NovelToon NovelToon
Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian untuk menjadi Ayah

Pagi itu, Kirana baru saja menata kotak nasi pesanan Rabu—ayam kecap, telur dadar tipis, sambal terasi, dan irisan timun segar,ketika suara motor berhenti di depan warungnya. Tapi bukan suara motor biasa. Ini suara knalpot yang sengaja dikasih efek dramatis, lengkap dengan rem mendecit ala sinetron.

“Siapa lagi nih?” gumam Kirana, mengelap tangan di celemeknya.

Belum sempat ia menoleh, Siska sudah muncul dari balik pintu dengan gaya model runway, memegang dua plastik belanjaan dan senyum penuh kemenangan.

“Selamat pagi, calon keluarga Arka Wijaya!” serunya sambil melempar satu plastik ke meja.

Kirana nyaris tersedak udara. “Siska! Lagi-lagi ngomong sembarangan!”

“Bukan sembarangan, ini strategi” jawab Siska sambil membuka plastiknya. “Aku bawa bahan buat ujian kelulusan.”

“Ujian kelulusan? Apa maksudmu?”

Siska menaruh sebungkus santan, daun jeruk, serai, dan — yang paling mengejutkan —sepotong daging sapi segar di atas meja. “Ini, rendang. Ujian wajib buat calon anggota keluarga dan juga menjadi bapak Gio ,. Kalau dia bisa masak rendang yang enak, berarti dia layak jadi bagian dari hidupmu. Kalau nggak…” Ia menepuk bahu Kirana dengan dramatis. “Berarti dia cuma pelanggan biasa. Dan Gio harus cari calon bapak baru.”

Kirana tertawa kecil, tapi jantungnya berdebar. “Kamu ini kayak ngatur kuis jodoh di TV. Padahal Arka belum bilang apa-apa!”

“Tapi Gio udah bilang ke Bu RT kalau Om Arka bakal jadi ayah barunya,” bisik Siska sambil menyeringai.

“APA?! Gio ngomong ke Bu RT?!”

“Yoi. Katanya, ‘Om Arka baik, suka ayam kecap Mama, dan nggak marahin aku pas salah potong bawang.’ Terus Bu RT langsung bilang, ‘Wah, calon mantu idaman!’” Siska menirukan suara tua dengan sempurna.

Kirana menutup wajah dengan tangan. “Aduh, anakku… kamu bikin gosip kampung se-Jakarta Selatan!”

Tapi sebelum ia sempat panik lebih jauh, suara mobil berhenti didepan toko ,dan langkah kaki familiar terdengar dari luar.

“Pagi, Chef Gio! Aku bawa telur—yang kali ini janji nggak jadi batako!” seru Arka, muncul dengan jas kerja dan senyum lebar.

Gio langsung berlari keluar. “Om Arka! Hari ini kita uji coba resep baru! Namanya… Rendang Cinta!”

Arka tertawa, lalu melihat Kirana,dan langsung menyadari ekspresi panik di wajahnya. “Ada apa? Kok mukanya kayak habis lihat tagihan listrik?”

Siska langsung menyela sebelum Kirana sempat menjawab. “Oh, nggak ada-ada. Cuma… kami lagi persiapan ritual keluarga. Kamu tahu kan, kami seperti keluarga ,dan di keluarga kami, setiap calon anggota baru harus lulus ujian masak.”

Arka mengerutkan dahi. “Calon anggota… baru?”

Kirana buru-buru menarik lengan Siska. “Dia bercanda! Itu cuma… permainan Gio. Iya, kan, Gio?”

Tapi Gio sudah menyeret Arka ke dapur. “Ini bahan rendang, Om! Kalau kamu bisa masak yang enak, kamu resmi jadi… keluarga kita !”

Arka menatap daging sapi, lalu menoleh ke Kirana dengan mata bertanya. Kirana hanya bisa mengangkat bahu, pipinya memerah. “Maaf… anakku agak… antusias.”

Arka malah tersenyum hangat. “Oke. Aku terima tantangannya.”

Siska bersorak. “Yes! Mulai hari ini, Arka Wijaya resmi jadi kandidat Ayah Angkat Resmi Kampung Mekarjaya!”

***

Dapur jadi medan perang,tapi versi lucu.

Arka, yang biasanya percaya diri di kantor, tiba-tiba grogi saat diminta memarut kelapa. “Ini… diparut atau diulek?” tanyanya polos.

“Diparut, Om! Tapi jangan sampai jari ikut masuk!” Gio memberi instruksi seperti pelatih militer cilik.

Sementara itu, Kirana menggoreng bumbu halus, mencuri pandang sesekali ke arah Arka yang sedang berkonsentrasi penuh—alisnya mengernyit, lidahnya sedikit menjulur, rambutnya berantakan karena keringat. Lucu. Sangat lucu.

“Dia kayak anak SMA pertama kali masak nasi goreng,” bisik Siska, yang entah kapan sudah duduk di bangku dekat jendela, sambil minum es teh.

“Diam! Jangan menggoda!” desis Kirana.

“Tapi lihat cara dia lihat Gio—matanya kayak bapak beneran. Serius, Kirana, kalau dia nggak jadi bapak Gio, aku yang mau jadi ibu tiri.”

Kirana mendorong pundak Siska. “Kamu tuh nggak serius sama sekali!”

Tapi dalam hati, ia tak bisa menyangkal. Ada sesuatu di cara Arka berinteraksi dengan Gio—sabar, tulus, tanpa pamrih. Tak seperti Aris, yang selalu sibuk, selalu punya alasan kenapa tak bisa hadir.

“Mama! Om Arka berhasil parut kelapa!” Gio berlari, memegang mangkuk berisi parutan putih. “Dia bilang, ini buat cinta kita!”

Kirana hampir tersedak. “Cinta… kita?”

Arka buru-buru menambahkan, “Maksudku, cinta untuk rendang! Bukan—eh, iya, cinta untuk rendang!”

Siska tertawa terbahak-bahak. “Wah, ini udah level sinetron sore! ‘Cinta Kita dalam Rendang’!”

Kirana menoleh ke arah kompor, pura-pura sibuk, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.

***

Satu jam kemudian, aroma rempah memenuhi dapur. Rendang Arka—meski warnanya agak terlalu gelap—harumnya luar biasa.

“Coba dulu, Ma!” Gio menyuapkan sesendok ke Kirana.

Kirana mencicipi. Rasanya… enak. Sedikit asin, tapi hangat. Seperti pelukan pagi.

“Enak,” katanya jujur.

Arka tampak lega. “Syukur. Aku takut gagal dan harus bayar denda kopi seumur hidup.”

“Nggak usah bayar denda,” kata Siska, tiba-tiba muncul dengan ponsel di tangan. “Tapi aku udah upload video proses masaknya ke grup WA ibu-ibu. Judulnya: #Calon suami Masak Rendang, Bahkan Anak Sudah Panggil Ayah’#”

Kirana langsung menjerit. “SISKA! HAPUS SEKARANG!”

Tapi Arka malah tertawa. “Gapapa. Biar mereka tahu aku serius.”

Kirana menatapnya, terkejut. “Serius… apa?”

Arka diam sejenak, lalu berkata pelan, “Serius ingin jadi bagian dari hidup kalian. Meski cuma sebagai teman dulu. Atau… guru masak Gio. Tapi… aku nggak mau cuma lewat.”

Udara terasa hangat. Bahkan Siska pun diam—untuk pertama kalinya sepanjang pagi.

Gio, yang tak mengerti sepenuhnya, langsung memeluk Arka. “Berarti kamu resmi jadi Om Arka-ku yang tetap, ya?”

Arka mengelus rambutnya. “Kalau Mama-nya izin, iya.”

Semua mata menatap Kirana.

Ia menelan ludah, lalu tersenyum kecil. “Asal kamu janji nggak bikin telur jadi batako lagi.”

“Janji,” jawab Arka, matanya bersinar.

Siska langsung bersorak. “Alhamdulillah! Sekarang tinggal urus KTP keluarga! Aku yang jadi saksi!”

***

Sore harinya, setelah Arka pulang, Siska masih tak berhenti menggoda.

“Kamu tahu, di Jawa, kalau cowok udah masak bareng , itu tandanya minta restu,” katanya sambil membantu Kirana mencuci piring.

“Jangan lebay. Dia cuma masak rendang.”

“Tapi dia bilang serius, Kan. Dan kamu nggak bilang ‘tidak’.”

Kirana menghela napas. “Aku… takut aja. Takut ini cuma fase. Takut Gio terlalu cepat sayang, terus sakit kalau ternyata Arka pergi.”

“Tapi kalau dia nggak pergi? Kalau dia beneran stay?” Siska menatapnya. “Kamu siap nggak, Kirana? Siap kasih kesempatan buat orang baik masuk ke hidupmu—bukan cuma ke dapurmu?”

Kirana diam lama. Lalu, pelan, ia berkata, “Mungkin… aku harus mulai siap.”

Di ruang tamu, Gio sedang menelepon mainannya. “Halo, Om Arka! Besok kita masak sup ayam, ya? Biar Mama sehat! … Iya, aku juga sayang kamu!”

Kirana dan Siska saling pandang.

“Dia udah panggil ‘sayang’, lho,” bisik Siska.

Kirana hanya tersenyum, lalu berbisik balik, “Dan aku… juga mulai sayang.”

Bukan karena Arka ganteng. Bukan karena dia datang tiap pagi. Tapi karena dia datang dengan hati,dan membuat dapurnya terasa seperti rumah yang akhirnya utuh lagi.

***

Malam itu, Kirana menerima pesan dari Arka:

#" Terimkasih hari ini ,kalian sudah membuat hari ini lebih hangat ,dengan kelucuan gio ,besok aku boleh tempat kamu lagi kan ?"

Kirana membalas:

# “Boleh. Tapi ingat: kalau gosip kampung makin heboh, kamu yang tanggung jawab.”

Dua detik kemudian:

#“Siap. Aku siap jadi bapak angkat resmi, chef pribadi, dan pembayar tagihan kopi seumur hidup. Asal kamu izinkan aku stay.”

Kirana tertawa kecil, lalu menyimpan ponselnya.

Di sampingnya, Gio sudah tertidur—dengan gambar baru di buku catatannya: (“Mama + Om Arka + Aku \= Keluarga Ayam Kecap.”)

Dan untuk pertama kalinya, Kirana tak ragu membayangkan masa depan yang hangat, penuh tawa, dan… sedikit gosip dari Bu Rt

1
N Wage
lah tadi di kantong punya uang 800.000rb hasil nguli di pasar.sebelumnya punya uang 3 JT hasil nabung dr uang ngasih les.
Luwi Utami
nha... gitu dong.. kluar dr rumah yg terasa kaya nerak itu
MayAyunda: iya kak ,terimkasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!