NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Cerai
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.

Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.

Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.

Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Minuman Mahal

Hans berdeham sebelum melanjutkan, “aku mau nanya beberapa hal. kamu ke mana hari ini, dan ketemu siapa?”

“Hari ini aku ketemu Jaguar. Kami ngobrol soal kerjaan, dan dia sempat nawarin kerja sama, tapi aku tolak,” jawab Maureen jujur.

“Gitu ya. kamu minum sesuatu yang dia tawarin?”

“Jelas gak. Dari dulu dia udah ngincer bisnis keluargaku. aku gak bakal lengah di depan dia.”

“Kalau gitu aneh juga kamu bisa sampai dibius, Kak,” sela Rennata.

“Memang aneh.” Maureen memutar matanya.

“Waktu kalian ketemu, kamu mencium atau menyentuh sesuatu yang aneh?”

“Sekarang kalau dipikir lagi .…” Maureen tiba tiba teringat sesuatu. “Pas aku masuk ke tempat itu, aku sempat nyium bau yang agak aneh. Tapi aku gak terlalu merhatiin, aku kira cuma parfum. Beberapa saat kemudian aku mulai pusing. Badan aku juga terasa aneh, hangat banget. Untung aku cepat pergi. Coba kalau aku tinggal lebih lama, entah apa yang bakal terjadi.”

“Sepertinya parfum itu memang sumber masalahnya,” kata Hans menyimpulkan.

“Terus sekarang gimana pak Rinaldi?”

“Tadi ada sisa ambergris di kulit kamu. Kemungkinan besar itu bahan utama parfum yang dipakai buat membuat kamu keracunan.”

“Terus kenapa? Kita tetap harus nemuin orang yang bikin obat itu,” dengus Rennata sambil melipat tangan di dada.

“Ambergris itu bahan langka, jadi orang yang bisa dapet itu gak banyak. Kita bisa cek siapa saja yang baru baru ini membelinya, lalu mempersempit pencarian dari situ,” jelas Hans.

“Rencana bagus. aku bakal langsung suruh orang buat nyari!” Maureen setuju. Dengan pengaruh keluarga mereka, urusan seperti ini bisa selesai dengan sangat cepat.

“Kalau begitu, sepertinya urusan aku di sini sudah selesai, Nona Wiraningrat. Aku pamit dulu.” Hans bersiap berdiri.

“Sebentar!” Maureen tiba tiba menghentikannya.

“Kenapa gak makan malam bareng kita?”

“Makasih, tapi aku … sudah ada rencana malam ini.”

Maureen menatapnya penuh rasa ingin tahu. “Jangan bilang kamu mau ketemu mantan istri kamu, Pak Rinaldi. Masa aku gak cukup menarik buat kamu?”

Sambil berkata begitu, dia sedikit melengkungkan tubuhnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas.

Hans langsung kaku. “E-eh .…”

Maureen tertawa kecil. “Hahaha, udah, aku cuma bercanda. aku gak bakal nyuruh kamu batalin rencana kamu. Tapi sebelum kamu pergi, ini ada sedikit tanda terima kasih dari aku.”

Dia memberi isyarat singkat. Seorang pelayan segera datang membawa sebuah kotak elegan.

“Semoga kamu bisa menikmati anggur ini, Pak Rinaldi. Sudah lama aku simpan,” kata Maureen sambil menyerahkan kotak itu.

“Makasih banyak, Nona Wiraningrat.” Hans menerimanya tanpa ragu.

Hadiah dari Maureen Wiraningrat jelas bukan barang murahan.

“Rennata, antar Pak Rinaldi keluar,” kata Maureen.

“Iya.” Nada suara Rennata terdengar agak enggan, tapi dia tetap mengantar Hans sampai ke mobil Lamborghini miliknya.

Tiba tiba HP Hans berdering. Ternyata panggilan dari Qorrim Rasheed, kakek Tiffany.

“Halo Hans, kamu ada waktu buat makan siang hari ini?”

“Makasih, tapi hari ini aku sudah ada rencana, Pak.”

“Kamu tetap harus makan, kan? Tiffany itu seharusnya gak terlalu keras sama kamu. Nanti aku tegur dia!” gerutu pria tua itu.

“Cuma urusan pribadi, Pak. Gak ada hubungannya sama Nona Rasheed.”

“Udah, gak usah bela dia lagi. aku tahu sifat kamu, dan aku yakin ini pasti gara gara dia. Tenang aja, nanti aku yang bakal ngomong sama dia. Kita ini keluarga, dan keluarga harus sering kumpul bareng.”

“Uh … iya deh, Pak,” jawab Hans dengan agak terpaksa.

Selama tiga tahun dia menikah dan masuk ke keluarga itu, hanya lelaki tua inilah yang benar benar memperlakukannya seperti keluarga sendiri. Karena itulah Hans sangat menghormati dan peduli padanya.

Namun setelah ini, mereka mungkin tidak akan bertemu lagi untuk waktu yang lama. Jadi biarlah makan kali ini menjadi perpisahan terakhir bagi mereka berdua.

...***...

Siang hari, Hans mengemudi menuju rumah keluarga Rasheed. Vila itu berada di lingkungan yang tenang dan agak terpencil. Halaman depannya dihiasi bunga bunga dan pagar tanaman yang tertata rapi.

Tiffany sudah berdiri di luar rumah. Hans berusaha menghindarinya, tetapi tetap saja dia terlihat.

“Berhenti dulu! aku mau ngomong sama kamu!”

“Apa?” tanya Hans. Mereka berdiri saling membelakangi saat berbicara.

“aku belum bilang ke Kakek soal perceraian kita karena kondisi dia.”

“kamu pikir kita bisa selamanya nutupin ini dari dia?”

“Nanti aku cari waktu yang tepat buat ngomong. Tapi bukan hari ini.”

“Baiklah. Ada lagi?”

“gak.”

Tiffany langsung berbalik dan masuk ke rumah tanpa mengatakan apa pun lagi.

Sepanjang percakapan itu mereka bahkan tidak pernah saling menatap, seolah benar benar orang asing.

Hans menarik napas panjang lalu ikut masuk, sambil membawa kotak anggur di tangannya.

Ruang tamu sudah dipenuhi orang, hampir semua anggota keluarga Rasheed ada di sana.

Hanya Jeddah, ayah Tiffany, yang tidak hadir karena masih berada di luar kota.

Namun kali ini kursinya ditempati orang lain. Seorang tamu dari luar keluarga.

Othan Karimi.

“Kurang ajar sekali, masa kita yang tua tua harus nunggu dia,” sindir Sarrah dengan wajah sinis.

“Shh, Ma. Nanti dia marah terus mukul Mama lagi,” celetuk Rorry keras. Dia masih belum bisa melupakan kejadian kemarin. Memar di wajahnya bahkan masih terlihat jelas.

“Baiklah, karena semua sudah berkumpul, kita mulai makan,” kata Qorrim Rasheed sambil tersenyum lebar pada Hans. “Sini duduk di sebelah aku, Nak.”

“Baik, Pak.” Hans tersenyum dan membantu lelaki tua itu duduk.

Rorry langsung cemberut. Matanya dipenuhi rasa iri.

“Penjilat!”

Rorry tidak pernah mengerti kenapa kakeknya begitu memanjakan Hans. Padahal dia sendiri adalah cucu kandung Qorrim.

“Ayo, kita minum!” seru Qorrim mengangkat gelasnya.

“Kakek, lihat ini.” Rorry mengangkat sebuah kotak anggur yang dihias mewah. “Othan bawa anggur bagus ini. Grand Cru dari La Romanee Conti. Kita minum yang ini saja!”

“La Romanee Conti? Bukannya itu produsen anggur yang sangat mahal?”

“Betul. Satu botolnya 1.6 Miliar!” kata Othan dengan bangga.

“Apa? 1.6 Miliar?!”

Semua orang langsung berseru kaget. Harga yang luar biasa tinggi itu benar benar di luar dugaan mereka.

Keluarga Wiraningrat memang cukup berada, tetapi bahkan mereka belum pernah mencoba anggur semahal itu.

“Kenapa kamu sampai ngeluarin uang sebanyak itu, Othan? Kebanyakan banget, kan?” tanya Sarrah, meski nada suaranya dipenuhi kebanggaan. Bagaimanapun, Othan memang calon menantu favoritnya.

“1 Miliar itu gak seberapa. Di rumah aku masih ada satu tong lagi. Jadi silakan dinikmati saja,” kata Othan sambil tersenyum puas. Wajahnya jelas menunjukkan rasa bangga.

“Tua Karimi, kamu memang dermawan sekali.”

“Iya, malam ini kita benar benar beruntung!”

Keluarga itu mulai memuji muji Othan dan semakin membuat egonya mengembang.

“Hey, bocah. Lihat tuh betapa tulusnya Othan. Anggurnya saja satu miliar. Terus punya kamu gimana? Jangan bilang kamu beli di toko murah?” ejek Sarrah. Dia bahkan menendang betis Rorry pelan.

“Kenapa gak kita lihat aja?” kata Rorry sambil tersenyum licik. Dia langsung membuka kotak anggur milik Hans.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!