Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelidikan
Di pusat kota, Amsterdam, sebuah apartemen mewah menjulang tinggi. Di salah satu unit kamar di lantai atas, tepatnya di kamar 306. Adrian duduk di sofa ruang tamunya, memandangi televisi yang menyiarkan acara dengan bahasa yang dia sendiri tidak tahu apa artinya.
Tiba-tiba pintu kamar disampingnya bercerita mengeluarkan suara, Elang muncul dan menghampiri pria itu yang masih duduk di posisinya.
"Pak Adrian," panggil Elang.
Adrian tak menoleh meski ia mendengar suara Elang. Ia masih terhanyut dalam pikirannya sendiri. Elang memandangi bosnya itu sesaat lalu menghela napas.
"Pak, ada yang sampaikan," ucap Elang kembali.
Adrian akhirnya menoleh setelah beberapa saat. Ia menatap Elang dengan tatapan penasaran, hingga dia pun bersuara. "Apa lagi yang mau kamu sampaikan? Jika itu soal perusahaan apalagi Arini, mending tidak usah sekalian,"
"Erina meninggal."
Adrian tertegun. Matanya mulai berkaca-kaca. "Apa? Erina.. Meninggal?"
"Haha, kalau kamu lagi bercanda garing banget. Sudah pergi saja," ucap Adrian tak percaya.
Elang mengeluarkan ponselnya, ia lalu menunjukkan beranda beritanya yang berisi beberapa berita terbaru di Indonesia, tepatnya di Jakarta. Entah itu berita banjir, perampokan, dan berita di akhir beranda, kasus pembunuhan seorang modeling bernama Erina Safira.
Deg!
Detik itu juga Adrian merasa jantungnya seolah berhenti sejenak dan berdetak kembali dengan cepat.
"Saya lihat media jurnalistik tadi malam.."
"Mungkin bapak bisa lihat berita itu sekarang di media sosial, banyak artikel yang sudah bermunculan sejak kemarin," ucap Elang.
Adrian perlahan meraih ponsel dari tangan Elang. Jemarinya bergetar hebat saat melakukan scrolling pada layar. Foto garis polisi yang melintang di depan apartemen Erina di Jakarta terpampang nyata. Headline berita itu seolah menghantam ulu hatinya: "Kematian Tragis Sang Model, Motif Asmara Diduga Jadi Pemicu."
"Nggak mungkin..." bisik Adrian parau. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Dunia seolah berputar. Baru beberapa minggu lalu ia meninggalkan Erina demi mengejar Arini ke Amsterdam.
Ia ingat betul pertengkaran terakhirnya dengan Erina, di apartemennya saat dia masih di Jakarta. Saat itu, Adrian hanya menganggapnya angin lalu, sebuah gertakan agar ia tetap tinggal.
"Pak," suara Elang memecah keheningan.
"Pihak kepolisian di Jakarta sedang mencari Bapak sebagai saksi kunci. Keberangkatan Bapak ke luar negeri tepat beberapa hari setelah kejadian... membuat asumsi publik liar."
Adrian tertawa sumbang, tawa yang lebih mirip rintihan. "Saya ke sini untuk Arini, Lang. Saya ke sini buat minta maaf sama istri saya karena kesalahan saya sama Erina! Tapi sekarang? Erina mati dan saya malah terlihat seperti pengecut yang lari dari tanggung jawab?"
Adrian bangkit dari sofa, namun kakinya terasa lemas. Ia melangkah menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan kanal Amsterdam yang tenang tak jauh dari sepanjang jalan kota.
"Arini sudah tahu?" tanya Adrian tanpa menoleh.
"Sepertinya belum, Pak. Bu Arini menutup semua akses komunikasinya sejak tiba di sini," jawab Elang hati-hati.
...****************...
Jakarta, Indonesia
Sehari berlalu setelah berita kematian Erina terdengar oleh publik, kini apartemen mewah di Kota Jakarta Selatan itu sudah dipenuhi dengan banyak jurnalis dan polisi. Beberapa agen investigasi dipanggil untuk menyelidiki kasus ini.
Kini apartemen itu di tutup untuk sementara, mereka tidak menerima masayarakat sekitar untuk masuk ataupun menyewa unit sebelum kasus ini benar-benar tuntas.
Laki-laki dengan pakaian serba hitam, serta sepatu boots cokelat dengan suara khasnya itu terdengar begitu ia sampai di lantai basement. Manik matanya yang cokelat melirik suasana disekitar sana. Ya, itu Gio. Ia juga datang kemari sebagai agen investigasi. Inilah pekerjaannya.
Selain ahli menjadi hacker, laki-laki ini adalah agen investigasi rahasia. Namun ia tak pernah memberitahu pekerjaan aslinya, orang-orang disekitarnya hanya tahu bahwa ia hanya laki-laki biasa yang pengangguran.
"Akhirnya kamu datang, Gio," ucap Pak Randy, kepala polisi yang memimpin unit investigasi untuk kasus ini.
"Ah, iya, maaf saya sedikit terlambat Pak!" timpal Gio.
Gio melangkah tenang melewati garis kuning yang membentang di area basement. Aroma amis darah yang samar berbaur dengan sisa wangi parfum mewah yang khas. Baginya, ruangan ini bukan sekadar tempat kejadian perkara, melainkan sebuah teka-teki yang sengaja disusun.
Lampu neon yang berkedip di sudut ruangan menambah kesan suram pada garis polisi yang melingkari area parkir mobil mewah milik Erina. Di sanalah, di antara pilar beton besar nomor 14B, sang model ditemukan tak bernyawa.
"Di sini titiknya, Pak," tunjuk Pak Randy ke area lantai beton yang masih menyisakan bekas kapur.
"Kejadian diperkirakan sekitar pagi hari. Kondisi basement sepi, dan area ini memang blind spot dari kamera pengawas."
Gio berjongkok, menyentuh permukaan semen yang dingin. Matanya menyisir lantai hingga ia menemukan sesuatu yang terhimpit di celah antara beton dan pipa air, sebuah kancing kemeja pria yang tampak sangat bersih, seolah baru saja jatuh.
"Rapi sekali," bisik Gio.
"Kalau dia dibunuh di sini, seharusnya ada tanda-tanda perlawanan yang lebih besar. Kecuali... dia memang tidak menyangka akan diserang oleh orang itu."
Gio berdiri tegak, membelakangi mobil mewah Erina. Ia tidak lagi melihat ke arah pilar 14B, melainkan menatap lurus ke arah lorong remang-remang yang menuju pintu keluar darurat.
"Dia nggak langsung dieksekusi di samping mobilnya," suara Gio menggema pelan di basement yang sunyi.
Pak Randy menaikkan alisnya, "Maksudmu?"
Gio mulai berjalan perlahan, mengikuti garis imajiner di lantai beton. "Lihat posisi mobil ini. Pintunya terkunci otomatis, artinya Erina sudah ada di dekat mobilnya. Dia berjalan sekitar kurang dari sepuluh meter ke arah sana, mungkin ingin menuju lift atau mungkin menghindari seseorang.."
Gio berhenti di satu titik, sekitar lima meter dari mobil. Ia berjongkok, mengamati goresan tipis di lantai yang hampir tak terlihat.
"Di sini titik kontak pertamanya. Ada bekas gesekan tumit sepatu tinggi. Erina mencoba berbalik atau menghindar. Pelaku menyerangnya di sini, tapi Erina tak sempat berlari."
Ia melanjutkan langkahnya lebih cepat, matanya menyisir setiap inci lantai. "Satu tusukan di area perut atau pinggang. Dia kehilangan keseimbangan, menyeret kopernya, tapi tetap berusaha menjauh... mencari tempat yang lebih terbuka, tapi sayangnya dia malah makin masuk ke area gelap."
Gio mengambil sebuah alat deteksi noda protein cair dari tasnya dan menyemprotkannya ke dinding beton di dekat situ. Tak lama, muncul pendaran reaksi kimia.
"Lihat pola percikannya. Ini bukan dilakukan oleh orang yang sedang kalap atau marah besar. Tusukannya presisi. Pelaku tahu di mana letak organ vital agar korban tidak bisa berteriak lama."
Gio kembali menatap kancing kemeja di dalam
plastik klip yang ia temukan tadi di dekat pipa air, lokasi yang justru berlawanan dengan arah lari Erina.
"Kancing ini ditemukan di dekat mobil, tapi Erina tewas lima meter lebih jauh di depan saya. Kenapa kancing ini jatuh di tempat yang 'bersih' sementara di sini penuh darah?"
Gio tersenyum tipis, senyum yang sarat akan kecurigaan. "Pelakunya terlalu percaya diri. Dia pikir dengan menaruh bukti di dekat mobil, kita akan langsung menyimpulkan kalau terjadi perkelahian di sana. Padahal, drama yang sebenarnya terjadi di sini."
Gio mematikan senter UV-nya. Kegelapan basement seolah menelan sosoknya.
"Pak Randy, jangan hanya cari orang yang punya dendam sama Erina. Cari orang yang tahu Erina selalu parkir di sini, tahu jam berapa petugas kebersihan lewat, dan... cari orang yang punya akses ke ruang peralatan di belakang sana-"
"Karena saya yakin, pelaku nggak bawa senjatanya dari luar. Dia mengambilnya dari gedung ini."
Diumumkan kepada khalayak bahwa akan ada seorang yg akan merasa menyesal dikemudian hari karena kesalahanya sendiri.
Demikian... ttd😁