NovelToon NovelToon
Sentuhan Panas Sang Dokter

Sentuhan Panas Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Dokter / Dark Romance
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: dhya_cha7

"Jangan menghindar, Alana..."

dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.

Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.

"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Rahasia Sang Predator

Napas Alana masih naik turun seperti harga bahan pokok di negeri ini. Ia masih duduk meringkuk di bawah meja yang pengap.

Tangannya gemetar hebat memandangi kartu nama keemasan di tangannya. Matanya melebar sempurna, terkunci pada barisan huruf yang menghantam kesadarannya.

Raden Adicandra — Chief Executive Officer (CEO).

"Dok... Dokter Raden... Kamu seorang CEO?" gumam Alana lirih.

Raden, yang masih mengurung Alana di kolong meja, hanya memberikan seringai mengintimidasi. Ibu jarinya mengusap lembut bibir Alana yang memerah.

Ia menatap tajam, seolah ingin menelan gadis itu bulat-bulat tanpa nasi.

"Kenapa, hmmm? Terkejut mengetahui siapa sebenarnya pria yang membuatmu selalu kehilangan kewarasan?" bisik Raden rendah tepat di telinga Alana.

Alana ingin marah. Kalau perlu, ia ingin guling-guling sekarang juga karena merasa dibohongi. Namun, tubuhnya sudah terlalu letih untuk melayangkan protes.

Sebelum ia sempat membalas, Raden berdiri tegak. Pria itu dengan santainya merapikan jas putih miliknya, seolah tidak pernah terjadi ketegangan panas tadi.

"Keluar dari tempat persembunyianmu, Sayang. Pelan-pelan saja."

"Jangan lupa kancingkan seragammu dengan benar. Aku tidak ingin ada mata lain yang melihat apa yang seharusnya hanya milikku seorang," perintah Raden penuh otoritas.

Dengan tangan gemetar, Alana merangkak keluar. Ia segera berdiri dan berlari dengan kecepatan tinggi bak pembalap yang mengejar garis finis.

Alana berjalan setengah berlari seperti dikejar utang menumpuk. Kepalanya pening memikirkan identitas asli Dokter Raden yang di luar prediksi BMKG.

Langkahnya tiba-tiba terhenti saat sosok tinggi menghadang jalannya. Ternyata dia adalah sang Direktur rumah sakit.

"Eh, Suster Alana? Wah, kok kamu terlihat berantakan sekali? Apa Dokter Raden yang dingin itu memberimu tugas yang sangat berat?" tanya Direktur meremehkan.

Alana menunduk dalam, menyembunyikan tanda merah di lehernya. "S-saya permisi dulu, Pak," ucapnya terbata-bata.

"Eh... tunggu dulu. Kenapa buru-buru?" Pak Direktur menghalangi jalan Alana sambil memutar-mutar kunci mobil mewahnya.

"Saran saya, lebih baik kamu jadi asisten pribadi di rumah sakit pusat. Dokter Raden itu tidak punya masa depan selain tumpukan resep. Dia cuma dokter spesialis biasa yang galak."

Alana menggerutu dalam hati. Direktur resek! Anda belum tahu saja kalau orang yang Anda remehkan adalah CEO Adicandra Group!

Alana segera pergi begitu pintu lift terbuka. Di dalam lift yang sepi, ia menyandarkan punggungnya ke dinding yang dingin.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin; rambutnya seperti habis kena badai dan bibirnya sedikit bengkak.

"Dasar CEO setengah gila... ada gitu bos yang menghukum asistennya kayak gitu," umpatnya kesal.

Begitu sampai di luar, Alana segera mencari angkutan umum. Ia butuh udara segar untuk mengusir ingatan panas di kepalanya.

Begitu sampai di luar, Alana segera mencari angkutan umum. Ia butuh udara segar untuk mengusir ingatan panas di kepalanya.

Tak butuh waktu lama, sebuah angkot berhenti. Alana masuk dan duduk menyendiri di pojokan.

Sepanjang perjalanan ia hanya melamun, mengabaikan tatapan aneh dari penumpang lain karena penampilannya yang berantakan.

Sesampainya di rumah, Alana membuka pintu dengan wajah ditekuk. Ia berharap bisa langsung tidur tanpa drama lagi.

Namun, langkahnya terhenti karena pemandangan ajaib di ruang tamu.

Ayahnya berdiri di depan cermin mengenakan daster bermotif bunga milik mendiang ibunya yang disampirkan di bahu layaknya jubah pahlawan.

"Alana, stop Sayang! Jangan mendekat, area ini sedang dalam pengaruh kejahatan!" teriak Ayah dengan pose waspada.

Alana melongo. "Hhhhh... Ayah, kenapa daster Ibu dijadikan jubah begitu?"

"Ini jubah kebesaran dari seorang pahlawan yang kesepian! Ayah lagi medutasi!"

"Meditasi kali, Yah!" ralat Alana sambil menepuk jidat.

"Beda dong! Medutasi itu... Mending Tunggu Nasi! Ayah sudah lapar tapi nasinya belum matang," ucap Ayah serius.

Alana akhirnya tertawa lepas. Tingkah konyol ayahnya memang selalu menjadi obat penawar terbaik.

Setelah bersih-bersih, Alana masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya yang remuk.

Ia menatap langit-langit kamar sambil memutar kembali kejadian gila hari ini.

Kartu nama emas itu diletakkannya di meja samping tempat tidur; seolah benda itu adalah bom yang siap meledak sewaktu-waktu.

"Besok pasti akan lebih berat dari hari ini," gumamnya sebelum akhirnya terlelap karena kelelahan luar biasa.

Keesokan Harinya

Alana melangkah masuk ke lobi RS. Suasana terasa berbeda; ramai dengan bisik-bisik rekan kerja.

Suster Dewi dan Suster Rina mendadak menghadang dan menarik tangan Alana menuju mading pengumuman.

"Lan! Lihat ini! Katanya semua pegawai yang terpilih wajib datang ke Grand Diamond Ballroom Sabtu besok!" ucap Dewi berbinar.

"CEO baru itu akan hadir secara resmi. Kita harus tampil maksimal, siapa tahu dia melirik kita," Rina menimpali heboh.

Alana terdiam. Kalian tidak tahu saja kalau CEO itu sudah memperkenalkan dirinya kepadaku dengan cara yang sangat tidak sopan...

Saat berjalan menuju bangsal, ia berpapasan dengan Dokter Raden. Pria itu tampak dikerumuni jajaran direktur dan dokter senior yang sibuk menjilat.

Raden tidak menggubrisnya. Ia melangkah dengan wajah dingin, seolah Alana hanyalah perawat biasa yang tidak ia kenal.

Namun, saat bahu mereka bersisihan, tangan Raden bergerak secepat kilat—menjatuhkan sebuah catatan kecil tepat di dekat kaki Alana.

Alana segera memungut kertas itu dengan tangan gemetar. Tulisan tangan yang tegas itu terbaca jelas:

"Siapkan dirimu untuk Malam Penghargaan itu, Sayang. Jangan sampai kamu memakai gaun yang terlalu terbuka, atau aku akan menghukummu lebih lama di hotel nanti... Calon tunanganku."

Alana hampir saja kehilangan keseimbangan. Dunia seolah berhenti berputar saat matanya terpaku pada dua kata terakhir itu.

******

Catatan Penulis:

Waduh! Baru juga tahu kalau Dokter Raden itu ternyata CEO, sekarang Alana malah langsung diklaim jadi calon tunangan! 😱

Gimana menurut kalian? Raden ini tipenya sat-set banget ya, benar-benar nggak kasih napas buat Alana.

Kira-kira Alana bakal berani kabur atau malah pasrah aja nih di acara Grand Diamond Ballroom nanti?

Jangan lupa tinggalkan jejak lewat Like, Komen, dan Vote ya! Dukungan kalian semangatku buat lanjut ke bab denda selanjutnya! ❤️

1
Rikawaii San
ceritanya bagusss
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
lawan mereka Alana jangan takit💪🤗
julid banget jadi perawat
bagus Alana 😍lawan suster julid itu
mangkanya jangan mabuk alana😍🤣
😄🤭
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya yaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya nyaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat plot twist ygu
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
plisss uppp lagiii
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat sangat plot twist sekali yaa😍
muna aprilia
lanjut
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia gak ada kapok kapok nya yaa😤😤😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ku pikir ibu nya benaran meninggal ternyata oh ternyata 😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
hahahaahhahah😄😄😄😄
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia benar benar menyebalkan😤😏
dhya_cha7: "Hahhaha.. iya bener banget nih, Suster Mia emang hobinya jadi obat nyamuk ya! 😂 Eh iya, aku juga mau ngucapin terima kasih banyak buat gift kopinya, hehehe lumayan banget buat asupan tenaga buat ngadepin dr. Raden yang makin nakal di bab depan. Stay tune terus ya, Kak!! ❤️🔥"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya bagus seru lagi
dhya_cha7: "Makasih ya sudah baca! Itu baru pemanasan loh, bab ke depannya bakal makin seru dan panas. Jadi, stay tune terus ya bareng dr. Raden! 🔥❤️"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!