Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.
Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.
Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.
Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Aru dan ketiga kakaknya kini sudah berada di kamar masing-masing untuk membersihkan diri setelah olahraga pagi tadi. Setelah mandi dan berganti pakaian, Aru memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur, jemarinya sibuk menelusuri layar ponsel tanpa tujuan yang jelas. Kepalanya masih penuh dengan berbagai pikiran yang tak sempat ia cerna sejak pagi.
Di kamar lain, Alvian berdiri di depan jendela. Tirai setengah terbuka, membiarkan cahaya siang masuk samar.
Tangannya mengepal.
Ia tidak marah pada Aru.
Tidak pernah.
Yang membuat dadanya sesak adalah kenyataan bahwa Aru bisa setenang itu… bersama orang lain.
Kenan.
Nama itu berputar di kepalanya tanpa izin.
Cara Kenan berdiri terlalu dekat.
Cara Aru tertawa terlalu lepas.
Cara Kai memanggil Aru dengan sebutan yang seharusnya tidak dimiliki siapa pun.
Alvian menghela napas berat, lalu menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang.
“Gue belum siap…” gumamnya pelan, hampir seperti pengakuan.
Sementara itu, Alvaro bersandar di dinding koridor lantai dua. Ia tidak langsung masuk kamar. Pikirannya masih tertinggal di taman.
Ia melihat semuanya.
Lebih dari yang Aru sadari.
Alvaro mengerti kenapa Alvian marah.
Dan untuk pertama kalinya, ia juga mengerti kenapa dirinya diam.
Karena kali ini… yang datang bukan ancaman yang bisa diusir dengan nada keras.
Melainkan seseorang yang hadir dengan tenang.
Dan itu lebih berbahaya.
Varo menarik nafas beratnya,"Mungkin ini sudah waktunya... " gumam Alvaro. Ia kemudian melangkah masuk kekamar nya.
Setelah selesai mandi, Bisma mengajak kedua adik kembarnya untuk menemui Ayah Dika. Ada satu hal yang sejak tadi mengusik pikirannya,tentang kedekatan Aru dan Kenan. Bisma yakin, ayah mereka pasti mengetahui sesuatu. Tidak mungkin Ayah Dika membiarkan Aru dekat dengan pria asing tanpa alasan yang jelas.
Di ruang kerja Ayah Dika, seluruh anggota keluarga telah berkumpul, kecuali Aru. Tadi Bisma sempat menemui sang ayah di ruang keluarga, namun Ayah Dika justru meminta mereka berkumpul di ruang kerja.
“Apa yang ingin kamu tanyakan, Phi?” tanya Ayah Dika santai, meski sorot matanya menunjukkan ia sudah menebak arah pembicaraan.
Bisma yang duduk berhadapan dengan sang ayah, bersama Alvaro dan Alvian, akhirnya angkat bicara.
“Ini tentang Aru,” ucapnya singkat, menatap Ayah Dika lurus.
“Aru?” Mama Yasmin mengulang, jelas belum memahami.
“Ada apa dengan Aru,? Aru kenapa, Nak?” lanjutnya dengan nada khawatir.
“Tidak, Ma,” jawab Bisma cepat. “Tapi Ayah akan menjelaskannya. Iya kan, Yah?”
Ayah Dika tersenyum tipis. Ia tahu betul ke mana arah pembicaraan ini dan telah menyiapkan jawabannya.
Tatapan Ayah Dika lalu beralih ke Alvaro yang duduk di samping Alvian.
“Bukan Ayah yang akan menjelaskan, Nak. Tapi Alvaro,” ucapnya santai sambil menyesap teh hangat. “Iya kan, Kak?”
Seketika semua mata tertuju pada Alvaro.
Cih, sial, batin Alvaro. Ayah pasti tahu gue nguping waktu itu.
“Apa Abang tahu sesuatu yang tidak kami ketahui,?” tanya Alvian, menatap kembarannya penuh selidik.
“Apa kamu menyembunyikan sesuatu, Dek?” tanya Bisma ikut menekan.
Mama Yasmin semakin bingung. “Kalian ini ngomong apa sih? Mama nggak ngerti. Ada apa sebenarnya?”
“Tenang, Sayang,” ujar Ayah Dika menenangkan istrinya. “Biarkan Alvaro menjelaskan.”
“Kenapa harus aku, Yah?” protes Alvaro.
“Karena kamu mendengar semuanya,” jawab Ayah Dika santai, senyum miring tersungging di bibirnya.
“Cepat bicara, Alvaro! Atau mau gue tonjok, hah!” bentak Alvian sambil berdiri, emosinya mudah tersulut.
Bisma refleks menarik tangan Alvian. “Tenang, Vian.”
Alvaro menghela napas panjang. Ia tahu tak ada jalan keluar lagi.
“Aru… dilamar Om Bas untuk Bang Kenan.”
“Apa?”
“Dilamar?!”
Ketiganya—Bisma, Alvian, dan Mama Yasmin—terkejut bersamaan.
“Iya,” lanjut Alvaro. “Waktu itu Om Bas datang ke kantor Ayah. Lo inget nggak, Vian? Gue izin ke toilet pas rapat siang. Pas balik, gue mau ke ruang Ayah ngajak makan siang. Pintunya nggak ketutup rapat… dan gue dengar Om Bas bilang mau melamar Aru untuk Bang Kenan.”
“Terus?” desak Alvian tak sabar.
“Karena lo nelepon gue suruh balik ke ruang rapat, gue nggak dengar kelanjutannya,” Alvaro menatap Ayah Dika. “Makanya gue simpan sendiri.”
“Ayah?” Bisma meminta penegasan.
Ayah Dika akhirnya meletakkan cangkir tehnya.
“Benar. Om Rian memang melamar Aru. Tapi Ayah tidak menerima dan juga tidak menolak.”
“Maksud Ayah?” tanya Alvian tajam.
“Ayah meminta Aru dan Kenan dipertemukan tanpa paksaan. Ayah ingin mereka saling mengenal.”
“Dan Om Bara?” tanya Bisma.
“Ayah, Om Bas, dan Om Bara bekerja sama,” jawab Ayah Dika.
“Termasuk makan malam yang Aru ceritakan waktu itu,” sambungnya.
“Iya,” jawab Ayah Dika singkat.
“Kenapa Ayah setuju Kenan mendekati Aru?” Alvian menekan.
“Karena Ayah yakin Kenan bisa membahagiakan Aru.”
“Tapi Ayah tahu kan Kenan itu duda, sudah punya anak?” Alvian meninggi.
“Iya, Ayah tahu.”
“Terus kenapa Ayah tetap memberi kesempatan?!”
“Ayah tidak menerima lamaran itu, Alvian.”
“Tapi secara tidak langsung—”
“Ayah tidak menerima!” potong Ayah Dika tegas, nadanya menekan.
“Ayah hanya memberi kesempatan.”
Emosi Alvian memuncak. Ia mondar-mandir gelisah. Kesabaran nya sudah menipis.
“Kenan itu gagal berumah tangga, Ayah! Apa Ayah nggak mikir?”
“Abang setuju dengan Ayah,” Bisma akhirnya bersuaram
“Kenan itu pria baik. Kalau sudah cinta, dia mencintai tanpa setengah-setengah.”
“Aku juga setuju,” sambung Alvaro. “Reputasi Bang Kenan bersih, baik di bisnis Baskara Group maupun pergaulannya dalam dunia kesehatan.”
“Mama juga setuju,” ujar Mama Yasmin lembut.
“Selama niatnya baik.”
“Pokoknya aku nggak setuju!” bentak Alvian.
“Apa alasanmu?” tanya Ayah Dika tajam.
“Karena dia duda.”
“Hanya itu?”
“Iya.”
Ayah Dika menghela napas panjang.
“Kalau Aru bahagia bersama Kenan… apa kamu tetap menolak?”
Alvian terdiam.
“Kenapa kamu diam?” suara Ayah Dika meninggi.
Deg.
Jantung Alvian berdegup kencang.
“Kalau Aru bahagia, apakah kamu tetap tidak setuju?”
“Jawab!” bentak Ayah Dika.
Tanpa menjawab, Alvian berbalik dan pergi.
“Alvian!” teriak Ayah Dika.
Mama Yasmin segera menahan suaminya.
“Biarkan dia tenang dulu, Yah.”
"Mama benar yah,biarkan dia tenang dulu."ucap Bisma yang membenarkan ucapan sang mama.
“Dia cuma takut ditinggalkan Aru,” ucap Alvaro pelan membuat semua mata menatap nya.
Alvaro menarik nafas pelan, “Berapa hari lalu dia ngigau… minta Aru jangan pergi meninggalkan nya.”
Bisma mengangguk pelan, memahami maksud ucapan Alvaro.
“Bisa jadi,” ujarnya tenang. “Mungkin ketakutan itu yang membuat Alvian jadi sangat emosional.”
“Lalu apa langkah Ayah selanjutnya?” tanya
Bisma, menatap Ayah Dika dengan serius.
Ayah Dika menarik napas sejenak sebelum menjawab.
“Ayah, Om Bas, dan Om Bara berencana memindahkan Aru ke kantor Kenan, untuk menjadi sekretarisnya. Kebetulan perusahaan Om Bara akan segera dipegang oleh anaknya, dan perjanjian kerja Aru dengan Om Bara juga akan selesai.”
Ayah Dika menatap satu per satu wajah di hadapannya.
“Ayah hanya ingin yang terbaik untuk Aru, sesuai dengan janji yang pernah kita ucapkan dulu. Usia Aru sudah cukup matang untuk membangun rumah tangga. Ayah ingin dia punya tempat untuk berbagi, meluapkan keluh kesahnya pada orang yang ia cintai.”
Nada suaranya melunak.
“Ayah tahu selama ini Aru terlalu sering memendam semuanya sendiri. Ayah tidak ingin dia menjadi wanita yang terlalu mandiri sampai lupa bagaimana rasanya bahagia. Jika Kenan memang ditakdirkan untuk membahagiakannya, kenapa kita tidak mendukung? Ayah hanya ingin Aru menikmati kebahagiaannya.”
Ucapan itu membuat Bisma, Alvaro, dan Mama Yasmine mengangguk pelan.
“Bisma setuju dengan Ayah,” ucap Bisma mantap. “Bisma juga ingin Aru selalu bahagia.”
“Aku juga setuju,” sambung Alvaro singkat.
Ayah Dika kemudian menoleh pada istrinya.
“Kalau Mama sendiri bagaimana, Ma? Apa Mama setuju dengan Ayah?”
Mama Yasmine tersenyum tipis, meski sorot matanya menyimpan kekhawatiran.
“Sebenarnya Mama setuju dengan semua yang Ayah katakan. Tapi bagaimana dengan Mas Alvian? Mama tidak yakin dia bisa menerima semua ini dengan mudah. Ayah tahu sendiri keras kepalanya dia.”
“Biarkan Alvian tenang dulu, Ma,” ujar Bisma lembut.
“Nanti Bisma dan Alvaro yang akan coba bicara baik-baik dengannya.”
“Iya, Ma, Yah,” tambah Alvaro. “Kalau sekarang kita memaksanya bicara, justru bisa memperburuk keadaan.”
Mama Yasmine akhirnya mengangguk pelan.
“Baiklah, Mama ikut apa kata kalian saja.”
“Kalau begitu, sebaiknya kalian juga istirahat,” kata Ayah Dika sambil berdiri perlahan.
“Nanti kita bicarakan lagi setelah Alvian tenang. Kepala Ayah juga terasa sangat sakit.”
“Biar Bisma bantu Ayah ke kamar,” ujar Bisma cepat, nada suaranya sedikit khawatir melihat wajah Ayah Dika yang tampak lelah.
“Alvaro, tolong ambil tensimeter dan stetoskop di kamar Bisma. Sepertinya tekanan darah Ayah naik.”
“Iya, Bang,” jawab Alvaro sigap.
Alvaro pun keluar dari ruang kerja menuju kamar Bisma. Sementara itu, Bisma dan Mama Yasmine mendampingi Ayah Dika menuju kamar, memastikan langkahnya tetap stabil meski tubuhnya terlihat melemah.
****************
Sementara Itu – Kamar Kenan
Di kamar Kenan, Joe sedang bermain PS5 bersama Kenan dan Kai. Konsol sengaja diletakkan di kamar agar Kai nyaman.
Kenan rebahan di kasur, Kai tengkurap di dadanya.
“Om Joe, liat! Aku menang!” seru Kai antusias.
“Curang! Kamu pencet tombolnya kebanyakan!” Joe protes.
Kenan terkekeh.
“Namanya juga jago, Joe.”
“Telinga gue gatel deh,” gumam Kenan. “Kayak lagi dibicarain.”
“Pasti karma,” jawab Joe santai.
“Mulut lo, Jo."
Kai tertawa kecil
"Daddy jangan berantem sama Om Joe.”
Kenan mengusap rambut Kai pelan.
Tanpa mereka sadari… nama Kenan sedang diperdebatkan dengan sangat serius di rumah keluarga Wiratama.
Bersambung…...........