Masih ingatkah kalian dengan pasangan fenomenal Satria dan Sarah?
Kini mereka sudah memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Arkana.
Ya, kehidupan Arkana tiba-tiba saja berubah 360° saat dia harus bertanggungjawab dan menikahi seorang gadis yang tidak di kenalnya sama sekali.
Lalu bagaimana kehidupan mereka, akankah Arkana bisa menjadi suami yang baik, atah malah sebaliknya.
Simak cerita mereka dan sebelum itu baca dulu cerita sebelumnya oke.
My Wife Is, My sugar mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korea Part III
Keduanya sama-sama sudah siap untuk hari ini. Melihat outfit yang di pakai Rania hari ini membuat Arkana juga ikut memakai apa yang dia miliki. Entah kapan koper itu tiba, yang jelas semuanya di persiapkan tanpa harus mereka yang turun tangan.
Ibarat kata, Rania tidak perlu repot-repot memikirkan pakaian apa yang akan mereka pakai besok. Karena semuanya sudah tersedia.
"Jangan lari-larian gitu cil. Entar lu jatuh!" seru Arkana pada Rania yang terlihat sangat bahagia bermain salju.
Senyum Arkana juga ikut tertular virus bahagia yang Rania berikan tanpa sengaja padanya.
"Cil, liat sini gue fotoin!" serunya pada Rania yang membuat gadis itu langsung menutup wajahnya.
Dia malu karena Arkana ingin mengambil fotonya begitu. Rasanya Rania tidak percaya diri untuk itu.
Tapi Arkana tidak peduli, dia tetap mengambil foto Rania walau wanita itu tidak mau memperlihatkan wajahnya.
Cekrek!
Sebuah foto berhasil Arkana dapatkan, dan hasilnya tidak buruk. Bahkan terlihat bagus walau Rania tidak mau menunjukkan wajahnya.
"Cantik banget binik gue!" gumamnya melihat foto Rania di ponselnya.
Bahkan tanpa ragu, Arkana mengunggahnya di akun media sosial miliknya yang langsung mengundang beragam komentar disana.
"Binik gue!" tulisnya dalam postingan tersebut, menunjukkan bahwa dia sudah menikah.
"Kak, ayo sini!" panggil Rania mengulurkan tangannya, membuat Arkana tersenyum dan menyimpan ponselnya.
Mereka berdua benar-benar terlihat sangat bahagia. Terutama Rania yang baru pertama kali merasakan hal seperti ini. Begitu juga dengan Arkana yang melihat tawa serta senyuman Rania yang begitu lepas membuat dirinya semakin bertekad untuk terus berusaha membuat senyuman dan tawa itu tidak hilang dari wajah cantik yang bersamanya saat ini.
"Lu seneng, cil?" tanya Arkana dan Rania mengangguk sambil tersenyum.
Arkana memangkas jarak di antara keduanya, merapikan rambut Rania yang berantakan, membenarkan mantap serta scarf milik wanita itu agar tidak kedinginan.
"Di luar dingin, jadi pakai yang bener mantel lu. Nanti lu sakit, gue sedih." ucap Arkana asal, tapi berhasil membuat Rania tersentuh.
Benarkah laki-laki ini sedih jika dia sakit nanti? Apa benar begitu?
"Udah yuk, nanti lagi mainnya. Sekarang makan dulu, nanti mami lu marahin gue!"
"Kok gitu?" tanya Rania pada Arkana.
"Ya lah, karena sekarang anaknya mami itu elu, bukan gue lagi. Dia lebih sayang sama elu yang bisa di ajak ghibah sambil habisin duit papi sama duit gue juga. Tapi gue seneng karena mami bisa terima elu cil. Gue gak bisa bayangin kalau sampai mami gak bisa terima elu atas perbuatan gue. Gak tau juga sesulit apa hidup lu kalau sampai mami gak suka sama lu. Kadang gue ngerasa beruntung atas kejadian malam itu karena bisa nikah sama cewek lembut, baik kayak elu gini. Tapi di sisi lain, gue nyesek juga saat inget gimana berengseknya gue hancurin masa depan lu yang masih panjang cil. Dan gue harap, lu benar-benar bisa maafin gue agar gue bisa terus berusaha buat ngebahagiain elu. Lakuin apa aja yang buat elu seneng dan gue akan ngusahakan apapun itu yang elu mau. Asal elu bahagia dan tetap di sisi gue. Karena gue butuh sosok kayak elu cil. Sosok yang bisa buat hari-hari gue terasa lebih indah setiap detiknya."
Deg!
Jantung Rania berdebar kencang. Jujur saja, dia tidak tau harus bereaksi apa saat ini. Kalau bisa dia mengatakannya, genggaman tangan Arkana ini membuatnya merasa nyaman dan terlindungi. Rania merasa jika bersama Arkana dia bisa merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Sesuatu yang belum bisa di jelaskan terhadap Arkana.
"Cil, lu dengerin gue kan?" tanya Arkana yang menghentikan langkah mereka.
"Aku dengerin kakak, kok. Tapi aku gak mau harus jawab apa. Aku juga gak tau yang aku rasain ini apa. Di satu sisi, aku masih mengingat malam itu, tapi disini aku bisa ngerasain kalau kakak itu beneran tulus. Jadi aku gak tau harus jawab apa." jawab Rania yang membuat Arkana bisa sedikit bernafas lebih lega.
"Syukur deh kalau gitu. Karena gue tau, gak ada yang bisa nolak pesona laki-laki ganteng kayak gue. Udah gue keren, ganteng, tinggi, putih, hidung gue mancung, point' pentingnya lagi gue kaya, cil. Jadi elu harusnya beruntung dapat suami kayak gue. Btw lu tau gak kalau gue punya julukan saat SMA sampai kuliah dulu?" dengan polosnya Rania menggelengkan kepalanya, karena memang dia tidak tau.
"Penguasa bumi, karena semua yang ada dalam diri gue. Mana ganteng, jago basket, jago nyanyi, jago piano, gitar. Ah, pokonya gue ini paket lengkap. Dan elu harus bangga jadi istri Arkana Radjasa Widjaya Diningrat. Karena sekarang elu itu Nyonya Arkana. Istri gue!" ucapnya panjang lebar yang membuat Rania hanya bisa bengong mendengarnya.
***
next my