewakan. Dia bisa diandalkan."
Aduh, kalau omongan Arcila yang udah puluhan kali itu nggak bisa dibuktikan, mau ditaruh di mana mukanya yang super cantik ini? Arcila bisa malu seumur hidup. Terus namanya dicoret dari daftar ahli waris gara-gara bohongin keluarga besar.
"Sejujurnya ... saya belum bisa menemukan kandidat yang tepat untuk Bu Arcila," aku Dafsa pada akhirnya.
Arcila menatap, lebih lekat dibanding sebelumnya. Tawanya menguar sedikit. Dafsa membatin kalau tawa itu jelas sebagai tanda kekesalan.
"Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi—"
"Berusaha semaksimal mungkin?" ulang Arcila dengan nada sinis. "Kalau usaha Mas Dafsa sudah maksimal, harusnya sudah ada hasilnya, Mas," imbuhnya menakan setiap kata.
"Saya mohon maaf," kata Dafsa nunduk-nunduk lagi.
"Nggak pernah saya duga, Mas Biro yang kata banyak orang punya tangan dingin, ternyata nggak sehebat itu, ya? Mas nggak bisa memenuhi janji Mas sama saya." Arcila benar-benar murka, tapi ia punya cara khusus untuk meluapkan amarahnya.
Tidak ada nada tinggi. Tidak pula dengan mata melotot. Cukup bicara dengan nada teratur, dan terus menatap lawan bicara tanpa menoleh ke mana pun. Itu sudah cukup membuat Dafsa kalang kabut.
"Bagaimana kalau Ibu memberikan saya waktu satu minggu lagi?"
Tawa Arcila makin kencang. "Mas, apa Mas pikir acara makan keluarga saya itu main-main? Bisa diundur-undur seenak jidat?"
"Pastinya tidak," jawab Dafsa sangat pelan. Suaranya hampir menghilang. "Em ... setengah jam, Bu. Beri saya setengah jam!" tambah Dafsa membuka lagi buku catatannya.
Lelaki itu mulai sibuk, menyisir nama banyak lelaki. Bukan lagi belasan, tapi sampai puluhan. Ada yang bekerja sebagai konsultan pajak, tapi tinggi badannya cuma 155 cm. Kata Arcila, dia nggak suka cowok pendek. Konsultan pajak dicoret.
Ada pemilik warung bakso yang cabangnya udah di mana-mana dan terkenal enak. Tapi dia udah nikah dua kali. Jangankan jadi kandidat, masuk ke daftar kandidat aja udah mustahil. Arcila bakalan murka kalau Dafsa coba-coba ngasih rekomendasi si pemilik warung bakso. Daftar kedua dicoret.
Ada lagi guru musik. Kayaknya oke. Dafsa sempet mikir begitu, sebelum inget kalau si guru musik super duper kaku, lebih kaku dari Arcila. Ditambah dia antisosial, nggak bisa ngobrol sama orang lain, kecuali sama murid privatnya sendiri. Oke, yang ini juga harus dicoret.
Waktu hampir habis. Dafsa makin keringetan. Dia mengucek matanya dua kali, lalu berpindah ke layar komputer. Arcila yang menyaksikan betapa gigihnya Dafsa jadi punya rencana.
Ketika Dafsa ingin membuka lembar berikutnya dari buku catatan keramat, buru-buru dia tutup buku itu.
"Waktu saya ada sepuluh menit lagi, Bu," ucap Dafsa usai menelan ludah.
"Memang, tapi saya nggak punya waktu sebanyak itu," timpal Arcila mengambil alih buku di depan Dafsa, menguasainya seolah lelaki di depannya tidak boleh membuka-buka lagi seperti tadi.
"Bu Arcila ingin mundur?" Dafsa bertanya sangat hati-hati, takutnya Arcila meledak-ledak.
"Tidak." Arcila menggeleng. Sekarang ia tersenyum. Senyum yang menurut Dafsa, terlihat lebih tulus dari biasanya. Tapi bukannya tenang, dia makin nggak enak hati.
"Saya sudah punya kandidat yang tepat. Pekerja keras dan bisa diandalkan. Yang pastinya nggak malu-maluin dibawa ke acara makan malam keluarga besar saya."
Dafsa masih belum tenang. Apa arti dari ucapan Arcila? Apa selama ia sibuk tadi, perempuan itu nyoba-nyoba daftar ke makcomblang lain dan udah ada yang klik?
"Siapa kalau boleh saya tau, Bu? Dari mana Ibu dapatnya?"
"Dari kios ini," jawab Arcila. Senyumnya makin lebar.
"Eh?" Dafsa menatap ke sekeliling. Sejak tadi, di kios hanya ada dirinya dan Arcila. Tidak ada yang mengintip atau masuk ke dalam. Dafsa bisa memastikan itu.
"Siapa?" tanyanya sekali lagi.
"Mas Dafsa." Arcila menunjuk Dafsa, tepat di dadanya.
"Lho, kok jadi saya?!" pekik Dafsa hampir melompat dari tempat duduknya.
"Iya. Kalau memang tidak ada yang bisa saya bawa, Mas harus bersedia berkorban. Bertanggung jawablah sebagai owner tempat ini, Mas."
Dafsa menggeleng cepat, nggak lupa ketawa garing. Apa-apaan ini? Kenapa jadi dia yang harus datang ke acara makan malam keluarga konglomerat itu? Dafsa nggak bisa! Tempatnya cuma di rumah sederhana, kantor kecamatan, sama kios mungil yang besarnya nggak seberapa. Bukan di sekeliling orang kaya yang pastinya serba mewah.
"Tugas Mas Dafsa cuma harus pura-pura jadi pacar saya. Bayarannya sama, 200 juta untuk satu kali pertemuan. Tapi dengan syarat, Mas harus bisa bikin keluarga saya terkesan. Jangan ada celah."
Kepala Dafsa mendadak pusing. Dia heran setengah mati, kenapa Arcila punya ide gila semacam itu?
"Bu—"
"Saya kepepet, dan saya juga tahu Mas lagi butuh uang. Atau lebih tepatnya, Mas butuh saya supaya tempat ini makin terkenal." Arcila nggak nyerah gitu aja. Kalau dia bilang Dafsa harus datang dan pura-pura jadi pacarnya, itu artinya emang harus. Wajib hukumnya bagi Dafsa ngikutin apa maunya Arcila.
"Bayarannya 200 juta, Mas," ujar Arcila. "Tiap klien yang datang ke sini, kalau berhasil mereka harus membayar dua juta, tapi kalau nggak, cuma harus bayar 500 ribu aja. Mas Dafsa butuh banyak waktu lebih banyak, kalau mau dapet uang 200 juta. Tapi sama saya, Mas Dafsa cuma perlu menyiapkan mental. Saya nggak minta banyak, kok, cukup datang dan jangan aneh-aneh," tuturnya kemudian.
Pendirian Dafsa mulai goyah. Siapa sih di dunia ini, yang nggak tergiur sama tawaran Arcila?
"200 juta lho, Daf! Kamu nggak perlu lagi blusukan kayak kemarin-kemarin. Uang itu bisa dipake buat DP rumah! Kamu bisa bawa Ibu sama Diva tinggal di cluster, jauh dari tetangga julidah!" Hati kecil Dafsa berteriak keras. Suaranya sampai ke kepala, bikin telinga Dafsa kerasa agak pengang.
Sementara itu, Arcila tidak tinggal diam. Dia buka aplikasi m-banking. Seratus juta langsung ditransfer ke rekening yang Dafsa cantumin di brosur Kios Makcomblang Dafsa.
"Ini cuma DP 50%. Akan saya bayar sisanya setelah makan malam keluarga." Arcila menunjukkan bukti transferan.
Dafsa linglung. Dia ambil ponselnya sendiri. Notifikasi kiriman uang udah masuk satu menit yang lalu. Arcila emang nggak main-main. Dan yang pasti, perempuan itu super kaya! Uang bukan masalah buat Arcila, karena buat Arcila sendiri, kadang uang bisa bantu menyelesaikan masalah. Contohnya hari ini.
"Bu Arcila ...." Dafsa sampai nggak bisa berkata-kata. Seumur hidupnya, baru kali ini dia dapet seratus juta tanpa perlu kerja keras. Rasanya kayak di surga.
"Datang saja, Mas, nanti saya beri alamatnya. Ingat, jangan buat saya malu. Jadilah pacar pura-pura saya yang baik, yang sesuai dengan keinginan kelurga besar saya." Arcila udah berdiri, terus pergi gitu aja setelah ngasih senyum lebar buat Dafsa.
Sementara Dafsa? Dia tetap bengong kayak orang habis kena gendam.