NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Dokter menghela napas panjang saat kain kasa itu terlepas sepenuhnya.

Luka di punggung tangan Rani terlihat memerah dan basah, tanda bahwa kulit sensitifnya belum benar-benar siap menerima gesekan berlebihan atau uap panas dari dapur.

"Saya sudah bilang, jangan banyak bergerak dulu. Kalau basah seperti ini, penyembuhannya makin lama," tegur dokter sambil memberi kode kepada perawat untuk mengambilkan cairan antiseptik dan salep antibiotik yang lebih kuat.

Rani meringis perih saat luka itu dibersihkan kembali.

Yudiz yang berdiri di sampingnya mengepalkan tangan, rahangnya mengeras melihat istrinya menahan sakit.

Ada rasa bersalah dan amarah yang bercampur menjadi satu di dadanya.

"Dokter, tolong perban lagi dengan rapat. Dan Rani, kali ini kamu harus istirahat total. Tidak ada bantahan," tegas Yudiz, suaranya terdengar dingin dan tak terbantahkan.

Yudiz segera keluar dari ruang pemeriksaan menemui Kyai Abdullah yang menunggu di depan.

"Abi, mohon maaf. Sebaiknya acara syukuran dan khataman ditunda saja sampai tangan Rani membaik. Aku tidak ingin dia terbebani atau nekat membantu lagi."

Mendengar itu Rani langsung mencoba bangun dari ranjang pasien meski tangannya masih ditangani perawat.

"Abi! Jangan!" serunya dengan suara parau.

Yudiz kembali masuk ke ruangan dengan wajah tegang.

"Rani, kamu harus istirahat."

"Abi, jangan karena aku acara mereka ditunda. Banyak santri yang sudah belajar berbulan-bulan untuk khataman ini. Kasihan mereka, Abi. Mereka sudah menunggu hari ini dengan bahagia. Jangan hancurkan itu cuma karena luka kecilku," ucap Rani dengan tatapan memohon.

Untuk pertama kalinya, sisi egois pembalapnya luruh, digantikan oleh empati yang tulus.

Yudiz menatap mata istrinya cukup lama, mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan.

Akhirnya, Yudiz mengangguk pelan dan menuruti kemauan istrinya.

"Baik, acara tetap jalan. Tapi kamu tidak boleh turun ke dapur sama sekali."

"Iya, nanti aku tetap ke sana, tapi cuma duduk saja sama Lilis," janji Rani.

Tak lama kemudian, Lilis masuk ke ruangan dengan wajah sembab.

Ia langsung memeluk kakak iparnya itu dengan hati-hati.

"Mbak Rani, maafin Lilis ya. Gara-gara Lilis ajak ke dapur, Mbak jadi luka lagi."

"Nggak apa-apa, Lis. Mbak cuma kangen sirkuit, makanya atraksi dikit di dapur," canda Rani mencoba mencairkan suasana.

Yudiz mengusap rambut Lilis, lalu berbalik. Wajahnya kembali dingin saat ia keluar dari ruangan dan mendapati Nyai Salmah serta Sarah berdiri di lorong rumah sakit.

Mereka tampak menunduk, tak menyangka insidennya akan berlanjut sampai ke rumah sakit.

Yudiz berdiri tegak di depan ibu dan santriwati itu.

Auranya sebagai pemimpin perusahaan sekaligus Gus di pondok keluar dengan kuat.

"Lihat dan dengar sendiri apa kata istriku?" ucap Yudiz dengan nada rendah namun tajam.

"Meskipun kalian memandangnya rendah, meskipun kalian menganggap dia tidak pantas berada di sini, dia justru orang pertama yang memikirkan kebahagiaan para santri di acara besok. Dia tidak ingin acara ditunda hanya karena lukanya yang kembali basah."

Yudiz menatap Sarah dengan tatapan yang membuat gadis itu gemetar, lalu beralih ke Nyai Salmah.

"Aku sangat kecewa dengan kalian. Kalian yang merasa lebih paham agama, seharusnya lebih tahu cara memuliakan tamu dan anggota keluarga baru, bukan justru menekannya hingga ia celaka."

Nyai Salmah tertegun, lidahnya kelu. Ia belum pernah melihat putra kesayangannya itu bicara sedingin ini kepadanya.

"Ayo, Lilis. Kita bawa Mbak Rani pulang," ujar Yudiz.

Rani menganggukkan kepalanya dan membantu memapah tubuh kakak iparnya.

Nyai Salmah berdiri mematung di lorong rumah sakit, menatap punggung Yudiz yang menjauh dengan perasaan campur aduk. Namun, alih-alih merasa bersalah, harga dirinya sebagai istri Kyai besar merasa terusik karena ditegur oleh putranya sendiri di depan santriwati.

"Yudiz sudah benar-benar berubah karena perempuan itu," desis Nyai Salmah sambil tangannya gemetar memegang tasbih.

Sarah, yang berdiri di sampingnya, mengompori dengan suara pelan namun berbisa.

"Benar, Nyai. Gus Yudiz tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Sepertinya perempuan itu membawa pengaruh buruk. Hanya karena luka kecil saja, kita semua disalahkan. Padahal kita hanya ingin dia belajar adab."

"Ayo kembali ke pondok, Sarah," ujar Nyai Salmah dingin.

"Kita selesaikan persiapan syukuran. Biarkan saja mereka. Kita lihat sampai kapan drama luka ini berlangsung."

Keduanya pergi meninggalkan rumah sakit dengan hati yang dipenuhi rasa tidak terima, kembali ke dapur pondok untuk melanjutkan pekerjaan dengan suasana yang kaku.

Sementara itu, suasana di dalam mobil Yudiz jauh lebih tenang.

Rani bersandar di kursi penumpang, kelelahan setelah rasa perih yang hebat tadi.

Lilis duduk di kursi belakang, sesekali mengusap pundak kakak iparnya untuk memberikan dukungan.

Sesampainya di rumah mewah milik Yudiz, hari sudah beranjak malam.

Yudiz membantu Rani turun dari mobil dengan sangat hati-hati, seolah Rani adalah porselen yang mudah pecah.

"Mas, Mbak. Lilis pamit pulang ke pondok dulu ya? Lilis mau bantu-bantu lagi di sana."

Yudiz menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah adiknya.

Tidak, Lilis. Menginaplah di sini malam ini." ucap Yudiz.

Lilis mengerjap bingung. "Loh, tapi persiapan besok gimana, Mas?"

"Ada banyak santriwati senior dan Umi di sana. Mas butuh kamu di sini untuk menemani Mbak Rani. Mas tidak ingin kejadian tadi terulang kalau Mbak Rani ditinggal sendirian di rumah. Kamu bisa bantu dia ganti baju atau sekadar mengambilkan minum," jelas Yudiz dengan nada protektif.

Rani menoleh ke arah Lilis dan menganggukkan kepalanya dengan tulus.

"Iya, Lis. Temani Mbak di sini ya? Mbak agak ngeri kalau cuma berdua sama 'Singa' ini," canda Rani sambil melirik Yudiz yang masih tampak serius.

Lilis akhirnya tertawa dan mengangguk setuju.

"Siap! Lilis jadi asisten pribadi Mbak Rani malam ini!"

Mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Yudiz langsung mengarahkan Lilis untuk membantu Rani masuk ke kamar, sementara ia sendiri pergi ke dapur untuk menyiapkan air hangat dan obat-obatan yang diresepkan dokter.

Di dalam kamar, Lilis membantu Rani melepas jaket hoodie-nya dengan sangat pelan agar tidak menyenggol perban di tangannya.

"Mbak Rani hebat ya," bisik Lilis tiba-tiba.

"Hebat apanya? Jatuh di dapur dibilang hebat?" sahut Rani sambil meringis.

"Bukan itu. Mbak tetap bela acara santri padahal Mas Yudiz sudah mau membatalkannya. Kalau Lilis jadi Mbak, mungkin Lilis sudah nangis dan minta pulang ke rumah orang tua. Mbak Rani itu, punya hati yang luas, seluas sirkuit balap Mbak," ucap Lilis tulus.

Rani terdiam, matanya berkaca-kaca mendengar pujian jujur dari adik iparnya itu.

Ternyata, di tengah tekanan Nyai Salmah, masih ada cahaya kecil yang menerimanya apa adanya.

1
lin
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
my name is pho: sabar kak.
total 1 replies
lin
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!