Dilarang memplagiat karya!
"Pernikahan kontrak yang akan kita jalani mencakup batasan dan durasi. Nggak ada cinta, nggak ada tuntutan di luar kontrak yang nanti kita sepakati. Lo setuju, Aluna?"
"Ya. Aku setuju, Kak Ryu."
"Bersiaplah menjadi Nyonya Mahesa. Besok pagi, Lo siapin semua dokumen. Satu minggu lagi kita menikah."
Aluna merasa teramat hancur ketika mendapati pria yang dicinta berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Tak hanya meninggalkan luka, pengkhianatan itu juga menjatuhkan harga diri Aluna di mata keluarga besarnya.
Tepat di puncak keterpurukannya, tawaran gila datang dari sosok yang disegani di kampus, Ryuga Mahesa--Sang Presiden Mahasiswa.
Ryuga menawarkan pernikahan mendadak--perjanjian kontrak dengan tujuan yang tidak diketahui pasti oleh Aluna.
Aluna yang terdesak untuk menyelamatkan harga diri serta kehormatan keluarganya, terpaksa menerima tawaran itu dan bersedia memainkan sandiwara cinta bersama Ryuga dengan menyandang gelar Istri Presiden Mahasiswa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28 Hasutan
Happy reading
Malam yang dinanti tiba.
Ribuan tamu hadir bergantian di Hotel Mahesa sesuai jam yang tertera di undangan, tak terkecuali Aksara. Pemuda berkaca mata itu benar-benar datang memenuhi undangan Ryuga, bersama seluruh anggota BEM dan rekan-rekan 'Cakrawala Media'.
Rosa sengaja menggelar pesta resepsi pernikahan Ryuga dan Aluna secara besar-besaran. Jauh dari rencana keluarga besannya.
Bukan untuk menyombongkan kekayaan keluarga Mahesa, melainkan untuk menampar orang-orang yang telah mengkhianati sekaligus mencaci sang menantu--Aluna Kirana.
Baskara hadir bersama kedua orang tuanya. Begitu juga Tifany.
Bukannya merasa tertampar, mereka malah berpikiran negatif tentang Aluna.
Menuduh gadis malang itu menggunakan jampi-jampi dan sengaja menggaet Ryuga demi menjadi bagian dari salah satu keluarga terkaya di kota ini--keluarga Mahesa.
"Selamat ya, Lun. Kamu berhasil menggaet Sang Presma setelah dicampakkan oleh Baskara. Aku yakin, sebentar lagi dia pun mencampakkan-mu. Tentunya, setelah dia sadar ... kamu cuma barang bekas." Tifany tersenyum miring. Sengaja mengeraskan suara, agar terdengar oleh Ryuga. Dengan tujuan memancing kemarahan Sang Presma dan berharap Aluna kembali dicampakkan.
Aluna berusaha untuk tetap tenang. Tahan emosi meski bibir ingin memaki, karena saat ini bukan waktunya untuk meladeni omongan orang gila.
Berbeda dengan Ryuga. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal kuat.
Andai Tifany bukan seorang wanita, pasti sudah mendapat hukuman cantik dari Ryuga berupa tinjuan maut atau bogem mentah.
Setelah Tifany puas memuntahkan kata-kata sampah, Baskara turut mengucap kata selamat.
Bukan kata selamat yang disisipi doa tulus, tapi disisipi cemoohan dan hasutan.
"Selamat untuk pernikahan kalian. Semoga pamor mu nggak redup setelah memungut barang bekas yang sudah aku buang." Baskara berbisik--tepat di telinga Ryuga.
Rahang Ryuga kian mengeras.
Amarah tak lagi bisa dibendung dan siap diluapkan.
"Sekali lagi lo ngucapin omongan sampah dan ngrendahin istri gue, beneran habis lo di tangan gue," ujarnya datar. Namun penuh penekanan.
Baskara tersenyum miring dan kembali berbisik. "Kenyataannya, Aluna memang barang bekas yang sudah aku pakai selama tiga tahun. Dan kamu, cuma dapat sepahan --"
Tinjuan keras mendarat cantik di pipi Baskara sebelum ucapannya sempat berlanjut.
Darah mengalir dari lubang hidung, mengiringi wajah yang terhempas ke samping.
Semua atensi para tamu undangan tertuju pada satu titik. Panggung pelaminan yang mempertontonkan adegan tak biasa di acara pesta resepsi pernikahan.
"Lo beneran mau gue habisi?" Ryuga melayangkan tatapan menghunus. Tangannya mencengkram kuat kerah kemeja yang dikenakan oleh Baskara. Abaikan suara riuh para tamu undangan.
"A-aku --"
"Kak, sudah." Aluna mengusap lembut lengan Ryuga--berusaha tenangkan suaminya yang tengah dikuasai amarah.
Dua wedding security guards bergegas datang menghampiri untuk mengambil alih Baskara dari cengkraman tangan Ryuga. Namun Xavier mendahului dan meminta dua petugas keamanan itu menjauh.
"Lo lupa sama ancaman gue?" Xavier mencengkram leher Baskara dan menatap nyalang. Suaranya terdengar menggelegar sekaligus mengerikan. Siratkan ancaman yang tak main-main.
"Malam ini, gue bakal sebar vidio gan-cet lo sama Tifany di sosmed. Biar seluruh dunia tau, lo sama Tifany ... makhluk paling menjijikkan yang patut dihujani makian."
"Ja-jangan! A-aku minta maaf. A-aku cu-cuma be-belum rela pisah sama Aluna. A-aku jan-ji nggak bakal ngulangi la-lagi," ucap Baskara--terbata. Ketakutannya sampai di ubun-ubun, hingga seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Baskara takut sekaligus malu jika vidio yang mempertontonkan aibnya saat bersetu-buh dengan Tifany tersebar luas di media sosial.
"Harusnya lo minta maaf sama Aluna dan Ryuga, bukan ke gue. Bilang ke semua tamu undangan, kalau lo sama Tifany--dua manusia sampah yang sengaja mo ngerusak pesta!" Nada suara Xavier kian meninggi. Bergema--memenuhi seisi ruang. Memekakkan telinga dua pendosa--Baskara dan Tifany.
Usai mengucap kalimat itu, Xavier menghempas tubuh Baskara, hingga tersungkur di bawah kaki Aluna.
"Ma-maafin aku, Luna ... Ryuga. A-aku berjanji nggak akan mengganggu kalian lagi. A-aku benar-benar minta maaf."
Aluna bungkam. Sepasang mata indahnya menatap nanar.
Benci.
Aluna sangat membenci sang mantan kekasih yang telah melakukan kesalahan besar dan sulit untuk terampuni. Berkhianat, mencaci, mene-lanjangi harga diri, dan menghasut Ryuga.
Sama seperti Aluna. Ryuga pun bungkam. Otaknya terhasut. Ragukan kesucian yang masih terjaga.
Malam yang seharusnya bertabur kebahagiaan, malah mencipta lara dan kecewa.
Skeptis, sangsi.
Dua kata itu kembali hadir--membelenggu.
🍁🍁🍁
Bersambung
Yang setitik itu terkadang yg sangat frontal
spil tipis² Bu..🤭
kalau saja ada pegawai desaku yg ikut baca..🤭🤭