Vallerie tidak pernah menyangka bahwa menutup mata setelah membaca bab terakhir sebuah novel akan membawanya terbangun di tubuh seorang figuran dengan nama yang sama. Namun, ia tidak punya waktu untuk bingung. Sebilah belati tak kasat mata kini tergantung di atas kepala sahabatnya, sang Antagonis, yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Protagonis Pria demi membalas dendam kekasihnya
Demi mengubah naskah kematian tersebut, Vallerie harus memainkan peran yang berbahaya. Di mata dunia, ia adalah kaki tangan yang setia, ikut tertawa saat sang antagonis merencanakan kejahatan, dan terlihat sama busuknya. Namun, di balik bayang-bayang, Vallerie-lah yang diam-diam memotong tali jebakan, dan memastikan rencana jahat sahabatnya selalu gagal .
Berada di antara pedang Protagonis Pria dan obsesi gelap sahabatnya sendiri, satu-satunya teman bicara Vallerie hanyalah sebuah Sistem super cerewet dan berisik di dalam kepalanya. Terkadang Vallerie merasa kesal, tapi hanya dia yang bisa membantu V
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api yang membara
Di perjalanan pulang, Eleanor terus menatap Vallerie yang tengah mengemudi. Dia masih penasaran dengan hubungan Vallerie dengan Victor. Kenapa mereka bisa terlihat dekat? Padahal seingatnya, mereka baru beberapa kali bertemu.
"Aku tahu kalau aku cantik, tidak usah menatapku terlalu lama," ucap Vallerie tiba-tiba, matanya masih fokus pada jalanan di hadapannya.
Eleanor yang mendengar itu bergidik ngeri dan segera mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
"Kamu terlihat dekat dengan Kak Victor," ucap Eleanor kemudian.
Vallerie mengangguk. "Sebenarnya belum sedekat itu, aku hanya penasaran dengannya."
"Penasaran?" tanya Eleanor yang dijawab anggukan oleh Vallerie.
"Ya. Dia terlihat berbeda, sulit ditebak. Maka dari itu aku penasaran," jawab Vallerie. Tentu saja ucapannya itu bohong. Dia sebenarnya tidak peduli dengan Victor. Namun, karena sistem memintanya mendekati pria itu, ia terpaksa menjalankan misi tersebut.
Eleanor hanya mengangguk mengerti. "Sudahlah. Tapi aku mendukungmu dengannya."
"Benarkah? Bagaimana dengan tunanganmu?" Tanya Vallerie. Kalimat itu meluncur seperti belati, membuat suasana di dalam mobil seketika membeku.
"Ma-maksudnya?" Eleanor terbata, jemarinya meremas tali tasnya dengan gelisah.
"Kalau aku berhubungan dengannya bagaimana?"
Eleanor terdiam cukup lama. Dia menatap Vallerie sekilas lalu kembali menghadap jalanan. "Sebenarnya tidak masalah, lagipula aku hanya mencintai Dominic. Tapi, kalau kamu dengan Vernandes, pasti banyak yang tidak suka karena semua orang tahu dia tunanganku," jelas Eleanor.
Vallerie tertawa sedikit keras, membuat Eleanor menatapnya dengan heran.
"Apa sih, Elea? Aku hanya bercanda. Tidak mungkin aku merebut tunanganmu," ucap Vallerie sembari meredakan tawanya.
"Kalau pun kamu suka padanya, aku tidak masalah, Val. Dia cukup baik kok. Tapi nanti aku tidak mau kamu dicap buruk oleh semua orang."
Vallerie mengangguk kecil. Benarkah dia mengkhawatirkanku? Jadi Eleanor memang tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Vernandes? batinnya.
[Tuan Putri, sepertinya Eleanor sedikit sedih. Apa karena dia membayangkanmu dengan tunangannya?]
Vallerie melirik Eleanor yang diam menatap jalanan. Kalau Eleanor sedih, bisa jadi dia sedikit memiliki rasa pada Vernandes, kan? Lalu Dominic bagaimana? Bukannya dari dulu Eleanor mencintai Dominic? Ah, semua ini membuat kepala Vallerie rasanya ingin pecah.
[Aku sudah menduga ini, Tuan Putri. Eleanor bukan menyukai Vernandes, tapi dia hanya takut kamu merebut perhatian orang yang awalnya adalah miliknya.]
Mendengar itu, Vallerie meremas setir mobil sedikit kuat. Eleanor ini maruk sekali, pantas saja dia menjadi antagonis di cerita aslinya, gumam Vallerie dalam hati.
"Kamu tenang saja, Elea. Aku tidak semudah itu tertarik pada seseorang. Kamu tahu sendiri, aku sulit untuk jatuh cinta," ucap Vallerie.
Vallerie di dunia asli hanya mencintai satu orang yang sudah pergi dari hidupnya. Sedangkan Vallerie di dunia ini tidak percaya cinta karena keretakan rumah tangga orang tuanya. Jadi sama saja, kan? Mereka berdua sama-sama tidak mudah jatuh cinta.
"Aku tahu. Tapi hidup ini butuh cinta, Val. Lebih baik kamu cari cintamu."
Vallerie terkekeh kecil. "Elea? Kamu masih bisa bilang hidup butuh cinta setelah cintamu gagal?"
Ucapan Vallerie membungkam mulut Eleanor. Benar saja, selama ini dia mengejar cinta, tapi cintanya terus berlari menjauh.
"Ada yang namanya usaha, kan, Val? Kalau aku berusaha sedikit lagi, mungkin saja aku mendapatkan cinta itu," ucap Eleanor mencoba membela diri.
Vallerie mengangguk membenarkan. "Ya, bisa saja itu terjadi. Tapi kalau tidak? Apa kamu akan menjadi gila? Atau bunuh diri?" ucap Vallerie tak mau kalah.
Lagi-lagi Eleanor bungkam, tidak tahu harus menjawab apa.
"Hidup memang butuh cinta, Elea. Tapi akan lebih baik bukan kita yang mencintai, melainkan dia yang mencintai kita. Dengan begitu, kita tidak akan terluka."
Eleanor diam mencerna logika Vallerie. Memang akan lebih baik kalau dicintai. Tapi, meskipun kita tidak terluka, bisa jadi pihak lain yang terluka karena kita tidak membalas perasaannya. Jadi, bukankah lebih baik saling mencintai saja?
"Aku membenarkan ucapanmu, Val. Tapi menurutku, agar kita sama-sama tidak saling menyakiti, akan lebih baik jika saling mencintai, kan? Makanya aku akan berusaha sedikit lagi. Kalau gagal lagi, baru aku akan betul-betul menyerah."
Vallerie mengangguk sambil memutar setir mobilnya memasuki lobby Apartemen. Dia tidak mau ambil pusing lagi. Beruntung dia tidak memiliki rasa suka maupun cinta pada siapa pun di dunia ini. Cinta hanya membuat hati tidak tenang. Vallerie tidak mau pergerakannya terhambat karena cinta yang toxic.
Vallerie tidak butuh cinta. Buat apa saling mencintai atau menyayangi kalau ujungnya berpisah? Dia tidak mau berakhir ditinggalkan lagi.
★★★
Vallerie menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil sambil melangkah menuju pintu. Suara bel yang ditekan berulang kali membuatnya berdecak kesal. Siapa yang bertamu malam-malam begini? Pikirnya. Begitu pintu terbuka, matanya membulat sempurna.
Vernandes berdiri di sana dengan gaya santai, satu tangannya masuk ke saku celana kainnya, sementara tangan lainnya memegang sebuah kotak beludru kecil.
"Kamu? Bagaimana bisa tahu alamatku?" tanya Vallerie ketus, ia merapatkan kimono mandinya yang sedikit longgar.
Vernandes hanya menaikkan sebelah alisnya, seringai tipis muncul di wajah tampannya. "Tidak ada yang sulit bagiku, Vallerie. Apalagi mencari alamat kekasihku." Ia melangkah masuk begitu saja tanpa menunggu izin, membuat Vallerie terpaksa mundur dan menutup pintu.
"Kekasih pura-pura."sambung Vallerie yang tidak di tanggapi oleh Vernandes.
Vallerie mengikuti langkah Vernandes dengan jantung berdegup kencang, bukan karena pesona Vernandes, melainkan karena ia teringat Victor. Pria itu sama seperti nya, seringkali muncul tiba-tiba di balkonnya. Jika Victor ada di sekitar sini sekarang dan melihat Vernandes, suasana pasti akan menjadi kacau.
Namun, sedetik kemudian, sebuah ide gila terlintas di benak Vallerie. Kalau Victor melihat ini, bukankah itu bagus? Biarkan dia tahu kalau dia bukan satu-satunya pria yang bisa masuk ke tempatku.
"Ada urusan apa malam-malam begini?" Vallerie melipat tangannya di dada, mencoba tetap terlihat tenang meski rambutnya masih berantakan.
Vernandes mendekat, aroma parfum yang mahal menguar dari tubuhnya. Ia meletakkan kotak beludru itu di atas meja kerja Vallerie. "Orang tua ku mengundang mu, untuk makan malam dirumah ku. Mereka mau lihat seperti apa wanita yang mampu mengambil isi hatiku itu, hingga mau memutus hubungan dengan Eleanor."
Vallerie memutar bola matanya, lalu melirik kotak yang dibawa Vernandes, lalu kembali menatap Vernandes. "Kamu bisa menghubungi ku, tidak perlu datang ke sini."
"Aku lebih suka bicara langsung. Aku juga ingin memastikan kamu tidak berubah pikiran," balas Vernandes dengan suara rendah. Ia menatap Vallerie lekat-lekat, dari ujung kepala hingga kaki yang hanya tertutup jubah mandi. "Hari ini... Kamu berbeda."
"Kenapa? Lebih cantik?"jawab Vallerie asal yang malah di angguki Vernandes.
"Tidak hanya cantik, lebih menggoda juga."
Vallerie baru saja akan membalas, namun indra pendengarannya menangkap suara gesekan halus dari arah balkon. Ia tahu suara itu. Itu suara gesekan sepatu di lantai keramik. Sepertinya Victor sudah melompat ke balkon nya.
Sebuah seringai licik muncul di bibir Vallerie. Ia sengaja melangkah lebih dekat ke arah Vernandes, hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Ia mendongak, menatap mata Vernandes dengan tatapan yang sengaja dibuat lembut.
"Begitukah? Jadi kamu terpesona?" bisik Vallerie pelan, cukup untuk didengar oleh seseorang yang bersembunyi di balik tirai balkon.
Vernandes tampak sedikit terkejut dengan perubahan sikap Vallerie yang tiba-tiba, namun ia tidak peduli. Tangannya terangkat, menyentuh helai rambut Vallerie yang masih lembap.
"Mungkin saja,"jawabnya.
Di balik tirai gelap yang tertiup angin malam, sepasang mata tajam milik Victor mengamati setiap gerakan mereka. Rahangnya mengeras, dan tangan yang biasanya tenang kini mengepal kuat hingga buku jarinya memutih.
Vallerie melirik sekilas ke arah tirai yang bergerak sedikit, ia tahu pancingannya berhasil. Ia meletakkan telapak tangannya di dada Vernandes, merasakan detak jantung pria itu.
"Benar kah? Aku jadi tersanjung." ucap Vallerie.
[Ding! Tuan Putri! Sepertinya Victor sangat marah? Kamu yakin ingin membuatnya cemburu? Tidak akan jadi masalah nantinya?]
Vallerie hampir saja tertawa mendengar suara sistem yang panik di kepalanya. Bagus. Biarkan Victor merasakan sedikit rasa panas, itu bagus untuk terus menarik Victor ke dalam hidupnya.