Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemeriksaan Lengkap
Ruang USG terasa hening, hanya terdengar suara mesin yang pelan berdengung. Zafira berbaring di atas ranjang pemeriksaan dengan jantung berdebar tak karuan.
Telapak tangannya terasa dingin, sementara Arthav berdiri di sampingnya, menggenggam jemarinya dengan erat seolah ingin menyalurkan ketenangan.
“Tenang saja, Nyonya,” ujar dokter kandungan itu dengan suara lembut. “Saya akan mulai USG-nya.”
Zafira mengangguk pelan. “I-iya, Dok,” jawabnya gugup.
Dokter kemudian mengoleskan gel dingin di perut Zafira. Ia sedikit meringis.
“Dingin sedikit, ya,” kata dokter sambil tersenyum.
Arthav refleks mengusap punggung tangan Zafira.
“Tahan sebentar,” ucapnya pelan.
Alat USG ditempelkan perlahan ke perut Zafira.
Mata Zafira dan Arthav sama-sama tertuju pada layar monitor di hadapan mereka. Detik demi detik berlalu, membuat napas Zafira terasa tercekat.
“Baik” gumam dokter sambil memperhatikan layar.
Zafira menelan ludah.
“D-dokter, bagaimana?” tanyanya dengan suara hampir bergetar.
Dokter tersenyum kecil.
“Kehamilannya terlihat jelas.”
Arthav spontan menegakkan tubuhnya.
“Benarkah, Dok?”
“Ya,” jawab dokter mantap. “Ini kantung kehamilan, dan di sini embrionya. Usianya sekitar enam minggu.”
Zafira menatap layar itu dengan mata berkaca-kaca.
“Jadi, aku benar-benar hamil?”
“Benar, Nyonya,” sahut dokter lembut. “Dan kondisinya sejauh ini baik.”
Arthav terdiam beberapa saat, lalu menghembuskan napas panjang seolah beban besar di dadanya terangkat.
“Terima kasih, Dok.”
Dokter melanjutkan,
“Mual dan muntah yang Nyonya alami adalah hal wajar di trimester pertama. Saya akan memberikan vitamin dan saran pola makan. Yang terpenting, jangan stres dan banyak istirahat.”
Zafira mengangguk pelan, tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya sendiri. Perasaan aneh antara takut, terkejut, dan haru bercampur menjadi satu.
Saat pemeriksaan selesai dan mereka keluar dari ruang USG, langkah Zafira terasa ringan namun pikirannya penuh.
Arthav berhenti sejenak, menatapnya serius namun lembut.
“Mulai hari ini, kau tidak perlu memikirkan apa pun sendirian. Aku akan bertanggung jawab.”
Zafira menatapnya, dadanya menghangat. Untuk pertama kalinya, kehamilan ini tidak terasa sebagai beban melainkan awal dari sesuatu yang benar-benar baru.
Dokter kemudian melepaskan alat USG dan membersihkan sisa gel di perut Zafira. Setelah Zafira duduk kembali, dokter membuka map kecil berisi catatan hasil pemeriksaan.
“Baik, Nyonya Zafira,” ucap dokter sambil menulis resep. “Saya akan memberikan beberapa vitamin.”
Zafira menatapnya dengan penuh perhatian.
“Vitamin apa saja, Dok?”
“Ini untuk membantu menahan mual dan muntah,” jelas dokter sambil menunjuk salah satu resep. “Yang ini untuk menambah nafsu makan, dan yang terakhir penambah darah.”
Arthav langsung mengernyit.
“Penambah darah?”
Dokter mengangguk.
“Iya. Dari hasil pemeriksaan, kadar hemoglobin Nyonya Zafira agak rendah. Bisa dikatakan beliau memiliki darah rendah.”
Zafira terdiam sejenak.
“Jadi itu sebabnya aku sering pusing dan lemas?”
“Benar,” jawab dokter lembut. “Ditambah kehamilan muda, tubuh Anda bekerja dua kali lebih keras.”
Arthav menoleh pada Zafira.
“Mulai sekarang kau harus lebih banyak istirahat,” katanya tegas.
Zafira mengangguk pelan. “Aku akan berusaha.”
Dokter tersenyum tipis melihat interaksi mereka.
“Selain minum vitamin secara teratur, Nyonya harus memperhatikan pola makan. Usahakan makan sedikit tapi sering, jangan memaksakan diri jika mual.”
“Bagaimana dengan aktivitasnya, Dok?” tanya Arthav lagi.
“Tidak masalah beraktivitas ringan,” jawab dokter. “Namun hindari kelelahan dan stres. Kondisi emosi ibu sangat berpengaruh pada kehamilan.”
Zafira menunduk, lalu bertanya lirih,
“Kalau aku muntah lagi?”
“Itu wajar,” sahut dokter menenangkan. “Selama masih bisa minum dan tidak dehidrasi, tidak perlu panik. Tapi jika berlebihan, segera periksa kembali.”
Arthav meraih tangan Zafira.
“Kau dengar? Jangan memendam sendiri.”
Zafira menatapnya sebentar, lalu mengangguk.
“Iya.”
Dokter menutup mapnya.
“Saya jadwalkan kontrol satu bulan lagi. Untuk sementara, fokuslah pada kesehatan ibu dan janin.”
Saat mereka berdiri untuk keluar, Zafira menggenggam resep itu erat-erat. Di dalam hatinya masih ada rasa takut, namun kini bercampur dengan ketenangan karena setidaknya, ia tidak lagi sendirian menjalani semuanya.
**
Langkah mereka menyusuri lorong rumah sakit terdengar pelan. Zafira berjalan di sisi Arthav, tangannya masih menggenggam resep dari dokter.
Beberapa saat ia terdiam, alisnya sedikit berkerut, perutnya terasa bergejolak bukan karena mual melainkan rasa ingin yang tiba-tiba muncul begitu kuat.
Zafira berhenti melangkah.
Arthav menoleh. “Kenapa?”
Zafira ragu-ragu, jarinya saling bertaut.
“Aku” ucapnya tertahan, lalu menggeleng kecil. “Tidak apa-apa.”
Arthav mengamatinya.
“Zafira, wajahmu berubah. Katakan.”
Ia menarik napas dalam.
“Entah kenapa, aku ingin makan sesuatu.”
“Sekarang?” Arthav sedikit terkejut, lalu bertanya lagi, “Apa kau mual?”
“Tidak,” jawab Zafira cepat. “Bukan mual. Justru aku sangat menginginkannya.”
Arthav mengangkat alis. “Menginginkan apa?”
Zafira menunduk, suaranya mengecil.
“Aku takut kau menganggapku merepotkan.”
“Sejak kapan keinginanmu itu merepotkan?” balas Arthav tanpa ragu. “Katakan saja.”
Ia menggigit bibirnya sebentar, lalu berkata pelan,
“Aku ingin makan bakso. Yang kuahnya banyak pedas sedikit.”
Setelah mengatakannya, Zafira buru-buru menambahkan,
“Kalau tidak bisa, tidak apa-apa. Kita bisa pulang saja.”
Arthav terdiam sesaat, lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
“Itu saja?”
Zafira mengangguk, pipinya memerah.
“Iya, tapi aku benar-benar ingin.”
Arthav menghela napas kecil, lalu meraih tangannya.
“Ayo.”
“Kemana?” tanya Zafira bingung.
“Mencari bakso,” jawab Arthav singkat.
Zafira menatapnya tidak percaya. “Benarkah?”
“Dokter bilang nafsu makanmu harus dijaga,” katanya sambil berjalan kembali. “Dan kalau ini yang membuatmu mau makan, aku akan mencarikannya.”
Zafira tersenyum kecil, hangat menjalar di dadanya.
“Terima kasih”
Arthav meliriknya.
“Lain kali, jangan takut meminta. Sekarang bukan hanya tentangmu, tapi juga tentang anak kita.”
Langkah Zafira terasa lebih ringan. Untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa kehamilan ini benar-benar diterima bukan hanya oleh keluarganya, tapi juga oleh pria yang kini berjalan di sisinya.