NovelToon NovelToon
#SALAHFOLLOW

#SALAHFOLLOW

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Berbaikan
Popularitas:117
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.

Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.

#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: REMP-REMP, GENGSI, DAN PERTEMUAN YANG SALAH TAHU

Disclaimer: Bab ini mengandung kebenaran pahit bahwa pacar lo bisa aja nggak cocok sama temen-temen lo, krisis identitas karena diledekin, dan keinginan kabur yang bikin perut mules.

---

Masalahnya mulai waktu Ardi ngajak Kinan kumpul sama "geng motor butut" nya. Bukan klub motor, tapi sekumpulan anak kampus yang hobi tuker-tukeran sparepart motor tua. Lokasinya di bengkel tambal ban langganan mereka, sambil bakar sate ayam yang kadang masih berdarah.

Kinan dateng pake outfit streetwear yang keliatan mahal (padahal thrifted), make-up natural flawless, dan senyum siap tempur. Ardi ngerasa bangga. "Nih gue punya cewek, keren kan."

Tapi begitu sampe, vibes-nya langsung nggak nyambung.

"Oi Ard! Lawan gue dong main FIFA di HP!" teriak Bowo, tangan masih korengan bekas otak-atik karbu.

"Eh ini Kinan ya? Yang di TikTok itu? Wah, jadi nggak exclusive dong channel lo, udah kolab sama si Ardi mulu," celetuk Wahyu, si mekanik part-time, sambil nyengir.

Kinan cuma senyum tipis, dagunya angguk-angguk. Dia coba paksakan diri duduk di bangku plastik yang lengket, sambil jaga tas tote bag-nya jangan sampai kena oli. Ardi asik ngobrol soal camshaft dan nyomot sate. Kinan cuma bisa geleng-geleng liat mereka pada rebutan saos sambel pake tangan langsung.

Gagal total.

Sepulangnya, di motor, Kinan diem aja. "Kinan? Oke nggak tadi?" tanya Ardi.

"Ya oke."

"Tadi Wahyu maksudnya baik, cuma becanda."

"Iya gue tau."

"Lo keliatan nggak nyaman."

"Gue nyaman-nyaman aja."

Tapi nada datarnya nyaring banget. Nggak nyaman.

---

Balik dendam pas Kinan ajak Ardi ke launching exhibition temen desainernya di gallery semi-hipster. Suasananya: lampu remang-remang, musik ambient, orang pada pake baju warna tanah, ngobrol pake bahasa Inggris campur Indonesia yang dipaksa.

Ardi dateng pake kemeja kotak-kotak yang agak kekeciilan, celana jeans, dan sepatu sneakers yang udah aus. Dia langsung keliatan kayak alien yang nyasar. Kinan sibuk networking, cipika-cipiki, senyum manis ke klien potensial. Ardi cuma bisa ngumpet di dekat meja canapé, ngunyahin mini quiche yang rasanya kayak busa diberi garam.

"Ardi, ini mbak Olivia, kurator galeri ternama loh," Kinan narik Ardi.

"Hi, I'm Ardi. Nice to meet you," coba Ardi buka percakapan.

"Ah, you're Kinan's... collaborator?" tanya Olivia, matanya scanning Ardi dari atas ke bawah.

"Ehm, yeah. Also... boyfriend," koreksi Ardi pelan.

Olivia cuma angguk, senyum tipis. "Cute. You have that... raw vibe. Unfiltered."

Ardi ngerasa dirinya kayak spesimen yang dikurasi: "raw vibe". Bukan pujian. Cuma kategorisasi.

Pulangnya, Ardi yang diem.

"Ard, lo bete ya?" tanya Kinan.

"Enggak."

"Tadi Olivia emang suka judgey gitu, jangan diambil hati."

"Gue nggak ambil hati. Cuma... lo keliatan banget beda sama yang di bengkel. Di sini lo kayak... bintang. Gue kayak plus one yang salah kostum."

"Jangan lebay. Lo baik-baik aja kok."

Tapi itu bohong. Keduanya bohong.

---

Puncaknya pas Ardi gak sengaja denger obrolan Kinan sama temen SMP-nya di telepon, lewat speaker yang kebablasan nyala.

"...iya, dia emang baik sih. Tapi kadang gue malu sendiri, Tif. Kayak waktu di exhibition kemarin, dia cuma bisa diem di pojokan. Gue harus carry conversation terus. Atau waktu ketemu klien, dia nyender di motor tua itu... keliatan banget gap-nya."

Ardi membeku di depan pintu kamar kos. Darahnya berhenti. "Gue malu sendiri." Tiga kata itu nancep kayak paku di dadanya.

Dia masuk pura-pura biasa. Kinan buru-buru nutup telepon. "Eh, Ard. Dari tadi?"

"Baru." bohong Ardi. "Gue mau keluar dulu, ketemu Bowo."

"Lagi malem gini?"

"Iya, motornya mogok."

Ardi pergi, naik motor tapi nggak ke mana-mana. Cuma muter-muter kota, akhirnya berhenti di warung kopi Klotok yang udah mau tutup. Ibu Lastri liat dia.

"Loh, Ardi? Sendirian? Kok keliatannya drop gitu?"

"Biasa, Bu. Lelah aja."

"Masalah sama yang itu?" Ibu Lastri nyengir. "Cewek mah gitu. Lo harus tegas. Jangan sampe lo yang ngerendahin diri."

Tapi bukan soal tegas. Ardi ngerasa dilema. Dia mencintai Kinan, versi yang nyaman di dapur, yang nangis di gempa, yang nulis surat di gelap. Tapi dia nggak bisa reach Kinan yang versi gallery, yang pake bahasa Inggris smooth, yang dunianya penuh dengan orang kayak Olivia. Dan sebaliknya, Kinan mungkin mencintai Ardi yang jujur, yang nekat, yang nyetir 150 km gegara panik. Tapi mungkin dia malu sama Ardi yang raw dan unfiltered di depan orang-orang level-nya.

Mereka jatuh cinta pada versi terlemah satu sama lain, tapi harus hidup di dunia yang menuntut versi terkuat mereka.

---

Besoknya, mereka ketemu. Mata keduanya bengkak.

"Gue denger," kata Ardi, langsung to the point.

Kinan nangis. "Maafin gue. Gue nggak bermaksud..."

"Tapi itu bener, kan? Lo emang malu."

"Bukan malu... tapi... kagok. Gue nggak tahu gimana nge-bridge-nya. Dunia gue sama dunia lo."

"Jadi selama ini kita cuma nyaman karena kita lagi berdua aja? Begitu ketemu orang lain, langsung collide?"

"Bukan gitu! Cuma... kita emang beda, Ard. Lo anak bengkel, gue anak gallery. Lo audio, gue visual. Lo spontan, gue mikir. Itu fakta."

Pertengkaran ini lebih sakit dari sebelumnya. Karena nggak ada musuh bersama. Nggak ada algoritma jahat. Musuhnya adalah kenyataan bahwa mereka berasal dari planet yang berbeda. Dan cinta mungkin cuma pesawat ruang angkasa yang cuma bisa nyampe orbit, tapi nggak pernah bisa bikin kedua planet itu satu.

"Gue sayang lo, Kin. Tapi gue nggak mau lo malu sama gue," kata Ardi, suaranya pecah. "Dan gue nggak bisa jadi orang yang lo pengin gue jadi di depan temen-temen lo itu."

"Gue juga nggak mau lo ngerasa less setiap kali ketemu dunia gue."

Mereka diem. Kayak dua orang yang baru nyadar mereka lagi di persimpangan, dan peta yang selama ini mereka pake ternyata salah.

"Kita perlu waktu lagi nggak?" tanya Kinan, pelan.

"Buat apa? Buat ngerasain ini lagi? Buat lo malu lagi? Buat gue sakit hati lagi?"

"Buat nemuin jalan... yang nggak harus ninggalin siapa kita."

Ardi angkat tangan. Lelah. "Gue nggak tahu, Kin. Gue beneran nggak tahu."

Dia pergi. Kinan nggak ngejar. Buat pertama kalinya sejak gempa, mereka pisah bukan karena keadaan. Tapi karena pilihan yang sadar untuk nggak saling menyakiti lebih dalam.

---

Epilog: Dua Minggu Kemudian.

Ardi nemuin surat di bawah pintu kos. Bukan tulisan tangan, tapi print-out. Isinya cuma satu link YouTube: video compilation montage.

Dia klik.

Isinya:

· Clip 1: Video lama Kinan waktu presentasi dadu, suaranya gemetar, matanya liar.

· Clip 2: Video Ardi lagi wawancara podcast live, jawabannya belepotan, dikira ngaco.

· Clip 3: Foto mereka berdua lagi makan martabak, muka belepotan saos, tertawa kayak orang edan.

· Clip 4: Tulisan di layar: "Kita emang nggak perfect di dunia masing-masing. Tapi kita perfect dalam ketidak perfect-an kita berdua."

· Clip terakhir: Kinan lagi ngomong ke kamera, mata berkaca-kaca. "Ardi, gue nggak mau dunia gue kalo nggak ada lo yang bikin gue malu. Karena rasa malu itu yang ngingetin gue, bahwa gue masih punya hati, bukan cuma image. Come home. Atau… biar gue yang balik ke bengkel."

Ardi nangis. Dia telepon Kinan. "Video lo norak banget."

"Dibikin buru-buru. Lagian lo suka kan yang norak?"

"Gue malu."

"Good. Karena gue juga."

Merejak nggak langsung baikan. Tapi mereka mulai dari awal lagi, dengan satu kesepakatan: "Kita nggak akan pernah fit di dunia masing-masing. Jadi, ayo bikin dunia kita sendiri. Yang isinya cuma orang-orang yang nerima kita berdua, versi berantakan sekalipun. Sisanya, to hell with them."

---

LAST LINE: Minggu depannya, ada acara bakar-bakar ayam di bengkel. Kinan dateng pake kaos oblong vintage Bowo yang belekan, celana jins robek, dan duduk di atas ban bekas sambil lesehan. Dia ajarin mereka cara edit video pake HP biar keliatan keren. Ardi duduk di sebelahnya, kadang nyelonong koreksi, kadang dikerjain. Tawa mereka nyaring, nggak peduli diliat siapa. Mereka akhirnya nemu jalan tengah: bukan dengan mengubah diri, tapi dengan memilih di arena mana mereka akan bertempur bersama. Dan arena itu adalah tempat di mana mereka bisa tertawa lepas, muka belepotan arang, dan sama-sama merasa jadi orang paling keren sekaligus paling norak di dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!