Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Madam Shiti
Suasana di ruang tamu malam itu terasa berat, aroma kopi hangat dan camilan tradisional yang baru saja disajikan oleh Bu Marni. Arkan, Yudha, dan Gavin duduk di sofa empuk di ruang tamu.
“Terima kasih, Bi Marni,” ucap ketiga pria itu serentak saat Bu Marni meletakkan toples berisi kue daki dan kue bawang buatan Maya tempo hari.
Begitu Bu Marni kembali ke dapur, Yudha dan Gavin mulai saling menyikut. Mereka ingin bertanya tentang kondisi Maya yang begitu berantakan tadi, namun Arkan sudah lebih dulu memotong dengan pengakuan yang mengejutkan.
“Tadi kami bertemu dengan ibu tirinya,” ucap Arkan datar, namun tatapannya dingin.
“Apa?! Kenapa wanita iblis itu bisa kembali ke kota ini?” tanya Gavin, hampir tersedak kopi panasnya.
Arkan menghela napas, bersandar pada sofa. “Zavier memberikan informasi bahwa ada tempat hiburan malam elit baru yang baru saja dibuka. Shiti dipindahkan ke sini untuk mengelola salah satu asset di sana.”
“Itu bencana!” celetuk Yudha dengan nada khawatir. “Jangan sampai wanita itu menarik Maya kembali ke lubang hitam itu.”
Arkan tidak membantah. Ia mengalihkan pandangannya pada Gavin, yang merupakan detektif dengan jaringan informasi paling luas. “Vin, apa kau tahu siapa pemilik tempat hiburan malam elit itu? Aku dengar pemiliknya adalah orang yang bekerja di balik layar pemerintahan. Seseorang yang punya ‘benteng’ hukum yang kuat.”
Gavin terdiam. Ia meletakkan cangkir kopinya perlahan, dahinya berkerut dalam. Ia mencoba menyambungkan titik-titik informasi intelijen yang masuk ke mejanya.
Gavin menggeleng, “Sulit bagiku untuk menemukan siapa pemiliknya. Mereka yang memiliki kekuasan akan dengan mudah menutup diri, dan mencari seseorang untuk menggantikan mereka.”
Suasana di ruang tamu itu semakin tegang seiring dengan terbukanya kekuasaan yang melindungi Shiti. Gavin benar, melawan orang-orang ini bukan seperti menangkap pencuri amatir, ini adalah pertarungan melawan hantu yang memiliki stempel resmi negara.
“Benar kata Abang. Di negara kita, kebohongan adalah kebenaran, sedangkan kebenaran sering kali dianggap kebohongan,” sahut Yudha getir, menyandarkan punggungnya ke sofa.
Arkan memijat pelipisnya yang berdenyut tegang. Tekanan darahnya seolah naik membayangkan betapa sulitnya menjauhkan Maya dari jangkauan Shiti.
“Untuk mendapatkan informasi, bagaimana kalau kita ke sana?” celetuk Yudha dengan nada bercanda yang sedikit nakal. “Sesekali aku ingin berjoget riang dan melihat wanita yang ‘kurang bahan’. Lumayan untuk cuci mata…”
Creeet!!
“AWWW!” teriak Yudha saat Gavin memutar daging pahanya tanpa ampun.
“Jika kau ingin berhenti menjadi jaksa, maka lakukan sekarang juga. Silakan injakkan kakimu di tempat sampah itu,” ketus Arkan dengan tatapan tajam yang seolah bisa membedah organ dalam Yudha saat itu juga.
Yudha langsung menunduk, mengelus pahanya yang terasa pedas luar biasa. “Bang, seorang jaksa juga bisa membantu penyelidikan lapangan, tahu,” gumamnya pelan.
“Diamlah, atau dia akan membedah perutmu malam ini,” bisik Gavin memperingatkan, membuat Yudha secara refleks memegangi perutnya sendiri.
Gavin tiba-tiba terdiam, jemarinya sibuk menggulir layar ponsel mencari sesuatu di mesin pencarian. “Kalian tahu pria ini?” tanya Gavin sambil menyodorkan layar ponselnya.
Di sana terlihat foto seorang pria paruh baya yang tampak wibawa, sedang mengayunkan tongkat golf dengan latar belakang lapangan hijau yang luas.
“Itu Pak Wahyu, Menteri Koordinator.”
“Kenapa?” tanya Arkan, mengenali wajah yang sering muncul di berita nasional itu.
“Beberapa hari lalu, aku mendapat informasi bahawa dialah yang memegang kendali tempat hiburan di kota sebelumnya, tempat pertama kali Shiti bekerja sebagai penyalur,” ungkap Gavin dengan suara rendah.
“What?!” Yudha tercengang. “Seorang Menteri?!”
“Tapi aku tidak yakin dia pemilik tunggalnya,” lanjut Gavin sambil mengerutkan kening. “Pasti ada dalangnya. Pak Wahyu mungkin hanya salah satu pemegang saham atau ‘pelindung’ resminya.”
Arkan kembali memijat pelipisnya. Masalah ini ternyata jauh lebih besar berakar daripada sekadar dendam pribadi. Shiti hanyalah pion kecil yang cukup dilindungi di sini.
“Zavier, aku harap kau bisa segera menyelesaikan tugasmu dengan caramu sendiri,” batin Arkan.
“Ar, kau menugaskan Zavier untuk misi ini, kan?” tanya Gavin tampak serius.
“Tepat sekali,” sahut Arkan dengan nada dingin, tidak membantah spekulasi keduanya.
Suasanya ruang tamu menjadi lebih mencekam daripada sebelumya. Yudha, yang biasanya banyak bicara, kini tampak pucat. “Zavier? Maksudmu pria yang pernah mema*tahkan leher anak anggota DPR itu, Bang? Gila…dia itu legenda sekaligus mimpi buruk di kalangan hukum!”
Gavin mengangguk pelan sambil menyesap kopinya yang sudah mulai dingin. “Benar. Kasus itu sangat berbelit-belit. Ketua kepolisan saat itu tidak bisa memenjarakan si pelaku dengan alasan ‘masih di bawah umur’, tapi semua orang tahu kalau ada aliran dan yang sangat besar untuk membungkam keadilan. Zavier tidak tahan melihat itu, dan dia mengambil ‘keadilan’ dengan tangannya sendiri.”
Yudha bergidik ngeri, memorinya kembali pada arsip lama yang pernah ia baca secara tidak sengaja. “Bukan hanya itu, Bang. Sebelum kasus anak DPR itu, Zavier juga yang mengebiri pelaku pedo*filia yang korbannya mencapai 45 anak, kan? Pelakunya hampir lolos karena status sosialnya, tapi Zavier membuatnya tidak akan pernah bisa menjadi ‘laki-laki’ lagi seumur hidupnya.”
“Dan dia melakukannya dengan sangat bersih,” sambung Gavin dengan nada sedikit kagum bercampur ngeri. “Permainan Zavier sangat mulus. Dia tidak membiarkan satu pun sidik jarinya tertinggal atau saksi mata yang melihatnya. Itulah kenapa pengadilan tidak bisa menjatuhkan hukuman pidana kepadanya. Satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan untuk meredam kemarahan pada petinggi adalah mengeluarkannya secara tidak hormat dari kepolisian.”
Arkan hanya diam mendengarkan, matanya menatap kosong ke arah pintu yang terbuka lebar. “Itulah alasan aku memakai jasanya,” ucap Arkan akhirnya. “Hukum bisa menutup mata, tapi Zavier akan mencu*ngkil mata itu agar mereka bisa merasakan kegelapan yang dirasakan korbannya. Dan untuk Maya… aku butuh monster untuk melawan monster.”
Mendengar kalimat Arkan, Yudha merasa bulu kuduknya berdiri. “Tapi, Bang… bukannya ini masalah kecil? Kalau hanya ingin menyingkirkan Ibu Shiti, ya tinggal ‘hilangkan’ saja wanita itu. Kenapa harus serumit ini?”
“Kalau semudah itu, Yud, aku rasa Zavier sudah mengirim wanita itu ke dasar laut sejak lama,” sahut Gavin sambil menggelengkan kepala.
“Kau benar, Gav. Menurutmu, apa yang membuat Zavier begitu berhati-hati kali ini? Aku tidak sanggup lagi melihat Maya menderita setiap kali bayangan wanita itu dan masal lalunya muncul,” ucap Arkan dengan nada suara berat.
Gavin memperbaiki posisi duduknya. “Shiti bukan sekadar muncikari recehan lagi, Ar. Dia dipindahkan ke sini karena dia adalah ‘The Golden Bridge’. Dia pemegang kendali atas transaksi bisnis gelap Layanan Surgawai, istilah untuk perdagangan manusia kelas atas dan nar*koba jenis baru milik, sebut saja Mr. X. Dia sangat ahli mencari pelanggan kelas kakap dan menjual ‘barang haram’ itu dengan hara selangit.”
Arkan mengerutkan kening. “Tapi tadi saat kami bertemu di restoran, dia sendirian. Penampilannya norak, riasannya tebal dan berlebihan. Tidak terlihat seperti wanita berkelas.”
“Itu hanya alibi, Ar. Topeng agar orang tidak curiga,” balas Gavin. Ia kemudian menggeser sebuah foto di ponselnya. “Lihat ini.”
Gavin menunjukkan foto seorang wanita yang tampak sangat berbeda, rambutnya panjang terurai dan berwarna, mengenakan pakaian desainer yang minim namun sangat mewah, dengan aura dingin dan berkelas.
“Ini dia, Madam Shiti. Aku dengar pihak kepolisan di kota asalnya sudah gatal ingin menangkapnya, tapi setiap kali tim detektif ingin bergerak, Ketua Kepolisan di sana selalu melarang dengan alasan ‘demi kebaikan mereka’. Artinya, pelindungnya adalah orang yang bisa menghancurkan karier siapa pun dalam semalam.”
“Wah! Berarti wanita itu cukup cerdas dan licik juga ya,” cetus Yudha, terpana melihat informasi Shiti.
“Secerdas apa pun seorang kriminal, dia tetap akan jatuh. Lubang yang dia gali untuk orang lain, pada akhirnya akan menjadi kuburannya sendiri,” ucap Arkan dengan nada dingin.
“Benar, tapi kita harus mempertaruhkan nyawa untuk ini, Ar.” Gavin memperingatkan.
“Apa pun taruhannya,” jawab Arkan serius, matanya berkilat penuh amarah. “Aku tidak akan membiarkan Maya kembali ke tangan monster itu, meski aku harus menjadi monster yang lebih besar.”
...❌ Bersambung ❌...