Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7.Tuduhan yang Ditandatangani
Rumor akhirnya menemukan bentuk yang sah.
Pagi itu, nama Selvina Kirana tertulis hitam di atas kertas putih yang ditempel di papan pengumuman utama—lengkap dengan kop Imperion Academy.
> PEMERIKSAAN ETIK SISWA
Atas dugaan pelanggaran jam malam, penyalahgunaan pengaruh fraksi, dan hubungan tidak pantas antar pimpinan siswa.
Kata tidak pantas digarisbawahi.
Selvina membaca tanpa berkedip. Tangannya tidak gemetar. Wajahnya tetap tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dijadikan tersangka.
Bisik-bisik pecah lebih keras dari hari-hari sebelumnya.
“Jadi benar, kan?”
“Makanya fraksi pria diam.”
“Pantas aja dia berani.”
Raisa berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya kaku. Tatapan mereka bertemu singkat, lalu Raisa memalingkan wajah.
Selvina mengerti.
Kecurigaan sudah berubah menjadi keyakinan.
Rapat itu dijadwalkan sore hari.
Ruang konferensi kecil di lantai atas gedung administrasi—tempat yang jarang digunakan siswa. Hari itu, empat kursi disusun mengelilingi meja oval kayu gelap.
Empat fraksi.
Empat pemimpin.
Dan satu nama yang akan dibedah.
Selvina masuk pertama. Ia duduk tegak, kedua tangan terlipat rapi di atas meja.
Disusul Arkan Wijaya, pemimpin Fraksi Elite—senyumnya ramah, matanya menghitung.
Lalu Kayra.
Pemimpin Fraksi Bayangan datang tanpa seragam resmi. Rambutnya diikat asal, tatapannya tajam, langkahnya nyaris tanpa suara. Ia duduk tanpa berkata apa-apa.
Terakhir, pintu terbuka.
Varrendra masuk.
Ruangan langsung terasa lebih sempit.
“Kita lengkap,” ujar guru pembina singkat sebelum keluar. “Diskusikan. Buat keputusan. Imperion menunggu stabilitas.”
Pintu tertutup.
Dan perang dimulai.
“Baik,” Arkan membuka dengan suara halus. “Mari kita bicara dewasa. Tuduhan ini sudah menyebar. Reputasi Imperion ikut dipertaruhkan.”
Selvina menatap lurus ke depan. “Katakan saja siapa yang mengajukannya.”
Arkan tersenyum tipis. “Laporan datang dari asrama. Lebih dari satu sumber.”
Kayra menyandarkan tubuh ke kursi. “Sumber anonim selalu menarik. Biasanya penuh kepentingan.”
Tatapan Varrendra akhirnya bergerak ke Selvina. Tidak dingin. Tidak marah. Terlalu tenang.
“Pelanggaran jam malam tercatat,” katanya. “Itu fakta.”
Selvina menoleh padanya. “Kau tahu alasannya.”
“Aku tahu apa yang tercatat,” balas Varrendra. “Bukan apa yang kau klaim.”
Arkan mengangkat tangan. “Dan soal dugaan hubungan tidak pantas?”
Hening.
Kayra terkekeh pelan. “Imperion kehabisan ide sampai harus mengatur siapa bicara dengan siapa?”
“Ketua fraksi adalah simbol,” jawab Arkan. “Simbol tidak boleh ambigu.”
Selvina menyandarkan punggung ke kursi. “Jadi ini bukan soal pelanggaran. Ini soal citra.”
“Ini soal kekuasaan,” Kayra membetulkan.
Tatapan itu mengarah ke Varrendra.
“Kau diuntungkan oleh rumor ini,” lanjut Kayra. “Fraksi perempuan melemah. Sistem lama kembali aman.”
Varrendra tidak langsung menjawab. “Aku tidak menyebarkan rumor.”
“Tapi kau juga tidak menghentikannya,” Selvina memotong.
Tatapan mereka bertabrakan. Untuk sepersekian detik, udara di ruangan itu menegang—memori ancaman sunyi masih berdiri di antara mereka.
Arkan berdeham. “Usulan sementara. Kita nonaktifkan Selvina dari kepemimpinan fraksi perempuan sampai investigasi selesai.”
Kayra menegakkan tubuh. “Itu hukuman sebelum putusan.”
“Itu pencegahan,” Arkan tersenyum.
Selvina tertawa pendek. “Dan siapa yang mengambil alih fraksiku? Bonekamu?”
“Lebih baik boneka,” balas Arkan ringan, “daripada simbol yang tercemar.”
Varrendra menatap meja. Lalu berkata, pelan namun jelas,
“Jika ini eskalasi yang kalian mau… aku setuju.”
Selvina menoleh tajam. “Tentu saja.”
Kayra berdiri mendadak. “Kalian lupa satu hal.”
Semua mata tertuju padanya.
“Kalau kalian menjatuhkan Selvina tanpa bukti kuat,” kata Kayra dingin, “Fraksi Bayangan akan buka suara. Dan kami tidak bermain rapi.”
Arkan terdiam.
Varrendra mengangkat pandangan. “Ancaman?”
“Peringatan,” jawab Kayra. “Imperion rapuh. Jangan berpura-pura tidak tahu.”
Keheningan jatuh berat.
Akhirnya Arkan menghela napas. “Baik. Keputusan sementara.”
Ia menatap Selvina. “Kau tetap ketua. Tapi di bawah pengawasan. Satu langkah salah—kau jatuh.”
Selvina tersenyum tipis. “Aku sudah terbiasa diawasi.”
Rapat ditutup tanpa jabat tangan.
Di luar ruangan, Selvina berjalan lebih dulu. Langkahnya mantap, meski dadanya sesak.
Varrendra menyusul, menghentikannya di lorong.
“Ini akan semakin buruk,” katanya rendah.
Selvina menoleh. “Kau menikmatinya?”
Varrendra mendekat sedikit. “Aku mengendalikannya.”
“Berhenti berpura-pura,” balas Selvina. “Kita berdua tahu… ini sudah keluar dari kendali.”
Tatapan mereka terkunci.
Dan di balik tuduhan resmi, rapat politik, dan fraksi-fraksi yang saling menunggu celah—satu hal menjadi jelas:
Perang ini tidak lagi tentang siapa benar.
Melainkan siapa yang jatuh lebih dulu.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍