Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan rekan baru
Fajar menyingsing di ufuk timur, menyapu sisa-sisa kegelapan yang menyelimuti Akademi Tian Meng. Semburat warna oranye dan ungu keemasan jatuh di atas pilar-pilar batu aula utama yang masih kokoh berdiri meski di beberapa bagian tampak bekas retakan perang. Suasana pagi itu sangat khidmat. Angin berembus pelan, membawa harum dupa penenang dan aroma embun yang masih menempel di kelopak bunga melati.
Di tengah aula, Zhou Yu berdiri dengan jubah hitam yang kontras dengan cahaya pagi. Di pinggangnya, Han Shui terikat erat, memancarkan hawa dingin yang tipis namun konsisten. Di sisi kanannya, Wang Da berdiri dengan zirah perak yang telah digosok hingga mengkilap, sementara Xiao Bai berdiri dengan tas tabibnya, wajahnya tampak gugup namun penuh tekad.
Tetua Mo melangkah maju, jubahnya menyapu lantai batu. Ia menatap ketiga muridnya dengan pandangan yang dalam, seolah ingin merekam wajah mereka sebelum mereka berangkat menuju medan yang jauh lebih berbahaya.
"Anak-anakku," suara Tetua Mo rendah namun bergema di seluruh aula. "Kalian membawa lebih dari sekadar nama akademi. Kalian membawa harapan dari mereka yang telah tumbang. Di luar sana, kekuatan bukan hanya tentang seberapa besar Qi yang kalian miliki, tapi seberapa teguh kalian memegang martabat sebagai kultivator sejati."
Tetua Mo kemudian memberikan sebuah medali perunggu kepada masing-masing dari mereka. "Ini adalah tanda pengenal peserta. Jangan hilangkan, karena di Lembah Kabut Kematian nanti, ini adalah satu-satunya hal yang membedakan kalian dari binatang buas."
Sementara itu, di kedalaman asrama yang sunyi, Tetua Ling baru saja menyelesaikan ritual pemurnian. Ling'er terbaring di atas tempat tidur kayu cendana. Sesuatu yang aneh terjadi kulitnya yang semula pucat kini mulai memancarkan cahaya putih keperakan yang redup. Suhu di ruangan itu turun drastis, dan tanpa disadari siapa pun, bunga-bunga di luar jendela asrama membeku seketika.
Jiwa Ling'er tidak sekadar tertidur. Kekuatan es yang disalurkan Zhou Yu sebelumnya tampaknya memicu sesuatu yang terpendam di dalam garis darahnya. Sehelai kristal kecil mulai terbentuk di tengah keningnya, berdenyut pelan seirama dengan detak jantungnya yang kini mulai menguat. Ia sedang bertransformasi, namun proses itu membutuhkan waktu dan energi yang luar biasa besar energi yang hanya bisa didapatkan dari Mutiara Jiwa.
Tiba-tiba, langit di atas Akademi Tian Meng berubah menjadi merah membara. Sebuah lengkingan nyaring membelah cakrawala. Seekor burung Phoenix Api raksasa, dengan rentang sayap yang menutupi separuh aula, menukik turun dari awan. Angin panas berhembus kencang, menerbangkan debu-debu dan membuat para murid di sekitar aula menutupi mata mereka.
BOOM!
Burung agung itu mendarat di tengah aula tanpa merusak satu ubin pun sebuah kontrol energi yang luar biasa. Dari balik kobaran api yang perlahan memudar, muncul seorang pemuda dengan pakaian berwarna merah bata dan emas. Wajahnya cerah dengan senyum lebar yang terlihat sangat ramah.
"Salam, para Tetua! Maaf saya sedikit terlambat, Phoenix-ku ini bersikeras ingin sarapan awan pagi dulu tadi!" ucap pemuda itu sambil tertawa renyah, suaranya energik dan penuh semangat.
Tetua Mo tersenyum tipis. "Zhou Yu, kenalkan, ini adalah Yan Xu. Dia adalah putra dari Keluarga Yan, klan penguasa Api Matahari dari wilayah Selatan. Ayahnya adalah teman ku di lama akademi ini."
Yan Xu segera menghampiri Zhou Yu dan menjabat tangannya dengan erat. "Jadi ini Zhou Yu yang banyak di bicarakan orang itu? Wah, auramu dingin sekali, kawan! Rasanya seperti berdiri di depan balok es raksasa. Aku Yan Xu, senang bertemu denganmu! Kita akan membakar semua musuh kita nanti, tenang saja!"
Latar belakang Yan Xu bukanlah sembarangan. Keluarga Yan dikenal sebagai penjaga segel api suci. Yan Xu terpilih karena bakat alaminya yang mampu menetralisir racun dan memberikan dukungan energi api kepada tim. Sifatnya yang ramah dan terbuka diharapkan bisa menjadi penyeimbang bagi Zhou Yu yang pendiam.
Tanpa membuang waktu, mereka berempat menaiki Phoenix Api milik Yan Xu. Burung itu mengepakkan sayapnya dan melesat ke langit, menembus lapisan awan. Di atas ketinggian ribuan kaki, pemandangan Benua Arus Langit terlihat begitu luas dan mempesona.
Namun, ketenangan itu segera pecah oleh tingkah Wang Da.
"Eh, Xiao Bai! Lihat itu! Awan itu mirip sekali dengan paha ayam yang biasa kita makan!" seru Wang Da sambil menunjuk ke arah awan kumulus besar.
Xiao Mei memutar matanya. "Wang Da, kau ini sudah di atas burung legendaris, masih saja memikirkan makanan! Dan jangan panggil aku Xiao Bai di depan rekan baru kita!"
"Tapi namamu memang cocok begitu! Lihat, sekarang wajahmu lebih putih lagi karena takut ketinggian, kan?" goda Wang Da sambil tertawa terpingkal-pingkal. Wang Da mencoba berdiri di punggung Phoenix, namun burung itu bergoyang sedikit, membuat Wang Da terjatuh telungkup sambil memeluk bulu Phoenix dengan erat. "Waduh! Burung ini sepertinya tidak suka aku berdiri!"
Yan Xu tertawa melihat tingkah konyol Wang Da. "Tenang saja, saudara Da! Phoenix-ku ini memang sedikit sensitif kalau ada yang mencoba pamer otot di punggungnya."
Zhou Yu hanya menatap lurus ke depan, namun sudut bibirnya sedikit terangkat melihat interaksi mereka. "Yan Xu," panggil Zhou Yu pelan. "Berapa lama sampai kita tiba di pusat kekaisaran?"
"Sekitar empat jam jika kita terus di kecepatan ini. Oh ya, aku dengar kita masih menunggu satu rekan lagi di gerbang kota?" tanya Yan Xu penasaran.
"Benar. Seorang jenius dari wilayah Barat yang direkomendasikan langsung oleh dewan akademi," jawab Zhou Yu.
Empat jam berlalu, kemegahan Kota Kekaisaran Zhonghua mulai terlihat. Tembok-tembok raksasa berwarna hitam metalik membentang sepanjang puluhan mil, dijaga oleh formasi pertahanan yang sangat kuat. Di gerbang kota, terpampang aturan ketat, Binatang suci dilarang masuk ke dalam area istana.
Yan Xu mendesah pelan. Ia menepuk leher Phoenix-nya. "Baiklah, kawan. Saatnya menjadi kecil." Dengan sebuah segel tangan cepat, Phoenix api yang megah itu menyusut drastis menjadi burung kecil seukuran burung pipit yang hinggap dengan imut di bahu Yan Xu.
Saat mereka mendarat di depan gerbang utama, langit mendadak diselimuti salju halus, padahal matahari sedang terik. Dari arah barat, sesosok burung Phoenix Es putih salju turun dengan anggun. Burung itu jauh lebih langka daripada Phoenix Api.
Di punggungnya berdiri seorang gadis cantik dengan gaun biru langit dan perhiasan perak. Wajahnya cantik namun memiliki ekspresi yang sangat dingin dan datar. Ia turun dengan gerakan yang begitu ringan seolah-olah berat tubuhnya tidak ada.
"Keluarga Su dari Puncak Salju Barat menghadap," ucap gadis itu dengan suara yang jernih namun angkuh. "Namaku Su Lin. Aku di sini karena perintah kakekku, bukan karena ingin bermain dengan kalian."
Su Lin berasal dari keluarga bangsawan kuno yang memiliki warisan Phoenix Es selama puluhan generasi. Phoenix miliknya bukan sekadar binatang peliharaan, melainkan separuh dari jiwanya. Ia dipilih karena keahliannya dalam kontrol area dan kemampuannya untuk mendeteksi jebakan melalui hawa dingin. Meski terkesan sombong, Su Lin dikenal memiliki kesetiaan yang sangat tinggi pada timnya.
Su Lin menatap Zhou Yu sejenak, ada kilatan pengakuan di matanya karena merasakan aura Han Shui yang selaras dengan elemennya. Ia kemudian melakukan hal yang sama, mengubah Phoenix Es-nya menjadi burung putih kecil yang bersembunyi di dalam lengan bajunya.
Saat mereka berlima berjalan masuk menuju area pendaftaran, mereka melewati barisan prajurit istana yang bertugas. Xiao Mei berjalan di antara Wang Da dan Zhou Yu, tampak sangat imut dengan tas obatnya yang bergoyang-goyang.
Tiba-tiba, seorang prajurit muda dengan tatapan nakal bersiul ke arah Xiao Mei. "Wah, lihat gadis mungil ini. Apakah kau tersesat, manis? Mau kakak antar ke tempat yang lebih aman daripada kompetisi berdarah ini?"
Prajurit itu tertawa bersama rekan-rekannya, mencoba menyentuh dagu Xiao Mei.
Brak!
Wang Da tiba-tiba sudah berdiri di depan prajurit itu. Wajahnya yang semula ceria kini berubah menjadi sangat gelap. Ia menarik kerah baju prajurit itu dengan satu tangan, mengangkatnya hingga kaki sang prajurit menggantung di udara.
"Ulangi kata-katamu, atau aku akan memastikan kau menggunakan tas obat si putih ini untuk menyambung tulang-tulangmu yang hancur!" gertak Wang Da. Auranya sebagai mantan perwira garis depan meledak, membuat para prajurit lain segera menghunus tombak mereka.
"Wang Da! Hentikan!" teriak Xiao Mei sambil menarik baju belakang Wang Da. "Jangan membuat masalah di sini!"
Xiao Mei kemudian menatap prajurit itu dengan mata besarnya yang tampak sangat imut namun penuh kemarahan. "Tuan Prajurit, saya adalah tabib resmi tim ini. Jika anda terus menggoda, saya tidak akan ragu menyuntikkan racun lumpuh ke kaki anda saat anda tidur!" ucapnya sambil menggembungkan pipi, yang justru terlihat sangat menggemaskan di mata Yan Xu dan Su Lin.
Zhou Yu melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu Wang Da. "Da Ge, lepaskan. Kita punya hal yang lebih penting daripada meladeni anjing penjaga."
Wang Da mendengus, lalu melepaskan prajurit itu hingga jatuh terduduk. Su Lin hanya membuang muka. "Kekanak-kanakan," gumamnya, meski ia diam-diam memperhatikan betapa solidnya ikatan mereka.
Mereka berlima akhirnya berjalan masuk melintasi gerbang emas istana. Di hadapan mereka, ratusan kamp rumah dari seratus sekte berbeda telah berdiri, dan ribuan mata penuh permusuhan mulai mengawasi kedatangan tim Akademi Tian Meng.
Zhou Yu menatap langit yang mulai beranjak siang. "Ling'er, aku sudah sampai di sini. Tunggu aku."
...Bersambung.......