Nayla hidup dalam pernikahan penuh luka, suami tempramental, mertua galak, dan rumah yang tak pernah memberinya kehangatan. Hingga suatu malam, sebuah kecelakaan merenggut tubuhnya… namun tidak jiwanya.
Ketika Nayla membuka mata, ia terbangun di tubuh wanita lain, Arlena Wijaya, istri seorang pengusaha muda kaya raya. Rumah megah, kamar mewah, perhatian yang tulus… dan seorang suami bernama Davin Wijaya, pria hangat yang memperlakukannya seolah ia adalah dunia.
Davin mengira istrinya mengalami gegar otak setelah jatuh dari tangga, hingga tidak sadar bahwa “Arlena” kini adalah jiwa lain yang ketakutan.
Namun kejutan terbesar datang ketika Nayla mengetahui bahwa Arlena sudah memiliki seorang putra berusia empat tahun, Zavier anak manis yang langsung memanggilnya Mama dan mencuri hatinya sejak pandangan pertama.
Nayla bingung, haruskah tetap menjadi Arlena yang hidup penuh cinta, atau mencari jalan untuk kembali menjadi Nayla..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Nayla kembali teringat dengan kejadian tadi saat Nayla hendak pulang dari Mall.
Di antara keramaian dan cahaya lampu, Nayla melihat sosok yang membuat dadanya menegang, yaitu Rama.
Nayla sangat ingat. Pria itu berjalan santai bersama keluarga barunya. Maria Sari di sisinya, tangan mereka saling bertaut. Di depan mereka, anak tiri Rama tertawa lepas, diperlakukan penuh perhatian, seperti ayah ideal yang dulu Nayla dambakan.
Ada nyeri singkat menyayat dada Nayla.
Namun nyeri itu tidak menjatuhkannya.
Sebaliknya, sesuatu bangkit.
"Jadi begini hidupmu setelah menghilang, dan pura-pura mati." batin Nayla dingin.
"Bahagia… tanpa menoleh ke belakang." kata Nayla lagi.
Untuk sesaat, mimpi semalam, tentang Arlena yang diam, lenyap dari kepala Nayla, Wajah Rama mengisi ruang pikirannya, menyalakan kembali api yang sempat meredup.
Nayla mengepalkan tangan pelan.
"Tenang." kata Nayla pada dirinya sendiri.
"Aku tidak akan menyerang. Aku hanya akan memperlihatkan kebenaran." Nayla berjanji dalam hati. Bukan untuk menghancurkan,
melainkan untuk menagih keberanian, keberanian Rama menghadapi masa lalunya.
Malam harinya, di rumah Arlena, suasana terasa lebih hangat. Davin baru saja pulang ketika Arlena menyambutnya dengan secangkir teh.
“Mas,” kata Arlena santai, sambil menyerahkan teh yang dia bawa untuk suaminya, Davin menerima pemberian istrinya dengan senyum yang begitu menawan.
"Mas, acara gala amal yayasan minggu depan… biasanya kegiatannya apa saja?” tanya Arlena mencoba mencari informasi.
Davin tersenyum. “Makan malam, lelang amal, sambutan singkat. Banyak tamu. Donatur, relasi bisnis. Kadang mereka datang dengan keluarga.” jawab Davin dengan senyum yang tidak hilang dari wajahnya, dan kalau dipaksa untuk jujur, Nayla sangat terpesona dengan Davin.
Arlena mengangguk, mencatat dalam kepala.
“Kalau membawa orang tua sebagai pendamping, bisa kan mas?” tanya Arlena lagi.
“Bisa..,” jawab Davin tanpa curiga. “Kenapa?” tanya Davin.
“Tidak apa-apa,” Arlena tersenyum kecil. “Aku ingin Bu Farida ikut. Biar beliau senang.”
Davin mengangguk setuju. “Tentu. Aku senang kamu memikirkan itu dan sebaiknya segera kasih tahu bu Farida, biar beliau siap.”
Arlena menunduk, menyembunyikan kilat tekad di matanya. Di dalam dirinya, Nayla menyusun potongan rencana, tenang, rapi, tidak sengaja.
Gala amal. Keramaian. Pertemuan yang tidak bisa dihindari.
"Ayah." batin Nayla mantap,
"kali ini aku tidak akan mengejarmu. Aku akan berdiri di tempat yang terang, dan membiarkan kamu melihat sendiri siapa yang kamu tinggalkan." kata Nayla didalam hati.
Arlena datang ke rumah Bu Farida menjelang sore, membawa senyum hangat yang sengaja ia latih sepanjang perjalanan. Nayla tahu, ibunya tidak terbiasa dengan undangan semacam ini, gala amal terdengar terlalu mewah untuk kehidupan Farida yang sederhana.
“Ada acara makan malam amal,” jelas Arlena pelan, duduk di hadapan Farida. “Tidak ribet, Bu. Hanya duduk, makan, dan mendengarkan sambutan. Banyak orang datang bersama keluarga.”
Farida tampak ragu. “Ibu tidak cocok di tempat seperti itu.”
“Cocok,” Arlena menggenggam tangan ibu Farida. “Ibu datang sebagai tamu kehormatan aku bu.” Arlena masih berusaha merayu Farida.
Kata kehormatan membuat mata Farida berkaca-kaca. Setelah beberapa detik hening, Farida mengangguk. “Baiklah. Ibu ikut.”
Di dalam dada Arlena, Nayla bersorak kecil. Bukan karena rencana yang semakin dekat, melainkan karena ibunya bersedia melangkah ke dunia yang selama ini terasa tertutup baginya.
Dalam perjalanan pulang, Arlena memutuskan mampir ke salon. Sebagai bentuk terima kasih pada Davin, dan, jujur saja, sebagai hadiah untuk dirinya sendiri.
Arlena membiarkan rambutnya dirawat, kulitnya dipijat lembut, tubuhnya dimanjakan. Untuk pertama kalinya, Nayla merasakan kemewahan tanpa rasa bersalah, namun juga tanpa rasa memiliki sepenuhnya.
"Uang Davin. Tubuh Arlena. Jiwaku." gumam Nayla dalam hati.
Pantulan di cermin menatapnya kembali, seorang istri sah yang tampak sempurna. Namun di balik tatapan itu, Nayla merasa berada di batas abu-abu yang tidak pernah ia bayangkan.
Hubungannya dengan Davin masih menjadi tanda tanya, "apa sebenarnya?" itulah yang ada di pikiran Nayla.
Di atas kertas, Davin adalah suami Arlena.
Di kenyataan batin, Nayla hadir, merasakan perhatian, perlindungan, dan kehangatan yang dulu tak pernah Nayla miliki.
Bukan selingkuhan. Namun juga bukan sepenuhnya istri.
Nayla menarik napas panjang.
"Mungkin aku tidak perlu memberi nama pada semuanya." pikir Nayla. "Yang penting, aku tidak melukai siapa pun." kata Nayla lagi.
Saat keluar dari salon, Arlena tersenyum tipis. "Malam ini ia akan pulang sebagai istri yang lebih lembut, bukan untuk membohongi, tapi untuk menikmati milik Arlena." kata Nayla yang tiba-tiba tersenyum sendiri merasa berdosa.
Nayla tahu semakin dekat hari gala amal itu tiba, semakin Nayla sadar, bukan hanya Rama yang akan diuji. Dirinya juga. Dan juga ibunya, dan Nayla harus siap dengan semua yang dia lakukan.
Arlena sampai dirumah sebelum suaminya pulang, dan memang tadi Davin memberi kabar kalau pulang terlambat.
Arlena menemui Xavier terlebih dahulu dan setelah bertemu anaknya, Nayla izin ganti baju.
Nayla merasa tubuhnya sangat wangi, karena tadi baru saja melakukan perawatan yang entah apa namanya, dan bahkan dengan gilanya, Nayla melakukan perawatan ritus untuk kewanitaan bahkan Nayla memesan paket perawatan pengantin, entah apa yang dilakukan Nayla, tapi ya intinya Nayla ingin menyenangkan suaminya. Suami Arlena tepatnya.
Nayla menemani Xavier sampai anak itu terlelap, ada pesan dari Davin kalau dia akan sampai di rumah sekitar pukul sepuluh malam.
Pukul sembilan malam Nayla pindah dari kamarnya Xavier dan ke kamarnya sendiri. Nayla mencoba mencari baju yang pas untuk menyambut suaminya pulang, Nayla hanya ingin mengucapkan terima kasih, karena Davin sudah membantu Nayla untuk urusan Edo, dan kali ini untuk urusan Rama.
Pilihan Nayla jatuh ke pakaian berwarna merah menyala, meskipun agak memalukan tapi Nayla akan mencobanya. Tidak lupa Nayla memakai lipstik tipis supaya tidak terlihat begitu pucat.
suara mobil Davin terdengar, Arlena langsung naik ke atas ranjang dan mengambil posisi duduk sambil pura-pura membaca buku, padahal itu hanya posisi pura-pura saja, karena Arlena mau langsung menyambut suaminya merasa malu.
Davin sendiri merasa sangat lelah, pekerjaannya hari ini seperti memakan banyak tenaga, bahkan harus lembur hanya demi mendapatkan proyek besar yang Davin inginkan.
Davin membuka pintu kamar perlahan, Davin takut istrinya terbangun, tadi Davin sudah mengirim pesan ke Arlena untuk istirahat lebih dulu.
Namun, saat pintu terbuka, Davin menelan ludahnya sendiri. Melihat istrinya diatas ranjang dan menggunakan pakaian yang menurut Davin menantang. Davin ingat, pakaian yang dipakai Arlena adalah hadiah dari ibunya dan Arlena marah-marah saat tahu Ayu memberikan pakaian seperti itu, dan pakaian itu tersimpan didalam lemari tanpa Arlena berniat memakainya.
Namun malam ini, Davin melihat Arlena menggunakan pakaian itu. Rasa lelah yang tadi ada di pundak Davin, secara instan langsung hilang.
Davin berjalan perlahan dan menutup pintu. Arlena sendiri turun dari ranjang dan mendekat ke arah Davin, meraih jas yang dipegang oleh Davin dan Arlena melepas dasi yang digunakan oleh Davin
"Mas sudah makan?" tanya Arlena yang terdengar begitu seksi di telinga Davin.
"Sudah." jawab Davin sambil menelan ludah.
"Mas mandi dulu." kata Davin yang kemudian masuk ke kamar mandi.
Nayla sendiri tertawa melihat raut wajah Davin, "Apa iya Arlena tidak pernah menggoda suaminya? Muka Davin kayak kaget begitu?" Nayla bertanya-tanya didalam hati, dan kemudian memilih duduk di sofa, menunggu suaminya selesai mandi.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Davin menetralkan debaran dadanya, sungguh Davin baru kali ini melihat istrinya begitu menantang.
"Dia yang memulai duluan, jangan salahkan aku kalau dia kewalahan." kata Davin yang memutuskan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.