Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Han shui sang pedang kaisar
Udara di lapangan Akademi Tian Meng yang semula riuh oleh denting senjata dan teriakan maut mendadak membeku. Tiga dari tujuh tetua agung telah tumbang, tubuh mereka tergeletak di atas puing-puing kejayaan masa lalu yang hancur. Da Ge terengah-engah, memaksakan lututnya yang gemetar untuk tetap berdiri tegak, sementara Ling’er masih tak sadarkan diri dalam lindungan energi emas Zhou Yu yang kian menipis.
Tetua Mo, dengan sisa tenaga di ujung napasnya, menatap Zhou Yu. "Lari... bawa Ling'er pergi... kau adalah api harapan terakhir kami..." bisiknya, sebuah perkataan yang terdengar lebih menyakitkan daripada luka tusukan di punggungnya.
Zhou Yu berdiri mematung. Keputusasaan mulai merayap seperti racun ke dalam sukmanya. Namun, tepat saat kegelapan batin hendak menelan kesadarannya, sebuah suara yang jauh lebih dingin daripada salju abadi di puncak gunung bergema di relung jiwanya. Suara itu bukan milik Zhou Yu. Itu adalah suara yang datang dari kedalaman Pedang Han Shui.
"Bocah, kau terlalu lemah untuk penderitaan ini," suara Han Shui terdengar datar, namun mengandung kata yang mampu menggetarkan fondasi dunia. "Kau ingin melindungi mereka? Kau ingin membalas darah yang tumpah? Maka, berhentilah mencoba menjadi pahlawan yang suci.."
"Berikan aku kendali."
Zhou Yu tertegun. Ia tahu risiko menyerahkan raga pada roh pedang kuno, namun saat matanya melihat Tetua Qin yang berdarah dan Ling’er yang pucat, ia memejamkan mata. "Lakukan," jawabnya dalam batin.
Seketika, atmosfer di seluruh akademi berubah.
Pupil mata Zhou Yu yang semula berwarna emas murni mendadak menyusut, lalu berubah menjadi warna biru kristal yang bening namun mematikan. Pembuluh darah di pelipisnya menonjol, memancarkan cahaya biru elektrik. Rambutnya yang hitam perlahan berubah menjadi perak berkilauan, dan aura yang keluar dari tubuhnya kini bukan lagi energi manusia, melainkan Primordial Frost Qi yang telah tertidur selama ribuan tahun.
Pedang Han Shui di tangannya berdenging keras, mengeluarkan kabut putih yang sangat pekat.
"Tubuh ini... sungguh rapuh," ucap Zhou Yu, namun suaranya kini berat, berganda, dan memiliki gema yang menakutkan. Han Shui telah mengambil alih sepenuhnya.
Pria jubah merah itu mendadak menghentikan tawanya. Instingnya sebagai kultivator tingkat tinggi berteriak nyaring bahaya mematikan sedang berdiri di depannya. "Siapa kau?! Tekanan ini... tidak mungkin berasal dari seorang bocah!"
Han Shui (dalam tubuh Zhou Yu) tidak menjawab. Ia hanya mengangkat pedangnya dengan satu tangan. "Kalian menyebut diri kalian iblis?" ia bertanya dingin.
"Kalian hanyalah debu jika di bandingkan dengan iblis yang di hadapi 'orang itu'' ratusan tahun lalu.."
Tanpa aba-aba, Han Shui bergerak. Ia tidak berlari, ia menghilang.
SHUUUT!
Dalam satu kedipan mata, Han Shui sudah berada di tengah-tengah ratusan pasukan Sekte Bayangan Darah. Ia tidak menggunakan teknik pedang yang rumit. Ia hanya berjalan dengan tenang, namun setiap kali Han Shui melangkah, tanah di bawah kakinya membeku dan meledak menjadi duri-duri es raksasa.
"Teknik Pedang kaisar: pembelah dimensi" bisiknya.
Sebuah teknik yang berbeda dengan yang biasa Zhou Yu gunakan.
Ia mengayunkan Han Shui dalam lingkaran sempurna. Sebuah gelombang kejut berwarna biru pucat merambat dengan kecepatan yang tak masuk akal. Ratusan pasukan iblis yang tadinya menerjang dengan ganas tiba-tiba terhenti. Senjata mereka, zirah mereka, bahkan darah di dalam pembuluh darah mereka membeku seketika.
KRAK! KRAK! KRAK!
Detik berikutnya, ratusan patung es itu hancur menjadi debu salju. Tidak ada jeritan, tidak ada darah yang mengalir, hanya kesunyian yang mengerikan. Dalam satu serangan tunggal, separuh dari pasukan sekte jahat telah dihapus dari keberadaan.
"Monster! Dia monster!" teriak beberapa anggota sekte yang masih tersisa, mencoba melarikan diri.
"Lari?" Han Shui menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak sangat asing pada wajah tampan Zhou Yu. "Dunia ini adalah penjara esku. Kalian tidak punya tempat untuk bersembunyi."
Ia menghentakkan pedangnya ke tanah. Ratusan pedang es muncul dari udara tipis, melesat seperti anak panah yang dipandu oleh kehendak dewa. Setiap pedang es menemukan jantung korbannya. Dalam hitungan detik, lapangan yang tadinya penuh dengan musuh kini bersih, menyisakan tumpukan es dan keheningan yang menyesakkan.
Kini, hanya tersisa pria jubah merah dan si Topeng Perak. Mereka bergetar hebat. Kekuatan yang mereka banggakan, yang mampu menjatuhkan tiga tetua agung, kini tampak seperti permainan anak kecil di hadapan Han Shui.
"Kau... siapa kau!" raung pria jubah merah. Ia mencoba mengumpulkan seluruh energi iblisnya, menciptakan bola api hitam raksasa yang mampu menghanguskan sebuah kota. "Mati kau, roh pengganggu!"
Pria jubah merah melemparkan bola api itu. Ledakannya sanggup mengguncang langit. Namun, Han Shui hanya berdiri diam. Saat api hitam itu hampir menyentuhnya, ia hanya mengangkat tangan kirinya.
BZZZT!
Api hitam itu membeku.api itu membeku menjadi kristal hitam yang padat, lalu jatuh berkeping-keping di lantai batu.
"Seni bela diri rendah," ucap Han Shui dengan nada menghina. "Aku telah melihat dewa-dewa sejati jatuh, dan kau pikir api kecilmu ini bisa menyentuhku?"
Han Shui melangkah maju. Setiap langkahnya membuat pria jubah merah itu mundur hingga punggungnya membentur reruntuhan dinding. Pria jubah merah itu mencoba memohon, "Tunggu! Aku adalah utusan dari"
SLASH!
Han Shui tidak butuh aba-aba. Ia tidak butuh penjelasan. Dengan satu gerakan yang sangat cepat hingga mata tidak bisa menangkapnya, bilah Han Shui telah melewati leher pria jubah merah tersebut.
Kepala pria jubah merah itu melayang di udara, matanya masih terbelalak penuh ketakutan sebelum akhirnya tubuh dan kepalanya membeku menjadi es dan hancur menjadi butiran debu saat menyentuh tanah. Seorang kultivator tingkat tinggi, tewas seperti lalat.
Si Topeng Perak, yang biasanya licik dan tenang, kini benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ia tahu ia adalah target berikutnya. Tanpa memedulikan kehormatan, ia menggigit lidahnya, menggunakan teknik Blood Escape yang terlarang untuk meledakkan sebagian besar basis kultivasinya demi kecepatan cahaya.
"Berusaha lari?" Han Shui mengangkat pedangnya, bersiap untuk menebas ruang dan waktu untuk menangkapnya.
Namun, di saat itu, tubuh Zhou Yu bereaksi. Darah segar menyembur dari mulutnya. Menggunakan kekuatan Han Shui secara berlebihan telah menghancurkan organ-dalam Zhou Yu.
"Cukup... pak tua... hentikan..." suara Zhou Yu yang asli merintih di dalam kesadarannya.
Han Shui mendecak kesal. "Tubuh yang tidak berguna." Ia terpaksa menghentikan serangannya. Namun, sebelum si Topeng Perak menghilang sepenuhnya ke dalam lubang dimensi, Han Shui melemparkan sebuah pecahan es kecil yang mengandung kutukan jiwa.
JLEB!
Suara teriakan menyayat terdengar dari balik lubang dimensi. Si Topeng Perak berhasil kabur, namun satu lengannya tertinggal, membeku di tanah, dan jiwanya telah terluka parah secara permanen. Ia akan hidup dalam penderitaan abadi selama sisa umurnya.
Cahaya biru di mata Zhou Yu memudar, rambut peraknya kembali menjadi hitam. Han Shui melepaskan kendalinya, dan Zhou Yu jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal, darah mengalir deras dari hidung dan telinganya.
Keadaan benar-benar sunyi. Ratusan musuh telah rata dengan tanah. Hanya tersisa kepulan uap dingin dan bau es.
Da Ge berlari mendekat, meski tertatih-tatih. "Zhou Yu! Kau... apa yang baru saja terjadi?"
Zhou Yu tidak menjawab. Ia merangkak menuju tempat Ling’er terbaring. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mengangkat kepala Ling’er ke pangkuannya. Cahaya emasnya yang tersisa mulai mengalir kembali, kali ini lebih hangat, mencoba memulihkan kesadaran gadis itu.
Tetua Mo, yang masih sadar meski dalam kondisi kritis, menatap Zhou Yu dengan rasa takut sekaligus terkejut. Ia menyadari bahwa muridnya bukan lagi sekadar pemuda berbakat, melainkan wadah bagi sesuatu yang bisa mengubah tatanan dunia.
"Dunia akan gempar setelah hari ini, Zhou Yu..." bisik Tetua Mo sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Zhou Yu hanya menundukkan kepala, memeluk Ling'er di tengah reruntuhan akademi yang pernah mereka sebut rumah. Di balik topeng kepahlawanan ini, ia tahu bahwa harga yang harus dibayar untuk kekuatan barusan adalah awal dari badai yang jauh lebih besar.
"Aku akan menjagamu," bisik Zhou Yu pada Ling'er, air matanya jatuh di pipi gadis itu. "Bahkan jika aku harus menyerahkan jiwaku pada dunia, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi."
Di ufuk barat, matahari terbenam dengan warna merah darah, seolah menjadi saksi bisu atas pembantaian yang dilakukan oleh satu orang yang dipinjamkan kekuatan oleh sang es abadi.
...Bersambung.......