NovelToon NovelToon
PANTASKAH AKU BAHAGIA

PANTASKAH AKU BAHAGIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia

"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: PERUBAHAN YANG MENGUSIK

Pagi itu, Alsya masuk ke gerbang sekolah dengan aura yang beda banget. Nggak ada lagi riasan berlebihan atau senyum paksa yang dibuat-buat. Dia cuma pakai jaket hoodie di atas seragamnya, berjalan santai di samping Samudera tanpa peduli sama sekali dengan tatapan orang-orang.

"Loe nanti istirahat mau ke mana?" tanya Samudera sambil membenarkan letak tasnya.

"Terserah loe aja. Gue ngikut," jawab Alsya singkat, tapi ada binar kecil di matanya yang biasanya redup.

"Yaudah, tunggu gue di depan kelas loe," kata Samudera sebelum mereka berpisah di pertigaan koridor.

Begitu Alsya sampai di depan kelas, dia sudah dicegat oleh Revaldi. Cowok itu berdiri dengan gaya angkuh, tapi matanya menunjukkan rasa tidak suka yang besar.

"Tumben telat, Sya. Biasanya loe udah nungguin gue di depan gerbang buat ngasih susu kotak atau apa lah itu," sindir Revaldi dengan nada meremehkan.

Alsya berhenti, menatap Revaldi datar. "Oh, loe nungguin? Sorry ya, gue lupa kalau loe masih sekolah di sini."

Revaldi mengernyitkan dahi. Ini bukan reaksi yang dia harapkan. Biasanya, kalau dia ngomong begitu, Alsya bakal langsung minta maaf atau malah makin agresif nyari perhatiannya. "Loe kenapa sih? Sehari nggak ketemu gue, langsung sok jual mahal gara-gara deket sama anak baru itu?"

"Jual mahal?" Alsya tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat tulus di telinga Revaldi—dan itu malah bikin dia makin emosi. "Nggak, Val. Gue cuma baru sadar kalau ngejar loe itu buang-buang waktu. Capek, tahu."

"Sya, loe jangan gitu sama Revaldi," tiba-tiba Eliza muncul dari belakang Revaldi, suaranya lembut tapi bagi Alsya terdengar sangat palsu. "Revaldi cuma nanya karena dia khawatir sama loe."

"Khawatir?" Alsya menoleh ke Eliza. "Loe berdua cocok banget ya. Yang satu ngerasa paling hebat, yang satu ngerasa paling baik. Udah deh, mending loe berdua fokus aja sama hubungan kalian. Nggak usah urusin gue."

Alsya berniat masuk ke kelas, tapi Revaldi malah menarik lengan Alsya dengan kasar. "Loe denger ya, Sya. Gue nggak suka loe main-main sama cowok nggak jelas kayak Samudera itu. Dia cuma bakal bawa loe ke jalan yang salah!"

"Emangnya jalan yang bener itu yang mana, Val? Jalan yang bikin gue nangis tiap hari gara-gara hinaan loe? Atau jalan yang bikin orang tua gue makin benci sama gue?" Alsya menyentak tangannya sampai lepas. "Loe itu nggak peduli sama gue, Val. Loe cuma keganggu karena nggak ada lagi orang yang bisa loe injak-injak buat ngerasa lebih tinggi. EGO loe yang terluka, bukan perasaan loe!"

Revaldi terdiam. Kata-kata Alsya barusan terasa sangat akurat dan tajam. Selama ini dia merasa di atas angin karena Alsya sangat memujanya, dan sekarang saat Alsya pergi, dia merasa kehilangan sesuatu yang penting.

"Sya, loe—"

"Woi."

Samudera tiba-tiba sudah berdiri di belakang Alsya. Entah sejak kapan cowok itu kembali, tapi aura dinginnya langsung menyelimuti area itu. Samudera menaruh tangannya di bahu Alsya, sebuah gerakan protektif yang membuat Revaldi makin geram.

"Ada masalah apa lagi? Gue pikir loe udah dapet pelajaran kemarin," ucap Samudera sambil menatap tajam ke arah Revaldi.

"Loe nggak usah ikut campur! Ini urusan gue sama Alsya!" bentak Revaldi.

Samudera tersenyum miring, senyum yang sangat menyebalkan. "Urusan Alsya itu urusan gue juga. Karena mulai sekarang, siapapun yang bikin dia nangis, harus berhadapan sama gue. Termasuk loe, Val."

Samudera menunduk sedikit ke arah Alsya.

"Ayo masuk, Sya. Jangan dengerin gonggongan anjing pagi-pagi begini."

Alsya menurut dan masuk ke kelas tanpa menoleh sedikit pun ke arah Revaldi maupun Eliza. Di dalam kelas, Alsya bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi karena dia merasa sangat puas bisa bicara jujur pada Revaldi.

Sedangkan di luar, Revaldi mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap pintu kelas Alsya dengan amarah yang membara. Sementara Eliza hanya terdiam, dia mulai merasa kalau posisi "malaikat"-nya perlahan-lahan mulai goyah di hadapan kejujuran baru Alsya.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!