Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Jangan tinggalkan aku
Hu Lian menarik nafas dalam untuk menenangkan diri, kemudian mengambil ponselnya dan segera menelpon manajer apartemen untuk meminta kunci cadangan apartemen nomor 022—rumah Bai Xuning yang berada tepat bersebelahan dengan miliknya.
Butuh sekitar 10 menit hingga manajer datang dengan membawa kunci di tangannya. Saat dia keluar dari lift dan melihat Hu Lian yang sudah menunggu di depan pintu 022, wajahnya menunjukkan rasa penasaran.
"Nona, apakah Anda kehilangan kunci lagi?" tanyanya dengan suara ramah namun sedikit bingung.
"Tidak," jawab Hu Lian dengan tegas, menjulurkan tangannya. "Berikan kunci 022 padaku..."
Manajer agak ragu dan mulai menggerutu sedikit. "...Maaf Nona, menerobos masuk ke ruang pribadi seseorang itu tidak diizinkan dan bahkan bisa dianggap ilegal—"
Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Hu Lian segera memotongnya dengan nada yang pasti. ".....Suamiku sedang mengamuk dan mengunci diri di dalam rumahnya, jadi ini sangat sah!"
Ucapnya dengan cepat sambil langsung mengambil kunci dari tangan manajer yang masih tercengang.
"......" Manajer hanya bisa menatapnya dengan ekspresi tidak percaya, berpikir dalam hati mengapa pasangan suami istri justru menyewa dua apartemen yang bersebelahan dan bahkan harus menggunakan kunci cadangan untuk bertemu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, dia segera berbalik dan pergi dengan cepat, tidak ingin terlibat dalam urusan pribadi mereka.
Setelah manajer pergi, Hu Lian mengambil napas dalam sekali sebelum memasukkan kunci ke dalam lubang pintu dan memutarnya perlahan.
Saat pintu terbuka, Hu Lian langsung melihat bahwa ruang tamu sudah berantakan—bantal terlempar ke lantai, buku dan kertas berserakan, bahkan beberapa barang dekoratif terjatuh dan pecah di sudut ruangan.
Tanpa ragu lagi, dia menutup pintu di belakangnya dan berjalan dengan cepat mencari Bai Xuning, langsung menuju arah kamar tidur dan kamar mandinya.
Kamar tidur juga tidak jauh berbeda—kasur terbalik, lemari terbuka dengan baju-baju yang menyebar di mana-mana seolah-olah dipaksa keluar.
Setiap ruangan memang kedap suara, jadi Hu Lian sama sekali tidak mendengar suara pemecahan barang-barang yang pasti terjadi beberapa saat yang lalu.
Dia berhenti tepat di depan pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Suara keran air yang menyala dengan deras terdengar jelas dari dalam, membuatnya khawatir apa yang sedang dilakukan Bai Xuning di dalamnya.
Tanpa berpikir panjang, Hu Lian mengetuk pintu dengan keras. "Bai Xuning! Buka pintunya sekarang juga!"
panggilnya dengan suara yang sedikit teriak namun tetap penuh perhatian. "Aku tahu kamu ada di dalam sana... kita perlu bicara!"
Suara keran tetap menyala tanpa ada tanggapan dari dalam. Hu Lian semakin khawatir dan mulai mengetuk pintu lebih keras lagi.
"Kalau kamu tidak buka, aku akan memecahkan pintunya!" ancamnya meskipun dia tahu tidak akan mampu melakukannya.
Setelah beberapa saat, suara keran akhirnya mati dengan tiba-tiba. Kemudian terdengar suara langkah pelan mendekati pintu...
Pintu kamar mandi terbuka hanya sedikit, muncul tangan Bai Xuning yang dihiasi luka-luka kecil yang masih mengalirkan darah tipis.
Hu Lian melihatnya dengan wajah yang langsung mengerut karena khawatir, kemudian mendongak dan menemukan bahwa dagu pria itu juga terluka—seolah terkena benturan dari benda keras.
"....Kamu ikut dengan ku keluar sekarang juga, atau jangan harap bisa melihat ku lagi setelah aku keluar dari sini..." ucapnya dengan suara yang penuh emosi namun tetap tegas, matanya sudah mulai berkaca-kaca melihat kondisi Bai Xuning yang seperti ini.
Namun Bai Xuning hanya berdiri diam tanpa mengeluarkan suara, pandangannya kosong dan menatap ke arah lantai.
Hu Lian menghela nafas dalam dengan rasa kecewa dan kelelahan yang luar biasa.
"Baiklah aku mengerti...."Dia mengangguk perlahan seolah sudah mengerti jawabannya, kemudian berbalik dan mulai berjalan keluar dari kamar tidur pria itu menuju pintu depan apartemen.
Saat Hu Lian sudah hampir mencapai pintu keluar, dia merasakan langkah kaki berat terdengar dari belakangnya.
Sebelum dia bisa membuka pintu, tubuhnya tiba-tiba diangkat dengan kuat dan kemudian dipeluk erat dari belakang—lengan Bai Xuning menyelimuti pinggangnya dengan sangat kuat seolah tak ingin melepaskannya.
Nafas hangat Bai Xuning menyentuh lehernya, dan Hu Lian bisa merasakan bahwa tubuhnya sedang gemetar.
"Jangan pergi..." bisiknya dengan suara yang sangat lembut dan penuh kesedihan, bahkan sedikit tercekik.
Darah dari lukanya masih sedikit menetes dan menodai pakaian Hu Lian.Hu Lian tidak bergerak, tubuhnya masih terpaku dalam pelukan Bai Xuning yang erat.
Setelah beberapa saat, dia perlahan membuka lengan pria itu dari pinggangnya dan berbalik untuk menghadapinya langsung.
Matanya berubah memerah saat melihat seluruh luka di tubuhnya.
"Mengapa kamu harus menyakiti dirimu sendiri? Kenapa kamu melakukan hal seperti itu?!" tanya dia dengan suara yang sedikit bergetar.
tangannya secara tidak sadar ingin menyentuh luka di dagu Bai Xuning namun segera menariknya kembali takut menyakitinya.
Bai Xuning menatapnya dengan mata yang merah dan penuh dengan rasa sakit dalam. Dia mengangkat tangannya yang terluka namun dengan hati-hati menyentuh pipi Hu Lian, menghapus air matanya dengan ujung jarinya.
"Karena aku takut kehilanganmu..." ucapnya dengan suara yang menggigil.
"Saat aku melihat kamu bersama dia... semua pikiran buruk datang padaku. Aku berpikir kamu sudah mengingat semuanya dan memilih dia daripada dariku. Aku merasa tidak berharga, merasa tidak bisa lagi melindungi mu atau membuatmu bahagia..." lanjutnya, dada terasa semakin sesak setiap kali mengingat pemandangan itu.
Aku tidak bisa bertarung dengan masa lalu kamu... tidak bisa bertarung dengan kenangan indah yang kamu miliki bersama dia. Jadinya aku hanya bisa menyakiti diriku sendiri karena itu satu-satunya hal yang aku bisa kendalikan........." katanya dengan suara yang semakin pelan, air mata mulai mengalir di wajahnya yang sudah terluka.
Hu Lian melihatnya dengan rasa sakit hati yang luar biasa. Tanpa berpikir panjang, dia menarik Bai Xuning ke dalam pelukannya dengan lembut, mengelus punggungnya perlahan.
"Kamu sangat bodoh... sangat bodoh sekali..."bisiknya dengan penuh kesusahan air matanya perlahan jatuh.
Hu Lian dengan lembut membawa Bai Xuning ke apartemennya, membantunya berjalan perlahan agar tidak menyakitkan luka-lukanya.
Dia langsung membawanya ke kamar tidur dan menginjakkan kaki dengan hati-hati agar tidak menyentuh bekas air yang masih basah di lantainya.
Saat Hu Lian akan mengambil kotak P3K dan pakaian bersih, Bai Xuning menarik tangannya dengan lembut. Suaranya masih serak karena emosi yang belum reda.
"P-piyama yang akan aku pakai nanti..." katanya dengan suara pelan, mata memandangnya dengan harapan yang jelas.
Dia masih mengharapkan bisa mengenakan piyama pasangan seperti dulu, meskipun dalam keadaan yang seperti ini.