♥️♥️♥️
Perjodohan diusia muda? Yakin berjalan lancar? Usia yang masih labil, tanggung jawab besar, bisakah? Mampukah?.
Akan jadi apa pernikahan tanpa adanya ilmu pengetahuan yang cukup? Mental yang bahkan masih perlu bimbingan orang tua, apa keputusan orang tua mereka sudah benar untuk masa depan anak-anak nanti? Entahlah, semoga aja semuanya baik-baik saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SP_Daffotta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXV
...Selamat membaca
...
....
...
....
...
....
...
Sunrise dari ufuk timur begitu indah menyinari dunia, deburan ombak membuat mata terpesona, sangat indah Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya.
Zarine pagi-pagi, sudah duduk di hamparan pasir putih dengan senyum manisnya, jangan tanya di mana Rafka, pemuda itu masih mendengkur dengan pulasnya di atas ranjang.
“Udara pagi tuh emang bener-bener seger ya, apa lagi bisa lihat sunrise di pantai kayak gini,” Zarine berbicara sendiri dengan senyumnya yang lebar.
“Udah dari tadi kamu di sini, Za?” suara serak Alfi mengagetkan Zarine, gadis itu terlonjak dari duduknya dengan jantungnya berdebar kencang.
“Aduh! Alfi?! Kamu bikin kaget aja!” Zarine mendelik menatap Alfi yang masih mengucek matanya, Alfi hanya tercengir tanpa rasa bersalah menanggapi Zarine, dia malah ikut duduk di pasir putih itu sambil menguap.
“Uh! Dingin juga ya udaranya, untung aku pakai lengan panjang,” Alfi bergidik dingin, memeluk tubuhnya sendiri sambil mengelus pelan.
“Dingin tapi seger Al, aku betah banget dari tadi duduk di sini,” Zarine menanggapi Alfi sambil tersenyum.
“Rafka mana?” Alfi celingukan mencari suami Zarine.
“Masih mendengkur disinggah sananya, udah coba aku bangunin, eh, dia malah jawab cuma sama gumaman, padahal dia loh yang ngajak aku buat liat sunrise, yang ngajak malah ngga bangun,” dengan senyum masamnya Zarine menjawab.
“Sama kaya si Abhi, dia ngajak aku buat jogging, eh, dianya ngga bangun, padahal alarm bunyinya keras banget, ya udah aku tinggal aja,” Alfi juga cemberut mengingat kelakuan suaminya.
“Kalian ngapain di sini pagi-pagi guys? Ngga dingin?” Akifa datang sambil sedikit bersuara keras, kebiasaan Akifa, masih jauh udah berisik.
“Jangan berisik! Masih pagi! Baterai kamu full banget sih!” Alfi mengingatkan dengan nada juteknya, Akifa yang ditegur hanya cengengesan, dia memilik duduk di samping Zarine.
“Eh? Kita ngapain hari ini? Snorkeling yuk!” Akifa dengan baterai fullnya memberikan usulan.
“Boleh tuh, kayanya seru, atau kita main jet ski, aku udah lama pengen naik itu,” Zarine dengan mata berbinarnya menyetujui usulan Akifa.
“Aku ayo aja udah, tapi kita harus obrolin sama para cowok,” Alfi nenatap dua sahabatnya bergantian.
Asik mengobrol, tak terasa matahari sudah sedikit naik, udara sudah teras agak panas.
“Ayo masuk, mandi, habis itu sarapan, perutku meronta nih minta di isi,” Akifa berdiri meregangkan ototnya, Alfi dan Zarine ikut berdiri, mereka berjalan beriringan.
“Kita nih lucu ya,” Alfi berucap sambil terkekeh pelan.
“Lucu kenapa? Kita lagi ngga jadi badut di sini Al,” Akifa dengan nada bingungnya.
“Bukan lucu itu maksudnya, kita lucu karena tiba-tiba nikah, di hari, ditanggal, ditahun yang sama, terus mempelainya sahabat sendiri lagi, apa lagi kamu Fa, kamu sama Abdiel kan kaya tikus sama kucing, ngga ada akur-akurnya,” Alfi berbicara panjang, di bagian akhir, Alfi menertawakan Akifa.
Zarine hanya menyunggingkan bibirnya, membenarkan apa yang dibicarakan Alfi tentang mereka berenam.
Akifa ikut tersenyum, dia jadi ingat kalau sempat berucap tak mau menikah dengan Abdiel, nyatanya dia sekarang malah menaruh rasa suka pada Abdiel.
“Aku percaya orang tua ngga akan mendorong anaknya dalam kesalahan,” perkataan singkat Akifa mendapat gumaman dari 2 sahabatnya itu.
“Sayang?! Dari mana? Aku kaget bangun-bangun ngga ada kamu tau ngga!” Abdiel menghampiri istrinya sambil menampilkan raut khawatir, tanpa sadar dia memanggil Akifa dengan panggilan Sayang.
“Aduh! Belum apa-apa udah Sayang-sayangan aja nih,” Zarine menggoda pasutri muda di depannya ini.
“Ya ngga papalah, kan emang sayangku,” Abdiel merangkul pundak Akifa, gadis itu menunduk malu sambil menyikut pinggang suaminya.
“Akifa ngga mungkin hilang, dasar lebay!” juteknya Alfi keluar.
“Namanya juga kaget, biasanya bangunnya barengan, eh dia tiba-tiba ngilang,” Abdiel mengangkat bahunya acuh.
“Ayo balik ke kamar masing-masing, kita bersiap lalu sarapan,” Zarine berjalan mendahului sahabat-sahabatnya.
....
...
....
...
....
...
Bersambung ...
Lope you pull guys♥️
...Terima kasih🌹...
Ayo baca ulang karyaku, ada perubahan yang agak besar loh, in syaa Allah alurnya aku ubah biar tambah cantik😚
Love you all😚