NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Obsesi / Bad Boy / Antagonis / Enemy to Lovers / Playboy
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lumpur, Keringat, dan Rahasia di Balik Jaket

Perjalanan itu bukan lagi sekadar konvoi, melainkan ujian fisik yang menghancurkan martabat Every sebagai sosialita. Hutan yang mereka lalui lembap, pengap, dan setiap langkah di tanah berlumpur terasa seperti beban seberat beton.

"Angkat kaki lo lebih tinggi, Eve. Kalau lo cuma menyeretnya, lumpur itu bakal mengisap lo sampai ke dasar," suara River terdengar stabil, seolah ia sedang berjalan di trotoar mulus, bukan di tengah hutan yang baru saja dihantam badai.

Every tidak menyahut. Napasnya tersengal. Ia sudah berhenti memedulikan sneakers putihnya yang kini berubah warna menjadi cokelat pekat dan terasa sangat berat. Keringat mulai membasahi pelipisnya, merusak riasan tipis yang ia banggakan tadi pagi.

"Gue... nggak... butuh... instruksi lo," Every menjawab dengan jeda napas yang panjang. Ia mencoba melompati sebuah akar pohon yang besar, namun kakinya terpeleset di tanah licin.

"Akh!"

Tubuh Every oleng ke belakang. Sebelum punggungnya menyentuh tanah basah, sebuah tangan kekar menangkap pinggangnya dengan sigap. River menariknya hingga dada Every membentur jaket keras pria itu. Untuk sesaat, Every bisa mencium bau maskulin yang bercampur dengan aroma hutan yang tajam.

"Lepasin!" Every menyentak tangan River segera setelah ia merasa stabil. Ia menatap River dengan tatapan penuh kebencian, meski matanya memerah karena kelelahan. "Gue bisa jalan sendiri."

River mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Oke, silakan. Tapi kalau lo pingsan di sini, gue nggak akan gendong lo. Gue bakal tinggalin lo jadi santapan nyamuk hutan."

"Tinggalin aja! Gue lebih suka dimakan nyamuk daripada harus berutang nyawa sama lo," balas Every pedas.

Ia kembali melangkah, namun kali ini lebih hati-hati. Saat melewati tanjakan yang cukup curam, Every melihat pemandangan yang membuatnya tertegun. Di kejauhan, di balik rimbunnya pohon, kepulan asap dari tenda-tenda darurat mulai terlihat. Suara tangis anak kecil dan deru air sungai yang masih meluap terdengar sayup-sayup.

Sisi antagonis Every mendadak surut, digantikan oleh rasa sesak yang aneh di dadanya.

River yang menyadari perubahan ekspresi Every, berhenti di sampingnya. "Itu tujuannya. Desa Sukamaju. Mereka kehilangan segalanya semalam. Sekarang, lo masih mau meributkan soal sepatu kotor lo?"

Every menoleh pada River. Kalimat pria itu menusuk tepat di ulu hatinya, tapi Every Riana tetaplah Every Riana. Ia menegakkan punggungnya yang pegal.

"Sepatu ini bisa diganti, River. Nyawa mereka nggak," ucap Every, suaranya kembali tajam namun kali ini dengan nada yang berbeda—nada seorang pemimpin. "Ayo cepat. Jangan buang-buang waktu dengan menatap gue terus. Gue tahu gue cantik, tapi penduduk di sana butuh logistik itu lebih dari sekadar pemandangan wajah gue."

River tertegun sejenak. Ia melihat Every melangkah mendahuluinya, bahkan tanpa memedulikan dahan-dahan pohon yang menyabet jaket mahalnya. Gadis itu mungkin kejam dan sombong, tapi dia tidak lari dari tanggung jawab.

"Bagus, Eve," gumam River pelan, senyum miringnya muncul kembali. "Gue mulai suka cara lo menghadapi kekacauan."

Mereka sampai di pinggiran desa dalam waktu tiga puluh menit kemudian. Keadaan jauh lebih buruk dari foto yang Every lihat. Rumah-rumah hancur, dan lumpur setinggi lutut menutupi jalanan desa.

Every melihat seorang ibu yang mencoba mengais sisa barang di antara reruntuhan kayu. Tanpa perintah, Every langsung berjalan mendekat. Ia berlutut di lumpur—benar-benar berlutut hingga celana mahalnya basah kuyup—dan membantu ibu itu mengangkat sebuah balok kayu kecil.

River, yang baru saja tiba di belakangnya, berdiri diam mematung. Ia melihat sang "Ketua BEM Antagonis" itu sedang mengusap debu dari wajah seorang anak kecil dengan ujung jaket (yang sebenarnya milik River) tanpa rasa jijik sedikit pun.

"River! Jangan diam saja!" teriak Every tanpa menoleh, suaranya tetap galak. "Buka kotak medisnya! Anak ini butuh obat merah sekarang!"

River tersadar dari lamunannya. "Iya, iya, bawel. Sebentar."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!