Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interrogated
Berselancar di Instagram dan X, Sena menemukan timeline dipenuhi postingan fan tentang konser Elements yang digelar di Los Angeles. Sena mulai menekan tombol follow pada beberapa profil fan accounts, supaya dia bisa terus mengikuti update soal Andy dan kawan-kawannya selama mereka berpisah sementara.
Tidak perlu diragukan lagi, penampilan Andy di atas panggung memang selalu keren, dan tentunya berhasil membuat Sena terkesan. Di atas panggung, ketampanan Andy seperti bertambah beberapa persen, sampai-sampai membuat Sena tidak mampu menahan senyum setiap kali melihat postingan berisi foto ataupun video Andy yang diunggah oleh fans. Semakin terasa menggelitik saat membaca komen di setiap postingan itu, yang kebanyakan berisi pujian akan betapa tampan dan kerennya seorang Andy Kim.
Sena menenggelamkan diri di media sosial, kapan pun ia punya waktu. Menikmati ketampanan Andy, terperangah pada penampilan Yushi bersama rambut barunya, serta dibuat terpukau oleh betapa megahnya konser itu digelar. Ada juga fans di barisan depan, mengunggah video close up dari para member ketika mereka sedang menyanyi dan menari dengan wajah berseri-seri. Mereka tampak senang, jelas sekali menyukai udara Amerika yang sarat akan kebebasan.
Menonton banyak video soal konser membuat Sena semakin bersemangat. Dia tidak sabar untuk menonton langsung penampilan Andy di Seoul nanti. Ini adalah kali pertama dia datang ke konser, karena satu dan lain hal. Biasanya, dia hanya ikut menyaksikan melalui layanan streaming berbayar yang disediakan oleh pihak agensi.
"Ah, sedang apa Andy sekarang?" gumamnya, dengan wajah dihias senyum yang tak luntur.
Ketimbang menerka-nerka sendiri, Sena memutuskan untuk langsung saja menghubungi Andy. Dia kirimkan pesan, sekadar menyapa halo. Tidak disangka, Andy cukup fast response, pesannya langsung mendapatkan balasan.
Andy
Kami akan pergi makan setelah ini
Bagaimana kabarmu?
Sena
Aku baik-baik saja
Kalian akan pergi makan ke mana?
Andy
Aku tidak tahu
Manager Hyung yang pilihkan tempatnya, kami tinggal jalan
Sena
Oh, baiklah
Makanlah yang banyak
Kau perlu mengisi tenaga supaya bisa tampil membahana lagi
Andy
Hahaha membahana
Kau menonton potongan video performance kami?
Sena
Tentu saja. Ada begitu banyak tersebar di internet
Andy
Hahaha bagaimana?
Sena
Kalau kau tanya soal performance kalian secara keseluruhan, aku akan bilang itu sangat keren
Tapi kalau kau tanya soal dirimu secara terpisah, aku akan bilang kau sangat tampan
Andy
Aku tampan, ya?
Sena
Ya, tampan sekali
(send foto)
A**ndy*
Ohoho, kau sampai menyimpan fotoku begini, berarti memang sangat tampan*
Sena
Tidak perlu diragukan lagi
(send foto Andy bersama Logan)
Andy
Oh, ada juga foto dengan Logan
Sena
Ya, aku punya beberapa
Asal kau tahu, galeri ponselku sudah seperti museum berisi foto-foto kalian
Andy
Fotomu sendiri tidak ada?
Sena
Tidak ada
Galeriku khusus untuk orang lain
Andy
Kalau begitu, fotomu biar ada di galeriku
Sena urung mengetik. Keningnya berkerut.
Andy
(mengirim foto)
Ini salah satunya yang jadi favoritku
Cantik sekali
Ujung bibir Sena tertarik sedikit. Dia ketikkan, aku cantik?
Andy
Iya
Seperti kataku, mulai sekarang foto-fotomu akan kusimpan di ponselku
Supaya kau juga punya museum untuk dirimu sendiri
Sena
Baiklah...
Terima kasih, ya
Andy
Terima kasih lol
Untuk apa terima kasih
Uhm kurasa aku harus pergi sekarang
Sampai jumpa lagi, Lara
Sena
Baiklah, have fun
Bye
Andy
Byeeee
Senyum Sena melebar setelah mematikan ponselnya. Dia pergi ke dapur, menyiapkan camilan untuk teman-temannya yang akan berkunjung malam ini. Mereka sudah sepakat untuk berkumpul di apartemen Sena dan Hana, karena unitnya yang paling luas di antara milik yang lain.
Memikirkan betapa santainya Andy memujinya, Sena baru terpikirkan dari mana pria itu mendapatkan kepercayaan diri untuk melakukannya. Biasanya, Andy selalu canggung kalau harus memuji dirinya, entah karena apa. Tapi tadi, Andy memujinya dengan enteng seolah itu bukanlah masalah besar.
"Ah, efek udara Amerika," cetusnya sambil menggeleng, lalu lanjut menyiapkan camilan.
Sena sedang membuat twigim (aneka gorengan) saat bel unitnya berbunyi. Hana datang dari lantai atas, berlarian membukakan pintu. Tenryata Byunho yang datang pertama kali. Sena menyapanya sekilas, mengamati pria itu mengeluarkan dua botol soju dari tas belanja yang dibawanya.
"Yang lain belum datang, ya?" tanyanya.
"Belum," balas Sena. Tak jauh darinya, Hana sedang mengubek kulkas, untuk kemudian mengeluarkan empat kaleng bir dan meletakkannya di meja makan.
Bak pucuk dicinta ulam pun tiba, sesaat setelah Hana menjauhkan tangannya dari kaleng-kaleng bir yang berhasil mendarat aman di meja, bel kembali berbunyi. Byunho menawarkan diri membukakan pintu, dan dia biarkan pria itu melakukannya.
Berisik suara Dong-Soo langusng memeriahkan suasana. Sena hanya bisa menggeleng dengan sudut bibir terangkat sedikit. Pas sekali twigim yang dibuatnya sudah semuanya selesai, jadi dia mematikan kompor dan bisa menyapa Dong-Soo dengan lebih proper.
"Mana Yu--oh, hai!" sapa Sena pada sosok Yuhwa yang baru muncul beberapa detik dari belakang Dong-Soo.
"Hai, Sena." Yuhwa mengangkat tangan sejajar wajah, tersenyum lembut membalas sapaan Sena.
"Sudah lama sekali tidak bertemu, aku merindukanmu." Sena mendekat, memeluk Yuhwa singkat.
Dong-Soo dan Byunho saling lirik, melalui tatapan mencurahkan keirian karena tidak mendapatkan pelukan seperti yang diberikan Sena kepada Yuhwa. Tapi keirian itu tidak bertahan lama karena Hana menyuruh mereka untuk segera duduk, dibarengi kesadaran keduanya bahwa di antara mereka berlima, Yuhwa memang paling jarang bisa berkumpul karena kesibukannya yang menggunung.
Mereka berlima duduk melingkar di meja makan, ditemani beraneka camilan buatan Sena, bir, dan soju. Obrolan dimulai dari Byunho yang menanyakan soal ujian masing-masing, apakah berjalan lancar atau tidak. Sena melenguh, Hana mengeluh tak yakin, sementara Dong-Soo hanya mengedik seolah hasil akhirnya sudah tidak dia pikirkan lagi.
"Omong-omong," kata Dong-Soo, baru selesai menelan soju dari sloki miliknya. "Kudengar Elements sedang world tour." Dia menatap Sena penuh arti. "Bagaimana kabar Andy? Kalian saling berkabar selama dia pergi?"
Sena menggeleng pelan dan terkekeh, sebab cara Dong-Soo menanyakan soal Andy terdengar seperti mereka berdua sudah menjadi teman baik untuk waktu yang cukup lama. "Dia baik-baik saja."
"Dia keren sekali, ya. Kalau aku ada di posisinya, mungkin sudah mati duluan sebelum menyelesaikan semua jadwal yang ada," celetuk Dong-Soo, kembali menuangkan soju dan menenggaknya sekaligus.
"Kau benar," sahut Hana. "Andy memang keren sekali bisa ikut semua jadwal tanpa absen satu kali pun."
"Hmmm..." Byunho ikut nimbrung. "Bisakah kalian beritahu kami juga, soal Sena dan Andy itu? Kalian bertiga seperti punya dunia sendiri saat membicarakannya," lanjutnya dengan senyum miring. Karenanya, Yuhwa ikut menoleh dan melemparkan tatapan penasaran.
Sena hanya menggeleng, lalu menyesap birnya. "Tidak ada yang harus diberitahu. Sama seperti kita sekarang, aku dan Andy hanya sesekali hang out dan minum."
Byuhnwo memicing, seperti tidak percaya.
"Serius, tidak ada hal lain," kekeuh Sena.
"Ya, ya," potong Hana. "Terserah apa katamu, Sena. Tapi aku berani bertaruh, pasti ada sesuatu yang lain."
"Ya, aku juga." Dong-Soo ikut-ikutan, raut wajahnya bahkan tampak serius sekali. Lebih parahnya, Yuhwa dan Byunho pun menyusul dengan anggukan kepala.
"Guys..." desah Sena pelan.
"Coba keluarkan ponselmu," pinta Byunho tiba-tiba. "Aku ingin lihat, seperti apa isi chat kalian, untuk membuktikan tidak ada apa-apa seperti yang kau bilang."
Sena melirik Hana, lalu satu persatu teman-temannya yang lain. "Aku sedang diinterogasi ya, sekarang?"
Byunho mengangguk tanpa ragu. "Ayo, cepat. Kita buktikan bersama apakah ucapanmu atau penilaian kami yang benar."
Sena menggeleng tak habis pikir, tapi tetap saja mengeluarkan ponselnya dan membuka room chat dengan Andy. Dia meletakkan ponselnya di atas meja, membiarkan teman-temannya mencari apa yang mereka inginkan.
Semuanya berkumpul di tengah, kepala hampir saling menempel. Byunho yang menjadi kapten, memegang ponsel Sena dan menggerakkan jemarinya menggulir layar. Sena yang tidak dilibatkan, mendorong punggungnya bersandar di kursi, tangan bersilang di dada dan mata tak lepas mengamati ekspresi di wajah teman-temannya yang terus berubah. Dari bingung ke kaget, dari kaget ke puas, dari puas kembali ke bingung. Tidak satu pun dari mereka yang terlihat mencoba menyembunyikan reaksi. Semuanya ditumpahkan secara jujur di dalam ekspresi masing-masing.
Tiba-tiba, Byunho tersentak dan Dong-Soo berseru heboh. Sena menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti kenapa duo itu bisa begitu heboh. Dia semakin dibuat bingung, saat Hana dan Yuhwa pun ikut-ikutan berseru, lalu keempatnya kompak bertepuk tangan.
"Ap--"
"Mulai sekarang, foto-fotomu akan kusimpan di ponselku. Supaya kau punya museum pribadimu sendiri? Girl!" Byunho setengah berteriak, terlalu antusias.
"Kau sejujur itu bilang dia tampan..." sambung Dong-Soo.
"Dan dia jelas tersipu," cetus Yuhwa. "Terlihat jelas dari responsnya."
Byunho menyeringai. "Lalu dia jadi tidak ragu untuk memujimu cantik."
"Kalian berdua ini sudah saling bucin parah." Hana menambahkan. Yang lain langsung mengangguk setuju, wajah-wajah mereka berseri dihias senyum lebar.
Sementara Sena, ia hanya menggeleng dan mengambil kembali ponselnya, memutus pembahasan soal Andy sebelum semakin melebar ke mana-mana. Lagipula, dia yakin penilaian teman-temannya salah. Dia dan Andy hanya berteman.
Bersambung....