Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Ancaman
Sekuat tenaga Arjo tidak melirik Agnes.
"Tuan Residen." Arjo membungkuk hormat, menyapa dalam bahasa Belanda yang fasih, hasil latihan bertahun-tahun. "Sungguh kejutan yang tidak terduga."
Van der Linden membungkuk sedikit, bungkukan minimal yang menunjukkan bahwa meski pria di hadapannya adalah penguasa wilayah ini, van der Linden lebih tinggi jabatannya dalam hierarki pemerintahan.
"Tuan Adipati." Suaranya berat dan dalam, aksen Belandanya kental. "Maafkan kedatangan kami yang tiba-tiba. Kami sedang berburu di hutan sebelah utara ketika hujan di gunung menyebabkan banjir di sungai. Perkemahan kami nyaris tersapu."
Arjo memasang wajah terkejut yang meyakinkan.
"Astaga! Apakah semua orang baik-baik saja?"
"Sebagian besar, ya." Van der Linden melirik putrinya sekilas—lirikan yang penuh dengan sesuatu yang Arjo tidak bisa baca tapi berhasil membuat putrinya memasang senyum tipis. Lalu ia menegakkan tubuh, mengambil sikap formal.
"Perkenalkan, Tuan Adipati—" Van der Linden menggeser tubuhnya sedikit, memberi ruang bagi putrinya untuk maju. "—ini putri saya, Agnes van der Linden."
Agnes melangkah ke depan dengan gerakan yang tampak dipaksakan. Ia melakukan curtsy (menyilangkan satu kaki ke belakang dan menekuk lutut sedikit) seperti yang diajarkan kepada gadis-gadis Eropa saat bertemu bangsawan.
Tapi ada sesuatu yang salah dalam gerakannya. Terlalu kaku dan enggan.
Van der Linden melanjutkan dengan nada formal. "Agnes, ini Kanjeng Raden Mas Adipati Soedarsono. Bupati yang menguasai wilayah ini, termasuk hutan tempat kita … berburu."
Arjo mau tak mau mengalihkan pandangannya ke Agnes.
Mata mereka bertemu.
Deg.
Ada sesuatu dalam mata indah itu yang seperti mencubit dada Arjo.
Sesaat, Arjo melihat sesuatu berkilat di mata kucing itu. Pengenalan? Kecurigaan? Atau hanya imajinasinya?
Tapi kemudian Agnes tersenyum lebih lebar.
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Adipati." Suaranya datar, tanpa emosi. Bahasa Belandanya sempurna, tapi ada aksen lokal yang samar.
‘Suara yang sama. Suara yang mengumpatku "bajingan" di dalam kereta,’ batin Arjo.
Dia menelan ludah, berusaha menjaga wajah tetap netral.
"Senang bertemu dengan Anda juga, Nona van der Linden." Ia membalas dengan anggukan sopan. "Saya harap luka Anda tidak terlalu menyakitkan."
Agnes tidak menjawab. Hanya mengangguk samar, bibir masih memaku senyum kaku.
Tapi Arjo bisa merasakan ketegangan di tubuh perempuan itu. Otot-otot yang menegang di balik mantel ayahnya. Tangan terkepal di balik mantel.
‘Dia pasti tahu ada yang sedikit berbeda dengan wajahku. Atau... dia tidak tahu?’
Arjo berdebar.
Dalam kereta waktu itu, Arjo tidak dirias lebih tua seperti sekarang. Wajahnya asli apa adanya.
‘Tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda mengenaliku. Atau dia tidak cukup melihat wajahku dengan jelas?’
Arjo tidak punya waktu untuk memikirkan itu lebih lanjut.
"Silakan masuk, Tuan Residen. Para abdi akan menyiapkan tempat untuk Anda dan rombongan membersihkan diri." Ia menggerakkan tangan, mengisyaratkan ke arah dalam. "Apakah ada yang terluka parah dan membutuhkan doktera atau tabib?"
"Tidak perlu." Van der Linden menjawab cepat. "Hanya luka-luka kecil. Kami hanya butuh air bersih dan sedikit istirahat sebelum melanjutkan perjalanan, kalau tidak merepotkan."
"Tentu tidak merepotkan."
Arjo memberi isyarat pada para abdi dalem yang sudah menunggu. Mereka langsung bergerak—menyiapkan air hangat, handuk, dan jamuan.
Van der Linden membimbing putrinya masuk ke dalam, tangan masih mencengkeram pergelangan tangan Agnes dengan kuat.
Pavilion tamu eksklusif terletak di sayap timur kadipaten, bangunan terpisah yang diperuntukkan khusus bagi pejabat tinggi Belanda yang berkunjung.
Bangunan bergaya campuran Jawa dan Eropa. Pilar-pilar kayu jati dengan ukiran tradisional, tapi jendela-jendela besar bergaya kolonial dengan kaca bening. Lantai marmer dingin. Langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal.
Arjo dengan dalih sebagai tuan rumah yang baik ikut mengantar rombongan van der Linden ke pavilion.
Mereka berjalan menyusuri koridor panjang yang menghubungkan pendopo utama dengan pavilion tamu. Abdi dalem berjajar di kanan kiri, membungkuk hormat saat rombongan melewati mereka.
Van der Linden berjalan di depan, langkahnya pincang tapi tetap tegas. Agnes berjalan di sampingnya—atau lebih tepatnya, diseret di sampingnya. Genggaman di pergelangan tangannya tidak pernah mengendur.
Arjo berjalan beberapa langkah di belakang, cukup dekat untuk mendengar tapi cukup jauh untuk tidak tampak menguntit.
Dan ia mendengar.
"—awas kau kabur lagi."
Bisikan van der Linden tajam, nyaris tak terdengar, dalam bahasa Belanda tapi Arjo sudah belajar tentang gerakan bibir, menebak apa yang dikatakan mulut pria itu.
Agnes tidak menjawab, tapi bahunya menegang.
"Kau ini benar-benar susah diatur." Van der Linden melanjutkan, suaranya rendah tapi penuh ancaman. "Kenakalanmu lebih-lebih dari anak laki-laki."
Langkah Agnes sedikit tersandung, tapi ia tetap diam.
"—Letnan Bakker adalah pria baik."
Letnan Bakker?
"Aku tidak mau." Suara Agnes terdengar untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan pendopo. Rendah dan serak. "Aku tidak akan menikah dengannya."
"Kau tidak punya pilihan. Tidak ada pria Eropa baik-baik yang mau menikahimu. Pria itu tampak sangat tertarik denganmu."
"Aku lebih baik mati."
"Jangan bicara bodoh." Suara van der Linden naik sedikit, lalu kembali rendah saat ia sadar mereka tidak sendiri. "Kau akan memakai gaun yang sudah disiapkan untuk makan malam nanti. Bukan kebaya. Kau harus tampil seperti gadis Eropa yang layak."
"Aku bukan gadis Eropa."
"Kau setengah Eropa. Dan bagian itu yang akan kau tunjukkan malam ini."
Hening sejenak. Mereka sudah sampai di depan pintu pavilion tamu.
"Kalau kau mencoba kabur lagi—" van der Linden berbicara dengan suara yang nyaris tak terdengar, tapi Arjo yang berhasil menangkap gerakan mulut, "teman-temanmu yang akan menanggung akibatnya. Aku tahu di mana mereka bersembunyi. Satu kata dariku, dan polisi kolonial akan menggerebek tempat itu."
Arjo melihat tubuh Agnes membeku.
‘Teman-temannya. Kelompok pemberontak yang menyerangku di kereta. Van der Linden mengancam akan menyerahkan mereka?’
Agnes tidak menjawab. Tapi dari bahasa tubuhnya, bahu yang merosot, kepala tertunduk lebih dalam, Arjo tahu ancaman itu berhasil.
Pavilion tamu memiliki tiga kamar utama.
Van der Linden mengambil kamar paling besar di ujung koridor. Agnes diberi kamar di sebelahnya. Dan di depan pintu kamar Agnes, berdiri dua pria.
Pria-pria pribumi bertubuh besar dengan otot-otot yang menonjol di balik kemeja ketat. Wajah datar tanpa ekspresi. Tangan terlipat di dada.
‘Penjaga. Bukan untuk melindungi—tapi untuk mengurung.’
Arjo memperhatikan posisi mereka. Satu di koridor depan, satu lagi—ia melihat dari jendela—di halaman belakang, tepat di pintu yang mengarah ke taman kecil.
‘Tidak ada jalan keluar. Agnes benar-benar terjebak.’
Van der Linden menoleh ke arah Arjo, senyum diplomatik terpasang di wajah.
"Terima kasih atas keramahtamahan Anda, Tuan Adipati. Kami sangat menghargai."
Arjo membalas dengan anggukan sopan.
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo