Anya seorang perempuan kaya yang harus meninggalkan semuanya yang dia miliki karena sakit hati yang dia punya kepada Adi. Dia memilih menghilang dari kehidupan masa lalunya dan memulai segala sesuatunya dari nol. Akankah dia bertemu dengan kekasih baru dan mempunyai kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia Arinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Temani Nongkrong
Anya masuk kedalam kosan. Saat hendak naik ke tangga menuju kamarnya di lantai 2, Anya berjumpa dengan Sofi.
"Mbak Anya, gimana kerjanya?", tanya Sofi sambil berjalan mendekat ke Anya.
"Cape banget dek, belum belum laporan yang harus aku kerjakan banyak. Ampun dah pokoknya. Tapi aku senang sih setidaknya aku punya kerjaan", Anya menjelaskan diselingi tawa.
"Syukur deh kalau Mbak Anya senang kerja disana. Oh ya Mbak, besok bareng lagi ya berangkat ke kantornya". Anya mengangguk mengiyakan. "Mbak Anya dah makan belum? Aku mau bikin mie instan ni", Sofi menawarkan bantuan.
"Gak usah dek, udah makan aku barusan. Lumayan ditraktir temen. Ya udah ya dek, mau mandi ni lengket banget rasanya badanku", kata Anya sambil meringis. Sofi pun mengiyakan.
"Dek kalau kamu gabut, mainlah ke kamarku. Temani ngobrol", kata Anya sambil berjalan.
"Ok mbak, tapi besok ya. Hari ini aku mau bantu ibu dulu", kata Sofi. Anya pun mengerti dan kembali berjalan ke kamarnya.
Sampai kamar Anya langsung mandi. Anya merasa badannya sangat lelah dan lengket. Selepas mandi, Anya bersantai di kamarnya. Anya menonton TV sambil rebahan. Tiba-tiba Anya teringat sesuatu, dokumen yang dibawanya pulang kerja berisi laporan yang akan dia kerjakan di kosan. Anya bangun dan mencari dokumen tersebut, namun tidak ketemu.
"Aduh dimana sih? Apa mungkin lupa aku bawa? Tapi tadi pas aku keluar bareng Cindy aku bawa kok", Anya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tok tok tok
Anya membukakan pintu kamarnya.
"Mbak ada yang cari dibawah", kata Sofi seketika pintu dibuka.
"Siapa dek?", tanya Anya heran.
"Cowok mbak. Sudah ya mbak aku nanggung lagi goreng ayam", Sofi pun berlalu dari hadapan Anya.
Deg.. Apa mungkin Adi? Tapi mana mungkin dia tahu aku disini?
Anya masih dengan pikirannya yang berkecamuk kini turun ke lantai bawah.
Di ruang tamu terdapat seorang lelaki duduk membelakanginya sedang membaca majalah. Apa mungkin Adi?
Anya mendekat untuk memastikan.
"Maaf anda mencari saya?", tanya Anya.
"Yaelah Nya, pake anda anda segala", pria tersebut menoleh sambil tertawa.
"Dasar pria tengil nyebelin. Bikin jantungan aja. Aku kira siapa", kata Anya bernafas lega.
"Memang kamu kira aku siapa?", Mario terkekeh.
"Bu bukan siapa siapa sih", Anya terbata.
"Aku tau, kamu pasti sedang menghindari seseorang kan? Siapa? Pacar kamu kan?", cecar Mario. Anya hanya diam saja. "Pasti benar dugaanku, nyatanya kamu diam".
"Sok tahu kamu", Anya pun duduk di depan Mario. Mario menatap Anya dengan kagum. Walaupun hanya memakai pakaian rumahan, rambut dikucir sembarangan, namun tetap terlihat cantik. Bahkan lebih cantik tanpa make up.
"Ngapain kamu kesini pria tengil?", kata Anya membuyarkan lamunan Mario.
"Ini ketinggalan di mobilku", Mario menyerahkan map berisi dokumen kepada Anya.
"Ternyata ketinggalan, pantesan aku cari cari daritadi nggak ketemu", Anya terlihat sumringah menerima map dari Mario. "Terimakasih".
"Temani aku nongkrong kalau gitu. Sebagai bayaran aku sudah mengantatkan laporan yang kamu butuhkan ini", Mario nyengir.
"Pria tengil, aku mau nyelesaiin analis laporan. Aku hanya punya waktu sebulan meningkatkan kinerja departemen marketing. Aku lupa siapa lelaki yang hanya memberiku waktu sebulan. Tapi aku akan buktikan padanya kalau aku bisa", kata Anya dengan semangat.
"Dia tidak mengingat aku, bagus kalau begitu", kata Mario dalam hati. "Bawa dokumennya, nanti aku bantu analisi. Ayo", Mario menarik tangan Anya.
"Dasar pria tengil. Mana mungkin aku pergi nongkrong dengan pakaian seperti ini. Aku ganti baju dulu", mau tak mau Anya mengiyakan ajakan Mario. Anya pun kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Anya memakai rok model balon selutut dan memakai kaos santai. Tak lupa dia membawa tas selempang kecil dan memakai jam tangan pemberian papanya.
Setelah selesai dia kembali ke bawah untuk menemui Mario. Dan mereka pun pergi bersama. Mereka menuju cafe yang sedang hits dikalangan anak muda saat ini. Cafe tersebut berada di atas bukit. Mereka memasuki cafe dan menuju rooftop. Duduk di dekat pagar besi dengan pemandangan kota.
"Wah indah sekali, kamu tahu darimana ada cafe bagus seperti ini?", tanya Anya kagum.
"Dari media sosial, ini cafe lagi hits di kalangan anak muda", Mario nyengir. "Kamu suka tempat ini?"
"Suka banget", Anya tersenyum lebar dan sesekali menghela nafas panjang. "Aku lupa, mana mapku, aku mau analisis bentar".
Mario pun memberikan map kepada Anya dan Anya mulai sibuk dengan dokumen di depannya. Mario tersenyum melihat wajah Anya yang serius semakin terlihat cantik baginya.
"Punya pulpen sama kertas nggak? Pinjam dong", kata Anya membuyarkan lamunan Mario.
"Ini ada pulpen. Kertasnya sobek ini satu saja", Mario menyobek kertas nota menu dan memberikannya pada pada Anya. "Kamu mau apa memang?"
"Ini, ada yang janggal dari laporan keuangan dan realisasi kinerja, gak sesuai. Terus tadi siang juga aku sudah periksa laporan yang bulan kemarin juga ada kejanggalan. Makanya aku perlu analisis lagi", kata Anya sambil menulis sesuatu di kertas yang diberikan Mario.
"Mana lihat. Siapa tahu aku bisa bantu", Mario menggeser kursinya menjadi bersebelahan dengan Anya. Anya pun merasa tidak masalah dan merekapun berdiskusi bersama. Tapi tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memandang mereka dengan tidak suka. Mata yang penuh dengan nyala amarah.
sukses
semangat
keren dan mantap