Pertemanan dua keluarga tidak menjadikan Allegri dan Allegra akrab. Sejak kecil keduanya selalu berdebat dan membuat Allegra sebagai gadis mungil yang memiliki tubuh berisi menangis karena bullying yang di lakukan Allegri.
Allegra selalu memeluk Monica, mengadu pada wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kedua baginya setelah Giana.
Beberapa tahun berlalu keduanya telah dewasa. Kini Allegri menjadi pimpinan rumah yang di dirikan orang tuanya. Laki-laki tampan itu menjadi pemimpin yang terkenal dingin dan berdedikasi tinggi terhadap aturan yang telah ia tetapkan.
Allegra tidak bisa menolak ketika kedua orangtuanya Valentino dan Giana , meminta ia melanjutkan bekerja untuk mengabdikan diri dirumah sakit yang kini di pimpin Allegri.
Bagaimana saat keduanya menjadi rekan kerja? Apakah keduanya masih saling membenci?
Ikuti sekuel TERJEBAK CINTA MAFIA ini ya. Anak Monica-Luigi & Valentino-Giana. Semoga kalian suka.
Jangan lupa interaksi kalian di setiap bab, agar novel ini bisa berk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI KE KOTA MESSINA
Tok..
Tokk...
Ketukan di pintu memaksa Alle yang masih terlelap seketika membuka matanya.
"Alle, aku masuk sekarang ya..."
Allegra menghela nafas setelah tahu siapa yang ada di depan pintu.
"Hm... Iya Gabby. Buka saja!"
Allegra tahu itu suara Gabriel. Alle duduk sambil mengusap wajahnya yang masih terlihat mengantuk.
Sinar matahari menembus cela kaca jendela yang tertutup tirai.
"Ceklik...
Gabriel yang membuka pintu. "Kamu tidur nyenyak sekali Alle, memangnya kau tidak tidur semalam?", ujar laki-laki itu.
Allegra mengucek matanya yang masih terasa berat dan dengan cueknya kembali menjatuhkan tubuhnya ketempat tidur.
"Heii jangan tidur lagi. Aku tidak mau membangunkan mu. Dasar tukang tidur".
"Ah Gabby, aku masih mengantuk. Semalam aku tidak bisa tidur, suara petir itu mengganggu ku".
"Kai ini sudah dewasa tapi masih saja takut mendengar suara petir. Ayo bangun Alle, kita bisa terlambat ke Bandara kalau kau tidur lagi. Sekarang sudah pukul sepuluh". Gabriel menarik paksa tangan gadis yang malas-malasan itu.
Mendengar perkataan Gabriel, seketika Allegra berdiri. "Sudah pukul sepuluh??", ujarnya kaget dan mengambil handphone di atas meja, ternyata benar sekarang sudah menjelang siang.
"Aku baru bisa memejamkan mata saat fajar, Gabby", ujar Allegra sambil melangkah ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Allegra dan Gabriel berkuda untuk pulang ke rumah.
"Gabby...di mana Allegri? Apa ia sudah di hacienda?", tanya Alle ketika ia berkuda berdua dengan Gabriel karena tak melihat keberadaan Allegri sejak ia membuka matanya tadi.
"Dia telah kembali ke Messina, Alle. Kakakku menerima kabar dari rumah sakit ada pasiennya yang kritis dan butuh penanganan segera".
Mendengar penjelasan Gabriel mendadak membuat perasaan gadis itu tidak enak. "Kenapa dia tidak memberi tahu aku", batin Alle yang kecewa mendengar Allegri pulang duluan ke Messina.
Allegra menatap para petani yang sudah sibuk dengan tugas masing-masing. Entahlah kenapa melihat pemandangan indah itu tidak membuat Allegra bahagia. Ia tidak berminat untuk berkeliling perkebunan lagi. Allegra ingin cepat-cepat kembali ke Messina juga.
"Gabby, apa kakak mu sering mengajak kekasih nya kemari?", tanya Allegra tiba-tiba.
"Kekasih? Siapa maksud mu? Mana mungkin kakak ku yang workaholic itu punya waktu menikmati liburannya Alle. Ke sini saja, baru kali ini sejak beberapa tahun yang lalu. Ia mau pergi kemarin ke perkebunan karena ada kau saja", ujar Gabriel.
Jawaban Gabriel membuat jantung Allegra berdegup lebih cepat.
"Alice mungkin? Apa arti AA itu Gabby? Nama perkebunan ini ‘AAPlantation’ dan aku banyak melihat pahatan di pondok. Apa artinya Allegri-Alice? Kata kakak mu, bukan Alice. Mungkin ada wanita lain yang kakak mu cintai ya. Kamu tidak menceritakannya pada ku. Kata mu Allegri memiliki kekasih bernama Alice, ternyata ada wanita lainnya".
"Kalau masalah itu sebaiknya kamu tanya langsung saja dengan Allegri. Aku tidak berhak menjelaskan apapun Alle terutama menyangkut urusan pribadi kakak ku", jawab Gabriel.
"Kamu juga tidak memberi tahu aku, Al menyusul aku ke bandara ketika aku memilih kuliah di Amerika. Kenapa kau menutupinya? Padahal aku sangat terbuka pada mu, menceritakan semua pada mu". Allegra memukul pundak Gabriel dengan wajah di tekuk.
Gabriel tersenyum melihatnya. "Alle, kau sudah dewasa, kau bisa mencari jawaban sendiri. Seharusnya kau bisa menautkan satu persatu pertanyaan mu itu. Bagaimana perlakuan kakakku setelah melihat mu lagi".
"Sudahlah, nanti saja kau tanyakan langsung dengan kakak ku. Aku ingin membantu Maura berkemas", ucap Gabriel melangkah menuju rumah.
Allegra menganggukkan kepalanya. Memang ada banyak pertanyaan di kepalanya namun Alle tahan ketika keduanya telah sampai di rumah. Terlebih di sana sudah ada Maura yang menyambut mereka.
"Sebaliknya kamu juga bersiap-siap, dua jam lagi kita akan pulang ke Messina".
"Iya Gabby", jawab Allegra menuju kamarnya.
*
Pesawat yang ditumpangi Allegra, Gabriel dan Maura telah mendarat dengan sempurna.
Sejak terbang beberapa jam yang lalu tidak banyak yang Alle lalukan, gadis itu lebih banyak melamun dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela melihat gumpalan awan tebal.
Hingga berangkat tak satupun pesan di kirim Allegri untuknya.
Allegra memeluk bergantian Gabriel dan Maura. Mereka berpisah di bandara.
Kini Alle sudah di dalam mobil yang di kendarai Marco.
"Bagaimana akhir pekan nona di perkebunan tuan Allegri, apa menyenangkan?", tanya Marco dengan sopan sambil melihat putri bos-nya itu dari kaca spion.
Allegra tidak langsung menjawab pertanyaan Marco, gadis itu mengalihkan pandangannya keluar.
Terdengar hembusan nafas berat Alle. "Iya paman. Aku senang di sana", jawabnya singkat. Namun tampak jelas tidak bersemangat.
Allegra menatap layar handphonenya, tidak ada notifikasi yang sebenarnya ingin ia lihat sejak masih di perkebunan hingga sekarang. Tidak ada pesan masuk dari Allegri.
Gadis itu melihat jam tangannya, menunjuk pukul dua siang. "Paman antar aku ke rumah sakit. Ada yang ingin aku ambil di ruang kerja ku", ujar Allegra tiba-tiba.
Sejak di pesawat kepalanya selalu memikirkan Allegri. Semuanya. Terutama tentang perkataan Al saat ia pura pura sudah tertidur semalam.
Setelah hampir satu jam berkendara, mobil yang di kendarai Marco berhenti di depan lobby rumah sakit. Saat ini hari Minggu, jalanan dari kota Messina ke kota Castemola tidak terlalu padat.
"Paman pulang saja tidak usah menunggu ku. Bisa jadi aku akan lama", ujar Allegra sebelum turun mobil.
"Baik nona, tapi jika nona Alle mau pulang nanti hubungi saja paman. Mau jam berapa pun paman akan menjemputmu", ujar Marco sebelum melajukan mobil yang ia kendarai.
Allegra langsung menuju lift khusus. Ternyata rumah sakit hari ini ramai pengunjung. Mungkin mereka hendak melihat keluarga ataupun teman mereka yang sedang di rawat.
"Ting...
Allegra segera keluar lift menuju ruang kerjanya. Bertepatan dengan pintu ruang Allegri ada yang membuka dari dalam. Ternyata Guiliano yang baru saja keluar. Laki-laki itu tersenyum melihat Allegra.
"Nona Allegra kenapa datang ke kantor, bukannya nona dan tuan Gabriel sedang di perkebunan?"
"Kami baru saja tiba. Aku mau mengambil barang ku tertinggal di dalam", jawab Allegra membalas senyum laki-laki itu.
Guiliano menganggukkan kepalanya. "Baik nona saya harus memberikan dokumen ini ke bawah", ujar Guiliano sambil memperlihatkan amplop yang afa di tangannya pada Allegra.
"Iya. Um..Gui, apa kamu melihat atasan kita?".
Guiliano yang sudah melangkah menolehkan wajahnya pada Alle. "Maksud nona, dokter Allegri?".
"Iya. Siapa lagi".
"Dokter Allegri sedang mengoperasi salah satu pasiennya. Sejak pukul sebelas tadi masuk ruangan hingga sekarang belum selesai juga operasi nya", jawab Guiliano kemudian permisi kebawah.
"Ternyata ia benar-benar sibuk. Wajar saja tidak sempat menghubungi ku", gumam Alle duduk bersandar di sofa yang ada di ruang kerjanya.
*
Beberapa jam berlalu..
Senyum bahagia penuh syukur terucap dari bibir keluarga pasien yang menunggu berjam-jam di luar ruang operasi saat Allegri menyampaikan keberhasilan ia dan tim melakukan operasi pada salah satu keluarga mereka.
Allegri memberikan tanda tangan digital di meja administrasi sebagai bukti telah selesai melaksanakan tugasnya.
Setelah tidak ada lagi pekerjaan di rumah sakit, laki-laki itu hendak langsung pulang ke rumah. Sekarang tubuhnya terasa penat setelah melakukan penerbangan di pagi hari dari Tuscany, langsung menuju rumah sakit bersiap melakukan operasi.
Terlihat guratan lelah di wajah laki-laki tampan itu. Terlebih semalam ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.
"Tuan Allegri..!!"
Guiliano terlihat tergesa-gesa mengejar Allegri yang sudah di carport hendak masuk mobilnya.
"Nona Allegra ada di ruangannya. Tadi saya bertemu ketika mengambil berkas di ruangan tuan. Ia sempat menanyakan tuan", ucap Guiliano memberi tahu atasannya.
"Alle, datang kerumah sakit?".
"Iya tuan", jawab Guiliano asistennya.
"Kamu pulang saja Gui, besok pagi jangan sampai terlambat".
"Iya tuan. Saya akan menyelesaikan pekerjaan saya kemudian langsung pulang", jawab laki-laki muda itu.
Allegri menaruh tas medis di dalam mobilnya kemudian kembali ke dalam. Langsung menuju lantai dua puluh.
...***...
To be continue