Dara sebagai pelatih Taekwondo yang hidupnya sial karena selalu diteror rentenir ulah Ayahnya yang selalu ngutang. Tiba-tiba Dara Akan berpindah jiwa raga ke Tubuh Gadis Remaja yang menjatuhkan dirinya di Atas Jembatan Jalan Raya dan menimpa Dara yang berusaha menyelamatkan Gadis itu dari bawah.
Bagaimana Kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ricarlo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah Zane Cemburu?
Setelah kegaduhan mengenai masalah yang melibatkan Lesham tadi, suasana di sekitar kelas eksklusif masih menyisakan bisik-bisik penuh tanda tanya. Zane yang sejak awal diam-diam memperhatikan langkah Lesham ketika keluar dari ruangan itu, sebetulnya sudah berniat untuk bangkit dari kursinya dan menyusul gadis itu. Namun, gerakannya segera terhenti ketika Mico berdiri menghadang tepat di depannya, seakan sudah menduga apa yang hendak dilakukan Zane.
Tatapan Zane yang tajam dan menusuk segera diarahkan pada Mico, seperti hendak memaksa temannya itu minggir. Akan tetapi, Mico yang paham betul dengan sifat keras kepala Zane, mengangkat tangannya sedikit sambil menghela napas pelan, lalu berucap dengan suara tegas yang penuh peringatan.
“Ini bukan waktunya kau mendekatinya. Ingat baik-baik situasi yang sedang terjadi sekarang. Jika kau bertindak gegabah, kau hanya akan memperkeruh keadaan.”
Mendengar kalimat itu, Zane mendengus kesal, giginya terkatup rapat, sementara tangannya yang sempat mengepal kuat akhirnya ia lepaskan dengan kasar, seakan melampiaskan kekesalan yang menyesakkan dadanya. Ia sadar Mico benar, tetapi hatinya tetap memberontak, tidak bisa begitu saja membiarkan Lesham berlalu dari pandangannya.
Di sisi lain, jauh dari hiruk pikuk itu, Lesham memilih menyingkir ke belakang sekolah, sebuah area sepi dekat gudang yang jarang dilewati siswa lain. Tubuhnya bersandar pada dinding dingin yang kusam, sementara tangannya sibuk merobek bungkus plastik permen, mencoba menenangkan dirinya dengan cara sederhana. Tepat pada saat itu, ponselnya berdering nyaring dari saku rok sekolahnya. Ia merogohnya dengan sedikit tergesa, dan begitu melihat nama yang tertera di layar, bibirnya melengkung tipis, Telepon dari Kai.
Sejenak rasa sesaknya berkurang. Tanpa pikir panjang, ia menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinganya.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Lesham, suaranya terdengar lembut sekalipun ada beban yang jelas di dalamnya.
“Aku baik-baik saja,” jawab Kai, meski suara seraknya mengkhianati kondisi tubuhnya.
“Hanya… agak sulit bergerak. Bahkan untuk sekadar ke kamar kecil saja aku harus dibantu orang lain. Rasanya aku benar-benar menyusahkan semua orang.”
Lesham menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri sebelum kembali berbicara. “Jangan lupa minum obat. Aku sudah menyiapkannya di atas nakas. Kau hanya perlu meminumnya tepat waktu, jangan sampai lupa.”
Senyum samar terdengar dari nada Kai. “Aku tahu. Kau memang selalu begitu sejak dulu, selalu memperhatikan hal-hal kecil untukku. Entah apa jadinya jika kau benar-benar jauh dariku. Aku memang ditakdirkan tak bisa dekat denganmu… tapi kau tetap sahabat terbaikku. Meski wujudmu kini berbeda dari Dara yang dulu.”
Lesham hanya menunduk sedikit, senyum tipisnya muncul tanpa ia sadari. Ada perasaan hangat yang menyusup di balik segala luka.
“Setelah sekolah selesai, aku akan datang menjengukmu lagi. Jadi, jangan menunda makan. Kau sudah sangat kurus, tubuhmu seperti korek api” celetuk Lesham, sengaja berusaha meringankan suasana.
“Hei! Apa katamu? Korek api? Jangan meledekku. Begini-begini juga aku sedang berjuang untuk gemuk, kau tahu?" jawab Kai dengan nada kesal yang justru membuat Lesham terkekeh kecil.
“Baiklah, aku tutup dulu. Setelah selesai aku akan kesana” Dengan kalimat itu, Lesham mengakhiri sambungan telepon, meski rasa hangat percakapan tadi masih melekat dalam dirinya.
Namun begitu ia berbalik hendak meninggalkan tempat itu, matanya tiba-tiba melebar. Seseorang berdiri tak jauh darinya, dengan tatapan dingin yang menusuk hingga ke relung hati. Tubuh Lesham sontak kaku. Kenapa dia ada di sini? Sejak kapan dia berdiri memperhatikannya?
“Minggir. Aku mau lewat” ucap Lesham cepat, berusaha melangkah melewati sosok itu. Namun langkahnya terhenti ketika Zane justru bergerak menghadang, membuat jarak di antara mereka menyempit tak terelakkan.
Dengan wajah yang dipenuhi rasa jengkel, Lesham menundukkan kepala sebentar lalu mendongak, menatap Zane lurus dengan sorot mata dingin. “Kau mau apa? Jangan bilang kau datang ke sini hanya untuk memarahiku karena aku melabrak kekasihmu?" ujarnya sinis, senyum miring tipisnya menghiasi wajah.
“Sebenarnya ada apa denganmu?” tanya Zane datar, namun tajam, seolah menuntut jawaban yang pasti.
Lesham mengernyitkan dahi, tak mengerti arah pembicaraan itu. “Ada apa denganku? Justru aku yang ingin bertanya. Mengapa tiba-tiba kau muncul di hadapanku hanya untuk menanyakan hal itu? Minggir, aku tidak mau berurusan lagi denganmu.”
Saat ia hendak melangkah melewatinya, Zane tiba-tiba membalikkan tubuh dan mendorong Lesham hingga punggungnya menempel keras pada dinding gudang. Lesham terkejut, matanya membesar tak percaya akan perlakuan itu.
“Apa yang kau lakukan?” serunya dengan nada kaget.
Zane menundukkan kepala, kedua tangannya menekan bahu Lesham, seakan ia sedang berusaha keras mengendalikan emosinya. Lesham menatapnya dengan alis berkerut, rasa heran bercampur cemas.
“Jika ada sesuatu yang ingin kau katakan, katakanlah sekarang. Aku tidak punya banyak waktu,” desak Lesham dengan suara tegas meski jantungnya berdetak kencang.
Perlahan, mata Zane terangkat menatap Lesham. Sorotnya tajam, membuat tubuh Lesham seketika kaku, seperti terikat oleh pandangan itu.
“Kenapa kau lakukan itu padaku?” tanyanya, lirih namun penuh tekanan.
Lesham kembali terdiam, mencoba memahami maksudnya. “Apa maksudmu?”
“Bukankah kau dulu menyukaiku? Lalu mengapa sekarang kau seolah-olah tidak mengenalku dan bahkan membenciku?” suara Zane terdengar dingin, namun jelas.
Lesham menarik napas dalam-dalam, lalu menjawab dengan nada rendah dan menekan setiap katanya. “Aku masih mengingat sikapmu dulu padaku. Dan sekarang kau berpikir aku masih menyukaimu seperti dulu? Jangan harap.”
Mendengar itu, genggaman Zane pada bahunya terlepas. Ia berdiri tegak dengan kepala menunduk, seakan kalimat Lesham telah menghantam sesuatu yang rapuh dalam dirinya.
Lesham merapikan dirinya, menegakkan tubuh lalu menghela napas panjang. “Sebenarnya apa maumu? Bukankah lebih baik jika aku melupakanmu, agar kau tidak lagi merasa terbebani sama seperti dulu? Kau tahu betul, bahkan ketika aku memberimu hadiah, kau membuangnya ke tempat sampah tanpa ragu. Sejak saat itu aku berusaha melupakan semuanya, dan memulai hidupku dari awal.”
Zane mendongak perlahan, sorot matanya yang tadinya begitu tajam kini sedikit mereda, meski masih tersisa kegelisahan di dalamnya.
“Baiklah. Kalau begitu, sampai di sini saja pembicaraan kita. Aku harus kembali ke kelas.” Lesham melangkah, namun sebelum benar-benar pergi, suara Zane menahannya.
“Jangan berhenti untuk menyukaiku.” Langkah Lesham terhenti.
“Aku ingin kau tetap mengejarku, menyatakan cintamu padaku, tersenyum manis seperti dulu setiap kali menatapku, dan selalu ada di hadapanku kapan pun aku berada. Jangan… jangan berhenti untuk menyukaiku.” Suara Zane bergetar, namun penuh kejujuran yang nyaris membuat udara di antara mereka membeku.
Tubuh Lesham melemah, hatinya bergetar. Pendirian yang semula kukuh tiba-tiba goyah, karena kalimat itu terdengar seperti jeritan hati yang benar-benar ingin dicintai. Ia ingin menolak, namun ada rasa iba yang merambat, seakan dirinya ingin memberikan kembali kasih tulus yang pernah ia tawarkan.
Tetapi Lesham menegakkan diri, tidak ingin terjebak lebih jauh. “Sebaiknya aku pergi. Aku ada urusan.” Suaranya dingin, meski matanya menyimpan pergolakan. Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Zane hanya terdiam, menatap punggung Lesham yang perlahan menjauh, hingga akhirnya menghilang dari pandangannya, meninggalkan dirinya sendiri bersama rasa sesak yang tak mampu ia ungkapkan.
>>°°°<<
Di koridor sekolah dipenuhi riuh rendah suara siswa yang lalu lalang. Beberapa tampak berlari terburu-buru menuju kelasnya, sebagian lain bercanda riang bersama teman-temannya. Namun di tengah keramaian itu, langkah Lesham berbeda. Ia berjalan pelan, seperti tidak benar-benar hadir di antara kerumunan. Tatapannya kosong, pikirannya masih terjebak pada kejadian beberapa menit lalu bersama Zane. Ada sesuatu yang ganjil dalam sikap pria itu seperti halus, samar, tapi cukup untuk mengganggu benak Lesham hingga tak kunjung hilang.
Langkahnya terhenti sesaat, lalu kembali berjalan dengan wajah melamun. Ia bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sudah mendekati tikungan menuju tangga utama. Tanpa persiapan, tubuhnya berbelok, dan...
Bruk!
Dahi dan wajah Lesham menabrak sesuatu yang keras, namun hangat. Seketika tubuhnya limbung, hampir terjatuh ke lantai. Sebelum sempat kehilangan keseimbangan sepenuhnya, sebuah tangan kokoh sigap menopang lengannya. Lesham mendongak, dan matanya langsung beradu dengan sepasang tatapan asing, mata yang teduh namun tajam, memandang lurus ke arahnya tanpa berkedip.
Degup jantung Lesham melonjak tak terkendali. Wajahnya memanas, matanya melebar, sementara bibirnya sedikit terbuka tanpa kata. Ia segera menjauh, menegakkan tubuhnya, dan buru-buru merapikan seragamnya yang sempat kusut akibat benturan itu. Pria di depannya juga terlihat salah tingkah, alih-alih menatap Lesham, ia malah berpura-pura menoleh ke sekitar, seolah tidak ada kejadian memalukan yang baru saja terjadi.
“Maaf… aku tidak sengaja tadi. Apa dadamu sakit?” tanya Lesham dengan suara cemas, nada bicaranya terdengar terburu-buru karena merasa bersalah.
Pria itu menoleh kembali, menggeleng perlahan sambil menunjukkan senyum kaku yang entah mengapa terasa tulus. “Oh, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. justru seharusnya aku yang minta maaf karena tidak memperhatikan jalan.”
Lesham menghela napas panjang, melepaskan kegugupan yang menekan dadanya. “Syukurlah kalau begitu…” ucapnya pelan, meski wajahnya masih tampak merah menahan rasa malu.
Suasana hening sejenak. Di antara hiruk-pikuk koridor, keduanya seperti terjebak dalam ruang kecil yang hanya dihuni oleh tatapan mereka. Lalu pria itu membuka suara lagi, dengan nada lebih hangat.
“Oh, ya. Perkenalkan, namaku Vano.” Ia menyodorkan tangan kanannya ke arah Lesham, sorot matanya jernih, seolah benar-benar ingin dikenali. “Kelasku kebetulan ada di sebelah kelasmu.”
Lesham sedikit tertegun. Ia menyambut uluran tangan itu, merasakan genggaman hangat dan tegas yang entah mengapa membuat jantungnya berdetak lebih cepat. “Aku Lesham. Benarkah? Kebetulan sekali. Tapi… rasanya aku tidak pernah melihatmu sebelumnya di sekolah ini,” jawabnya dengan nada heran.
Vano terkekeh kecil. “Ahaha… itu wajar. Aku memang jarang terlihat. Setiap ada waktu senggang, aku biasanya pergi ke atap balkon belakang sekolah. Di sana aku bisa membaca buku, mendengarkan musik, kadang bermain gim juga. Aku memang lebih suka menyendiri.”
Perkataan itu membuat Lesham mengangkat wajahnya. Untuk sesaat, ia seperti menemukan cerminan dirinya sendiri dalam sosok Vano. Hatinya berdesir, ada rasa hangat yang jarang ia rasakan ketika berbicara dengan orang baru. “Wah, sama dong. Aku juga sering menyendiri, meskipun… caraku berbeda.” Ia menunduk sebentar, lalu tersenyum. “Eh, kalau boleh tahu, buku apa yang sedang kau baca sekarang?”
“The Secret Love,” jawab Vano tenang. “Aku baru membaca beberapa bab saja. Kalau kau sendiri?”
Lesham menahan tawa kecil. “Aku jarang membaca buku. Kau tahu sendiri, aku lebih sering latihan taekwondo. Jadi waktuku untuk membaca hampir tidak ada.” Ia mengerucutkan bibir, wajahnya cemberut, membuat Vano tanpa sadar tersenyum tipis.
Melihat itu, Vano mengangkat tangannya, menyentuh lembut bahu Lesham, seolah ingin menghapus rasa minder itu. “Kalau begitu, bagaimana kalau aku meminjamkan bukuku padamu? Aku punya banyak koleksi novel di rumah. Besok aku bawakan satu untukmu, ya.”
Seakan tersambar kilat kebahagiaan, mata Lesham membesar, wajahnya berubah sumringah. “Serius? Kau sungguh mau meminjamkannya padaku?”
Vano mengangguk pelan. “Tentu. Kenapa tidak?”
Tanpa bisa menahan diri, Lesham hampir melompat kegirangan. Ia merogoh saku roknya dengan cepat, mengeluarkan ponselnya, lalu menyodorkannya kepada Vano dengan ekspresi berbinar. “Kalau begitu, berikan nomormu padaku!”
Tingkah polos itu membuat Vano menahan tawa, matanya berbinar melihat antusiasme Lesham. Ia menerima ponsel itu, mengetikkan nomornya, lalu mengembalikannya. “Sudah. Simpan saja.”
Lesham menunduk menatap layar ponselnya, mengetik dengan cepat. “Oke… namamu aku simpan, Va…no.” Ia menekan tombol panggil, membuat ponsel Vano berdering lirih di saku celananya.
Vano mengeluarkannya, menatap layar sejenak, lalu melirik Lesham dengan senyum lembut yang sulit disembunyikan. “Itu nomorku. Jangan lupa simpan, ya. Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa, Vano." ucapnya, melambaikan tangannya lalu berbalik meninggalkan pria itu dengan langkah ringan.
Vano berdiri terpaku di tempatnya. Matanya mengikuti setiap langkah Lesham hingga sosok gadis itu benar-benar hilang di balik tikungan. Senyum tipisnya tak kunjung sirna, bahkan kepalanya bergoyang kecil, seolah ia tak percaya pada perasaan yang tiba-tiba tumbuh begitu cepat.
Ia menunduk menatap layar ponselnya, nomor baru itu masih kosong tanpa nama. Jari-jarinya perlahan mengetik sesuatu, 'Lesham ♥️'.
Baru beberapa menit mengenalnya, tapi hatinya sudah bergetar begitu kuat. Vano menarik napas dalam, apakah ini yang disebut orang-orang sebagai cinta pada pandangan pertama?.
Namun di sisi lain koridor, tak jauh dari tempat Lesham dan Vano berbincang, ada sepasang mata yang sejak tadi menatap mereka tanpa berkedip. Sosok itu berdiri diam, bersandar pada dinding dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Tatapannya tajam, wajahnya kaku, dan sorot matanya jelas menunjukkan rasa tidak suka.
Ia menyaksikan bagaimana Lesham, gadis yang biasanya menjaga jarak dan sulit didekati siapa pun, kini justru terlihat begitu ceria saat berbicara dengan seorang pria asing. Tawanya terdengar ringan, ekspresinya terlihat begitu hidup, sesuatu yang jarang ia tunjukkan di depan banyak orang. Dan semua itu ditujukan bukan kepadanya, melainkan kepada lelaki bernama Vano itu.
Ia menggenggam erat jemarinya, kuku-kukunya sampai menancap ke telapak tangan. 'Kenapa dia terlihat begitu bahagia bersama pria itu?' pikirnya, sorot matanya tidak lepas dari senyum polos Lesham yang tampak bersinar saat mendengar tawaran Vano meminjamkan buku.
Ketika melihat Lesham menyodorkan ponselnya kepada Vano dengan wajah penuh semangat, dada sosok itu serasa ditusuk. Ada dorongan kuat untuk melangkah maju, merebut ponsel itu, lalu mengakhiri percakapan mereka. Namun langkahnya tertahan, hanya bisa diam, menonton dari jauh.
Saat panggilan Lesham membuat ponsel Vano berdering, sosok itu hampir mendesis marah. Bibirnya mengatup kaku, matanya menyipit penuh amarah yang ditahan. Ia tahu, sejak saat itu, ada sesuatu yang berbeda di hati Lesham dan itu bukan karena dirinya.
Koridor yang ramai dengan suara tawa siswa lain, bagi sosok itu hanya terdengar bising dan menyakitkan. Fokusnya hanya tertuju pada dua orang yang masih berbincang ringan di ujung sana. Dan semakin lama ia menatap, semakin kuat perasaan yang tidak bisa ia kendalikan.
Ketika akhirnya Lesham berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Vano dengan senyum samar di wajahnya, sosok yang mengintip itu tetap berdiri membeku. Matanya mengikuti langkah Lesham, namun pandangannya sesekali bergeser ke arah Vano.
Sebuah desahan napas panjang lolos dari bibirnya. Wajahnya kini muram, namun di baliknya tersimpan tekad yang mulai tumbuh. 'Aku tidak bisa membiarkan orang lain merebut perhatianmu begitu mudah, Lesham.'
Ekspresi cemburu itu perlahan berubah menjadi tatapan dingin yang menyimpan janji. Ada sesuatu yang akan ia lakukan, sesuatu untuk memastikan bahwa Lesham tidak akan benar-benar pergi menjauh darinya, sekalipun harus berhadapan dengan pria bernama Vano itu.