Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota yang berkhianati
zaman dahulu, sejarah mencatat seorang pria yang berdiri di atas segalanya the Antcient Emperor. Dengan wibawa yang menggetarkan bumi, ia adalah sosok tunggal yang berhasil menyatukan empat kekaisaran besar di bawah satu panji kedamaian. Bahkan para dewa pun gemetar. Dalam pertempuran terakhirnya di batas langit, sang Kaisar berhasil memukul mundur tiga Dewa Penguasa. Dengan satu tebasan pedang yang membelah dimensi, ia memotong tangan salah satu dewa yang mencoba mencuri Mutiara Kehidupan jantung dari keseimbangan benua ini.
Ia kembali dengan langkah berat, tubuhnya yang gagah kini dipenuhi luka bakar akibat Api Abadi. Kulitnya robek, dan tulang-tulangnya terasa remuk. Di puncak gunung tertinggi, ia disambut oleh satu-satunya orang yang ia percaya murid tunggalnya, seorang pemuda yang telah ia cintai layaknya putra kandung sendiri.
"Guru... Anda berhasil," ucap si murid dengan nada takjub, matanya berbinar menatap sosok sang legenda yang bersimbah darah. "Anda tidak hanya menyatukan dunia, tapi juga menaklukkan para dewa."
Sang Kaisar terbatuk darah, namun punggungnya tetap tegak. "Walaupun tubuhku habis terbakar, walaupun kulitku dikuliti hingga tak bersisa, aku akan tetap berdiri... demi dunia ini," suaranya parau, namun mengandung kekuatan yang mampu menggetarkan jiwa siapapun yang mendengar.
Ia berbalik, menatap hamparan benua di bawah kakinya dengan tatapan penuh kasih. Ia merasa masanya telah usai dan berniat mewariskan seluruh kekuatannya kepada sang murid.
"Muridku... ketika aku sudah tidak ada lagi di dunia ini, aku ingin kau-"
SUCK!
Kata-katanya terputus oleh suara logam yang menembus daging. Sebuah belati hitam legam tertancap tepat di jantungnya dari arah belakang. Darah segar menyembur, membasahi jubah emas sang Kaisar yang sudah compang-camping.
"Guru... jika itu keinginanmu, bukankah semakin cepat lebih baik?" Bisik sang murid di telinganya. Sebuah seringai licik terpahat di wajah pemuda itu. "Sebagai murid yang patuh, aku akan segera menjalankan perintahmu... untuk mati."
"Kau... kenapa...?" Sang Kaisar terhuyung, pandangannya mulai mengabur.
"Kesalahan terbesarmu hanya satu, Guru," desis muridnya dingin saat tubuh sang Kaisar jatuh terjungkal ke dalam jurang lembah yang gelap tanpa dasar. "Kau terlalu naif. Dan di dunia ini, kenaifan adalah dosa yang tak termaafkan."
Dari balik bayangan pepohonan, sesosok pria berjubah gelap muncul dengan tawa sinis. "Luar biasa. Tidakkah kau takut dicap sebagai pengkhianat karena membunuh gurumu sendiri?"
Si murid berbalik dengan tatapan angkuh. "Ketua Sekte Iblis, jangan berpura-pura suci. Bukankah rencana ini sudah kita atur sejak awal? Sekarang, bayar janjimu."
Sepuluh Ribu Tahun Kemudian
Waktu berlalu layaknya debu yang tertiup badai. Sepuluh ribu tahun kemudian, di sebuah sudut kota yang kumuh dan dingin, hiduplah seorang bocah bernama Shang Zhi. Sejak usia tujuh tahun, hidupnya adalah tentang bertahan hidup di antara sisa-sisa makanan dan pukulan para pedagang.
Di sebuah gubuk reot yang hampir roboh, Shang Zhi masuk dengan langkah gemetar.
"Nak... dari mana kau dapat makanan ini?" tanya seorang wanita tua dengan suara yang sangat lemah. Ia terbaring di atas kain usang yang sudah berbau tanah.
"Ibu, makanlah. Tadi ada orang baik yang memberikan ini padaku," jawab Shang Zhi sambil tersenyum tulus, meskipun sudut bibirnya pecah karena pukulan. Dengan tangan kecilnya yang kotor, ia menyuapi ibunya dengan sangat hati-hati.
"Kau juga harus makan, Nak..."
"Aku sudah kenyang, Bu. Tadi aku makan banyak sekali di pasar," bohongnya.
Setelah ibunya terlelap, Shang Zhi keluar perlahan. Di bawah guyuran hujan lebat yang seolah meratapi nasibnya, ia duduk bersandar pada dinding kayu yang rapuh. Ia membuka lilitan kain di perutnya.
DUG!
Beberapa buah batu jatuh dari balik kain itu. Shang Zhi selama ini mengikat batu dengan kencang di perutnya hanya untuk menahan rasa lapar yang menyiksa agar ia tidak pingsan di depan ibunya. Ia menangis dalam diam, menggigit tangannya sendiri agar isak tangisnya tidak membangunkan sang ibu. Di bawah langit yang gelap, bocah itu akhirnya tertidur di atas tanah yang basah karena kelelahan.
Keesokan harinya, takdir mulai berputar kembali. Saat Shang Zhi sedang berlari dari kejaran pedagang yang marah, ia secara tidak sengaja menabrak seorang pria misterius berjubah hitam.
"Tuan! Tolong aku!" pinta Shang Zhi dengan nafas tersengal. Tubuhnya gemetar hebat saat para pedagang itu mengepungnya.
"Hei bocah nakal! Kau harus membayar atas apa yang kau curi!" Salah satu pedagang mencoba merenggut lengan kecil Shang Zhi, namun tiba-tiba...
Udara di sekitar mereka menjadi sedingin es.
Bersambung....