Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Janji di Bawah Bintang
#
Tiga hari setelah mereka berbaikan, Arkan kirim pesan ke Zahra:
*"Zahra, besok sore kamu ada waktu nggak? Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat. Tempat yang... yang spesial. Please. Ini penting."*
Zahra baca pesan itu berkali-kali. Jantungnya berdebar.
*"Tempat apa, Mas?"*
*"Nanti kamu tau. Pokoknya... pokoknya kamu harus dateng. Aku jemput jam empat sore. Oke?"*
*"Tapi Zahra harus bilang apa ke Bapak?"*
*"Bilang kamu ada acara pengajian sama Siti. Atau... atau apa aja yang Bapak kamu percaya. Aku... aku tau ini nggak enak. Tapi... tapi aku janji ini terakhir kali. Setelah ini... setelah ini aku bakal bicara langsung sama Bapak kamu. Jujur. Nggak bohong lagi."*
Zahra diem. Mikir.
Bohong lagi ke Bapak? Tapi... tapi Arkan bilang ini terakhir kali. Dan... dan dia bilang ini penting.
*"...oke, Mas. Zahra dateng. Jam empat."*
*"Makasih, Zahra. Aku janji... kamu nggak bakal nyesel."*
---
Besok sore, Zahra bilang ke Bapak dia ada pengajian sama Siti. Bapak—yang lagi baca Quran—cuma ngangguk.
"Oke. Hati-hati ya. Pulang sebelum maghrib."
"Iya, Pak."
Zahra keluar kontrakan dengan perasaan bersalah yang... yang makin berat. Tapi dia dorong perasaan itu ke belakang kepala.
"Ini terakhir kali. Setelah ini... setelah ini nggak bohong lagi."
Arkan udah nunggu di ujung gang. Mobil hitamnya parkir rapi. Dia turun. Pake kaos putih santai, celana hitam, jaket kulit coklat. Rambutnya agak acak-acakan—tapi justru itu yang bikin dia kelihatan... kelihatan ganteng.
"Zahra... kamu cantik hari ini."
Zahra nunduk. Malu. Dia cuma pake gamis biru muda sederhana sama hijab putih. Nggak ada yang istimewa. Tapi... tapi dia seneng denger Arkan bilang gitu.
"Makasih, Mas. Ayo... ayo kita pergi sebelum... sebelum ada yang liat."
Mereka masuk mobil. Arkan nyetir keluar kampung. Jalan ke arah pinggir kota.
"Mas... kita mau kemana sih?"
"Nanti kamu tau. Sabar ya."
Sepanjang perjalanan, Zahra ngeliatin pemandangan luar jendela. Gedung-gedung tinggi perlahan berganti jadi rumah-rumah pendek. Terus jadi sawah. Terus jadi... jadi bukit.
"Mas... kita ke bukit?"
"Iya. Bukit kecil di pinggir kota. Tempat favorit aku kalau lagi pengen sendiri. Pengen... pengen mikir."
Mobil naik perlahan ke bukit yang jalannya berliku. Nggak ada lampu jalan. Cuma cahaya matahari sore yang mulai redup.
Sampe di puncak—puncak kecil dengan tanah lapang dan pohon-pohon rindang—Arkan parkir mobil. Turun. Buka pintu buat Zahra.
"Turun. Ayo."
Zahra turun. Dan... dan pemandangannya... ya Allah.
Kota Jakarta keliatan dari atas. Gedung-gedung tinggi. Jalan-jalan yang rame. Lampu-lampu yang mulai nyala satu per satu seiring matahari tenggelam. Dan langit... langit yang mulai berubah jadi oranye kemerahan.
"Mas... ini... ini indah banget..."
"Iya. Makanya aku suka kesini. Rasanya... rasanya damai." Arkan jalan ke tengah lapangan. Ambil selimut dari bagasi mobil. Gelar di tanah. "Sini. Duduk."
Zahra duduk di selimut. Arkan duduk di sebelahnya. Jarak... mungkin setengah meter.
Mereka diem. Cuma ngeliatin matahari yang perlahan tenggelam. Langit yang berubah warna—oranye, pink, ungu, biru gelap.
"Zahra... aku bawa kamu kesini karena... karena aku mau ngomong sesuatu. Sesuatu yang... yang penting."
Zahra nengok. "Ngomong apa, Mas?"
Arkan napas dalam. "Zahra... tiga bulan terakhir ini... tiga bulan terakhir ini hidup aku berubah total. Aku... aku kehilangan keluarga. Aku kehilangan pekerjaan lama. Aku... aku kehilangan banyak hal. Tapi... tapi aku dapet kamu. Dan kamu... kamu bikin aku ngerasain sesuatu yang... yang nggak pernah aku rasain sebelumnya. Cinta yang... yang tulus. Cinta yang nggak peduli aku kaya atau miskin. Cinta yang... yang cuma peduli sama aku sebagai Arkan. Bukan Arkan dari keluarga Wijaya. Tapi... tapi Arkan yang kadang bingung. Kadang lemah. Kadang... kadang nggak tau harus gimana."
Zahra diem. Dengerin.
"Dan tiga bulan terakhir ini juga... aku belajar banyak. Aku belajar tentang Islam. Aku... aku baca Quran. Aku belajar sholat. Aku... aku ngobrol sama Ustadz Yusuf—ustadz yang Bapak kamu rekomendasiin. Dan... dan aku mulai ngerti. Mulai... mulai ngerasa ada sesuatu yang narik aku. Sesuatu yang... yang bikin aku tenang. Bikin aku... bikin aku ngerasa ada Tuhan yang beneran jagain aku."
Zahra mulai nangis. Pelan.
"Tapi... tapi aku juga nggak bisa bohong. Aku... aku masih punya pertanyaan. Masih... masih ada ragu. Tentang Yesus. Tentang... tentang apa yang aku percaya selama dua puluh enam tahun. Dan aku... aku nggak mau masuk Islam kalau aku masih ragu. Karena... karena itu nggak adil. Nggak adil buat Allah. Nggak adil buat kamu. Dan... dan nggak adil buat diri aku sendiri."
Arkan nengok ke Zahra. Pegang tangan Zahra.
"Tapi Zahra... aku mau kamu tau satu hal. Aku... aku serius sama kamu. Serius banget. Dan aku... aku janji. Aku janji aku bakal terus belajar. Terus... terus cari jawaban. Sampai aku beneran yakin. Sampai aku... sampai aku bisa berdiri di depan Bapak kamu... di depan Allah... dan bilang dengan hati yang tulus... 'Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.'"
Zahra nangis makin keras. "Mas... Mas serius?"
"Serius. Aku... aku janji. Dan janji ini... janji ini bukan janji kosong. Ini janji yang... yang aku pegang dengan seluruh hati aku. Aku... aku bakal jadi muslim. Bukan sekarang. Tapi... tapi nanti. Pas aku udah yakin. Pas aku... pas aku beneran siap."
"Tapi Mas... gimana kalau... gimana kalau Mas nggak pernah yakin? Gimana kalau... gimana kalau hati Mas nggak bisa lepas dari Yesus?"
Arkan diem. Natap langit yang udah gelap. Bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu.
"Kalau itu yang terjadi... kalau aku nggak bisa yakin... aku... aku bakal lepas kamu. Dengan ikhlas. Karena aku... aku nggak mau kamu sengsara gara-gara aku. Nggak mau... nggak mau kamu kehilangan iman kamu gara-gara nunggu aku."
"Mas jangan ngomong kayak gitu..." Zahra peluk Arkan. "Zahra nggak mau kehilangan Mas... Zahra... Zahra mau nunggu Mas. Berapa lama pun."
"Zahra... kamu nggak harus nunggu aku kalau aku nggak bisa—"
"Zahra mau nunggu!" Zahra teriak. "Karena Zahra percaya... Zahra percaya Mas bakal yakin. Zahra percaya... percaya Allah bakal bukain hati Mas. Dan... dan Zahra mau ada disitu. Pas Mas udah siap. Pas Mas... pas Mas akhirnya jadi muslim."
Arkan peluk Zahra balik. Erat.
"Zahra... makasih... makasih udah percaya sama aku..."
Mereka pelukan lama. Di bawah langit berbintang. Di tengah bukit yang sepi. Cuma suara angin dan... dan degupan jantung mereka yang saling bersahutan.
"Zahra... aku ada sesuatu buat kamu."
Arkan lepas pelukan. Ambil kotak kecil dari saku jaket. Kotak beludru biru tua.
Zahra kaget. "Mas... itu..."
"Ini bukan cincin nikah. Ini... ini cincin janji." Arkan buka kotak. Di dalem ada cincin perak sederhana. Polos. Nggak ada berlian. Nggak ada ukiran mewah. Cuma... cuma cincin perak sederhana dengan satu ukiran kecil di dalem: **"Janji Kita"**
"Mas..."
"Zahra Amanda Putri... aku... aku mau kamu jadi... jadi tunangan aku. Tunangan yang... yang nunggu aku sampe aku siap. Sampe aku... sampe aku yakin. Dan nanti... nanti pas aku udah muslim... pas aku udah bilang dua kalimat syahadat dengan hati yang ikhlas... aku... aku bakal nikahin kamu. Dengan cara yang bener. Dengan cara yang... yang direstui Allah. Kamu... kamu mau?"
Zahra nangis sejadi-jadinya. "Mas... Zahra... Zahra mau... Zahra mau banget..."
Arkan pasang cincin itu di jari manis Zahra. Pas. Kayak... kayak memang udah ditakdirkan buat ada disitu.
"Zahra... aku janji. Aku janji aku bakal jadi muslim. Aku janji aku bakal... bakal jadi suami yang baik buat kamu. Aku janji... aku janji nggak bakal ngecewain kamu."
"Zahra percaya, Mas. Zahra percaya sama Mas."
Mereka pelukan lagi. Dan kali ini... pelukan yang lebih erat. Lebih... lebih bermakna.
Karena ini bukan cuma pelukan cinta. Ini pelukan... pelukan janji.
Janji yang diucapkan di bawah langit berbintang. Di hadapan Tuhan yang Maha Melihat.
"Ya Allah... terima kasih... terima kasih udah kasih hamba dia... terima kasih udah... udah tunjukkan jalan buat kami..."
---
Malem itu, Zahra pulang dengan hati yang... yang penuh. Penuh cinta. Penuh harapan. Penuh... penuh keyakinan kalau... kalau suatu hari nanti mereka bakal bersama.
Dengan cara yang bener. Dengan cara yang... yang berkah.
Tapi pas dia sampe kontrakan...
Bapak duduk di emperan. Sendirian. Natap langit malam.
"Bapak... Bapak belum tidur?"
Bapak nengok. Matanya... sedih.
"Zahra... duduk sini."
Zahra duduk di sebelah Bapak. Jantungnya deg-degan.
"Zahra... Bapak mau tanya sesuatu. Dan Bapak mau kamu jujur."
"...iya, Pak."
"Kamu... kamu tadi beneran ke pengajian? Atau... atau kamu ketemu dia?"
Zahra diem. Nggak bisa jawab.
Bapak senyum pahit. "Bapak udah tau. Bu Ria ngeliat kamu naik mobil mewah tadi sore. Mobil... mobil dia kan?"
Zahra nunduk. Air mata jatuh.
"...iya, Pak. Zahra... Zahra bohong. Zahra nggak ke pengajian. Zahra... Zahra ketemu Mas Arkan."
Bapak diem lama. Napasnya berat.
"...kenapa kamu bohong, Zahra? Kenapa... kenapa kamu nggak jujur?"
"Karena Zahra takut, Pak. Takut... takut Bapak marah. Takut Bapak... takut Bapak sakit lagi. Zahra... Zahra nggak mau kehilangan Bapak..."
"Tapi kamu juga nggak mau kehilangan dia. Gitu kan?"
Zahra nangis. "...iya, Pak. Zahra... Zahra cinta dia. Dan dia... dia udah janji. Dia janji... dia janji bakal jadi muslim. Pas dia udah yakin. Pas dia... pas dia udah siap. Dan Zahra... Zahra mau nunggu dia. Zahra mau... mau ada buat dia. Sampe dia siap."
Bapak natap Zahra lama. Terus... dia pegang tangan Zahra yang pake cincin.
"...ini apa?"
"Cincin janji, Pak. Dari Mas Arkan. Dia... dia mau Zahra jadi tunangan dia. Tunangan yang... yang nunggu sampe dia muslim. Dan Zahra... Zahra terima."
Bapak diem. Lama. Terlalu lama.
"...Bapak nggak marah?"
Bapak napas panjang. "Bapak... Bapak nggak marah. Bapak cuma... cuma sedih. Sedih karena kamu bohong. Sedih karena... karena kamu nggak percaya sama Bapak. Tapi... tapi Bapak juga ngerti. Bapak ngerti... kamu cinta dia. Dan... dan dia cinta kamu. Dan cinta itu... cinta itu nggak bisa dipaksa ilang."
"Bapak..."
"Tapi Zahra... Bapak mau kamu inget satu hal. Dia... dia harus beneran yakin pas dia masuk Islam. Nggak boleh... nggak boleh setengah-setengah. Nggak boleh masuk Islam cuma buat kamu. Karena kalau dia kayak gitu... dia bakal nyesel. Dan kamu... kamu bakal jadi istri yang nggak bahagia."
"Zahra tau, Pak. Makanya... makanya Zahra nggak maksa dia. Zahra cuma... cuma nunggu. Nunggu sampe dia yakin sendiri."
Bapak senyum sedih. "Anak Bapak... anak Bapak udah dewasa..."
"Bapak... maafin Zahra udah bohong..."
"Bapak maafin. Tapi... tapi jangan bohong lagi. Kalau kamu mau ketemu dia... bilang aja sama Bapak. Biar... biar Bapak tenang. Oke?"
"Iya, Pak. Zahra janji."
Mereka pelukan. Pelukan yang hangat. Pelukan yang... yang penuh pengertian.
"Ya Allah... terima kasih... terima kasih udah kasih Bapak yang... yang ngerti..."
---
**BERSAMBUNG