Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malang, Hotel, dan Pesan Terakhir Sebelum Kudus
[Sesampainya di Malang, Bijel menyelesaikan pekerjaannya dan semua urusannya. Setelah itu, ia mencari hotel di area Malang. Ia ingin menenangkan diri terlebih dahulu.]
[Di pesantren Queen Al-Falah, semua orang bingung mencari keberadaan Bijel, karena Bijel tidak pulang dan sekarang jam menunjukkan pukul 23.00 malam. Mereka semua berkumpul di ndalem tengah. Faiq melacak keberadaan adik sepupunya itu melalui nomor WA-nya. Setelah itu, ia tahu bahwa adiknya berada di sebuah hotel di Malang. Faiq memberitahu semua orang bahwa Bijel ada di hotel di area Malang.]
(Di Ndalem Tengah)
Umi Nida: (dengan nada panik) "Ya Allah, Bijel kemana? Kenapa belum pulang juga?"
Abi Rasya: (dengan nada khawatir) "Kita harus mencarinya. Ini sudah larut malam."
Gus Faiq: (dengan nada tenang) "Tenang, semuanya. Aku sudah melacak keberadaan Bijel. Dia ada di sebuah hotel di Malang."
Gus Arya: (dengan nada cemas) "Malang? Ngapain dia di Malang?"
[Tidak lama kemudian, pukul 23.15, Gus Arka dan Gus Arzan mendapat notifikasi bahwa Bijel membuat story (status) di Malang, dengan fotonya yang berada di kamar hotel dengan caption "Sabar, ujian selalu ada. Tunggu aku besok, aku otw ke Kudus nanti setelah subuh". Gus Arka dan Arzan mengatakan bahwa Bijel mau ke Kudus menemui seseorang. Lalu Gus Faiq mengatakan, "Biarkan dulu Abi, Abah, Gus Arya, biarkan Bijel menyelesaikan masalahnya bersama seseorang itu, mungkin sudah ditunggu di Kudus".]
(Di Ndalem Tengah)
Gus Arka: "Lihat ini! Bijel bikin story di Malang. Dia mau ke Kudus besok setelah subuh."
Gus Arzan: "Kudus? Mau menemui siapa dia di Kudus?"
Gus Faiq: "Biarkan saja dulu. Mungkin dia mau menyelesaikan masalahnya dengan seseorang itu. Mungkin orang itu sudah menunggunya di Kudus."
Gus Arya: (dengan nada cemas) "Tapi, aku takut dia kenapa-kenapa."
Abah Yai: "Kita percayakan saja pada Bijel. Dia sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri."
[Semua keluarga ndalem mengirim pesan WA ke Bijel, tapi tidak dibuka. Bijel hanya membuka pesan dari Abi Rasya. Dalam pesannya, Bijel mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan seseorang dulu dan menyelesaikan urusannya. Abi Rasya paham akan hal itu. Bijel membutuhkan waktu untuk menerima semua ini, karena waktunya terlalu cepat bagi Bijel.]
Abi Rasya: (melalui pesan WA) "Bijel, Nak, kamu baik-baik saja? Abi khawatir sama kamu."
Bijel: (membalas pesan WA) "Iya, Bi. Aku baik-baik saja. Aku mau bertemu dengan seseorang dulu dan menyelesaikan urusanku. Jangan khawatirkan aku."
Abi Rasya: (melalui pesan WA) "Baiklah, Nak. Abi percaya sama kamu. Tapi, hati-hati di jalan. Jaga dirimu baik-baik."
Bijel: (membalas pesan WA) "Iya, Bi. Terima kasih."
[Bijel membutuhkan waktu untuk menerima semua ini. Ia merasa semuanya terjadi terlalu cepat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia hanya ingin menyelesaikan semua urusannya dan mencari kedamaian dalam hatinya.]
[Di kamar hotel, Bijel menatap langit malam melalui jendela. Ia merasa sangat sendirian dan tidak berdaya. Air matanya kembali mengalir membasahi pipinya. Ia berharap esok hari akan membawa kebahagiaan dan kedamaian baginya.]
[Setelah mengetahui bahwa Bijel berada di Malang, meski merasa khawatir, keluarga ndalem memutuskan untuk menunggu kabar dari Bijel. Namun, di kalangan pesantren, ketiadaan Ning Abigail menimbulkan berbagai reaksi dan spekulasi. Beberapa santri dan pengurus mulai membicarakan kepergiannya, ada yang khawatir, ada pula yang berprasangka buruk.]
Santri 1: (berbisik kepada temannya) "Eh, Ning Abigail kemana ya? Kok dari kemarin nggak kelihatan?"
Santri 2: "Iya, biasanya kan sering kelihatan di sekitar ndalem."
Pengurus 1: (berbicara kepada pengurus lain) "Saya juga khawatir dengan Ning Abigail. Setelah kejadian kemarin, dia belum kembali ke pesantren."
Santri 3: (dengan nada sinis) "Palingan juga kabur. Nggak tahan sama masalahnya."
Santri 4: (dengan nada khawatir) "Jangan bicara begitu. Siapa tahu dia sedang butuh waktu untuk sendiri."
Pengurus 2: "Semoga Ning Abigail baik-baik saja. Kita doakan saja yang terbaik untuknya."
Santri 5: "Aku dengar sih dia pergi ke Malang."
Santri 6: "Malang? Ngapain dia ke Malang?"
Santri 7: "Nggak tahu deh. Tapi, semoga dia cepat kembali ke pesantren."
Pengurus 3: "Kita semua berharap Ning Abigail bisa segera menyelesaikan masalahnya dan kembali ke pesantren dengan keadaan baik."