Apakah kamu percaya cerita Cinderella?
Amina Arafat hanyalah seorang gadis yatim piatu, imigran dari Palestina dan tinggal bersama paman bibinya serta sepupunya di Brussels Belgia. Amina memiliki wajah cantik yang khas, membuat Akira Léopold, putra mahkota kerajaan Belgia, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Amina yang merasa tidak pantas bersanding dengan seorang pangeran dan putra mahkota, mencoba menjauh dari Akira tapi dia salah. Akira adalah keturunan Léopold yang tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bangku sekolah.
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Akira
Zürich, Swiss
Amina merasa lega karena tesisnya sudah selesai dan sekarang tinggal menunggu jadwal sidang. Bukan tanpa alasan Amina memilih kuliah di Swiss karena salah satu bahasa resmi Swiss adalah Jerman dan dia sangat fasih bahasa itu.
Swiss memiliki empat bahasa resmi: Jerman, Prancis, Italia, dan Romansh. Bahasa Jerman adalah yang paling banyak digunakan ( >60% ), disusul Prancis ( Barat ), Italia ( Selatan ), dan Romansh ( terbatas di Graubünden ). Sebagian besar penduduk menuturkan dialek Jerman Swiss, sementara bahasa Jerman baku digunakan dalam situasi formal, pendidikan, dan dokumen.
Bea yang menemani Amina, ikut bahagia karena nonanya akan segera mendapatkan gelar magisternya. Amina tersenyum lebar saat melihat Bea.
"Akhirnya tesis aku lolos juga! Alhamdulillah ... Bisa sidang Minggu depan sesuai jadwal." Amina langsung memeluk Bea. "Aku sudah khawatir tidak bisa lulus secepatnya. Aku rindu Belgia."
"Tapi Nona kan sempat pulang saat Eid Mubarak," ucap Bea sambil melepaskan pelukan Amina.
"Tapi cuma dua hari dan aku memilih tidak datang ke acara di istana meskipun Paman dan Bibi aku diundang resmi."
Bea tahu Akira tetap menanyakan Amina ke paman dan bibinya. Bea tahu wajah pangeran tampan itu agak mendung karena Amina tidak mau ikut ke istana. Hingga detik ini, Akira masih tetap mencintai Amina dan Bea tahu itu.
"Ayo kita pulang Bea. Aku ingin masak yang enak-enak!" ajak Amina.
Keduanya pun pulang dengan berjalan kaki karena kampus ke apartemen cukup dekat. Amina mengakui semenjak di Swiss, dia lebih sering jalan kaki atau naik sepeda. Mobil yang mereka sewa, hanya dipakai jika memang harus ke Jerman untuk berbelanja. Bea memang dikirimi uang oleh Zinnia untuk bekal selama di Zürich tanpa setahu Amina. Bea memang bekerja untuk tambahan dan Amina bekerja saat weekend. Amina tidak tahu kalau sebenarnya uang gajinya Bea tidak cukup tapi pengawalnya bilang tenang saja.
Mereka pun berjalan sambil mengobrol banyak hal tanpa tahu sepasang mata coklat keemasan melihat dua gadis itu dari dalam mobilnya. Bibirnya tersenyum dan sorot matanya terpancar rasa rindu.
"Dua tahun aku kasih waktu berpisah, ternyata perasaan aku tetap sama Mina."
***
Istana Brussels Belgia
"Akira ke Zürich?" tanya Arsyanendra saat tidak melihat putra sulungnya di meja makan untuk makan siang.
"Iya. Amina sudah lolos tesisnya dan menunggu sidang. Jadi dia mau kasih support," jawab Violet.
"Akira itu sangat aku deh!" celetuk Sean sambil mengerlingkan matanya ke Zinnia yang tersenyum gemas ke suaminya.
"Nggak usah gitu deh Sean," balas Zinnia sembari mencium pipi Sean.
"Tunggu ... Amira kemana?" tanya Arsyanendra yang juga tidak melihat putri bungsunya.
Tiba-tiba suara langkah kaki sedikit berlari masuk ke area ruang makan. Tampak Imelda berlari dan berhenti saat empat orang itu ada di ruang makan. Thomas, asisten Arsyanendra, ikut dibelakangnya.
"Yang Mulia ... Hah ... Hah ... Saya cari di ruang kerja ... Ternyata di ... Sini ...." ucap Imelda terengah-engah sambil membungkuk memegang kedua lututnya.
"Ada apa Imelda?" tanya Arsyanendra. "Mana Amira?"
"Yang Mulia ... Princess Amira kabur!"
Sontak keempat orang itu mendelik.
"KABUR?"
***
Zürich Swiss
"Ya Daddy?" Pria yang masih di dalam mobil menerima telepon dari ayahnya yang marah-marah. "Amira kabur kan sudah biasa Daddy. Hitung saja dua tahun terakhir ini berapa kali coba?"
"Tapi kan dia harus melakukan tugas istana, Akira! Kamu juga sama saja! Main kabur ke Zürich!" amuk Arsyanendra. "Ya ampun, Akira. Jangan gen Opamu diambil semua!"
"Heeeiiii!"
Akira tersenyum saat mendengar protes Sean di belakang ayahnya.
"Dad, siapa tahu Amira menemukan jodoh disana," ucap Akira santai.
"No, Daddy tidak mau punya menantu orang Amerika!" ucap Arsyanendra tegas. "Benar-benar tidak mau!"
"Dad, tenang saja. Jangan panik. Telepon saja kedutaan, suruh ada pengawal buat Amira. Imelda sudah pasti ditinggal Amira kan?" jawab Akira santai.
"Oke. Daddy telepon Kedutaan. Siapa yang mengawal kita kemarin?"
"Grady Daugherty."
"Oke. Biar dia saja! Daddy lihat dia tegas orangnya!"
"Sabar Daddy. Mira kan masih ingin bebas sebelum full jadi princess. Kalau aku, harus bawa kekasihku pulang."
Arsyanendra menggelengkan kepalanya. "Bawa pulang secepatnya!"
"Siap Daddy!"
Akira mematikan panggilan telepon ayahnya dan keluar dari mobil. Akira memang sengaja naik mobil dari Belgia ke Swiss supaya bisa membawa pulang Amina lewat darat. Pria itu mengunci mobilnya dan berjalan menuju apartemen Amina. Akira senang karena lingkungan gedung itu sangat aman. Bisa dibilang, Zurich khususnya dan Swiss umumnya, termasuk negara yang sangat aman.
Pria itu naik ke atas lewat tangga dan berdiri di depan pintu apartemen Amina. Akira pun mengetuk pintu dan tak lama, Amina membukanya. Mata hijaunya terbelalak saat melihat siapa yang berdiri di depannya.
"Halo, Mina. Bagaimana kabarmu?" senyum Akira.
"A ... Eh, My Prince." Amina membungkuk hormat.
"Bolehkah aku masuk?" tanya Akira.
Amina hanya mengangguk dan menyingkirkan tubuhnya serta membuka pintunya lebar. Akira pun masuk dan dia bisa melihat isi apartemen yang rapi itu. Bea yang keluar dari dapur, terkejut melihat Akira berada di ruang tengah.
"Prince Akira?" Bea langsung membungkuk hormat.
"Halo Bea. Bisakah kamu membuat kopi. Aku butuh kopi," pinta Akira.
"Baik My Prince." Bea pun kembali ke dapur sementara Amina mendekati Akira sambil bersedekap.
"Bagaimana kamu bisa ... Bea," gumam Amina.
Akira tersenyum. "Kamu semakin cantik Amina."
"Akira. Tidak usah basa-basi. Ada apa kamu kemari?" tanya Amina.
Akira langsung memeluk Amina. "Menemani kamu maju sidang magister kamu dan membawa kamu pulang ke Belgia."
"Apa? Akira ... Apa maksudnya?"
"Kamu itu tetap pacarku meskipun kamu sudah meninggalkan aku di rumah sakit!" jawab Akira.
Amina melongo. "Akira, aku tidak pantas buatmu!"
"Siapa yang bilang? Aku yang jatuh cinta padamu! Aku yang ingin bersamamu! Bagaimana bisa kamu bilang tidak pantas?" balas Akira.
"Akira ... Tolong. Kamu bisa mencari gadis la ...."
"Aku tidak mau gadis lain! Aku mau kamu, Mina!"
***
Yuhuuuu up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
don't forget to like vote and gift
Tararengkyu