NovelToon NovelToon
Bayangan Pewaris Kadipaten

Bayangan Pewaris Kadipaten

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Era Kolonial / Pengganti / Komedi
Popularitas:105k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?

Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.

Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.

Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.

Risikonya? Hampir mati setiap hari.

Akankah Arjo bertahan?

Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Makan Malam

"Tidak perlu berterima kasih, Tuan Residen. Ini sudah kewajiban kami sebagai tuan rumah." Ia melirik sekilas ke arah pintu kamar Agnes. "Apakah ada yang putri Anda butuhkan? Saya bisa meminta abdi perempuan untuk membantu Nona van der Linden mengobati luka-lukanya dan—"

"Tidak perlu." Van der Linden memotong dengan cepat. "Agnes bisa mengobati lukanya sendiri, dia hanya … kelelahan, yang dia butuhkan hanya istirahat."

‘Kelelahan?’ batin Arjo. ‘Tentu saja. Kabur ke hutan, bertarung dengan para pria berotot besar hingga akhirnya tertangkap. Siapa yang tidak kelelahan? Luar biasa, putri Anda … sangat tidak biasa untuk gadis seusianya.’

"Baiklah." Arjo membungkuk sedikit. "Kalau Tuan dan Nona membutuhkan sesuatu, silakan memanggil abdi. Makan malam akan disiapkan segera."

"Terima kasih."

Van der Linden membimbing Agnes masuk ke kamarnya. Pintu ditutup.

Arjo berdiri di koridor sesaat lebih lama, memandang pintu kayu berukir yang kini menyembunyikan perempuan bermata kucing itu.

‘Menarik sekali Agnes van der Linden ini. Gadis pemberontak yang dijodohkan paksa dengan perwira militer. Perempuan yang hampir membunuhku, tapi sekarang terjebak dalam penjara emas ayahnya sendiri. Rasakan.’

Ia berbalik, melangkah kembali ke koridor utama.

Di belakangnya, dua penjaga berbadan besar berdiri seperti patung di depan pintu kamar Agnes.

Arjo bergegas meninggalkan koridor pavilion tamu, langkahnya cepat tapi tetap terkendali. Ki Atmojo sudah menunggu di persimpangan koridor, wajah datar seperti biasa.

"Ki Atmojo." Arjo berbicara pelan begitu mereka berjalan berdampingan. "Ada informasi penting."

"Saya mendengarkan, Ndoro."

Arjo menceritakan apa yang ia dengar, potongan-potongan percakapan antara van der Linden dan Agnes. Tentang ancaman kabur, teman-teman Agnes yang bersembunyi dan perjodohan paksa dengan Letnan Bakker.

"Mereka berburu di hutan utara." Arjo menyimpulkan. "Tapi bukan berburu binatang. Van der Linden mengejar putrinya yang kabur. Dan kalau Agnes bergabung dengan kelompok yang menyerang kereta saya waktu itu ... berarti markas mereka ada di sekitar hutan utara."

Ki Atmojo mengangguk, wajahnya tetap tenang.

"Informasi yang sangat berharga, Ndoro. Saya akan menyampaikan ke Ki Among Telik malam ini juga. Beliau perlu mengirim telik sandi untuk menyelidiki hutan utara."

Mereka berpisah di depan kamar bupati. Ki Atmojo pergi mengurus pengiriman pesan rahasia ke padepokan, sementara Arjo masuk untuk berganti pakaian.

Arjo memandang bayangannya di cermin yang menatap balik dengan wajah yang jauh lebih tua dari usia sebenarnya.

“Eh … nasib-nasib, ketemu perempuan cantik malah muka jadi tua seperti ini. Awet sekali riasan Nyi Seger, kulit tidak berminyak sedikit pun.”

Dia bergegas berganti. Beskap hitam baru dengan sulaman benang perak di kerah dan manset. Kain batik parang barong. Blangkon dengan bros berlian kecil di bagian depan.

Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahu.

‘Kau sudah berlatih lima tahun untuk ini. Jangan sampai gagal hanya karena sepasang mata kucing.’

Ruang jamuan kadipaten tampak megah dengan langit-langit tinggi dan lampu-lampu kristal yang menggantung megah.

Meja panjang dari kayu jati berukir sudah ditata dengan peralatan makan bergaya Eropa; piring porselen dengan tepian emas, gelas-gelas kristal berbagai ukuran, sendok garpu perak yang berkilau, lilin di tengah, vas-vas kristal berisi bunga-bunga segar, dupa cendana menyala di sudut, memenuhi ruangan dengan harum yang mewah.

Arjo sudah lebih dulu duduk di kepala meja saat tamunya tiba.

Pintu ruang jamuan terbuka. Van der Linden masuk lebih dulu—jas hitam formal, dasi kupu-kupu putih, tongkat dengan gagang perak. Rambut cokelat berhias sedikit uban di pelipis disisir rapi ke belakang.

Dan di lengannya…

Napas Arjo tertahan.

Agnes van der Linden tampak memukau.

Gaun krem bergaya Eropa memeluk tubuhnya dengan sempurna. Kain sutra menjuntai anggun, dengan renda-renda halus di tepian kerah rendah. Korset yang tersembunyi di balik gaun mendorong dadanya membusung, lekuk yang sulit diabaikan meski Arjo berusaha sekuat tenaga.

Rambutnya yang hitam dengan semburat kecokelatan disanggul tinggi ala Eropa, beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajah. Anting-anting mutiara bergoyang di telinganya.

Dan matanya—

Mata kucing itu kini dibingkai oleh celak tipis yang membuat warna ambernya semakin menyala. Cokelat terang dengan bintik-bintik emas yang berkilau di bawah cahaya lampu kristal.

‘Duh Gusti ….’

Tapi Arjo bisa melihat ketegangan di balik kecantikan itu; rahang yang terkatup terlalu rapat, bahu yang terlalu kaku, tangan yang mencengkeram lengan ayahnya terlalu erat.

Arjo bangkit dari kursinya, berusaha menjaga wajah tetap netral.

"Tuan Residen. Nona van der Linden." Ia membungkuk sedikit. "Silakan duduk. Saya harap Anda sudah cukup beristirahat."

Van der Linden membalas bungkukan dengan anggukan formal.

"Terima kasih, Tuan Adipati. Keramahtamahan Anda sangat kami hargai."

Arjo menarikkan kursi untuk Agnes. Mereka duduk—van der Linden di sebelah kanan Arjo, Agnes di seberangnya. Posisi yang memaksa Arjo harus menatap langsung ke arah perempuan itu setiap kali mengangkat wajah.

Para abdi dalem berpakaian beskap putih rapi berdiri siap di sepanjang dinding, menunggu perintah untuk membawakan hidangan.

Seorang abdi senior menuangkan teh ke dalam cangkir-cangkir porselen—teh melati untuk Arjo, teh hitam Eropa untuk tamu.

Van der Linden mengangkat cangkirnya, menyesap sedikit.

"Tuan Adipati," ia meletakkan cangkir kembali ke tatakan, "saya perhatikan meja ini hanya ditata untuk tiga orang. Di mana istri Anda?"

"Istri?” Mata Arjo membulat. “Saya belum menikah, Tuan."

Hening.

Van der Linden mengangkat alis, jelas terkejut.

Dan Agnes … mata mendelik.

"Belum menikah?" Suaranya memecah keheningan, tajam seperti pisau. "Belum menikah yang keenam kalinya maksud Anda?"

Mata amber itu menatap Arjo langsung—ada kilatan di sana. Ejekan..

‘Sial,’ batin Arjo.

Ia berdeham, berusaha memperbaiki kesalahan.

"Maafkan saya, Tuan Residen. Terlalu banyak beban kerja sebagai bupati, sampai-sampai … kadang saya lupa sudah pernah menikah. Istri saya sedang tidak enak badan malam ini. Beliau memilih beristirahat di kamarnya."

Van der Linden mengangguk, tampaknya menerima penjelasan itu.

Tapi Agnes masih menatap Arjo dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran antara curiga dan... geli?

‘Dia tahu Gusti Bupati sudah pernah menikah lima kali?”

Arjo membalas tatapan itu dengan wajah datar.

Makan malam dimulai dengan hidangan pembuka.

Para abdi membawakan piring-piring kecil berisi huzarensalade—salad kentang dengan daging dan acar bergaya Belanda—dan kroket yang digoreng keemasan.

Ini adalah jamuan rijsttafel sederhana, disesuaikan untuk tamu Eropa. Tidak semewah jamuan resmi di rumah dinas residen, tapi cukup untuk menunjukkan kehormatan kadipaten.

Arjo makan dengan gerakan yang terlatih—garpu di tangan kiri, pisau di tangan kanan, potongan-potongan kecil yang rapi. Etika makan Eropa yang sempurna.

Agnes makan lebih sedikit. Garpu dan pisaunya bergerak, tapi lebih banyak mengaduk-aduk makanan daripada benar-benar menyuapnya ke mulut.

Arjo memperhatikan itu.

‘Tidak nafsu makan? Atau sedang memikirkan cara untuk kabur?’

1
Y. Haryadi
lanjut
Ulfa Riady
wuiiih keren kangmas arjo argumennya,😍😍😍
Andina Jahanara
next kak 👍
Lannifa Dariyah
di sini udh mendem ndoro crita nya
Hayisa Aaroon: nanti ngepasin sama Keti dulu, yang sana ketinggalan jauh waktunya.
total 1 replies
lilyrose
terkesima to kmu agnes 😂 rugi kowe yen arjo mbo tolakk😂
Ario Umbaran
Ini kl arjo jd Bupati jaman skrng sdh tak dukung nyapress, cerdas, tas tes, sat set, kendel, dan bela rakyat..
Ricis
Nah lho, emng keren Bupati satu ini. lain dari yg lain, dia bkn bupati yg dpat jabatan dgn mudah, tapi dgn bentukan+gemblengan yg luar biasa. siap2 kagum kau Agnes 😃
lely niurlaely
cerita ka author ga pernah gagal..alur ga bosenin dan tdk bertele tele, kerreen pokoknya
yue yah
Ojo seuzon jo.kw lo Yo luweh cerdik
Kustri
☕sik Jo!
ora salah masmu ngangkat kowe💪💪💪
jodoh takkan kemana... sama" berjuang😍
Fetri Diani
Jos gandos ndoro bupati Aryo... 👍
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
arjo di didik keras mkne lebih oandai arjondr soedarsono yg memelih patuh sm kanjng ndoro gusti kusumawati

yaaaa dan skrg gmn ya arjo bisa mengatasi itu
Giyatmini
arjo, pemimpin yg sebenarnya...
pandai merangkai kata
Albina
👍👍👍👍 arjo
Teh Qurrotha
pesona Arjo keluar,Agnes terkesima
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
agnes menyuarakan pemberontak itu
Ricis
lanjut versi Agnes mode jujurnya
Muchamad Ikbal
ndoro Arjo cinta buta. Sll ja mau masuk permainan Agnes.😐🙆‍♀️
Ario Umbaran
Agnes mau dirudapaksa edward, tp melawan dan bunuh edward, gak semudah itu bunuh perwira kl dalam posisi siap
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
sebernarnya ada apa
bisa lasih flash back nya ndoro 🤭🤣🤣
aq kok penasaran deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!