Dari kecil Perlita Cascata selalu di perlakukan tidak baik oleh keluarganya, dan sekarang dia juga harus merasakan sakitnya penghianatan dari kedua orang terdekatnya tepat di hari pernikahannya. Perlita harus merelakan calon suaminya menikahi kakak perempuannya yang bernama Ariana karena saat dirinya akan melaksanakan akad nikah, sang Kakak ketahuan hamil anak dari calon suaminya Perlita. Berharap mendapat simpati dari keluarganya tapi apa yang Perlita dapatkan, mereka semua malah mendukung pernikahan tersebut dan meminta Perlita untuk mengalah.
Bagaimana kehidupan Perlita selanjutnya? Apakah dia bisa melupakan pria yang sudah menyakitinya?
Ikuti terus kisahnya di sini ya!!😊
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartiniKeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemandangan
"Apa kakak ada acara hari ini?"
"Nggak ada Perl, kakak cuma ada pertemuan satu hari saja, yaitu kemarin."
"Pekerjaan kakak bagaimana? Bukankah kakak seorang dokter sekaligus pemilik rumah sakit yah? Di tambah kakak seorang CEO di perusahaan lagi. Apakah pekerjaan kakak tidak terbengkalai dengan kakak masih liburan di sini?" Tanya Perlita yang sebenarnya ingin me time. Perlita ingin menjauhi Nathan karena dia takut jatuh cinta karena pesona Nathan cukup kuat.
"Kan kakak ada karyawan yang punya tugasnya masing-masing yang menghandle pekerjaan kakak. Sesekali pergi liburan, menikmati waktu santai nggak ada salahnya kan Perl. Kakak juga manusia yang butuh waktu istirahat dan liburan sejenak dari tumpukkan pekerjaan," jawab Nathan dengan santai.
"Kita jalan ke sana yuk!" Ajak Nathan seraya bangkit dari duduknya diikuti oleh Perlita. Mereka berjalan di bibir pantai sembari menikmati pemandangan pantai yang indah. Semakin siang, pengunjung pantai tersebut semakin terlihat ramai.
"Kak, ke sana yuk! Aku mau beli es cream." Tunjuk Perlita ke arah penjual es cream.
Nathan pun mengikuti Perlita menuju penjual es cream. Siang itu cuaca yang lumayan terik membuat penjual es cream tersebut ramai oleh pembeli sehingga Perlita harus mengantri.
Perlita memesan satu cup es cream begitu juga dengan Nathan yang mulai mengikuti Perlita yang suka jajan di mana saja.
"Hmmmm, enak yah kak? Es creamnya lembut."
Mereka duduk di atas kayu yang sudah mati yang masih berada di tepi pantai.
"Awwww, kakak." Pekik Perlita karena kaget pipinya yang terasa dingin karena ulah Nathan yang mengoleskan sedikit es cream di pipinya.
"Awas kamu yah kak." Perlita tidak tinggal diam dan bangkit dari duduknya untuk membalas perbuatan Nathan. Nathan berusaha mengelak dari serangan Perlita.
"Jangan lari kamu kak!"
"Nggak kena. Ayo perl kejar kakak." Perlita terus mengejar Nathan sampai akhirnya Perlita tidak sengaja tersandung kakinya sendiri yang mengakibatkan posisi Perlita tidak seimbang.
"Aaaaaa."
Nathan yang melihat Perlita akan jatuh dengan sigap berusaha menangkap tubuh Perlita. Perlita sudah pasrah akan mendarat di pasir pantai sampai memejamkan matanya menerima sakit badannya yang akan terjatuh.
Saat Perlita sudah pasrah mendarat di pasir, Nathan dengan cepat menangkap tubuh Perlita sehingga Perlita jatuh di pelukan dokter tampan tersebut. Perlita membuka matanya sehingga tatapannya dan tatapan Nathan bertemu. Keduanya saling mengagumi dan mempertahankan tatapan tersebut sampai akhirnya Perlita sadar dan langsung berusaha lepas dari pelukan Nathan.
"Maaf yah kak."
Wajah Perlita bersemu merah karena merasa malu dengan dirinya yang sempat terpesona dengan ketampanan dari Nathan. Pesona Nathan memang sulit untuk di elakkan, apalagi mereka yang sering bersama akan membuat Perlita susah untuk menghindari pesona Nathan.
Perlita masih saja berusaha untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia takut Nathan akan melihat wajahnya yang bersemu merah. Perlita yakin kalau Nathan pasti akan tahu kalau saat ini dirinya sedang malu dengan melihat ekspresi wajah dirinya.
Nathan mengulum senyum tipisnya secara diam-diam karena tahu kalau saat ini Perlita pasti sedang salah tingkah dan malu.
"Ekhem, Perl cari makan siang yuk!"
Nathan sengaja mengajak Perlita makan siang untuk mengurangi kecanggungan mereka.
"Iya kak."
Perlita dan Nathan berjalan beriringan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Mereka saling diam membisu dengan pikiran masing-masing.
Mereka mencari makan siang tidak di sekitaran pantai yang sedang mereka kunjungi. Mereka masuk ke dalam mobil dan Nathan melajukan mobilnya menuju sebuah restoran seafood milik sahabatnya. Nathan ingin sekali bertemu dengan sahabatnya yang jarang sekali dirinya temui. Dan kebetulan sahabatnya sedang liburan di Bali juga. Mereka sama-sama sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sahabatnya sudah memiliki istri dan anak, tentu saja waktunya semakin sulit untuk sekedar nongkrong barang. Apalagi tempat tinggal mereka yang berbeda negara.
"Kita makan di sini aja. Apa kamu ada alergi seafood?" Tanya Nathan memarkirkan mobilnya di depan restoran sahabatnya itu. Di restoran sahabatnya memang hanya menyediakan makanan khusus seafood saja.
"Enggak kok kak. Aku nggak pernah pilih-pilih kalau soal makanan."
Nathan turun lebih dulu dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Perlita.
"Terima kasih kak, tapi seharusnya nggak perlu dibukakan pintu segala kak. Aku jadi nggak enak sama kakak."
"Cuma bukain pintu aja kenapa mesti nggak enak sih Perl? Santai aja lah kalau sama kakak. Ayo masuk!"
Perlita dan Nathan masuk ke dalam restoran dengan berjalan beriringan.
"Kita makan di lantai dua aja yah. Di lantai dua kita bisa menikmati view laut."
Perlita hanya mengiyakan saja dan mengikuti Nathan menuju lantai dua restoran.
Nathan dan Perlita memilih meja yang menghadap ke laut lepas. Bener yang dikatakan oleh temannya, kalau pemandangan di lantai dua memang sangat indah. Laut yang terbentang indah terlihat jelas dari tempat mereka duduk.
Perlita dan Nathan memesan menu yang menjadi makanan favorit di restoran tersebut. Sembari menunggu pesanan datang, Nathan mengirim pesan ke sahabatannya. Nathan memberitahu sahabatnya kalau dirinya saat ini sudah berada di restorannya.
"Gimana? Apa kamu suka dengan pemandangannya?" Tanya Nathan sambil menatap Perlita.
"Suka kak, pemandangan lautnya terlihat jelas dari sini. Owner restoran ini memang pandai yah mencari lokasi di sini. Lihat aja banyak sekali pengunjung yang berdatangan ke sini."
Siang itu restoran yang Perlita dan Nathan kunjungi memang lumayan ramai.
"Mungkin selain lokasi restorannya yang menyajikan pemandangan yang indah, menu di sini juga sangat enak," balas Nathan.
Perlita mengabadikan pemandangan indah tersebut dengan ponselnya sedangkan Nathan lagi-lagi mengambil foto Perlita yang sedang berdiri di pagar pembatas restoran tersebut yang sedang mengabadikan pemandangan laut dari lantai dua restoran tersebut.
Setelah mengambil foto Perlita yang lagi-lagi wajahnya juga tidak terlihat, Nathan langsung memposting di media sosialnya potret Perlita.
Pemandangan lautnya memang indah, tapi di mataku kamu lah yang lebih indah.
Tulis Nathan di postingannya, setelah itu dia memposting foto Perlita tersebut yang tentunya kembali memancing komentar dan rasa penasaran dari followers nya. Foto tersebut juga di banjiri banyak like oleh pengguna akun media sosial tersebut. Apalagi dalam satu hari Nathan sudah memposting dua foto perempuan.
"Pak dokter tampan lagi menikmati liburan nih dengan sang pujaan hati."
"Kira-kira siapa yah perempuan yang sangat beruntung ini? Jadi semakin penasaran saja."
"Spill tipis-tipis Pak dokter."
"Jangan bikin kami penasaran dan nggak bisa tidur malam ini Pak dokter."
"Ternyata Pak dokter sudah menemukan pawangnya."
"Sangat-sangat penasaran nih sama wajah perempuannya. Bisikin ke aku siapa perempuan beruntung ini Pak dokter tampan."
Begitulah beberapa isi komentar yang ditulis oleh followers Nathan. Dan Nathan masih belum membalas komentar para followersnya.
Terima kasih untuk yg sudah mampir🙏Semoga kalian sehat dan rejeki kalian selalu lancar. Jgn lupa tinggalkan like n komentarnya ya🙏😊
Thor jangan di bikin apes mulu peran utama pls aku baru selesai baca yg peran utama dari awal Ampe ending apes mulu