Apakah kamu percaya cerita Cinderella?
Amina Arafat hanyalah seorang gadis yatim piatu, imigran dari Palestina dan tinggal bersama paman bibinya serta sepupunya di Brussels Belgia. Amina memiliki wajah cantik yang khas, membuat Akira Léopold, putra mahkota kerajaan Belgia, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Amina yang merasa tidak pantas bersanding dengan seorang pangeran dan putra mahkota, mencoba menjauh dari Akira tapi dia salah. Akira adalah keturunan Léopold yang tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bangku sekolah.
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan
Setibanya di Brussels, Amina mulai rutinitas seperti biasanya. Dia kembali ke rumah paman Jalil dan bibi Fatiyah Arafat serta sepupunya Hikmah. Gadis itu senang karena Amina sudah pulang yang berarti dia ada yang bantu tugas plus uang jajan untuk kuliahnya. Hikmah memang baru masuk LUCA School of Art. Hikmah memang punya jiwa seni yang tinggi dan dia sudah bertekad masuk sekolah seni.
"Minta uang jajan, kak Amina," ucap Hikmah tanpa malu. "Kan kak Amina dibiayai Prince Akira."
"Kakak tidak dibiayai Prince Akira, Hikmah. Kalau sekedar uang jajan, ada." Amina mengambil dompetnya dan memberikan beberapa euro untuk Hikmah yang langsung diambil semua oleh adik sepupunya.
"Harusnya kalau pacaran sama pangeran, uangnya dapat banyak. Porotin saja prince Akira. Dia juga bakalan tidak keberatan," ucap Hikmah sinis.
Amina melongo. "Kok kamu jadi berubah begini?"
"Habis kakak juga tidak peka sih! Nepo dikit kenapa? Minta Abi dapat jabatan di perusahaan kereta negara kek, atau kita diberikan uang setiap bulan kek! Kan kamu pacarnya kak! Payah juga kamu!" ujar Hikmah.
"Hikmah, kakak di Zürich juga cari apartemen yang murah, kerja buat biaya hidup disana karena yang gratis cuma kuliah saja. Kan kamu tahu di Swiss lebih mahal dari Brussels," ucap Amina dengan sabar.
"Kamu itu sok baik, sok imut, sok lemah! Harusnya kamu minta fasilitas! Kalau perlu, tukar sama badan kamu itu biar Prince Akira tidak lepas!" sinis Hikmah.
"Astaghfirullah ...." Amina tidak menduga adik sepupunya akan berkata seperti itu.
"Kalau kamu tidak bisa menjaga Prince Akira, akan aku rebut!" seringai Hikmah dengan wajah licik.
Amina hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak tahu bagaimana Akira!"
"Hei, yang namanya cowok, kalau lihat cewek cantik dan badan bagus, pasti akan bertekuk lutut!! Hanya cowok tidak normal yang tidak bisa melihatnya!" Hikmah pun pergi meninggalkan Amina yang terbengong-bengong.
Gadis itu tahu, sudah waktunya dia tidak tinggal bersama paman dan bibinya lagi! Amina merasa sudah ada peringatan dan selama tinggal di Zürich, dia selalu mengandalkan instingnya yang biasanya tepat. Jika dia tinggal kembali kemari, bukan tidak mungkin Hikmah akan semakin membuatnya sakit kepala!
***
Dua Minggu Kemudian
Amina berpamitan pada paman dan bibinya untuk kembali ke apartemennya, yang dipinjamkan oleh Zinnia. Dia memutuskan pindah karena semua barang-barangnya sudah tiba disana. Amina tahu dirinya seperti memanfaatkan Akira dan keluarga Léopold tapi dia tahu diri batasannya. Amina tiba disana sendirian karena Bea diberikan libur oleh Akira karena sudah dua tahun tidak berkumpul dengan keluarganya.
Gadis itu duduk di sofa ruang tengah dan hanya menatap datar ke tv layar lebar yang menyiarkan berita Princess Amira yang datang bersama dengan Prince Nicholas of England di acara Liga Champions. Dua sepupu itu tampak dekat satu sama lain dan membuat banyak orang gemas dengan keuwuan mereka.
Selain berita itu, televisi juga menyiarkan berita Akira yang mendampingi Sean serta Zinnia di acara pembukaan pameran lukisan para artis muda Belgia. King Father dan Queen Mother adalah sponsor utama untuk para artis muda hingga bisa pameran. Selain itu, mereka juga dikenal pelindung seni dan budaya Belgia meskipun Zinnia bukan orang Belgia asli.
"Akira ... Apa kamu tahu ... Tunggu! Pameran lukisan?" Amina terkesiap. "Hikmah ada pameran disana!"
***
Royal Museum Brussels
"Amina tidak kamu ajak, Kira?" bisik Zinnia ke Akira.
"Mina katanya mau di apartemen saja. Barang-barangnya sudah pada datang jadi dia mau bongkar-bongkar," jawab Akira.
"Bongkar kan bisa besok-besok," ucap Zinnia dengan bahasa Indonesia. "Harusnya kan dampingi kamu."
"Oma, Mina memang belum siap di acara resmi begini. Tolong beri dia waktu," senyum Akira dengan sabar.
"Besok Sabtu depan ada acara balet. Ajak Mina! Bawa ke butik, pilih baju yang bagus! Oke?" Zinnia menatap cucunya tajam.
"Baik Oma. Tolong, jangan judes-judes deh!" Akira tertawa kecil melihat wajah Zinnia.
"Kamu itu harus tiru cara Opa dan Daddy kamu! Sat set gitu lho Kira!"
"Iya Omaaaa," kekeh Akira sambil merangkul lengan Zinnia.
"My prince, Queen Mother, mari saya perkenalkan para artis yang berpartisipasi di acara ini," ajak Direktur Museum.
"Dimana King Father?" tanya Akira.
"Beliau sedang berbincang dengan menteri Budaya." Direktur Museum menunjuk ke arah Sean yang sedang asyik berdiskusi soal lukisan yang ada di area naturalisme.
"Oh begitu. Ayo, kita temui para artis yang sudah membuat karya yang indah," senyum Zinnia yang digandeng Akira.
Oma dan cucu itu pun berkenalan dengan para artis hingga mereka bertemu dengan Hikmah Arafat. Zinnia mengenali gadis itu, begitu juga dengan Akira.
"Kamu adiknya Amina kan?" senyum Zinnia.
"Benar Queen Mother," jawab Hikmah manis.
"Ternyata kamu sudah besar dan sudah bisa pameran. Kuliah dimana?" tanya Zinnia.
"Luca School of Art, Queen Mother. Prince Akira, bagaimana dengan karya saya?" Hikmah menatap Akira tanpa malu.
Akira yang sudah terlatih emosinya, hanya mengangguk sopan. "Abstrak yang ... Aku tidak bisa membaca ... apakah itu wajah seseorang?" tanya Akira.
"Mata anda sangat jeli, My Prince. Itu lukisan wajah anda, Prince Akira," jawab Hikmah bangga.
Zinnia melihat lukisan abstrak itu dan dia bisa melihat garis wajah Akira di lukisan itu.
"Sangat ... Artistik dan kontemporer... Bukankah begitu, Akira?" puji Zinnia tapi dia tahu, gadis di depannya berusaha menggoda cucunya.
"Queen Mother benar ... Sangat berbeda. Tapi aku menghargainya," senyum Akira.
Hikmah sangat senang mendapat pujian dari Zinnia dan Akira.
"Mari, Queen Mother, prince Akira ... Kita ke bagian seni patung dan keramik," ajak Direktur Museum.
Tanpa diduga, Hikmah dengan berani menyisipkan secarik kertas ke tangan Akira. Pria itu terkejut dan menoleh ke arah Hikmah yang membuat ucapan tanpa suara "Call me ( telpon aku )."
What the ... Aku pacaran sama kakaknya! - batin Akira yang diam-diam membuang kertas kecil itu saat berada di tempat seni keramik.
Nggak beres ini!
***
Keesokan paginya, Akira bergegas menuju apartemen Amina dan dia ingin kekasihnya tahu bagaimana kelakuan sepupunya. Bagi Akira, lebih baik Amina tahu dari dirinya daripada dari media gosip. Akira memencet password pintu apartemen Amina dan dia pun masuk ke dalam. Suasana tampak lengang tapi dia bisa mencium harum kopi. Akira melihat gadisnya sedang di balkon mengenakan sweater dan legging hitam. Amina menikmati pemandangan dari apartemennya yang langsung pemandangan hutan dan danau buatan Brussel.
"Mina ...."
Amina menoleh sambil tersenyum. "Pagi Akira."
"Aku ada sesuatu yang ingin diceritakan!" ucap keduanya saling bersamaan.
"Eh?"
***
Yuhuuuu up malam Yaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu